(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Alam Dewa – Teras Langit Istana Pedang.
Suasana di Teras Langit begitu damai. Awan berwarna-warni mengalir seperti sungai, dan burung bangau surgawi terbang melintasi matahari ganda.
Di sebuah meja giok bundar, tiga sosok legendaris sedang duduk menikmati arak ribuan tahun.
Jian Wuchen (Dewa Pedang): Pria tampan berwajah dingin dengan pedang di punggungnya, tapi saat ini sedang sibuk mengupas kacang kulit untuk istrinya.
Cang Ni (Dewa Kehancuran): Pria kekar berambut merah berantakan, tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
Feng Xuan (Dewa Angin/Informasi): Pria elegan dengan kipas, menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya.
"Hahaha! Kalian lihat wajah Ye Xing kecil tadi?" Cang Ni tertawa sampai araknya tumpah. "Dia menghancurkan arena itu seperti orang gila! Persis seperti Ayahnya, Ye Chen, Bedanya, Ye Chen pakai otot, Ye Xing pakai otak licik!"
Feng Xuan menyesap tehnya. "Dia cerdas. Memanfaatkan gravitasi untuk meruntuhkan fondasi. Tapi kondisinya mengkhawatirkan. Dia pingsan total. Jika musuh menyerang sekarang, dia tamat."
Jian Wuchen mendengus dingin, meski tangannya tetap cekatan mengupas kacang. "Bocah itu pantas mendapatkannya. Siapa suruh dia sok pahlawan? Kalau dia belajar pedang dariku, dia bisa memotong Fang Que jadi dua tanpa perlu meruntuhkan arena."
"Oh? Kau yakin?" suara lembut namun mematikan terdengar dari dalam paviliun.
Sesosok wanita cantik dengan gaun hitam transparan yang anggun berjalan keluar. Hawa keberadaannya membuat bayangan di sekitar mereka bergetar.
Han Xue (Ratu Bayangan). Istri Jian Wuchen.
"Wuchen," kata Han Xue tersenyum manis. "Kau bilang teknik pedangmu lebih baik dari teknik Bintang milik Tian Feng? Mau kucatat dan laporkan?"
Jian Wuchen langsung pucat. "Ti-tidak, Istriku! Maksudku... Ye Xing kurang latihan! Ya, kurang latihan!"
Cang Ni menahan tawa sampai wajahnya ungu. "Lihatlah Dewa Pedang yang agung, takut pada bayangan istri sendiri."
Tiba-tiba, pintu gerbang taman hancur berkeping-keping.
BLAARR!
Debu berterbangan. Seorang gadis remaja berusia 13 tahun berdiri di sana dengan wajah cemberut. Dia mengenakan pakaian latihan beladiri putih-merah, rambutnya diikat kuda tinggi. Wajahnya sangat cantik, perpaduan ketampanan Jian Wuchen dan misteri Han Xue.
Mei Wuchen. Putri Pedang.
"DIMANA DIA?!" teriak Mei Wuchen, pedang kayunya menunjuk ke arah tiga dewa itu.
"Siapa?" tanya Cang Ni pura-pura bodoh.
"JANGAN PURA-PURA, PAMAN CANG NI YANG JELEK!" bentak Mei. "Dimana Ye Xing?! Sudah tiga bulan aku tidak melihatnya! Biasanya dia datang mencuri buah persik di kebun kita, atau setidaknya melempar jimat peledak ke kamarku! Kenapa sepi sekali?!"
Jian Wuchen berdehem, mencoba bersikap sebagai ayah yang tegas. "Mei'er, jaga sopan santunmu. Ye Xing sedang... erm... meditasi tertutup. Ya, meditasi jangka panjang."
Mei Wuchen menyipitkan matanya. "Bohong. Ayah kalau bohong hidungnya kembang kempis."
"Itu..." Jian Wuchen panik memegang hidungnya.
"Ibu!" Mei beralih ke Han Xue, memasang wajah memelas (Puppy Eyes). "Katakan padaku. Kemana Xing pergi? Aku bosan. Tidak ada samsak tinju yang tahan pukul di sini. Anak-anak dewa lain menangis kalau kupukul sedikit."
Han Xue menghela napas, mengelus kepala putrinya. "Sayang, Ye Xing sedang menjalani ujian pendewasaan. Dia pergi jauh."
"Jauh kemana? Alam Bawah?" tebak Mei cerdas.
Hening.
"Benar kan?!" Mei Wuchen menghentakkan kakinya. "Curang! Dia pergi main petualangan tanpa mengajakku?! Aku mau menyusul!"
Mei Wuchen berbalik badan dan bersiap terbang.
"BERHENTI!" teriak Jian Wuchen, berdiri dari kursinya. Aura Dewa Pedang-nya keluar sedikit. "Mei'er! Alam Bawah itu berbahaya dan kotor! Kau dilarang turun! Masuk ke kamarmu sekarang!"
Mei Wuchen berhenti. Bahunya bergetar menahan tangis dan marah. "Ayah jahat! Aku cuma mau memastikan dia tidak mati!"
"Tidak boleh! Ini perintah Ayah!" Jian Wuchen merasa bangga sedikit karena berhasil tegas.
Namun, Han Xue tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya dengan agak keras.
Tak.
Suara kecil itu membuat nyali Jian Wuchen rontok seketika.
"Wuchen," panggil Han Xue datar.
"Y-ya, Sayang?" Jian Wuchen menoleh patah-patah.
"Sejak kapan kau jadi penjaga penjara anak kita? Biarkan dia pergi."
"Ta-tapi Istriku... Alam Bawah itu..."
"Kau meragukan kemampuan putri kita?" Han Xue menatap tajam. "Atau kau mau tidur di kandang Naga Langit malam ini?"
Jian Wuchen menelan ludah. "Tidur di kandang naga... baunya amis..."
Jian Wuchen segera duduk kembali, mengambil kacang, dan berkata dengan suara lemas, "Silakan pergi, Nak. Hati-hati di jalan. Ayah... Ayah pasrah."
Cang Ni dan Feng Xuan meledak tertawa. "BWAHAHAHA! Dewa Pedang takluk dalam satu kalimat!"
Mei Wuchen tersenyum lebar, menjulurkan lidah pada ayahnya. "Terima kasih, Ibu! Ibu yang terbaik!"
Wush!
Mei Wuchen terbang melesat meninggalkan Istana Pedang, menuju puncak tertinggi di Kekaisaran Langit: Menara Bintang.
Menara Bintang – Kediaman Tian Feng.
Tian Feng sedang berdiri di balkon, mengamati Cermin Samsara yang menampilkan Ye Xing yang sedang pingsan dirawat oleh Lin Xiao.
"Anak nakal itu... memaksakan diri," gumam Tian Feng, tapi ada senyum bangga di wajahnya.
"KAKEK TIAN FENG!!!"
Suara cempreng Mei Wuchen terdengar dari kejauhan. Tian Feng tersenyum geli. Satu lagi pembuat onar datang.
Mei Wuchen mendarat di balkon, napasnya terengah.
"Kek! Katakan padaku cara turun ke Alam Bawah! Aku mau menyusul Si Bodoh Xing!"
Tian Feng berbalik, menatap gadis kecil itu. "Mei'er. Ye Xing sedang dalam misi rahasia. Dia menyegel kekuatannya. Jika kau turun dengan kekuatan penuhmu, kau akan merusak keseimbangan dunia itu."
"Aku tidak peduli!" Mei Wuchen melipat tangan di dada. "Aku akan segel kekuatanku juga! Pokoknya aku harus ke sana. Perasaanku tidak enak. Aku mimpi dia dimakan monster jelek!"
Tian Feng terdiam sejenak. Insting Mei Wuchen tajam. Fang Que memang "Monster Jelek".
"Kau keras kepala, persis ibumu," kekeh Tian Feng. "Baiklah. Kau boleh turun. Tapi ada syaratnya."
Mata Mei berbinar. "Apa syaratnya?"
Tian Feng menjentikkan jarinya. Sebuah cincin melayang ke arah Mei.
"Bawakan ini untuknya. Tapi jangan berikan langsung. Biarkan dia berusaha menemukannya. Dan... kau tidak boleh membantunya dalam pertarungan kecuali dia benar-benar akan mati. Anggap saja kau sedang menonton pertunjukan."
"Siap, Bos!" Mei Wuchen menangkap cincin itu. "Jadi, aku boleh turun sekarang?"
"Pergilah. Jalur teleportasi belakang sudah kubuka."
Mei Wuchen bersorak girang. "Tunggu aku, Xing! Kalau kau berani main mata dengan gadis desa di sana, akan kupotong 'pedang'-mu!"
Gadis itu melompat ke portal dimensi.
Sepeninggal Mei, Tian Feng kembali menatap bintang-bintang.
"Dua pewaris takdir telah turun," gumam Tian Feng. "Roda zaman mulai berputar lebih cepat. Semoga Alam Bawah siap menampung kehancuran yang akan dibuat oleh pasangan gila ini."