Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Perjamuan Kaku dan Sepotong Apel
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala Glanzwald, menyisakan semburat ungu dan jingga yang memantul di permukaan sungai. Di bangku kayu itu, Daisy masih mengatur napasnya yang tidak beraturan, sementara Matthew duduk di sampingnya dengan punggung tegak, tangan kanannya masih memegang pergelangan tangan Daisy—bukan dengan cengkeraman militer, tapi dengan kehangatan yang asing.
"Sudah selesai terkejutnya?" Suara Matthew memecah kesunyian. Nadanya kembali datar, kaku, seolah kejadian tertawa di bawah pohon tadi hanyalah halusinasi Daisy belaka.
Daisy segera menarik tangannya dengan sentakan kecil. Ia merapikan gaun biru mudanya yang kusut akibat insiden "karung beras" versi kedua tadi. "Saya tidak terkejut, Jenderal. Saya hanya... tidak menyangka Anda punya waktu luang untuk berdiri di bawah pohon dan menonton istri Anda dalam bahaya."
Matthew menoleh, menatap Daisy dengan alis yang terangkat satu. "Dalam bahaya? Aku rasa kau sedang melakukan latihan akrobatik yang buruk. Jika laporan intelijenku mengatakan istriku adalah seorang ninja, aku mungkin tidak akan tertawa."
"Anda benar-benar..." Daisy menggigit bibir bawahnya, menahan kata menyebalkan yang sudah di ujung lidah. Gengsinya setinggi langit melarangnya untuk terlihat terlalu emosional. "Lupakan saja. Terima kasih sudah menolong saya. Sekarang, tolong beri saya ruang. Saya ingin kembali ke paviliun."
Daisy bangkit berdiri, namun kakinya yang tadi sempat gemetar karena menahan beban di dahan pohon terasa sedikit lemas. Ia limbung sesaat.
Tanpa sepatah kata pun, Matthew bangkit. Ia tidak memegang tangan Daisy, melainkan menawarkan lengannya yang kokoh, menekuknya dalam posisi formal. "Gunakan ini. Anggap saja ini adalah tongkat kayu yang stabil untuk membantumu berjalan."
Daisy menatap lengan seragam Matthew yang dipenuhi otot itu. "Saya bisa jalan sendiri."
"Protokol keselamatan Glanzwald menyatakan bahwa korban kecelakaan pohon tidak boleh berjalan tanpa bantuan medis atau pendamping," ucap Matthew asal bunyi. Ia menggunakan istilah protokol seolah-olah itu adalah hukum negara yang sah, padahal itu hanyalah akal-akalannya saja agar bisa berjalan bersisian dengan Daisy.
Daisy mendengus remeh, namun ia akhirnya melingkarkan tangannya di lengan Matthew. Ia tidak mau mengambil risiko jatuh lagi dan menjadi bahan tertawaan suaminya yang kaku itu.
Malam itu, makan malam di kediaman utama berlangsung dengan suasana yang unik. Tidak ada lagi keheningan yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya, tapi juga tidak ada kemesraan yang manis. Yang ada hanyalah dua orang yang sedang berusaha menyeimbangkan antara gengsi dan rasa penasaran.
Pelayan menyajikan steak daging sapi dengan saus red wine dan kentang tumbuk. Matthew memotong dagingnya dengan presisi yang sangat akurat—setiap potongan memiliki ukuran yang hampir sama persis.
"Daisy," panggil Matthew tanpa mendongak.
"Ya, Jenderal?" Sahut Daisy, kembali ke panggilan formalnya meski tadi sore sudah memanggil nama pria itu.
Matthew berhenti memotong daging. Ia menaruh pisaunya dengan denting pelan. "Tadi sore... Kau memanggil namaku. Kenapa sekarang kembali ke Jenderal? Apakah pangkatku sekarang naik lagi di matamu dalam satu jam terakhir?"
Daisy tetap fokus pada saladnya. "Tadi sore adalah situasi darurat. Dalam keadaan darurat, orang cenderung melupakan tata krama."
"Jadi bagimu, memanggil nama suamimu sendiri adalah pelanggaran tata krama?"
"Bagi saya, itu adalah pelanggaran jarak yang sudah kita sepakati," jawab Daisy tegas. Ia menatap Matthew dengan mata cokelat madunya yang tajam. "Jangan berpikir karena Anda menangkap saya dari pohon, saya akan langsung luluh dan menyiapkan kopi untuk Anda setiap pagi."
Matthew terdiam sejenak. Ia meraih gelas kristal berisi air putih, menyesapnya perlahan. "Aku tidak butuh kopi. Aku punya pelayan untuk itu. Yang aku butuhkan adalah kau tidak memanjat pohon lagi tanpa peralatan panjat tebing yang sesuai standar militer."
Daisy hampir tersedak kentangnya. "Itu pohon ek di halaman rumah, Jenderal! Bukan tebing di perbatasan Utara!"
"Bagiku, risiko jatuh tetap sama," sahut Matthew dingin.
Setelah makan utama selesai, pelayan membawakan piring berisi buah apel merah yang sudah dikupas. Matthew melihat Daisy yang tampak kesulitan menusuk potongan apel yang licin dengan garpu kecilnya karena tangannya masih sedikit pegal akibat bergelantungan tadi sore.
Matthew menghela napas pendek. Ia mengambil piring apel milik Daisy, menariknya ke arahnya sendiri.
"Apa yang Anda lakukan? Itu apel saya," protes Daisy.
Matthew tidak menjawab. Dengan gerakan yang sangat kaku, ia mengambil sebuah potongan apel, menusuknya dengan garpu miliknya sendiri, lalu menyodorkannya ke arah mulut Daisy. Ia melakukannya dengan wajah yang sangat datar, seolah sedang memberikan instruksi tembak di medan perang.
"Buka mulutmu," perintah Matthew.
Daisy membelalak. "Anda mau menyuapi saya? Di sini? Di depan para pelayan?"
"Para pelayan sudah aku suruh keluar. Dan ini bukan menyuapi dalam konteks romantis, Daisy. Ini adalah bantuan nutrisi untuk subjek yang tangannya sedang mengalami kram otot ringan," ucap Matthew dengan alasan yang sangat teknis dan tidak romantis sama sekali.
Daisy menatap potongan apel itu, lalu menatap wajah Matthew yang tidak berekspresi. Gengsi Daisy berteriak untuk menolak, tapi perutnya masih menginginkan buah segar itu. Akhirnya, dengan wajah yang memerah karena malu, Daisy membuka mulutnya sedikit.
Matthew memasukkan potongan apel itu ke mulut Daisy. Tangannya sempat menyentuh bibir bawah Daisy yang lembut, dan sesaat, gerakan Matthew terhenti. Ada sengatan listrik yang dirasakan keduanya, namun Matthew segera menarik tangannya kembali dengan kaku.
"Sudah. Jangan bergelantungan lagi besok," ucap Matthew, mencoba menutupi kegugupannya dengan nada bicara yang kasar.
Setelah makan malam, Daisy kembali ke studionya, sementara Matthew ke ruang kerjanya. Rutinitas kembali normal, namun ada sesuatu yang berbeda di udara.
Pukul sepuluh malam, Daisy sedang asyik menggambar panel komik di tabletnya. Tiba-tiba, pintu studionya diketuk. Matthew masuk membawa sebuah kotak hitam kecil.
"Apa lagi, Jenderal? Saya sedang sibuk," ketus Daisy tanpa menoleh.
Matthew meletakkan kotak itu di meja kerja Daisy. "Ini krim otot dari unit medis militer. Sangat efektif untuk menghilangkan pegal. Oleskan pada lenganmu sebelum tidur."
Daisy melirik kotak itu. "Terima kasih. Anda bisa meletakkannya di sana."
Matthew tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, menatap layar tablet Daisy. "Gambar yang bagus. Tapi anatomi lengan karakter pria itu sedikit salah. Harusnya otot biceps-nya lebih menonjol saat memegang pedang seperti itu."
Daisy memutar bola matanya. "Ini komik romantis, Jenderal! Bukan manual pelatihan infanteri! Pembaca saya lebih suka estetika daripada akurasi anatomi militer."
"Estetika tanpa akurasi adalah kebohongan visual," sahut Matthew telak.
"Keluar dari studio saya, Jenderal!" Daisy menunjuk pintu dengan wajah kesal.
Matthew berbalik, namun sebelum keluar, ia bergumam pelan, "Oleskan krim itu. Aku tidak mau mendengar kau mengeluh sakit besok pagi."
Begitu pintu tertutup, Daisy mengambil kotak krim itu. Ia membukanya dan mencium aromanya yang kuat—aroma menthol dan herbal yang sangat maskulin. Daisy tersenyum sangat tipis, hampir tak terlihat.
"Pria yang menyebalkan," bisiknya.
Ia mulai mengoleskan krim itu di lengannya. Rasa hangat mulai menjalar, meredakan rasa pegal di otot-ototnya. Daisy menyadari bahwa Matthew punya caranya sendiri untuk peduli—cara yang sangat tidak romantis, sangat teknis, dan sangat kaku, tapi entah kenapa terasa lebih jujur daripada ribuan kata manis yang pernah ia dengar dari pria lain.
Malam itu di Glanzwald, tidak ada lilin romantis atau puisi cinta. Hanya ada sebotol krim otot militer dan sepotong apel yang disuapkan dengan kaku. Namun, di balik dinding gengsi yang masih setinggi langit, Daisy mulai merasakan bahwa mungkin—hanya mungkin—Jenderal Agung ini tidak seburuk yang ia bayangkan dalam laporannya.
Matthew sendiri, di ruang kerjanya, menatap telapak tangannya. Ia masih bisa merasakan kelembutan bibir Daisy yang tak sengaja tersentuh tadi. Ia segera menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
"Fokus, Matthew. Dia hanya aset yang harus dijaga," gumamnya pada diri sendiri, berbohong pada hatinya sendiri yang kini berdetak lebih cepat setiap kali mengingat suara Daisy yang memanggil namanya di bawah pohon ek tadi sore.
Perang dingin mereka belum berakhir, tapi setidaknya, malam ini mereka berbagi kehangatan yang tak terucapkan di balik protokol dan gengsi masing-masing.