NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Malam makin larut. Suara tembang Gandraka terus mengalun pelan di pendapa, seperti benang halus yang merambat masuk ke dalam hutan. Nadanya tidak tinggi, tidak pula tergesa, namun terasa memanggil—atau mungkin menantang—sesuatu yang bersembunyi di balik kegelapan.

Lalu, perlahan, ia menghentikan nyanyiannya.

Sunyi.

Gandraka menundukkan kepala sedikit, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh orang lain. Bibirnya bergerak, dan kata-kata pun keluar lirih, seperti berbicara dengan sosok yang tak kasatmata.

“Kau memang melayang dalam kegelapan… selalu mengikuti gerak-gerikku,” ucapnya pelan. “Tapi kau seharusnya tahu… Apa yang sudah menjadi takdirku, pasti akan ku miliki"

Angin tiba-tiba berhenti. Bahkan daun-daun pun seolah enggan bergerak, seakan mendengarkan pernyataan seorang bocah yang berbicara tentang sesuatu yang jauh melampaui usianya.

Di dalam rumah, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling berpandangan. Mereka mendengar setiap kata itu dengan jelas. Tak ada yang terlewat.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Ki Bagaskara melangkah keluar menuju pendapa. Langkahnya tenang, tapi sorot matanya tak lagi sama.

“Gandraka, masuk,” ucapnya singkat.

“Baik, Ayah.”

Tanpa membantah, Gandraka berdiri. Ia menoleh sekilas ke arah hutan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Tidak ada keraguan, tidak ada pertanyaan.

Di dalam, ia langsung menuju tempat tidurnya. Tubuh kecilnya merebah, lalu tanpa ragu memeluk Nyai Lodra. Wanita itu membalas pelukan tersebut, jemarinya mengusap lembut rambut Gandraka, seperti mencoba menenangkan sesuatu yang tak terlihat.

“Jangan terlalu menantang mereka, Gandraka,” ucap Nyai Lodra pelan. “Biarlah semua berjalan menurut arusnya. Sesuatu yang dipaksakan… bisa berubah menjadi bencana.”

“Baik, Bu,” jawab Gandraka singkat.

“Sekarang tidurlah.”

Gandraka memejamkan mata. Napasnya perlahan teratur, seolah ia benar-benar terlelap. Namun di sudut bibirnya, tersisa senyum tipis yang sulit dimaknai.

Di luar, angin kembali berembus pelan. Hutan tampak diam, terlalu diam… seakan sedang menunggu.

Dan di dalam kegelapan yang tak terlihat, sesuatu memang sedang memperhatikan.

Hari-hari pun berlalu, kembali pada ritme yang tampak biasa di permukaan. Ki Bagaskara dan Nyai Lodra menjalani keseharian sebagai petani, menyapa pagi dengan cangkul dan ladang, seolah malam penuh darah itu tak pernah terjadi. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terus tumbuh… diam-diam.

Gandraka menghabiskan waktunya dengan hal yang berbeda dari anak seusianya. Ia jarang bermain dengan anak desa, apalagi belajar bela diri. Tubuhnya tak tertarik pada gerak kasar. Ia justru tenggelam dalam dunia sunyi—melukis lambang-lambang aneh di tanah atau pada lembaran daun kering, lalu duduk berjam-jam membaca kitab tua yang di berikan oleh Ayahnya.

Kitab itu berjudul “Niskala Mantravidyā Grantha”, sebuah naskah kuno berbahasa Sanskerta yang memuat ajaran tentang mantra, getaran, dan kekuatan tak kasatmata. Tulisan di dalamnya rapat dan rumit, namun Gandraka membacanya seolah itu bahasa yang sudah ia kenal sejak lama.

Kini, ia bahkan memiliki kebiasaan baru.

Di bawah pohon rindang di dekat rumah, Gandraka duduk bersila dengan telapak tangan terbuka. Beberapa butir kerikil kecil terangkat perlahan dari tanah, melayang tepat di atas tangannya. Tidak goyah, tidak jatuh—seolah ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Matanya terpejam, bibirnya bergerak pelan, merapalkan sesuatu yang nyaris tak terdengar.

Kerikil itu berputar perlahan.

Lalu berhenti.

Lalu naik sedikit lebih tinggi.

Kemampuan itu jelas bukan sesuatu yang biasa. Bahkan bagi Ki Bagaskara dan Nyai Lodra, pemandangan itu cukup untuk membuat mereka saling berpandangan.

“Kakang… benih itu makin berkembang. aku dan kau saja tak sanggup memahami seperempat isi kitab itu,” ucap Nyai Lodra lirih, nada suaranya tak sepenuhnya tenang.

Ki Bagaskara berdiri tak jauh dari situ, memperhatikan tanpa banyak reaksi. Tatapannya dalam, seperti sedang membaca sesuatu yang lebih dari sekadar apa yang terlihat.

“Selama itu memang jalurnya… kurasa masih aman,” balasnya akhirnya, meski ada jeda kecil sebelum kata terakhir terucap.

Ia lalu mengangkat cangkulnya, bersiap berangkat ke sawah seperti biasa. Namun sebelum melangkah, ia menoleh sekali lagi ke arah Gandraka.

Kerikil-kerikil itu kini berputar lebih cepat.

Dan untuk sesaat… bayangan di bawah tangan Gandraka tampak tidak selaras dengan gerakan benda-benda itu.

Lalu keduanya menghampiri Gandraka, hendak berpamitan sebelum berangkat ke sawah.

“Ayah… apakah kau tak merasakan sesuatu yang ganjil?” tanya Gandraka tanpa membuka mata, tangannya masih menahan kerikil-kerikil itu tetap melayang.

“Ya, Ayah merasakannya,” jawab Ki Bagaskara tenang. “Sudah beberapa hari ini tak ada gangguan di sekitar rumah. Justru itu yang membuatnya terasa tidak biasa. Tapi tetap… kau tak boleh lengah.”

Gandraka tak menanggapi. Kerikil-kerikil itu perlahan jatuh kembali ke tanah, seolah perhatiannya telah beralih. Ia mengambil sebatang ranting kering, lalu mulai menggambar sesuatu di permukaan tanah.

Ki Bagaskara dan Nyai Lodra yang semula hendak pergi, justru berhenti. Keduanya memperhatikan dengan diam, menunggu apa yang akan terbentuk dari goresan tangan anak itu.

Srak… srak… srak…

Goresan itu cepat, pasti, tanpa ragu. Sedikit demi sedikit, pola yang awalnya tak beraturan mulai membentuk sesuatu yang jelas—sebuah lambang matahari dengan delapan sudut yang simetris.

Lambang itu… bukan sembarang simbol.

Itu adalah lambang Majapahit.

Ki Bagaskara menyipitkan mata. “Siapa, Gandraka?”

Anak itu berhenti menggambar. Rantingnya diam sejenak di atas tanah, lalu ia menjawab singkat, tanpa emosi.

“Penyelidik.”

Nyai Lodra menahan napas. Ia menoleh ke arah Ki Bagaskara, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ketegangan benar-benar terasa di antara mereka.

“Apa kita harus pindah lagi, Kakang?” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Ki Bagaskara tetap menatap lambang di tanah itu. Rahangnya mengeras, namun suaranya tetap terkendali.

“Tidak perlu,” jawabnya. “Aku sudah lelah berpindah-pindah. Kita hanya perlu bersikap seperti biasa.”

“Seperti biasa…” ulang Nyai Lodra lirih, namun matanya kembali tertuju pada Gandraka.

Anak itu kini tersenyum tipis.

Ia mengusap lambang tersebut dengan telapak tangannya… namun anehnya, bekas goresan itu tidak sepenuhnya hilang. Garis-garisnya masih samar terlihat, seolah tertanam lebih dalam dari sekadar permukaan tanah.

Dan benar saja, laporan tentang pembantaian itu telah sampai ke pusat Kadipaten Wengker melalui Ki Lurah Arjapati. Dengan wajah pucat dan suara yang masih menyisakan getar, ia menceritakan apa yang ia saksikan malam itu—tentang sekelompok orang bersenjata, tentang dua sosok misterius, dan tentang ladang kematian di pinggir hutan.

Namun saat para penyelidik dari kadipaten mendatangi lokasi yang dimaksud, mereka tidak menemukan apa pun.

Tak ada bekas pertempuran.

Tak ada darah.

Tak ada jejak kaki.

Hutan itu tampak biasa saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa di sana.

Hal itu justru membuat laporan Ki Lurah terdengar semakin ganjil. Beberapa penyelidik mulai meragukannya, mengira itu hanya ketakutan yang dibesar-besarkan. Namun sebagian lain merasakan kejanggalan yang lebih dalam—terlalu bersih untuk sebuah tempat yang dikatakan sebagai lokasi pembantaian.

Akhirnya, dengan pertimbangan yang tak bisa diabaikan, laporan itu tetap dikirimkan ke pusat kekuasaan.

Kota raja Trowulan.

Di sana, berita itu tidak dipandang sebagai sekadar cerita desa. Nama Wengker, jejak pembantaian tanpa sisa, serta simbol yang mulai terhubung dengan bayangan masa lalu… cukup untuk membuat para petinggi kerajaan memberi perhatian khusus.

Sebab dalam sejarah yang hampir terlupakan, kejadian seperti ini… bukan pertama kalinya terjadi.

Dan biasanya, setiap kali jejak itu muncul… sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di baliknya.

1
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
saniscara patriawuha.
gassssss polllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!