NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di dalam rumah, Albi duduk di kursi kayu dekat jendela. Nara mengambilkan air hangat, lalu botol obat dari lemari kecil yang sejak dulu tidak pernah benar-benar disembunyikan hanya jarang disebut.

“Ngombe sik,” ujar Nara sambil menyodorkan gelas.

(Minum dulu.)

Albi menurut. Tegukan pertama pelan, yang kedua sedikit lebih lama. Bahunya turun, seolah beban kecil dilepaskan.

“Kowe kok manut saiki?” Nara menatapnya sambil menyilangkan tangan.

(Kamu kok nurut sekarang?)

Albi tersenyum tipis. “Soale sing ngomong bojoku.”

(Karena yang bicara istriku.)

“Wingi-wingi yo bojomu,” balas Nara cepat.

(Kemarin-kemarin juga istrimu.)

“Iya… tapi saiki bojoku nesune alus.”

(Iya… tapi sekarang marahnya lembut.)

Nara mendengus, menahan senyum. “Isih iso guyon, berarti durung parah.”

(Masih bisa bercanda, berarti belum parah.)

“Ngono kuwi tandhane aku sehat,” sahut Albi santai.

“Ngono kuwi tandhane kowe ngeyel,” balas Nara tanpa jeda.

Mereka saling pandang. Lalu tertawa kecil, bukan keras, lebih seperti napas yang akhirnya bisa dilepas.

Nara duduk di bangku kecil di depan Albi. Tangannya reflek meraih pergelangan suaminya, merasakan denyut yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Bi…” suaranya melembut. “Yen awakmu kesel, ora usah pura-pura kuat. Aku iki ora mung bojomu pas sehat.”

(Kalau tubuhmu capek, jangan pura-pura kuat. Aku ini bukan istrimu hanya saat kamu sehat.)

Albi menunduk. Matanya menatap lantai beberapa detik.

“Aku ngerti,” katanya pelan. “Aku mung wedi… yen aku kakehan ngeluh, omah iki dadi abot.”

(Aku paham. Aku cuma takut… kalau aku terlalu banyak mengeluh, rumah ini jadi berat.)

Nara menggeleng kecil. “Omah iki abot yen kowe meneng. Dudu yen kowe crita.”

(Rumah ini berat kalau kamu diam. Bukan kalau kamu bercerita.)

Kalimat itu jatuh tepat. Albi mengangguk kecil, menyerah dengan caranya sendiri.

“Yo wis,” katanya akhirnya. “Aku janji… yen badan iki ora enak, aku ngomong.”

(Ya sudah. Aku janji… kalau badanku tidak enak, aku akan bilang.)

“Janji karo sopo?”

(Janji sama siapa?)

“Karo bojoku.”

(Sama istriku.)

Nara tersenyum. “Lan karo anakmu.”

(Dan sama anakmu.)

Albi tersenyum lebih lebar kali ini. “Iyo. Karo Arbani uga.”

(Iya. Sama Arbani juga.)

Beberapa saat kemudian, Albi bersandar. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Nara tidak pergi. Ia tetap duduk di sana, membuka buku catatan kecil di meja, yang isinya bukan jadwal obat, tapi hal-hal remeh: belanja, jadwal sekolah, dan satu tulisan tangan Albi dari entah kapan.

“Yen aku lali, elingno.”

(Kalau aku lupa, ingatkan.)

Nara mengusap dadanya sendiri pelan.

Sembilan tahun.

Rumah ini tidak dibangun dari janji besar. Tidak juga dari cinta yang meledak-ledak. Tapi dari hal-hal kecil yang dipelihara: duduk saat lelah, minum saat pusing, dan keberanian untuk berkata jujur.

Dari luar, rumah itu tampak biasa.

Tapi di dalamnya, ada keluarga yang saling menjaga, pelan, sadar, dan memilih bertahan setiap hari. Dan pagi itu, di antara kursi kayu, cahaya jendela, dan napas yang mulai stabil, Nara tahu satu hal:

Cinta mereka mungkin tidak keras. Tapi cukup kuat untuk membuat seseorang berhenti berpura-pura.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, suara langkah kecil terdengar dari luar pagar, Arbani pulang dengan wajah yang cukup lelah, karena memang anak itu terlalu aktif ikut les ataupun. kegiatan lain yang ada di sekolahnya, tak jarang, Albi selalu mendapat nilai yang cukup bagus.

“Bu… Pak… aku muleh.”

(Bu… Pak… aku pulang.)

Nara yang sedang di dapur menoleh. “Arbani wis tekan.”

(Arbani sudah sampai.)

Anak itu masuk dengan tas masih menggantung miring di bahu. Biasanya ia langsung bercerita, tentang temannya, tentang pelajaran, tentang apa saja. Tapi kali ini langkahnya melambat saat melihat ayahnya terbaring di kursi panjang ruang tengah.

“Pak?” panggilnya pelan.

Albi membuka mata, terkejut sepersekian detik, lalu tersenyum. “Lho… wis muleh?”

(Lho… sudah pulang?)

Arbani mengangguk. Ia tidak mendekat dulu. Matanya meneliti wajah ayahnya, pucat yang tidak biasa, napas yang tidak sekuat pagi tadi.

“Pak kok turu sore-sore?”

(Pak kok tidur sore-sore?)

“Pakmu kesel sethithik,” jawab Nara cepat dari arah dapur.

(Ayahmu capek sedikit.)

Arbani meletakkan tasnya pelan. Ia mendekat, berdiri di samping kursi, ragu apakah boleh bicara lebih keras.

“Pak… loro, ya?”

(Pak… sakit, ya?)

Albi hendak menyangkal, tapi mata anak itu terlalu jujur untuk dibohongi. Ia mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Arbani mendekat.

“Mrene,” katanya pelan.

(Sini.)

Arbani naik ke kursi, duduk di sisi ayahnya seperti dulu—kepalanya sejajar dada Albi. Tangannya kecil, tapi hangat saat menyentuh lengan ayahnya.

“Pak… aku dina iki oleh nilai apik.”

(Pak… hari ini aku dapat nilai bagus.)

Albi tersenyum. “Pinter tenan.”

(Pintar sekali.)

“Tapi aku ora seneng nek Pak turu terus.”

(Tapi aku nggak suka kalau Pak tidur terus.)

Kalimat itu jatuh tanpa nada menuduh. Justru karena itulah, dadanya Albi terasa ditarik kuat.

“Nak…” suaranya sedikit serak. “Pak iki mung ngaso. Ora ninggal.”

(Nak… Ayah ini cuma istirahat. Bukan pergi.)

Arbani menggeleng pelan. “Aku ngerti. Tapi… nek Pak kesel, ngomong. Ojo meneng.”

(Aku tahu. Tapi… kalau Pak capek, bilang. Jangan diam.)

Nara berhenti di ambang pintu. Tangannya menggenggam kain lap erat-erat.

“Kok kowe iso mikir ngono?” tanya Albi lirih.

(Kok kamu bisa mikir begitu?)

Arbani menunduk, lalu menjawab jujur, “Soale aku wedi.”

(Karena aku takut.)

Hening.

“Wedi opo?”

(Takut apa?)

“Wedi nek sesuk Pak ora iso ngancani aku maneh.”

(Takut kalau besok Pak nggak bisa nemenin aku lagi.)

Satu kalimat.

Dan cukup untuk membuat Albi menutup mata.Tangannya meraih punggung anak itu, memeluk, pelan, tapi penuh.

“Nyuwun ngapunten, Le,” bisiknya.

(Maafkan Ayah, Nak.)

“Pak ora pengin nggawe kowe wedi.”

(Ayah nggak mau bikin kamu takut.)

Arbani menyandarkan kepala ke dada ayahnya. “Aku mung pengin Pak jujur.”

(Aku cuma ingin Pak jujur.)

Albi mengangguk kecil. “Iyo. Pak janji.”

(Iya. Ayah janji.)

Nara mendekat, berlutut di samping mereka. Tangannya mengusap rambut anaknya.

“Kowe wis pinter, Le,” ucapnya lirih.

(Kamu sudah pintar, Nak.)

Arbani mengangkat wajahnya. “Bu… Pak iki duwekku, ya?”

(Bu… Pak ini punyaku, ya?)

Nara menahan napas. “Iyo. Duwekmu.”

(Iya. Punyamu.)

Albi tersenyum, matanya basah tapi tidak jatuh. “Lan Pak yo duweke ibumu.”

(Dan Ayah juga punya ibumu.)

Arbani tersenyum kecil. “Yo wis. Aku lungguh kene wae.”

(Ya sudah. Aku duduk di sini saja.)

Sore itu, tidak ada tangis, ataupun tanda kesedihan, namun di balik rumah sederhana itu ada satu anak, satu ayah, dan satu ibu, yang belajar bahwa kejujuran kadang lebih menenangkan daripada kepura-puraan.

Bersambung ....

Siapin tisunya ya 😭😭😭😭😭

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!