Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bongkar Makam
Malam itu,
Di kediaman rumah Yitno, selepas acara yasinan rutin yang diadakan setiap malam Jum'at. Pak RT berusaha menjelaskan duduk permasalahan yang di alami keluarga Tarman menyangkut rumor teror arwah Lastri serta apa yang di lihat oleh Mbah Surip tentang keanehan kuburan Lastri pun ia ceritakan.
Tarman yang hadir hanya tertunduk mendengarkan, sedangkan Yitno menelan ludah mendengar penuturan pak RT yang berencana mendatangi Mbah dukun di rawa itu. Tampak Yitno begitu gemetar...
"Jadi saya berniat mendatangi Mbah itu di rawa, untuk bertanya kepada dia. Seperti yang kalian tau kalau Mbah itu agak kurang setengah. Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan saya meminta beberapa warga agar menemani saya.
Gak usah terlalu banyak, nanti sangkanya ada apa. Saya butuh delapan orang, empat pemuda yang berjaga di luar dan empat sesepuh menemani saya ke dalam berbicara kepadanya di dalam. Gimana apakah saudara-saudara dan bapak-bapak sekalian setuju?" Tanya pak RT
Para warga jamaah Yaasin itu saling menoleh..
"Kami setuju pak, tapi apa gak bahaya? Maksudnya kita apa harus main hakim jika tiba-tiba dia marah? Soalnya saya pernah di kejar paket golok sama Mbah itu waktu ngarit deket rawa itu..dia bisa aja berbuat nekat." Ujar Iwan
"Emm..gak perlu, jika dia sampe kayak gitu kita kabur pergi saja. Nanti saya serahkan kasus ini kepada pihak berwajib kalau dia sampe berbuat seperti itu..." Jawab pak RT
"Gak dari sekarang aja pak lapor polisinya?" Ujar salah satu warga
"Gak bisa, ini belum bisa di sebut perkara, gak ada bukti..kita bisa aja fitnah..jadi harus ada kekuatan bukti yang jelas kalau kita harus lapor."
"Iya juga ya?..ya udah pak! kapan kita ke sana?"
"Besok abis ashar..kumpul di rumah saya." Ujar pak RT
Mufakat telah di ambil, para warga setuju dengan keputusan pak RT tersebut. Setelah rundingan tersebut selesai, para warga berpamitan dengan Yitno dan beranjak pulang ke rumah mereka masing-masing.
Yitno begitu gusar dan tak tenang, saat ini yang ia takuti bukan lagi soal teror arwah si Lastri tetapi para warga. Ia takut Mbah itu akan terdesak dan mengakui semuanya. Jika itu terjadi tamat sudah riwayatnya.
Yitno benar-benar bingung, ia ingin kabur tetapi ia khawatir dengan ibunya, hingga pagi ia tak tidur..ia begitu setres. Ia sama sekali tak mempunyai cara untuk menangani ini, dia benar-benar buntu dan putus asa.
Embun pagi yang dingin di sambut siulan burung dan kepak Kokok ayam khas pedesaan menyambut pagi Yitno yang di landa rasa kekhawatiran yang mendalam. Ia justru tidur pagi itu, karena semalaman ia tak bisa tidur memikirkan hal tersebut.
Tok..tok...tok... Yit...!! Yitno...!!
Terdengar suara yang memanggil-manggilnya dari luar rumahnya sembari terus mengetuk pintu rumah. Yitno terbangun dengan kepala sangat pusing, karena waktu tidurnya yang kurang.
"Kayak suaranya iwan, ada apa...? Apa jangan-jangan mereka udah tau aku pelakunya...?" Batin Yitno waswas
Yitno pun mengendap-endap ke ruang tamu mengintip dari sela-sela antara dinding papan rumahnya. Terlihat iwan hanya seorang diri di depan pintu rumahnya tanpa warga lain, itu menandakan jika dirinya belum ketahuan. Ia lalu membukakan pintu rumahnya.
"Wei molor aja...!! Udah mau sore ini..!!" Ucap iwan sahabat sejak kecilnya itu
"Ada apa wan?"
"Di panggil pak RT, suruh ke rumahnya sekarang, aku di suruh jemput kamu."
"Hah...?? Waduh ada apa ini?" Batin Yitno sudah tak tenang "Ngapa manggil saya wan?" Tanya Yitno
"Ya di suruh, mewakili pemuda..kan kamu pemuda paling tua. Hahaha..."
"Asem..!! emang gak ada yang dateng para pemuda?"
"Ada Wisnu, sama Widodo di sana jadi kurang satu makanya aku jemput kamu."
"Halah akal akalan kamu aja wan, sengaja kamu ini.."
"Hahaha...kamu kan pernah ketemu Mbah itu Yit, jadi siapa tau kamu bisa bantu komunikasi sama dia. Gitu maksud pak RT."
"Mampuslah...." batin Yitno
"Udah buruan ayok..."
"Aku belum mandi..." Yitno beralasan
"Halah mandi Mandian segala! Gak bisa ganteng gak kamu mau mandi serebu tahun juga.. udah buruan udah setengah empat ini, nanti kesorean! Mereka semua nunggu kamu. Pak RT mau jelasin sesuatu tadi katanya, tunggu kumpul semua. Cepet buruan ayok!" Desak iwan
Yitno pun tak bisa mengelak, ia segera pergi ke sumur mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya lalu pergi bersama iwan. Di perjalanan ke rumah pak RT, iwan dan Yitno berbincang sembari berjalan menyusuri jalanan desa berbatu itu.
"Heh Yit..apa Mbah yang di rawa itu beneran dukun ya? kok dia muter-muterin kuburan si Lastri sambil bawa kemenyan gitu katanya pak RT, malem-malem lagi." Ucap iwan
"Paling wan, gak tau aku..bisa jadi." Jawab Yitno sekedarnya ia masih bertanya-tanya apa yang ingin di sampaikan pak RT. Apakah ia sudah ketahuan? Fikirannya begitu kacau hingga tak fokus dengan obrolannya bersama iwan.
"Menurutmu ini ada apa ya Yit? kok kebetulan banget kampung kita di teror hantu si Lastri, kok ya dia kayak gitu di kuburan Lastri. Apa yang di perbuat Mbah itu sama Lastri ya? Apa dia lagi ngelakuin ritual aneh?"
"Halah gak tau aku wan, males sebenernya aku kesana, kamu pake maksa-maksa.."
"Biar kelar lho Yit, aku juga pernah di hantui, katanya kamu juga ngelihat hantu kan? Mau kamu di hantui lagi, hah? Aku sih pengen secepatnya masalah ini beres, gak nyaman aku hidup kayak gini."
"Tinggal pindah sana kalau gak nyaman di kampung ini, gak usah repot..kamu kan banyak duit..."
"Bukan soal itu Yit, emang kalau punya duit terus bisa ninggalin semuanya gitu aja?"
"Mbohlah..."
Tak lama mereka sampai di rumah pak RT. Di sana sudah ada sekitar tujuh orang. Ada pak RW, sesepuh desa dan beberapa pemuda.
"Ini pak RT, Yitno udah Dateng..." Ucap iwan
"Ya udah sini kita bahas sebentar. Jadi gini rencananya. Biar kami yang tua-tua ini yang bertamu, kalian jaga jaga di luar jangan terlalu deket. Usahakan gak keliatan, di sana kan banyak semak-semak. Sembunyi di situ aja..kalau mendengar keributan langsung dateng..hindari kekerasan..kalau Mbah itu aneh-aneh kita pergi saja.." ucap pak RT
"Iya pak.." ucap semua orang yang berada di situ serentak.
Mereka pun berjalan bersama menuju rawa tersebut. Yitno berada di paling belakang, ia begitu takut jika Mbah itu buka mulut soal dirinyalah yang membongkar makam Lastri. Tak berselang lama mereka semua sampai di gubuk reyot kediaman Mbah dukun itu....
Para sesepuh desa pun masuk dan bertamu, sedang Yitno, Iwan, Wisnu dan Widodo menunggu di luar dibalik semak-semak.
"Yit! kita nunggu di sini aja..." Ucap iwan berbisik
"Sssttt...kamu disini wan,sama Widodo dan Wisnu...aku tak nguping pembicaraan mereka." Ujar Yitno
Setelah semua sesepuh, pak RT dan RW masuk kedalam gubuk itu, pelan-pelan Yitno mendekati gubuk itu, tepatnya di samping gubuk itu. Sedang iwan, Widodo dan Wisnu memperhatikan Yitno
"Nekat banget mas Yitno ya mas wan..." Bisik Wisnu
"Ssst...ada benarnya Yitno, para sesepuh pasti gak ngasih tau. Nanti kita dapet informasi dari Yitno..udah kalian diem aja..." Ucap iwan
"Iya juga ya mas...untung sampeyan ngajak mas Yitno.." tambah Widodo
Sementara itu di dalam gubuk...
"Mbah maksud kedatangan kami kemari, yang pertama ingin bersilahturahmi yang kedua, ada yang ingin di tanyakan oleh pak RT kepada Mbah..." Ucap sesepuh desa memulai pembicaraan
"Tanya...? Tanya apa..!!" Ucap Mbah itu ngegas dengan raut wajah marah, dengan mata melotot tajam serta tatapannya sinis. Seolah ia tak suka dengan kedatangan mereka semua.
"An..anu Mbah saya RT di sini, kami cuma mau nanya baik-baik sama Mbah..." Ujar pak RT
"Tanya apa...!!!" Teriak Mbah itu semakin marah, Tampak pak RW terpancing emosi melihat cara Mbah itu menjawab...
"Kami datang baik-baik Mbah...!!! Gak usah teriak-teriak...!!" Balas pak RW
"Ini rumah saya...!!! Saya bebas teriak, kamu yang jaga mulut kamu untuk tidak teriak di rumah orang lain...!!" Ujar mbah itu sembari menunjuk wajah pak RW
"Mbah kami mau nanya, apa yang Mbah lakuin di kuburan anaknya pak Tarman di malam ketujuh kematiannya? kuncen makam itu bilang Mbah di situ muterin kuburannya, apa yang Mbah lakuin...??" Tanya pak RT to do point' melihat situasi sudah tak kondusif..pak RT segera bertanya kepentingannya...
"Bukan urusanmu dan bukan urusan kalian! sekarang juga pergi dari sini...!!! Pergi...!!!" Teriak Mbah itu sembari menepuk nepuk alas tikar dengan kuat...
"Terus ngapain mbah disana? Di tanya kok gak mau jawab?" Ucap pak RW
"Bukan urusan kalian...!!! Saya bilang pergi..!!!" Ujar si Mbah sembari berdiri dan berlari ke arah belakang mengambil sebuah sabit. Sontak seluruh yang ada di ruangan itu bubar keluar...Mereka semua menghindari keributan yang lebih fatal...
"Dasar wong edan! mau ngajak bunuh-bunuhan kamu ya!? Udah tua gak punya otak..!!" Teriak pak RW yang juga tersulut emosi. Yitno langsung meraih pak RW...
"Udah pak, ayo pergi dari sini...." Bisik Yitno sembari menarik pak RW.
Sedangkan si Mbah dukun itu membanting pintu rumahnya ia menutup pintu rumahnya dengan kuat...Alhasil mereka pulang dan meninggalkan gubuk itu tanpa hasil....
"Kamu denger apa tadi Yit...??" Bisik iwan
"Mbah itu gak bilang apa-apa, dia gak seneng di datengin kayaknya.."
"Udah tak duga pasti gak ada hasilnya, orang Mbah itu gak bisa dia ajak ngomong, kok malah di tanya-tanya..." Ujar iwan menggerutu
"Udah pak RT, kita lapor polisi aja kita bongkar kuburan anaknya Tarman..aku curiga Mbah itu nyembunyiin sesuatu.." ujar pak RW
Deggg..!!!
Jantung Yitno serasa mau copot mendengar ucapan pak RW...