Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan kostum
Beberapa hari setelah malam itu, penthouse terasa jauh lebih tenang.
Mireya hampir tidak keluar kamar kecuali untuk makan dan latihan ringan.
Atas perintah tegas Kak Rhea, jadwalnya sengaja dikosongkan sementara.
“Tidur. Istirahat. Rawat muka kamu dulu.”
“Jangan sampai pas pengumuman resmi kamu malah kelihatan kayak mayat hidup.”
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
Jadi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Mireya benar-benar menurut.
Ia tidur lebih awal.
Bangun siang.
Membaca ulang naskah.
Lalu tidur lagi.
Sesekali Zevran yang baru pulang akan melihatnya tertidur di sofa sambil memeluk skrip.
Dan entah kenapa, pemandangan itu mulai terasa biasa.
Pagi itu, suasana ibu kota mendadak heboh.
Bukan hanya dunia hiburan.
Bahkan layar hologram di lobi gedung-gedung besar mulai menampilkan poster resmi drama adaptasi yang sudah lama ditunggu.
ANAK EMAS DEWA MENJADI IBLIS BATU
Judul itu muncul dengan huruf emas besar.
Disertai siluet Kaizar Renath dan lima belas sosok perempuan di belakangnya yang masih dalam karakter fiksi nya.
Di bawah poster, satu per satu nama pemeran mulai diumumkan.
Di media sosial, forum novel, dan kanal berita hiburan— semuanya meledak.
Di dalam kamar, ponsel Mireya bergetar tanpa henti.
ting ting ting ting
Ia yang baru bangun langsung meraih ponselnya dengan mata setengah terbuka.
Begitu layar menyala, notifikasi langsung menumpuk.
[{KAK RHEA 💗}]
{BANGUN. HARI INI PENGUMUMAN RESMI!}
Link di berikan.
[[FORUM FANDOM]]
[[CAST DRAMA RESMI DIRILIS!]]
[[TRENDING TOPIC]]
#AureliaVeyna #SelirKe11 #AnakEmasDewaDrama
Mireya langsung duduk tegak.
“HAH?!”
Ia memang sudah tahu dirinya lolos.
Bahkan lebih dari itu.
Ia dipilih langsung oleh penulis novel sendiri.
Tapi melihat semuanya benar-benar diumumkan ke publik…
rasanya tetap berbeda.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka poster resmi.
Nama pemeran utama langsung terpampang besar.
Eirian Vale sebagai Kaizar Renath
Di bawahnya nama-nama pemeran lain.
Istri pertama.
Kedua.
Ketiga.
Sampai—
Mata Mireya berhenti.
Mireya Althene sebagai Aurelia Veyna — Selir ke-11
Untuk beberapa detik ia hanya diam.
Benar-benar diam.
Matanya terpaku pada namanya sendiri.
Nama yang akhirnya kembali muncul.
Bukan sebagai figuran.
Bukan sebagai pengganti.
Bukan sebagai bayangan orang lain.
Tapi sebagai salah satu pemeran utama dalam proyek besar.
Jari-jarinya tanpa sadar meremas selimut.
Bibirnya sedikit bergetar.
“…aku beneran ikut.”
Kalimat itu nyaris terdengar seperti bisikan.
Namun dunia luar tidak setenang dirinya.
Forum pembaca novel sudah pecah.
Komentar bertebaran di mana-mana.
[“KENAPA SELIR KE-11 DAPAT AKTRIS BARU TERJUN?”]
[“Bukannya karakter itu paling dibenci?”]
[“Justru penasaran… penulis sendiri yang pilih katanya.”]
[“Kalau salah casting bisa hancur ini drama.”]
Sebagian meragukan.
Sebagian mengejek.
Sebagian justru penasaran.
Dan justru itu membuat nama Mireya ikut naik.
Di luar kamar, Zevran yang sedang sarapan membaca berita yang sama di layar meja.
Tatapannya berhenti di satu bagian.
Dipilih langsung oleh penulis novel asli
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia sudah menduga.
Kalau tidak, orang-orang itu tidak akan berani mengunci pilihan secepat itu.
Beberapa saat kemudian suara pintu kamar terbuka cepat.
Mireya keluar sambil memegang ponsel.
Wajahnya campur aduk antara gugup, senang, dan tidak percaya.
“Zevran…”
Ia menatap laki-laki itu.
“Aku diumumin.”
Zevran mengangkat pandangannya.
Tatapan tenangnya langsung jatuh padanya.
“Bukannya kamu sudah tahu dari awal?”
Mireya mengangguk cepat.
“Iya, tapi ini beda…”
Ia memegang dada sendiri.
“Rasanya kayak baru nyata sekarang.”
Zevran terdiam sesaat.
Lalu meletakkan cangkirnya.
“Bagus.”
Satu kata.
Tapi nadanya lembut.
“Berarti mulai hari ini, semua orang akan melihat kenapa kamu dipilih.”
Dan entah kenapa, kalimat sesingkat itu justru membuat dada Mireya menghangat.
...****************...
Pagi itu, seluruh kanal hiburan ibu kota nyaris membicarakan satu hal yang sama.
Pengumuman resmi cast drama adaptasi
Anak Emas Dewa Menjadi Iblis Batu
Poster utama memenuhi layar hologram di stasiun, lobi pusat perbelanjaan, hingga billboard udara yang melayang di antara gedung-gedung tinggi.
Nama pertama yang langsung menarik perhatian publik adalah—
Eirian Vale sebagai Kaizar Renath
Dan seketika dunia hiburan meledak.
[“EIRIAN VALE?!”]
[“Yang rookie itu?!”]
[“Bukannya dia baru debut beberapa bulan lalu?”]
[“Kenapa bisa langsung jadi pemeran utama?!”]
Forum-forum hiburan langsung ramai.
Nama Eirian bukan nama asing lagi.
Justru karena terlalu baru, namanya sedang panas-panasnya.
Debut singkat.
Satu drama pendek.
Satu lagu OST.
Satu wawancara.
Dan langsung meledak.
Wajah tampan, suara lembut, pembawaan tenang, dan aura karismatik nya membuat banyak orang menjulukinya:
> bintang baru yang lahir untuk layar utama
Bahkan banyak artis senior pun ikut membicarakannya.
Ada yang kagum.
Ada yang iri.
Ada yang terang-terangan meremehkan rookie yang langsung meloncat ke posisi sebesar itu.
Namun yang lebih menghebohkan bukan hanya pemeran utama pria.
Nama-nama pemeran selir satu sampai sepuluh dipenuhi artis-artis terkenal.
Aktris senior.
Idol yang sedang naik daun.
Pemeran drama kerajaan langganan rating tinggi.
Semua nama besar ada di sana.
Maka ketika mata publik turun ke daftar berikutnya—
mereka berhenti.
Mireya Althene sebagai Aurelia Veyna — Selir ke-11
Beberapa detik.
Lalu ledakan kedua dimulai.
[“Siapa ini?”]
[“Mireya? Bukannya dia artis kecil?”]
[“Aku bahkan nggak pernah lihat dia main drama besar.”]
[“Selir ke-11? Ah, karakter itu.”]
[“Skip aja deh pas bagian dia muncul.”]
Komentar kasar langsung membanjiri forum.
Sebagian besar bahkan belum melihat aktingnya.
Tapi nama karakter itu sendiri sudah cukup membuat banyak pembaca lama bereaksi.
Aurelia Veyna.
Selir ke-11.
Karakter yang paling banyak dihujat.
Karakter yang setiap kemunculannya selalu memancing debat.
Banyak yang menganggapnya pengkhianat.
Banyak yang menyalahkannya atas tragedi Kaizar.
Dan lebih banyak lagi yang terang-terangan berkata:
[“semoga bagian dia dipotong banyak”]
Di sisi lain, ada juga yang mulai berspekulasi.
[“Kenapa penulis asli yang langsung pilih dia?”]
[“Kalau bukan karena ada sesuatu, nggak mungkin.”]
[“Jangan-jangan ada plot twist besar buat karakter ini.”]
Spekulasi semakin liar.
Ada yang bilang Mireya punya backingan besar.
Ada yang bilang dia hanya “titipan”.
Ada yang bahkan mulai mengaitkan namanya dengan rumor sponsor dan orang dalam.
Komentar-komentar kasar terus bermunculan.
Di dalam kamar, Mireya menatap layar ponselnya.
Tangannya menggenggam skrip lebih erat.
Ia membaca satu komentar.
Lalu yang lain.
Lalu yang lain lagi.
Bibirnya terkatup rapat.
Wajahnya memang tenang.
Tapi hatinya tetap terasa tertusuk.
[“Siapa dia?”]
[“Nggak cocok.”]
[“Karakter sampah, aktrisnya juga pasti sama.”]
Untuk sesaat, ruangan terasa sunyi.
Namun kemudian layar ponselnya berganti.
Satu notifikasi dari forum pembaca resmi.
Pernyataan Penulis Asli
[[Pemeran Aurelia Veyna dipilih langsung oleh saya. Tidak ada kandidat lain yang lebih memahami karakter tersebut.]]
Mata Mireya membesar.
Jantungnya berdegup.
Kalimat singkat itu langsung menyulut gelombang baru.
Forum pecah.
[“HAH? Penulis langsung pilih?, Author yakin nih ga di bajak akun lu?”]
[“Serius? Sampai segitunya?”]
[“Berarti karakter ini penting banget?”]
[“Aku jadi penasaran…”]
Dan untuk pertama kalinya, nada publik mulai berubah.
Bukan suka.
Belum.
Tapi penasaran.
Dan bagi Mireya…
rasa penasaran publik jauh lebih berharga daripada kebencian kosong.
Karena itu berarti mereka akan menonton.
Dan kalau mereka menonton—
dia akan membuat mereka mengubah pikiran mereka sendiri.
Mireya menatap namanya di layar sekali lagi.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kalau kalian mau menghujat…”
Ia memeluk skrip di dadanya.
“…hujat setelah lihat aku berakting.”
...****************...
Layar terminal transparan di depan Mireya masih dipenuhi komentar.
Tulisan-tulisan itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Seolah setiap detik ada orang baru yang datang hanya untuk menilai.
[“siapa dia?”]
[“pasti aktingnya jelek”]
[“selir ke-11? skip aja”]
Jari Mireya menggantung di udara.
Matanya terus membaca.
Satu demi satu.
Sampai tiba-tiba layar di depannya menggelap.
“Eh?”
Ia menoleh.
Zevran berdiri di samping sofa, satu tangan masih berada di panel kontrol meja.
Dialah yang mematikan terminal itu.
Lelaki itu menatapnya datar seperti biasa.
Namun nada suaranya jauh lebih lembut dari ekspresinya.
“Tidak perlu mendengarkan mereka sekarang.”
Mireya terdiam.
Zevran melanjutkan, suaranya tenang.
“Buktikan dulu.”
Tatapannya turun pada skrip yang dipeluk Mireya.
“Buktikan kalau kamu memang hebat.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan kalau pilihanmu untuk peran itu memang tepat.”
Kalimat itu membuat Mireya sedikit membeku.
Ia tidak tahu kenapa.
Tapi dari mulut Zevran, kata-kata sesederhana itu terasa jauh lebih berat.
Jauh lebih nyata.
Zevran berjalan ke arah meja kecil, mengambil cangkir kopi yang masih hangat.
“Pemotretan kostum tiga hari lagi, bukan?”
Mireya mengangguk pelan.
“Iya… habis itu table read.”
Zevran mengangguk tipis.
“Aku menunggu drama ini.”
Mata Mireya langsung membesar.
“Hah?”
Ia menatapnya tidak percaya.
“Kamu?”
Sudut bibir Zevran terangkat sangat tipis.
Hampir seperti senyum yang tidak ingin ia akui.
“Kenapa?”
“Bukannya kamu sibuk banget…”
Zevran tidak langsung menjawab.
Ia hanya menyesap kopinya pelan.
Kalau Mireya tahu—
beberapa malam terakhir lelaki itu bahkan menyisihkan waktu di sela rapat dan laporan untuk membaca novel aslinya.
Diam-diam.
Sendirian.
Di layar pribadinya.
Awalnya hanya rasa penasaran.
Kenapa Mireya begitu bersikeras memilih karakter yang bahkan fandom membencinya?
Kenapa bukan selir ke-13 yang jauh lebih populer?
Kenapa justru selir ke-11?
Namun semakin Zevran membaca—
ia mulai mengerti.
Aurelia Veyna bukan karakter biasa.
Ia tidak bersinar di permukaan.
Tidak diberi banyak sorotan.
Tidak dibuat mudah disukai.
Namun justru di situlah kekuatannya.
Karakter yang terlihat dingin.
Dibenci.
Selalu disalahpahami.
Tapi menjadi titik takdir yang diam-diam menopang semuanya.
Saat menyadari itu, Zevran sempat terdiam lama.
Lalu satu pikiran melintas.
“Pantas saja dia memilih peran ini.”
Karena jika Mireya berhasil membawanya dengan benar—
ledakannya akan jauh lebih besar daripada pemeran wanita lain.
Bahkan mungkin…
lebih membekas daripada protagonis pria itu sendiri.
Tatapan Zevran kembali jatuh pada Mireya.
“Kalau kamu berhasil membawa emosinya…”
Ia menatap langsung ke matanya.
“…mereka tidak akan bisa berhenti membicarakan mu.”
Jantung Mireya berdetak lebih cepat.
Bukan karena gugup.
Tapi karena ada seseorang yang benar-benar percaya padanya.
Dan orang itu adalah Zevran.
Beberapa saat kemudian Zevran melirik waktu di terminal dinding.
Rapat berikutnya akan dimulai kurang dari satu jam.
Ia meletakkan cangkir kosongnya.
“Aku harus bersiap.”
Ia berjalan menuju kamar.
Langkahnya tenang.
Rutinitas yang sama seperti biasanya.
Mandi.
Ganti pakaian kerja.
Kembali ke kantor.
Namun sebelum menghilang di balik pintu, langkahnya berhenti.
Ia menoleh sedikit.
“Jangan latihan sampai lupa makan.”
Kalimat itu singkat.
Sangat Zevran.
Lalu ia pergi.
Mireya menatap pintu kamar yang tertutup.
Beberapa detik.
Lalu tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia memeluk skrip lebih erat.
Semangat yang tadi sempat runtuh perlahan kembali.
“Baiklah…”
Ia membuka halaman naskah Aurelia.
Tatapannya berubah serius.
“Kalau begitu aku bakal bikin mereka nggak bisa skip adeganku.”
Dan pagi itu, penthouse kembali dipenuhi suara Mireya yang mulai melatih dialog seorang wanita yang seluruh dunia salah pahami.
...****************...
Tiga hari berlalu dengan cepat.
Bagi Mireya, rasanya seperti baru semalam ia duduk di sofa memeluk naskah sambil membaca komentar netizen.
Dan pagi ini—
hari yang ditunggu akhirnya tiba.
hari fitting kostum dan pemotretan poster resmi drama.
Pagi-pagi sekali, pintu penthouse sudah berbunyi.
ting tong
Mireya yang sudah siap dengan pakaian simpel segera keluar kamar sambil membawa tas kecil berisi kacamata, makeup, dan naskah yang masih tak pernah lepas dari tangannya.
Di luar, Rhea sudah berdiri dengan terminal pribadi di tangan.
“Bagus. Kamu siap.”
Mireya mengangguk.
“Siap, Kak.”
Rhea menatap wajahnya sebentar.
“Lumayan.”
“Apanya yang lumayan?!”
“Wajahmu masih hidup. Berarti kamu benar-benar tidur.”
Mireya langsung manyun.
Tapi jujur, ia memang terlihat jauh lebih segar.
Malam tadi bahkan Zevran sempat mengingatkannya untuk tidak begadang.
Mobil terbang meluncur cepat menuju studio pusat milik perusahaan hiburan.
Begitu turun—
Mireya langsung terdiam.
Gedung itu ramai sekali.
Benar-benar ramai.
Seperti sarang lebah yang sedang sibuk.
Orang berlalu-lalang ke segala arah.
Staf produksi.
Asisten kostum.
Penata rambut.
Makeup artist.
Tim properti.
Fotografer.
Semua bergerak cepat sambil membawa alat masing-masing.
Suara panggilan terdengar dari mana-mana.
“kostum selir pertama mana?”
“makeup ruang tiga penuh!”
“tolong wig karakter nomor tujuh dibawa sekarang!”
Mireya sampai berkedip beberapa kali.
“Rame banget…”
Rhea mengangguk.
“Ini masih awal.”
Ia menepuk pundak Mireya pelan.
“Biasakan.”
Begitu masuk ke area backstage, suasana bahkan lebih heboh.
Beberapa aktris terkenal sudah duduk di kursi makeup.
Wajah-wajah yang sering ia lihat di layar kini benar-benar ada di depannya.
Sebagian sedang dirias.
Sebagian mencoba kostum.
Sebagian membaca naskah sambil menghafal ekspresi.
Mireya sempat menahan napas.
Untuk sesaat, rasa minder itu kembali datang.
Ia masih baru.
Masih kecil.
Masih belum punya nama sebesar mereka.
Namun sebelum pikiran itu berkembang—
suara seseorang memanggil.
“Mireya!”
Ia menoleh.
Dan matanya langsung membesar.
Penulis novel asli berdiri tidak jauh dari sana.
Wajahnya justru terlihat paling cerah pagi ini.
Benar-benar senang.
Ia bahkan langsung berjalan mendekat.
“Bagus, kamu datang.”
Nada suaranya penuh antusias.
Beberapa staf sampai melirik karena jarang melihat penulis itu sebersemangat ini.
Ia menatap Mireya dari atas sampai bawah lalu mengangguk puas.
“Bagus…”
Lalu tersenyum kecil.
“Aku sudah tidak sabar melihatmu menjadi Aurelia.”
Rhea yang melihat itu hanya mengangkat alis.
Dalam hati ia ikut puas.
Karena jarang sekali seorang penulis asli menunjukkan keberpihakan sejelas ini.
Tidak lama kemudian, salah satu staf kostum berlari mendekat.
“Nona Mireya, silakan ke ruang fitting.”
Mireya mengikuti staf itu.
Begitu pintu ruang kostum dibuka—
ia terdiam.
Di tengah ruangan, tergantung gaun Aurelia.
Hitam keunguan dengan detail perak.
Kainnya jatuh lembut seperti kabut malam.
Ada aksesori kepala tipis berbentuk rantai bintang.
Jubah luar transparan seperti langit senja.
Benar-benar anggun.
Benar-benar misterius.
Mireya menatapnya tanpa berkedip.
“…cantik banget.”
Penulis novel yang berdiri di belakangnya tersenyum tipis.
“Karena dia memang harus terlihat seperti wanita yang tidak bisa dibaca siapa pun.”
Kalimat itu membuat Mireya makin masuk ke karakter.
Setelah makeup dan rambut selesai, saat ia keluar—
suasana backstage sempat hening.
Beberapa orang yang tadi sibuk sampai berhenti sejenak.
Tatapan mereka langsung tertuju padanya.
Bukan karena Mireya.
Tapi karena…
untuk pertama kalinya mereka benar-benar melihat Aurelia hidup.
Hampir semua yang ada di situ pasti telah membaca beberapa bagian novel atau naskah ceritanya. Jadi semua hal yang digambarkan tentang aurelia di sana terlihat jelas.
Sikapnya yang misterius tapi acuh tak acuh.