NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Sugar Daddy KR

Ayu segera kembali ke mode profesional setelah Ken memberikan peringatan singkat namun efektif itu.

Ia meletakkan ponsel Lingga yang kini bersih dari daftar kencan di meja, lalu meraih berkas Tuan Dirga untuk mulai bekerja. Pengawasan Ken terasa seperti beban fisik, seolah-olah mata bodyguard itu memiliki sinar-X yang mampu menembus tembok bilik dan otaknya.

Di sudut matanya, Ayu melihat Ken berbalik, kembali ke posisi penjagaannya di ambang pintu bilik.

Pengawal itu tahu aku hampir melakukan sesuatu yang bodoh, pikir Ayu, merinding sekaligus kagum. Dia membaca ekspresiku. Atau dia punya indra keenam untuk 'tindakan yang akan membuat Tuan Lingga kesal'.

Sementara itu, Lingga sudah kembali ke kantornya, ruangannya sunyi kecuali bunyi ketukan jarinya di meja. Secara fisik dia berada di Lantai 30, tetapi pikirannya masih berputar-putar di Lantai 31, di tengah negosiasi infrastruktur dan—yang lebih mengganggunya—interaksi dengan Ayu.

Keputusannya untuk menghapus daftar kencan itu adalah sebuah tindakan logis, hasil dari evaluasi risiko.

Risiko Aleya: Terbukti, hubungan emosional membuatnya mabuk dan merusak penilaian.

Risiko Ayu: Kehadiran Ayu sebagai saksi mata dan pengingat kejatuhannya adalah anomali yang perlu dinetralisir. Dengan menjadikannya ‘Asisten Khusus Proyek’ dan menghapus opsi kencan, ia memagari dirinya dari potensi gangguan emosional lebih lanjut.

Semuanya logis. Semua dikendalikan.

Namun, yang tidak logis adalah dorongan kecil yang kini mengganggunya: Apa yang ingin ditulis Ayu di ponselku?

Lingga mengambil ponselnya, yang sudah dikembalikan oleh Ayu setelah membersihkan daftar tersebut. Layar itu kosong dan rapi.

Ia membuka aplikasi Notes, kemudian History dari aplikasi kencan yang sudah di-uninstall. Tidak ada sisa. Ken pasti memastikan Ayu melakukan pembersihan total.

"Sial," gumam Lingga, frustrasi karena tidak menemukan jejak. Itu bukan rasa penasaran romantis; itu adalah rasa penasaran seorang ahli strategi yang tidak bisa memecahkan teka-teki kecil.

Dia hampir menyeringai, batin Lingga, mengingat sekilas ekspresi Ayu saat Ken menyergapnya. Itu bukan senyum asisten. Itu senyum... biang keladi.

Lingga menekan tombol interkom. "Ken, ke ruanganku."

Ken, Pengawal yang Tahu Semuanya.

Ken masuk ke ruangan Lingga dalam hitungan detik. Ia berdiri tegak di depan meja, wajah datarnya sempurna.

"Tuan," Ken memberi hormat.

"Tentang Nona Ayu," Lingga memulai, berusaha agar suaranya terdengar dingin dan profesional. "Apakah dia melaksanakan tugas dengan segera dan tanpa interupsi?"

"Ya, Tuan," jawab Ken. "Dia menghapus seluruh daftar kencan seperti yang Anda perintahkan, dan kini sedang mengerjakan berkas Tuan Dirga."

Lingga mencondongkan tubuh sedikit. "Apakah ada... penundaan yang tidak perlu sebelum dia melaksanakan perintah itu?"

Ken tahu persis ke mana arah pembicaraan ini. Ia tahu Lingga bukan bertanya soal efisiensi waktu, melainkan soal 'hadiah kecil' yang ingin ditinggalkan Ayu.

"Ada sedikit jeda, Tuan," Ken mengakui dengan nada monoton. "Sekitar empat detik. Selama jeda itu, Nona Ayu menunjukkan ekspresi... humor pribadi. Dia tampak akan mengetik sesuatu di ponsel Anda, yang saya yakini melampaui perintah yang diberikan."

Lingga menahan diri untuk tidak memukul meja. "Dan apa itu?"

"Saya tidak tahu secara pasti, Tuan. Saya menginterupsi sebelum dia sempat menekan huruf pertama," Ken menjelaskan. "Namun, saya memperingatkannya bahwa tugasnya adalah menghapus, bukan menambahkan spoiler atau caption Instagram."

Lingga mencondongkan tubuh lebih jauh, matanya menyipit. "Ken, sejak kapan kau menjadi analis komentar media sosial?"

"Tugas utama saya adalah memastikan Anda dan aset Mahardika Group—termasuk ponsel Anda—aman, Tuan. Saya menilai bahwa komentar pribadi, terutama dalam konteks ini, dapat mengganggu kontrol diri Anda. Saya menganggapnya sebagai bom waktu yang harus dinetralisir," kata Ken tanpa berkedip. Logikanya sempurna, seperti biasa.

Lingga menyandarkan punggung ke kursi, sedikit terkesan. Ken benar. Sebuah komentar kecil dari Ayu bisa menjadi pemicu, sebuah celah yang membuka pintu emosi.

"Bagus," kata Lingga, pura-pura puas. Ia kembali menatap layar komputernya.

Tapi ada satu hal lagi.

"Ken," panggil Lingga lagi.

"Ya, Tuan?"

"Tadi di Zenith Lounge, Tuan Dirga meminta Nona Ayu untuk membawakan kopi," kata Lingga. "Dia bilang dia tidak suka kopi pahit seperti bosnya. Apakah kau tahu maksudnya?"

Ken diam sesaat. Lingga menyadari ia baru saja mengajukan pertanyaan yang sangat, sangat pribadi.

Ken menjawab dengan keseriusan penuh, seolah-olah ini adalah laporan keamanan level-1. "Tuan Dirga sedang mencoba meremehkan Anda, Tuan. Dalam konteks budaya negosiasi, memanggil Anda 'pahit' secara implisit merujuk pada reputasi Anda yang tanpa kompromi, dingin, dan... anti-romansa."

Ken diam lagi, lalu menambahkan, dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya: "Itu juga bisa menjadi referensi literal, Tuan. Anda selalu meminta kopi hitam tanpa gula, yang secara objektif adalah kopi paling pahit."

Lingga menatap Ken lurus. Ini adalah kali pertama Ken mencampur analisis psikologis dengan detail minuman, dan rasanya aneh.

"Dan kau?" tanya Lingga, tiba-tiba. "Kopi apa yang kau minum?"

Ken tampak sedikit terkejut, sebuah ekspresi yang langsung menghilang.

"Saya hanya minum air putih saat bertugas, Tuan. Tetapi di luar jam kerja, saya minum kopi hitam. Pahit," jawab Ken.

Lingga menghela napas. Tentu saja. Bodyguard-nya pun harus memilih sisi yang sama.

"Baiklah. Kau boleh kembali berjaga di bilik Nona Ayu," perintah Lingga. "Pastikan dia fokus dan hanya mengerjakan berkas Tuan Dirga. Dan Ken..."

"Ya, Tuan?"

"Jangan pernah lagi memberiku laporan tentang ekspresi 'humor pribadi' Nona Ayu," tutup Lingga, meskipun dia tahu dirinya berbohong.

Saat Ken berjalan keluar, meninggalkan Lingga sendirian dengan kopi hitam pahitnya, Lingga mendapati dirinya menatap ambang pintu yang baru saja dilewati Ken.

Aku tidak ingin Ken memberiku laporan.

Aku ingin melihat 'spoiler untuk masa depan' itu dengan mataku sendiri.

Di bilik Ayu, suasana kerja telah kembali normal. Ayu sibuk membandingkan salinan regulasi pemerintah dengan proposal infrastruktur Tuan Dirga.

Ken berdiri seperti penjaga. Setelah perintah terakhir Lingga, ia merasa posisinya sebagai pengawal telah meluas: sekarang ia harus menjaga bukan hanya keamanan fisik, tetapi juga integritas emosional atasannya, yang berarti mengawasi bom waktu bernama Ayu.

Tiba-tiba, Ken menyadari sesuatu. Ia harus pergi.

"Nona Ayu," Ken berbicara datar, suaranya menarik perhatian Ayu dari berkas-berkas. "Saya harus meninggalkan pos untuk waktu yang singkat. Tetaplah fokus. Jangan berbicara dengan siapa pun."

"Siap, Tuan Ken," jawab Ayu, sedikit kaget. Ken tidak pernah meninggalkan pos.

Ken pergi ke dapur kantor. Ia tidak mengambil kopi. Ia mengambil cangkir keramik miliknya, lalu mengambil sekantung kecil bubuk kopi yang disimpannya di laci dapur bawah. Ini adalah kopi spesial dari dataran tinggi, kopi yang sangat pekat, yang ia beli dari pengecer kecil. Kopi yang sangat, sangat pahit.

Setelah menyeduh dan memasukkan air panas, Ken kembali ke bilik Ayu.

Ayu menatap Ken yang membawa cangkir. "Tuan Ken... Anda minum kopi?"

"Ya," jawab Ken, tanpa emosi. Ia menyesapnya sekali, lalu menghela napas panjang, seolah-olah dia sedang meminum racun yang diperlukan.

"Kopi itu harus terasa pahit," kata Ken, menatap kopi yang berasap. Kemudian, dia menatap Ayu lurus-lurus.

"Itu adalah pengingat harian bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dikendalikan oleh selera pribadi. Kadang, pahit adalah satu-satunya pilihan yang logis."

Ayu mengatupkan bibirnya menahan senyum. "Apakah itu filosofi Tuan Lingga, Tuan Ken?"

"Tidak," jawab Ken, menyesap kopi pahitnya lagi. "Itu adalah filosofi untuk siapa pun yang harus berurusan dengan ketidakpastian."

Ayu kembali menatap berkasnya, tetapi di dalam hati, ia tertawa. Ken sedang meminum kopi pahit sebagai metafora hidup, dan semuanya hanya karena ia hampir mengetik caption di ponsel bosnya.

Lingga, di kantornya, tiba-tiba merasa perutnya perih. Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan ke Ken.

[Bagaimana pekerjaan Ayu?]

Ken, berdiri di ambang pintu, menyesap kopi pahitnya, lalu membalas.

[Fokus dan efisien. Dia tidak menampakkan ekspresi 'humor pribadi' apa pun.]

Lingga merasa anehnya kecewa. Ayu ternyata tak tertarik padanya sedikitpun.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!