Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Manajemen Risiko dan Runtuhnya Raksasa Seribu Tebing
Kepanikan menyebar dengan cepat di dalam Ruang VIP lantai sembilan. Wajah cantik Nona Feng, Manajer Utama Paviliun Bintang Jatuh, kini memucat seputih kertas. Keringat dingin merusak riasan sempurnanya.
"Tuan Arya, Anda tidak mengerti!" suara Nona Feng bergetar hebat. "Keluarga Mahendra bukan sekadar pedagang kaya. Tuan Besar Baskoro Mahendra telah mencapai setengah langkah menuju Ranah Inti Emas! Terlebih lagi, Lima Ratus Pasukan Berbaju Besi mereka dilatih menggunakan formasi militer Sekte Pedang Petir. Mereka bisa membunuh seorang ahli kultivasi tinggi hanya dengan taktik kelelahan!"
Penilai Chen sudah meringkuk di sudut ruangan, memeluk kotak kayu berisi pil murni buatan Arya seolah itu adalah jimat pelindung terakhirnya.
Arya Permana, sebaliknya, sama sekali tidak terpengaruh oleh histeria di sekitarnya. Ia berjalan perlahan menuju pintu kaca ganda yang mengarah ke balkon utama paviliun, yang memberikan pandangan luas ke dasar ngarai Kota Seribu Tebing.
"Kuantitas tidak akan pernah bisa mengkompensasi kualitas di hadapan hukum fisika absolut, Nona Feng," ucap Arya tenang, mendorong pintu kaca itu hingga terbuka. Angin ngarai yang dingin berhembus masuk, mengibarkan kerah trench coat hitamnya. "Pasukan yang kau takuti itu, di mataku, tidak lebih dari sekumpulan variabel acak yang bisa dihapus dengan satu persamaan sederhana."
Arya melangkah ke teras balkon, diikuti oleh Elena yang telah menghunus pedangnya, siap mati untuk melindungi tuannya. Nona Feng mengintip dari balik pintu kaca dengan jantung berdebar kencang.
Di dasar ngarai, pemandangan yang tersaji memang menakutkan bagi penduduk lokal. Lima ratus prajurit yang mengenakan zirah perak tebal telah memblokir seluruh jalan utama. Mereka berdiri dalam formasi perisai dan tombak yang rapat. Ujung tombak mereka memancarkan percikan listrik statis, hasil dari resonansi Qi kolektif.
Di depan barisan pasukan, Baskoro Mahendra berdiri tegak. Pria bertubuh tinggi besar dengan janggut merah menyala itu memancarkan aura panas yang mendidihkan udara di sekitarnya. Di sebelahnya, Kuang Mahendra duduk di kursi roda kayu, kedua kakinya yang buntung telah dibalut perban herbal tebal. Wajah pemuda itu bengkok oleh kebencian.
"Itu dia, Ayah! Pria berjaket hitam di balkon lantai sembilan itu! Dia yang menghancurkan kakiku!" jerit Kuang histeris sambil menunjuk ke atas.
Baskoro mendongak. Matanya yang merah menyala menatap lurus ke arah Arya. Gelombang suara yang diinfus Qi meledak dari mulutnya, terdengar hingga ke seluruh penjuru kota.
"Nona Feng! Serahkan anjing dari dunia bawah itu kepadaku sekarang juga! Jika paviliunmu berani melindunginya, aku akan membakar tempat ini beserta seluruh isinya menjadi abu!"
Ribuan kultivator independen dan pedagang yang bersembunyi di balik jendela bangunan lain menahan napas. Hari ini, sejarah Kota Seribu Tebing akan ditulis dengan darah.
Dari atas balkon, Arya memandang ke bawah dengan tatapan bosan. Ia menggunakan Proyeksi Qi Eksternal-nya untuk membuat suaranya terdengar jernih di telinga setiap orang di bawah sana, tanpa harus berteriak.
"Baskoro Mahendra," suara Arya sedingin esensi musim dingin. "Aku mematahkan kaki putramu sebagai kompensasi karena kendaraannya hampir merusak pakaianku. Mengingat kau kini membawa lima ratus pekerja bersenjata dan membuat polusi suara di tempat aku berbisnis... kurasa kompensasinya harus dinaikkan menjadi seluruh aset keluargamu."
Keheningan sesaat menyelimuti ngarai itu, sebelum akhirnya Baskoro tertawa murka. Urat-urat di dahinya menonjol mengerikan.
"Bocah arogan yang tidak tahu seberapa tinggi langit! Pasukan Besi! Bentuk Formasi Tombak Hukuman Petir! Hancurkan lantai sembilan itu menjadi debu!" perintah Baskoro dengan amarah yang meledak-ledak.
"SIAP!"
Lima ratus prajurit itu menghentakkan perisai mereka ke tanah secara serempak. BUM! Mereka menyalurkan energi Qi mereka ke atas. Cahaya perak menyilaukan berkumpul di tengah formasi, membentuk sebuah tombak petir raksasa sepanjang dua puluh meter yang berderak-derak ganas. Tekanan dari tombak energi itu membuat batu-batu di sekitar mereka retak.
"Mati kau!" teriak para prajurit, dan tombak petir raksasa itu melesat ke udara, mengarah langsung ke balkon tempat Arya berdiri. Kecepatannya melampaui suara, membawa daya hancur yang cukup untuk meratakan setengah tebing.
"Tuan, menghindar!" teriak Elena, berniat melompat ke depan Arya untuk menjadi tameng manusia.
Namun, Arya hanya mengangkat tangan kirinya, menahan dada Elena agar tetap di belakangnya. Matanya yang kini didukung oleh Mata Dewa menganalisis tombak petir raksasa itu dalam sepersekian detik.
[Ding! Analisis Formasi Selesai.]
[Kelemahan: Sinkronisasi Qi dari 500 individu memiliki perbedaan frekuensi sebesar 0.05%. Titik kolaps berada di pusat massa tombak.]
"Taktik amatir," gumam Arya.
Alih-alih menghindar atau membuat perisai, Arya mengambil satu keping koin tembaga biasa dari sakunya (kembalian saat ia di bumi). Ia melapisi koin fana itu dengan setetes Qi Ranah Pembentuk Fondasi yang sangat padat, lalu menyentilnya dengan jari telunjuknya.
Ting!
Koin tembaga sekecil ibu jari itu melesat ke bawah seperti peluru meteor, berbenturan langsung dengan ujung tombak petir raksasa.
Di mata manusia biasa, itu seperti semut yang menabrak gajah. Namun, secara fisika Qi, koin itu bertindak sebagai jarum yang menusuk balon yang kelebihan tekanan. Koin yang diinfus Qi pembalik milik Arya langsung menembus titik lemah formasi tersebut.
BZZZTTT! KABUMMMMM!
Tombak petir raksasa itu tidak meledak ke arah balkon. Sebaliknya, strukturnya kolaps di tengah udara dan berbalik menghantam sumbernya. Hujan petir perak menyambar tak terkendali ke bawah, menghantam formasi Lima Ratus Pasukan Berbaju Besi.
"ARGHHHHH!"
Jeritan penderitaan massal menggema memenuhi ngarai. Baju zirah logam yang mereka banggakan justru menjadi konduktor sempurna bagi petir mereka sendiri. Dalam hitungan detik, lima ratus elit Keluarga Mahendra hangus terbakar. Bau daging gosong menyengat di udara. Tidak ada satu pun yang tersisa berdiri. Formasi yang menakutkan itu musnah hanya oleh satu sentilan koin.
Di balkon, rahang Nona Feng jatuh hingga ia nyaris kehilangan keseimbangan. Pikiran bisnisnya berhenti berfungsi. Ini bukan lagi manusia; ini adalah dewa perang yang menyamar dalam balutan mantel hitam!
Di bawah sana, Baskoro Mahendra berdiri membeku di tengah lautan mayat pasukannya. Ia selamat berkat Qi pelindungnya, namun matanya memancarkan horor absolut.
"A-Apa... sihir apa yang kau gunakan?!" Baskoro mundur selangkah, arogansinya hancur lebur.
"Itu disebut resonansi, Baskoro. Pelajaran sains dasar," ucap Arya. Langkah kakinya yang tenang tiba-tiba membawanya melayang dari atas balkon lantai sembilan. Dengan manipulasi gravitasi dari Qi-nya, Arya turun ke dasar ngarai seringan sehelai bulu, mendarat tepat tiga meter di hadapan Baskoro.
"Ayah! Bunuh dia! Dia iblis!" Kuang yang bersembunyi di balik kursi rodanya menjerit ketakutan, mengompol di celananya.
Baskoro mengertakkan gigi hingga berdarah. Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri di depan ribuan mata. Membakar esensi darahnya, Baskoro mengeluarkan golok emas raksasa dari cincin spasialnya.
"Jangan sombong! Setengah Langkah Inti Emas tidak akan kalah oleh trik murahan!"
Baskoro menerjang maju, mengayunkan golok emasnya dengan kekuatan seratus ton. Ruang di sekeliling bilah golok itu terdistorsi akibat tekanan Qi yang masif.
Arya menatap serangan itu tanpa berkedip. Ia tidak menggunakan senjata. Ia hanya melangkah menyamping dengan perhitungan mikroskopis, membiarkan mata golok itu melewatinya dengan jarak kurang dari satu milimeter.
Tepat saat golok itu lewat, Arya mengulurkan tangannya, merampas pergelangan tangan Baskoro, dan memutarnya berlawanan arah dengan hukum anatomi manusia.
KRAK!
"AAKKHHH!" Golok emas terlepas dari genggaman Baskoro yang hancur.
Belum selesai Baskoro berteriak, telapak tangan Arya yang memancarkan pendaran putih kebiruan telah bersarang tepat di tengah dada raksasa itu.
"Restrukturisasi meridian," bisik Arya dingin.
Qi murni Arya menembus masuk, menghancurkan fondasi Setengah Langkah Inti Emas milik Baskoro secara total dalam sekejap. Dantian pria itu pecah layaknya kaca yang dipukul palu godam. Baskoro memuntahkan darah hitam, matanya kehilangan cahaya, dan tubuh besarnya ambruk ke tanah berbatu tanpa nyawa.
Raja pedagang Kota Seribu Tebing telah tewas dalam waktu kurang dari lima detik.
Arya membungkuk dengan elegan, melepas cincin spasial berlapis emas dari jari mayat Baskoro, dan menyimpannya. Matanya kemudian melirik ke arah Kuang yang kini meringkuk gemetar di tanah, mencoba merangkak pergi dengan tangannya.
"Probabilitas balas dendam masa depan: seratus persen. Tindakan logis: eliminasi."
Arya bahkan tidak menoleh. Ia memungut kerikil kecil dari tanah dan menjentikkannya ke belakang. Kerikil itu melesat menembus tengkorak belakang Kuang dengan bunyi crak yang tumpul. Pemuda itu tewas seketika, mengakhiri garis keturunan Keluarga Mahendra.
Keheningan mutlak, yang jauh lebih mencekam dari sebelumnya, turun ke atas Kota Seribu Tebing. Tidak ada yang berani bernapas.
Arya merapikan lengan bajunya, mendongak, dan menatap Nona Feng yang masih berdiri membeku di balkon lantai sembilan.
"Manajer Feng," suara Arya memecah kesunyian, datar dan tanpa emosi. "Saingan utamamu baru saja kehilangan pemimpin dan seluruh kekuatan militernya. Jika kau tidak bisa mencaplok seratus persen pangsa pasar dan aset mereka sebelum fajar menyingsing, perjanjian sembilan banding satu kita batal."
Nona Feng terbangun dari lamunannya. Seluruh sel di tubuhnya bergetar, perpaduan antara ketakutan yang absolut dan kegembiraan yang gila. Pria ini baru saja menyerahkan kunci dominasi ekonomi seluruh kota ke tangannya!
"A-Akan saya laksanakan, Tuan Arya! Paviliun Bintang Jatuh tidak akan mengecewakan Anda!" teriak Nona Feng, berlutut memberikan penghormatan tertinggi dari atas balkon.
Arya berbalik, bersiap kembali ke dalam paviliun untuk menghitung rampasan bisnis perdananya.