Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di goda si kembar
Malam di kediaman Sanjaya sudah sangat sunyi, namun Hanum masih terjaga. Pikirannya terus melayang pada laporan Alvaro melalui telepon tadi. Begitu ia mendengar deru mesin mobil Alvaro memasuki halaman rumah, Hanum segera bergegas turun ke ruang tengah, mengabaikan fakta bahwa ia sudah mengenakan pakaian tidurnya.
"Kak, apa yang tadi Kakak katakan di telepon itu benar? Johan benar-benar menandatanganinya?" tanya Hanum setengah berbisik, matanya berkaca-kaca menatap Alvaro yang baru saja melepas jasnya.
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum manis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan kepada orang lain yang telah membuat Hanum mengerutkan kening karena heran sekaligus terpaku.
"Kau itu, baru juga Kakak sampai rumah sudah ditanya hal seperti itu, kenapa? Apakah kau senang mendengarnya?" goda Alvaro.
Tanpa aba-aba, Hanum menghambur dan memeluk Alvaro dengan sangat erat. Isakan nya pecah di dada pria itu. "Terima kasih, Kak Al. Kalau bukan karena Kakak dan Papah, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Pria yang sudah menyakiti dan mengkhianati ku mungkin tidak akan pernah merasakan rasa sakit ku ini!"
Alvaro tertegun sejenak, namun perlahan ia melingkarkan lengannya di tubuh Hanum. Ia mengusap punggung wanita itu dengan sangat lembut, membiarkan Hanum melepaskan segala beban emosinya.
'Apapun akan aku lakukan demi kamu, Num. Bahkan nyawaku pun akan aku berikan asalkan kau bahagia!' batin Alvaro dengan tekad yang begitu dalam.
Di tengah suasana emosional itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kecil dari arah dapur.
"Ehem!"
Aliya dan Adiba muncul secara bersamaan. Keduanya berdiri sambil bersedekap dengan senyum penuh arti. Hanum tersentak, ia buru-buru melepaskan pelukannya dan menjauh dari Alvaro dengan wajah yang seketika memerah padam.
"Loh... kalian belum tidur?" tanya Hanum kikuk, mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kami tiba-tiba saja merasa haus, Bun. Terus waktu mau ke dapur, eh... tidak sengaja lihat Bunda sama Om Al sedang pelukan," ujar Adiba dengan nada jahil yang sangat kental.
Aliya hanya terkikik melihat wajah Bundanya yang sudah seperti kepiting rebus. Hanum benar-benar merasa tidak enak dan sangat malu tertangkap basah oleh kedua putrinya sendiri.
"Sudah, sudah! Ayo sekarang tidur, ini sudah malam sekali. Besok kalian harus sekolah!" ucap Hanum gugup sembari meraih tangan kedua putrinya, menuntun mereka kembali ke lantai atas tanpa berani menoleh lagi ke arah Alvaro.
Alvaro masih berdiri mematung di posisi yang sama. Ia menatap punggung Hanum yang semakin menjauh hingga menghilang di balik tangga. Keheningan malam itu terasa jauh lebih hangat sekarang. Ia menghela napas panjang, sebuah senyuman lebar menghiasi wajah tegasnya.
"Hanum.... kau sangat mempesona," bisiknya pelan pada udara kosong.
Dengan hati yang berbunga-bunga dan semangat yang baru untuk menghancurkan Johan sepenuhnya, Alvaro melangkah menuju kamarnya dengan perasaan menang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
*
*
Suasana di koridor lantai tiga yang megah itu mendadak terasa gerah bagi Hanum. Di depan pintu kamar yang berpintu kayu jati dengan ukiran, Aliya menghentikan langkahnya dan menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Bun, sepertinya Bunda sama Om Al itu pasangan yang sangat serasi deh. Kenapa Bunda tidak mencoba membuka hati untuk Om Al?" tanya Aliya tanpa ragu.
Deg!
Jantung Hanum serasa melompat. Ia menjadi gugup.
"Ish, p.... pertanyaan seperti apa ini, Aliya? Jangan konyol, Kak Al itu adalah kakaknya Bunda!" sahut Hanum, suaranya naik satu oktaf karena gugup.
"Kakak yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah, iya kan, Bun?" Adiba menimpali dengan mata menyipit jahil, menambah tekanan pada sang ibu.
Hanum merasa terpojok. Wajahnya yang semula putih bersih kini berubah menjadi merah padam. "Sudahlah! Kalian jangan pernah mengatakan hal seperti ini lagi. Bunda tegaskan sekali lagi pada kalian ya, kalau Bunda dan Kak Al itu hanya sebatas kakak dan adik, tidak lebih!"
"Serius, Bun? Bunda yakin dengan jawaban Bunda ini?" Aliya menggoda lagi sambil menahan tawa. "Awas loh kalau seandainya nanti berubah. Tapi kalaupun Bunda sampai jadian sama Om Al, kami setuju kok, Bun. Om Al baik dan sangat menyayangi Bunda!"
Hanum langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, tidak sanggup lagi meladeni godaan kedua putrinya itu.
"Sudah, tidur! Bunda pusing!" serunya sembari bergegas meninggalkan mereka menuju kamarnya sendiri.
Setelah Hanum menghilang di balik pintu, Adiba menyenggol lengan kakaknya. "Kak, lihat deh wajahnya Bunda sampai merah merona begitu. Aku yakin lambat laun Bunda akan mencintai Om Al. Kalau Om Al sih, aku perhatikan sudah suka sama Bunda duluan. Tatapannya itu loh, beda banget!"
"Hais, kau itu pintar sekali mengamati. Mentang-mentang ditaksir anak SMA!" goda Aliya.
"Ish, Kak Aliya ini! Tapi yang aku rasakan memang begitu. Kak Damar saja saat menatapku sama seperti Om Al menatap Bunda, penuh cinta tapi sepertinya cuma dipendam," balas Adiba sambil menerawang.
Aliya tertawa kecil lalu merangkul adiknya. "Sudahlah, Diba. Ini sudah malam. Pokoknya kita sudah sepakat ya untuk menjodohkan Bunda sama Om Al!"
"Siap, Kakak!" jawab Adiba mantap sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing.
Di lantai dua, Alvaro yang baru saja selesai mandi kini duduk bersandar di kepala tempat tidurnya. Di tangannya, terdapat sebuah foto lama yang sudah agak memudar namun dirawat dengan sangat baik. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, saat Alvaro lulus sarjana dengan predikat cumlaude. Di foto itu, Hanum berdiri sangat dekat dengannya, memeluk lengannya sembari membawa buket bunga besar dengan senyum tercantik yang pernah Alvaro lihat.
Alvaro mengusap permukaan foto tersebut dengan ibu jarinya, tepat di wajah Hanum.
"Hanum... kau tahu, sejak hari itu, perasaanku semakin tumbuh padamu. Hanya saja kau tidak pernah menyadarinya," gumam Alvaro parau.
Kenangan pahit masa lalu kembali berputar di otaknya. "Dulu, setiap ada pria yang mendekatimu, aku selalu jadi garda terdepan dan melarang mu karena aku sangat cemburu. Tapi saat kau memutuskan pergi dan menikah dengan Johan... hatiku benar-benar hancur, Num. Aku tidak bisa mencegah mu karena kau begitu mencintainya sampai rela memberikan nyawamu untuk pria bajingan itu."
Alvaro menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca menatap foto itu. "Sekarang kau sudah kembali. Aku ingin bisa mendapatkan hatimu, Num... dan memilikimu seutuhnya."
Ia mendekap bingkai foto itu erat-erat di dadanya, seolah sedang memeluk Hanum secara nyata. Dengan perasaan yang membuncah namun tenang, Alvaro perlahan memejamkan matanya dan jatuh ke dalam tidurnya yang lelap, memimpikan masa depan di mana ia tidak lagi harus bersembunyi di balik status seorang kakak.
Bersambung...