SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Inti Dewa dan Tahta Kegelapan
Gua di balik gerbang singa hitam itu bukanlah lorong batu biasa. Dinding-dindingnya seolah bernapas, dilapisi oleh kristal-kristal ungu yang berdenyut seirama dengan detak jantung Lin Xiao. Semakin dalam ia melangkah, gravitasi di tempat itu terasa semakin berat, seolah-olah udara di sana terbuat dari timah cair yang mencoba menekan tubuhnya ke lantai. Namun, Lin Xiao tidak berhenti. Darah yang mengalir dari bahunya akibat ujian sebelumnya kini telah mengering, meninggalkan bekas luka yang segera tertutup oleh energi hitam yang mulai memadat.
Di ujung gua, ia sampai di sebuah ruangan yang sangat luas tanpa atap, memperlihatkan langit lembah yang hitam tanpa bintang. Di tengah ruangan itu, melayang sebuah bola energi seukuran kepalan tangan yang memancarkan cahaya ungu yang sangat pekat hingga terlihat hampir hitam. Itulah Inti Dewa Kegelapan, sisa-sisa esensi dari penguasa Nirwana pertama yang legendaris.
Namun, sebelum Lin Xiao bisa mendekat, ia merasakan dunia di sekelilingnya tiba-tiba menghilang. Tidak ada dinding gua, tidak ada cahaya ungu, tidak ada suara angin. Hanya ada kegelapan yang mutlak.
Inilah Bayangan Kekosongan.
Dalam ujian ini, panca indra tidak lagi berguna. Lin Xiao merasa seolah-olah tubuhnya telah lenyap, menyisakan jiwanya yang melayang di ruang hampa yang tak berujung. Tidak ada musuh untuk dilawan, tidak ada ilusi untuk dipecahkan. Yang ada hanyalah kesunyian yang sanggup menghancurkan kewarasan manusia dalam hitungan detik.
‘Apakah aku sudah mati?’ sebuah pikiran melintas di benaknya.
"Kau bukan mati, kau hanya kembali ke tempat asalmu," sebuah suara tanpa wujud berbisik dari segala arah. "Kegelapan adalah awal dari segalanya, dan akhir dari segalanya. Untuk memiliki Inti Dewa, kau harus menjadi bagian dari kekosongan ini. Lepaskan dendammu, lepaskan namamu, lepaskan keberadaanmu..."
Lin Xiao merasakan godaan untuk menyerah. Rasanya begitu damai, tanpa rasa sakit, tanpa beban pengkhianatan yang selalu menghimpit dadanya. Namun, tepat saat kesadarannya mulai memudar, ia membayangkan wajah Yun'er yang sedang menunggunya, dan wajah Long Tian yang masih tersenyum di atas takhtanya.
"Melepaskan?" Lin Xiao berteriak di dalam jiwanya. "Aku tidak akan melepaskan apa pun! Kegelapan ini bukan tempatku untuk menghilang, tapi ini adalah senjataku untuk bangkit! Jika kekosongan ini adalah asal dari segalanya, maka aku akan menjadi penguasa dari kekosongan ini!"
Lin Xiao mulai memutar sisa Energi Nirwana di dalam Inti Jiwanya yang baru saja pulih. Alih-alih melawan kekosongan, ia justru menghisapnya. Ia membuka seluruh pori-pori jiwanya, membiarkan kehampaan itu masuk dan mengisi retakan-retakan di dalam dirinya.
Seketika, ruang hampa itu meledak dalam cahaya ungu yang menyilaukan. Lin Xiao kembali berdiri di dalam gua, tangannya kini hanya berjarak beberapa inci dari Inti Dewa Kegelapan.
"Kau telah lulus, pewaris mawar," suara itu terdengar untuk terakhir kalinya, kini dengan nada hormat.
Lin Xiao menggenggam Inti Dewa tersebut. Seketika, sebuah ledakan energi yang dahsyat meluncur masuk ke dalam tubuhnya. Ia berteriak saat seluruh meridiannya dipaksa melebar hingga ke batas maksimal. Rambut hitamnya yang tadinya hanya memiliki helai perak di ujungnya, kini secara perlahan berubah menjadi perak sepenuhnya, berkilau dengan cahaya metalik yang indah.
Kultivasinya melesat dengan kecepatan gila.
Tahap Pembersihan Sumsum...
Tahap Pembentukan Inti Tingkat Satu... Tingkat Lima...
Hingga akhirnya berhenti di Tahap Inti Emas Tingkat Satu.
Sebuah pencapaian yang hampir mustahil bagi seseorang seusianya di seluruh kekaisaran.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Sebuah getaran hebat mengguncang seluruh gua. Bagian atas gua runtuh, dan sesosok pria tua dengan jubah hitam yang compang-camping mendarat di tengah ruangan. Pria itu memiliki aura yang sangat busuk, seolah-olah ia baru saja merangkak keluar dari kuburan.
"Akhirnya... setelah tiga ratus tahun, Inti Dewa itu muncul kembali," ucap pria tua itu dengan suara serak. Matanya yang kuning menatap Lin Xiao dengan kerakusan yang tak tertutup.
Lin Xiao berdiri dengan perlahan, merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap tetes darahnya. "Siapa kau?"
"Aku adalah Zhuo Fan, Tetua Pengasingan dari klan bayangan yang dikhianati oleh klan Mawar Hitammu di masa lalu," pria itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Long Tian menjanjikanku kebebasan dan wilayah kekuasaan jika aku membawakan kepalamu dan Inti Dewa itu kepadanya. Tapi sekarang setelah aku melihatmu, aku lebih suka memakan jantungmu dan mengambil kekuatannya untuk diriku sendiri!"
Zhuo Fan melesat maju, tangannya berubah menjadi cakar bayangan yang mengeluarkan kabut beracun. Dia adalah seorang praktisi Tahap Inti Emas Tingkat Tiga, lebih tinggi dari Lin Xiao saat ini.
Namun, Lin Xiao hanya tersenyum dingin. Ia merasakan bahwa ia bukan lagi sekadar kultivator berbakat. Ia adalah manifestasi dari kegelapan itu sendiri.
"Makan jantungku? Cobalah jika kau bisa mengejarku, orang tua bangka," ucap Lin Xiao.
Ia menghilang dalam satu kedipan mata, lebih cepat daripada teknik bayangan mana pun yang pernah ada. Ia muncul di atas Zhuo Fan, pedang Nightshade kini memancarkan api ungu yang membakar udara.
'Nirwana Dewa: Tebasan Penghakiman Kegelapan!'
Zhuo Fan terkejut dan mencoba menahan dengan perisai bayangannya, namun pedang Lin Xiao membelah perisai itu seperti pisau panas membelah mentega.
CRASH!
Pria tua itu terlempar menabrak dinding gua, memuntahkan darah hitam yang berbau busuk.
"Bagaimana mungkin?! Kau baru saja menembus Inti Emas! Kenapa energimu begitu padat?!"
"Karena Inti Dewa ini tidak hanya memberiku energi, tapi juga otoritas atas seluruh kegelapan di dunia ini," jawab Lin Xiao dengan nada datar.
Lin Xiao mengangkat tangannya ke langit. Seluruh kabut beracun di Lembah Tabib Hantu mulai tersedot masuk ke dalam gua, berkumpul di telapak tangannya membentuk bola raksasa yang berputar.
"Kau ingin kegelapan? Ambirlah semuanya!"
Lin Xiao melepaskan bola energi itu. Zhuo Fan berteriak ketakutan saat ia ditelan oleh pusaran energi yang menghancurkan segalanya. Dalam hitungan detik, tidak ada yang tersisa dari pria tua itu kecuali debu yang terbawa angin.
Lin Xiao menarik napas panjang, menenangkan energinya. Rambut peraknya perlahan kembali menjadi hitam, namun tatapan matanya kini memiliki aura dewa yang tak tergoyahkan. Ia berjalan keluar dari gua menuju tempat Gu dan Yun'er berada.
Saat ia keluar, ia melihat ribuan prajurit kekaisaran yang dipimpin oleh para jenderal besar sedang mengepung pinggiran lembah. Mereka membawa meriam energi dan binatang buas tempur.
Gu berdiri di depan gubuk dengan pedang terhunus, mencoba melindungi Yun'er yang ketakutan.
"Nona!" teriak Gu saat melihat Lin Xiao muncul dari dalam kabut.
Lin Xiao melangkah maju, melewati mereka dan berdiri di depan barisan tentara kekaisaran. Ia menatap ribuan orang itu dengan tenang.
"Beritahu Long Tian," suara Lin Xiao bergema ke seluruh lembah, membuat para prajurit itu gemetar ketakutan. "Mawar Hitam tidak lagi bersembunyi. Mulai hari ini, aku adalah bencana yang akan menghancurkan kerajaannya. Siapa pun yang berani melangkah satu inci lagi ke dalam lembah ini... akan menjadi bagian dari tanah ini selamanya."
Melihat perubahan aura Lin Xiao dan hancurnya Tetua Zhuo Fan di kejauhan, para jenderal itu ragu. Mereka tahu bahwa gadis di depan mereka bukan lagi manusia biasa. Dia adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Perang besar baru saja memasuki babak baru. Lin Xiao telah mencapai puncaknya, dan sekarang saatnya bagi sang predator untuk mulai berburu mangsanya.