Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Cemas dan Tak Tenang
Panggilan dari papi Rio membuat tubuh Ezra menegang. Tidak biasanya Nika meminta bantuan ayahnya untuk menghubunginya. Lelaki itu mulai mengambil langkah. Tubuhnya sudah beranjak.
"Mau ke mana?"
Lengannya sudah ditahan oleh Allana. Namun, lelaki itu segera mengibaskan cekalan itu dengan cukup kasar. Tak ada perkataan ataupun penjelasan kepada mereka yang sudah dia tinggalkan. Teriakan Allana pun sama sekali tak didengar.
Di sepanjang langkahnya ponsel terus menempel di telinga. Menghubungi seluruh anak buahnya karena ponsel Nika tak bisa dihubungi.
"Cek keberadaan Nona Nika."
Begitu sibuk mencari informasi tentang keberadaan gadis cantik yang harus dia jaga. Terus mencoba mencari lokasi Nika sekarang. Berkali-kali Ezra mengerang kesal karena bisa-bisanya dia kecolongan. Terus merutuki dirinya yang begitu bodoh. Yang dia takutkan bukan dirinya yang dihukum oleh dua singa jantan. Dia lebih takut ada hal buruk yang menimpa sang perempuan.
"Lokasi Nona Nika enggak bisa dicek, Boss."
Emosi Ezra pun meluap. Kata kasar pun langsung keluar. Lelaki itu sudah tak bisa mengontrol emosinya saking panik. Kecepatan mobil pun semakin bertambah karena ingin segera tiba di apartment. Baru saja turun dari mobil, laporan yang tak sesuai dengan keinginan diterima.
"Nona belum pulang."
Semakin panik dan tak tenanglah. Kembali mobil melaju menuju kampus. Tempat yang Nika hafal tidak banyak. Kemungkinan besar gadis cantik itu ada di sana. Dan beberapa anak buahnya ditugaskan untuk mengecek asrama yang dihuni kedua teman Nika.
Kehilangan jejak Nika seperti ada kesengajaan. Tak mungkin anak buahnya tak bisa melacak keberadaan gadis cantik itu. Bahkan pelacak profesional yang diturunkan tak mampu memberikan informasi yang memuaskan.
"Pergi ke mana kamu, Nika?"
Mobil kembali melaju. Mulai menjauhi kampus. Cukup jauh rute yang Ezra lalui. Hingga mobilnya berhenti di sebuah kedai yang tak asing untuknya. Sebelum turun seuntai doa dilangitkan.
Kedatangannya di kedai teh susu disambut oleh beberapa karyawan. Ezra menunjukkan ponsel di mana wajah perempuan cantik ada di layar. Salah satu karyawan mengangguk dan menunjuk ke sebuah meja. Langkah yang begitu lebar menuju tempat yang berada di samping jendela.
"Nika!"
Suara yang begitu familiar bergema di telinga. Lengkungan senyum kecil terukir tanpa menoleh ke asal suara.
"Sudah terlalu halu," gumaman itu terdengar amat kecil dengan kepala yang menggeleng pelan.
Pundak yang ringan kini terasa berat. Atensinya pun perlahan beralih. Sosok yang tengah dia pikirkan kini ada di sampingnya. Menatap dirinya penuh kecemasan.
"Kenapa ke sini? Bukankah--"
Tubuh Nika menegang ketika lelaki itu berhambur memeluk tubuhnya yang terduduk.
"Jangan pergi jauh-jauh."
Nika tersenyum mendengarnya. Namun, baginya makna kalimat itu begitu ambigu. Apakah lelaki itu tengah mencemaskannya sebagai perempuan yang dia sayang atau seorang keponakan?
"Nika hanya ingin merasakan minum teh susu langsung di tempat."
Ezra mengendurkan pelukannya. Gadis cantik itu sudah tersenyum. Tapi, tak setulus biasanya.
"Udah malam."
Nika masih menjadi anak kucing yang penurut. Bukan berarti gadis itu begitu bucin kepada Ezra. Dia hanya ingin tahu perasaan Ezra terhadapnya.
Selama perjalan pulang tak ada penjelasan apapun dari lelaki tersebut. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil. Nika juga tak ada hak untuk memulai. Senyum kecil terukir setelah keluar dari mobil. Wajah yang tak seperti biasa begitu kentara.
"Mau dimasakin mie?" Suara Ezra mulai terdengar ketika mereka berdua sudah berada di apartment.
"Masih kenyang, Paman."
"Paman?" ulang Ezra dengan mimik wajah yang terlihat tak terima. Nika mengangguk pelan.
"Bukankah hubungan kita hanya sebatas keponakan dan Paman?"
DAMN!!
Gadis cantik itupun meninggalkan Ezra yang masih berdiri sampai terdengar suara pintu kamar ditutup. Tak ada kata selamat malam atau pelukan manja. Lelaki itu mulai sadar ternyata perkataan itulah yang membuat Nika pergi. Gadis yang dia jaga mendengar apa yang dia katakan kepada Alanna.
Ezra sudah memegang minuman yang mengandung alkohol. Kalimat Nika masih terngiang di kepala. Wajah frustasinya begitu jelas terlihat. Diteguknya minuman itu dengan penuh emosi. Dihembuskan napas kasar dengan belakang kepala yang disandarkan di sofa.
Bukan bayang wajah Allana yang terlintas melainkan gadis cantik yang dia jaga. Sikap Nika sudah mulai berbeda. Senyum yang tak secerah biasanya, sikap dingin yang tak sehangat biasanya. Serta makanan favorit yang ditolak membuat Ezra semakin membuat sesak dada.
Tatapannya mulai tertuju pada salah satu pintu kamar. Sepertinya penghuni kamar itu sudah terlelap. Tak ada cahaya di dalam sana. Kini, sorot matanya sulit untuk diartikan. Nalurinya mulai membawa tubuh itu ke arah pintu yang sedari tadi dipandangi. Tangannya sudah menggantung, tapi begitu sulit digerakkan untuk mengetuk pintu.
Lelaki yang selalu terlihat gagah dengan pakaian formalnya kini terlihat berantakan. Hembusan napas keluar dari bibirnya. Perlahan, dahinya mulai ditempelkan di daun pintu.
"Maafkan saya, Nika."
...**** BERRSAMBUNG ****...
Boleh kan aku minta komennya?
kasihan paman ganteng di tinggal Nika
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍