Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 8
Aira termenung seorang diri di dalam rumah nya, orang tuanya sudah berubah jadi zombie juga.. Kini dia tinggal seorang diri di rumahnya..
Rumah aira tidak berada di kota melainkan di desa.
Meskipun orang tuanya orang kaya, orang tuanya lebih memilih hidup di desa aja karena di sana sangat nyaman..
"Stok makanan gue sudah menipis tapi gue takut keluar rumah" oceh aira.
"Gue juga kangen sama kedua sahabat gue Tuhan, apa mereka baik-baik juga" kembali dia bicara sendiri.
Aira mengintip dari jendela. Dia melihat orang tuanya ada di luar rumah lagi dengan para zombie yang lainnya.. Air mata aira tidak bisa di bendungan lagi.
Air mata Aira jatuh tanpa suara. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena takut… tapi karena rindu yang tak mungkin lagi terobati.
Ia menutup tirai jendela dengan tangan gemetar.
“Ma… Pa…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Kenapa harus jadi kayak gini…”
Di luar, suara langkah kaki yang terseret dan geraman rendah mulai terdengar mendekat.
Aira buru-buru menjauh dari jendela dan mematikan lampu ruang tamu.
Ia sudah hafal—cahaya sekecil apa pun bisa menarik perhatian mereka.
Rumah itu kini terasa seperti penjara.
Sunyi… dingin… dan penuh kenangan.
Aira berjalan pelan menuju dapur. Ia membuka lemari makanan, menatap isinya yang tinggal beberapa bungkus mie instan dan dua kaleng makanan.
“Ini cuma cukup buat… dua hari,” gumamnya.
Perutnya sebenarnya sudah lapar sejak tadi, tapi rasa takut jauh lebih besar dari rasa lapar itu sendiri.
Ia duduk di lantai, memeluk kedua lututnya.
“Tuhan… gue harus gimana…”.
Aira meratapi nasibnya dalam diam.
Rumah yang dulu terasa hangat… kini berubah menjadi tempat paling sunyi yang pernah ia rasakan.
Tidak ada lagi suara ibunya yang memanggil dari dapur.
Tidak ada lagi tawa ayahnya di ruang tamu.
Yang ada hanya… keheningan.
Dan sesekali—
Geraman dari luar.
Aira memeluk tubuhnya sendiri, duduk di sudut kamar dengan pandangan kosong.
“Kenapa harus gue…” bisiknya lirih.
Matanya sembab, air mata seakan tak ada habisnya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur dengan tenang.
Setiap malam selalu sama.
Takut.
Gelisah.
Dan sendirian.
Perlahan, Aira berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dengan ragu, ia membuka sedikit tirai.
Di luar…
Beberapa zombie masih berkeliaran.
Di antara mereka—
Ia melihat sosok yang sangat ia kenal yaitu mamanya.
Bajunya masih sama seperti terakhir kali mereka bertengkar kecil tentang hal sepele. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat… tapi Aira tahu itu mamanya.
Air mata Aira kembali jatuh.
“Ma…” suaranya bergetar. “Aira kangen…”
Tangannya menyentuh kaca jendela, seolah ingin meraih sosok itu.
Namun yang ia lihat bukan lagi mamanya.
Hanya… makhluk tanpa jiwa.
Aira menutup tirai dengan cepat, tubuhnya lemas.
“Gue gak kuat kalau terus kayak gini…” katanya sambil terisak.
Perutnya kembali berbunyi pelan.
Lapar.
Stok makanan hampir habis.
Dan ia tahu…
Cepat atau lambat, ia harus keluar.
Aira menatap pintu rumahnya.
Pintu itu seperti batas antara hidup… dan mati.
Kalau ia tetap di dalam—
Ia mungkin selamat dari zombie.
Tapi ia akan mati perlahan karena kelaparan.
Kalau ia keluar—
Ia punya kesempatan hidup.
Tapi juga… kemungkinan tidak akan kembali.
Aira mengepalkan tangan, mencoba menguatkan diri.
“Nggak ada pilihan…” ucapnya pelan.
Ia berjalan ke dapur, mengambil tas ransel tua milik ayahnya.
Dengan sisa tenaga dan keberanian, ia mulai memasukkan apa saja yang masih berguna—air minum, makanan kaleng terakhir, senter, dan pisau dapur.
Tangannya masih gemetar.
Tapi kali ini—
Ada tekad di matanya.
Aira berdiri di depan pintu.
Napasnya naik turun.
Satu langkah lagi…
Hidupnya tidak akan pernah sama.
Ia menutup mata sejenak.
“Ma… Pa… jagain Aira ya…”
Perlahan, tangannya meraih gagang pintu.
Dan—
Klik.
Pintu itu terbuka sedikit.
Udara dingin dari luar langsung masuk.
Bersamaan dengan suara—
Grrr…
Aira membeku.
Satu zombie… sudah berdiri tepat di depan rumahnya.
Wajahnya rusak… matanya kosong… dan jaraknya—
Sangat dekat.
Jantung Aira terasa berhenti berdetak.
********
Shila terus berjalan menelusuri hutan bersama gibran dan adiknya. Kenan di gendong sama gibran. Kedua anak muda itu bergantian menggendong kenan..
Tiba-tiba shila berhenti, dia mengenali desa yang saat ini tempat mereka berada yaitu desa aira sahabat nya..
"Lo kenapa berhenti shila, ayok lanjut kan perjalanan nya sebelum para zombie itu menyadari kehadiran kita" ajak gibran.
"Tunggu sebentar gib, rumah sahabat gue tidak jauh dari sini. Ayok kita kesana dulu untuk cari tahu apakah aira selamat" ujar shila.
Gibran langsung menoleh cepat, wajahnya tegang.
“Shila, ini bukan waktu yang tepat buat muter arah. Kita gak tahu kondisi di sana,” ucapnya pelan tapi tegas.
Shila menggeleng, matanya penuh keyakinan.
“Gue gak bisa ninggalin dia gitu aja, Gib. Kalau dia masih hidup… dia pasti sendirian.”
Kenan yang berada dalam gendongan Gibran tampak lemah, kepalanya bersandar di bahu nya gibran. Napasnya kecil, seperti menahan lelah yang luar biasa.
Gibran menatap kenan sebentar, lalu kembali ke Shila.
“Kalau kita ke sana, kita harus cepet. Gak boleh lama-lama.”
Shila mengangguk cepat. “Iya, gue janji.”
Mereka pun berbelok arah, menyusuri jalan setapak menuju desa yang kini tampak sunyi dan mencekam.
Rumah-rumah yang dulu penuh kehidupan… sekarang sepi, beberapa bahkan rusak dan terbengkalai.
Suara angin berhembus pelan, membuat suasana semakin dingin.
Langkah mereka diperlambat, lebih hati-hati.
“Shila… yakin ini jalan yang bener?” bisik Gibran.
“Iya… gue hafal,” jawabnya pelan.
Tak lama kemudian—
Shila berhenti lagi.
Matanya tertuju pada sebuah rumah besar di ujung jalan.
Rumah itu masih berdiri kokoh, tapi terlihat gelap… seolah tak berpenghuni.
“Itu… rumah Aira,” ucap Shila lirih.
Jantungnya berdegup kencang.
Tanpa menunggu lama, ia melangkah mendekat.
Gibran mengikuti dari belakang, tetap waspada sambil menggendong Kenan.
Saat mereka sampai di depan pagar—
Shila melihat sesuatu.
Pintu rumah itu… sedikit terbuka.
“Gib…” bisiknya.
Gibran langsung siaga. “Jangan langsung masuk.”
Tiba-tiba—
Grrr…
Suara geraman terdengar dari samping rumah.
Dua zombie muncul dari balik semak-semak, berjalan tertatih ke arah mereka.
“Shila, mundur!” seru Gibran.
Shila langsung bergerak cepat. Ia menarik tangan Gibran, berlari masuk ke dalam halaman dan mendorong pintu rumah Aira.
“Cepet masuk!”
"Tapi pintu nya terkunci dari dalam gib".
" kita lewat belakang, mungkin tidak terkunci "ajak shila lagi dan benar saja, pintu belakang aira lupa kunci, mereka pun langsung masuk.
Para zombie itu ikut mengejar shila dan gibran. Para zombie itu sudah terbiasa masuk ke halaman rumah aira.
Mereka bertiga masuk, dan Gibran langsung menutup pintu dengan keras.
BRAK!
Suara hantaman dari luar mulai terdengar.
Zombie-zombie itu mulai menabrak pintu.
“Gue tahan!” ujar Gibran sambil menahan gagang pintu.
Shila dengan cepat mencari sesuatu untuk mengganjal.
Ia mendorong meja ke arah pintu, membantu menahannya.
Napas mereka terengah-engah.
Beberapa detik kemudian…
Suara hantaman itu mulai mereda.
Sunyi kembali.
Namun—
Dari dalam rumah, lebih tepatnya ruang depan.
Terdengar suara langkah pelan.
Shila dan Gibran langsung menoleh bersamaan.
Suasana mendadak tegang.
“Lo denger itu…?” bisik Gibran.
Shila mengangguk pelan, matanya membesar.
Langkah itu… semakin mendekat.
Dari arah dalam rumah.
Dan kemudian
Sebuah suara terdengar, lemah… tapi jelas.
“…Shila…?”
Tubuh Shila langsung membeku.
Itu suara yang sangat ia kenal.
“Aira…?”