Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 1 - Larangan yang Terlupakan
Hujan mengguyur Desa Sidomulyo selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Air turun deras seolah langit hendak meluap habis isinya, membasahi sawah, jalanan tanah, dan seluruh sudut desa hingga semuanya tergenang lumpur yang lengket dan licin. Awan kelabu menggantung sangat rendah, menutupi sinar matahari sehingga siang pun terasa seperti senja yang suram dan dingin. Udara terasa lembap sekali, membawa bau tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang samar, seperti bau daun busuk dan kayu lapuk yang terendam air terlalu lama.
Di beranda rumah panggung sederhana milik Kakek Wito, duduklah seorang pemuda bernama Arga. Ia baru saja menetap di desa ini selama sebulan terakhir, membantu kerabatnya mengurus kebun dan sekaligus memulihkan kondisi pikirannya setelah pekerjaan di kota membuatnya kelelahan. Namun semenjak hujan turun, ia merasakan ada yang berbeda. Perasaannya tidak lagi tenang seperti saat pertama kali datang. Ia sering mendengar suara-suara samar di tengah malam, mencium bau yang tak biasa, dan merasa seolah ada yang mengawasinya dari balik kegelapan.
“Desa ini memang sering diguyur hujan panjang seperti ini, tapi kali ini rasanya lain,” kata Kakek Wito sambil menyerahkan segelas air jamu hangat. Suaranya berat, namun terdengar tenang meski matanya menatap ke arah timur dengan pandangan yang penuh kewaspadaan. “Orang tua dulu bilang, hujan yang turun tanpa berhenti itu bukan sekadar cuaca. Kadang ia menjadi tanda bahwa batas antara dunia kita dan alam gaib menjadi menipis. Mereka lebih mudah melangkah keluar saat tanah basah dan kabut turun menutupi pandangan.”
Arga menerima gelas itu, merasakan kehangatannya menyebar ke telapak tangannya. “Kakek, tadi malam saya mendengar suara orang memanggil nama saya dari arah belakang hutan. Suaranya lembut, persis seperti suara orang yang saya kenal. Tapi saat saya keluar melihat, tidak ada siapa-siapa. Hanya kabut tebal dan suara hujan.”
Mendengar itu, wajah Kakek Wito langsung berubah serius. Ia menegakkan punggungnya dan menatap Arga lekat-lekat, seolah ingin memastikan pemuda itu tidak bercanda.
“Jangan pernah menoleh atau menjawab panggilan dari arah sana,” ujarnya dengan nada tegas namun rendah. “Di balik hutan jati tua itu, melewati kebun singkong yang sudah lama ditinggalkan, ada tempat yang sudah dilarang didatangi lebih dari enam puluh tahun yang lalu. Orang-orang menyebutnya Tanah Kuburan Lama. Bukan tempat pemakaman biasa seperti yang ada di pinggir jalan raya sekarang.”
Ia berhenti sejenak, menghela napas panjang seolah mengumpulkan keberanian untuk menceritakan hal yang sudah lama ia pendam.
“Dulu, sekitar tahun 1960-an, ada wabah aneh yang melanda desa ini. Orang sakit mendadak, demam tinggi, tubuh melepuh, lalu meninggal hanya dalam waktu tiga hari saja. Yang paling aneh, orang yang meninggal itu tidak bisa dikuburkan di tempat biasa. Begitu dikubur, keesokan harinya kuburannya akan terbuka sendiri, tanahnya terlempar ke mana-mana seolah ada yang menggalinya dari dalam. Akhirnya para tetua berkumpul dan meminta pertolongan seorang dukun tua dari desa seberang. Ia melihat dan berkata, di tempat itu sudah berdiam makhluk halus penguasa tanah yang marah karena diusik. Ia menyebutnya Jelmaan Tanah—sesuatu yang terlahir dari amarah bumi dan jiwa-jiwa yang meninggal dalam penderitaan, yang tidak menerima kedamaian.”
Arga mendengarkan dengan saksama, bulu kuduknya perlahan berdiri meski ia masih duduk di tempat yang kering dan aman. “Lalu apa yang dilakukan tetua desa saat itu, Kek?”
“Mereka memindahkan lokasi pemakaman ke tempat yang lebih tinggi dan terbuka, lalu menutup akses menuju kuburan lama itu dengan menanam semak berduri dan pohon jati rapat-rapat. Dukun itu juga membuat tanda larangan dari batu kapur dan daun kemenyan, yang diletakkan di batas wilayahnya. Ia berpesan: selama tidak ada yang melanggar batas dan membuka jalan kembali, mereka akan tetap tinggal di sana dan tidak mengganggu. Tapi jika ada yang berani masuk, mereka akan mengikuti pulang, membawa penyakit dan nasib buruk.”
Malam itu juga, suasana berubah semakin mencekam. Hujan mulai disertai angin kencang yang menerpa dinding rumah dan membuat atap seng berderak. Kilatan petir menyambar berkali-kali, menerangi langit sesaat sebelum digantikan kegelapan yang lebih pekat. Saat tengah malam tiba, Arga terbangun mendengar suara ketukan pelan di jendela kamarnya. Tok… tok… tok…
Ia mengangkat kepala, mendengarkan baik-baik. Suara itu terdengar lembut, seolah jari yang basah menggesek kaca. Diikuti kemudian oleh suara bisikan yang samar namun jelas, memanggil namanya berulang kali dengan nada yang memohon perhatian:
“Arga… Arga… Buka pintunya… Saya kedinginan di luar… Bawa saya masuk…”
Suara itu tidak terdengar mengancam, justru terdengar sedih dan lemah, membuat hati siapa saja yang mendengarnya merasa iba. Namun ingatan pada pesan Kakek Wito langsung terlintas di benaknya. Ia tidak bangun, tidak menoleh, dan menutup telinganya dengan bantal sambil membaca doa yang ia hafal. Lama-kelamaan suara itu perlahan menjauh, digantikan oleh suara langkah kaki yang berjalan pelan di atas tanah basah, menjauh ke arah hutan.
Pagi harinya, hujan baru reda menyisakan kabut putih tebal yang menyelimuti seluruh desa hingga jarak pandang hanya sekitar sepuluh meter. Arga melihat ke arah jendela tadi malam, dan terkejut melihat jejak tangan basah yang tercetak jelas di kaca—jejak tangan yang ukurannya tidak wajar, jari-jarinya terlihat lebih panjang dan ramping, serta tertutup lendir yang perlahan mengering menjadi lapisan berwarna kecokelatan yang tidak hilang meski sudah dilap berkali-kali.
Ia segera menemui Kakek Wito dan menunjukkan jejak itu. Melihatnya, wajah lelaki tua itu menjadi pucat pasi.
“Ini tandanya mereka sudah mulai bergerak keluar dari batasnya. Entah karena hujan ini membuat tanda larangan itu melemah, atau ada orang yang tanpa sengaja melanggarnya dan membuka celah. Jika dibiarkan, kabut ini akan semakin tebal, dan gangguan mereka akan semakin sering sampai masuk ke dalam rumah-rumah penduduk,” kata Kakek Wito dengan nada cemas.
“Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan, Kek?” tanya Arga. Rasa takutnya perlahan berubah menjadi tekad. Ia tidak ingin melihat desa ini dan warganya menderita karena sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah.
Kakek Wito terdiam lama, lalu bangkit dan masuk ke dalam ruang belakang. Ia keluar membawa bungkusan kain cokelat yang sudah usang, berisi sebilah pisau pusaka yang gagangnya terbuat dari tanduk kerbau, seikat daun sirih dan kemenyan, serta segenggam garam kasar yang dicampur abu dari tungku tua.
“Satu-satunya cara adalah memastikan batasnya tetap kokoh, dan jika perlu, memperkuat tanda larangan itu kembali. Tapi itu berarti kita harus melangkah masuk ke dekat wilayah mereka. Ingat, Arga: makhluk di sana bukan setan yang suka menerkam langsung. Mereka menggunakan perasaan kita—rasa iba, rasa penasaran, rasa takut—untuk mendekatkan diri. Mereka bisa berubah wujud menjadi orang yang kita kenal, anak kecil menangis, atau wanita meminta tolong, agar kita membuka hati dan pintu bagi mereka. Di sana, apa yang terlihat belum tentu benar adanya.”
Siang itu, saat kabut mulai sedikit menipis namun udara tetap terasa dingin dan berat, Arga berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir kebun, ditemani Kakek Wito yang hanya bisa mengantar sampai batas. Semakin masuk ke dalam, pohon-pohon jati terlihat semakin rapat dan tinggi, menutupi sinar matahari sehingga di bawahnya terasa gelap seolah malam. Tanah di bawah kakinya terasa lembek, menyedot telapak sepatunya setiap kali melangkah. Bau yang ia cium semalam kini terasa lebih kuat—campuran tanah basah, bunga melati yang layu, dan sedikit bau besi yang berkarat.
Setelah berjalan sekitar empat puluh menit, mereka sampai di sebuah celah yang ditumbuhi semak berduri tinggi. Di tengahnya berdiri sebuah tugu batu kecil yang tertutup lumut tebal, di atasnya terukir simbol lingkaran dengan garis silang di tengahnya—tanda larangan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
“Ini batasnya. Aku tidak bisa melangkah lebih jauh. Jika kau merasa pusing, mendengar suara, atau melihat sesuatu yang aneh, segera bacakan doa dan taburkan garam ini ke depanmu. Jangan lari, karena lari hanya akan membuat mereka mengejar,” pesan Kakek Wito sambil menyerahkan perlengkapan itu.
Arga mengangguk mantap. Ia melangkah melewati celah semak itu, dan seketika rasanya seperti melintas dinding dingin yang tak terlihat. Udara di sisi lain berubah drastis—lebih berat, lebih sunyi, dan terasa menekan dada hingga napasnya terasa sesak. Kabut di sini berwarna sedikit keabu-abuan, bergerak perlahan melayang di atas tanah seolah mengikuti arah langkahnya.
Di hadapannya terbentang hamparan tanah luas yang tidak rata, dipenuhi gundukan-gundukan tanah yang bentuknya tidak beraturan. Sebagian masih terlihat seperti bekas kuburan, sebagian lain sudah rata dan ditumbuhi rumput yang terlihat lebih hijau dan segar dibanding rumput di tempat lain. Di kejauhan, terlihat sisa-sisa tiang kayu nisan yang sudah lapuk, sebagian patah tergeletak di tanah, sebagian lagi masih berdiri miring seolah ingin jatuh kapan saja.
Baru saja ia melangkah lima langkah masuk lebih dalam, keheningan itu terpecah. Dari balik kabut, terdengar suara tangisan anak kecil yang lirih dan memilukan, disertai suara panggilan yang jelas kali ini:
“Tolong… tolong saya tersesat… Jemput saya…”
Suara itu datang dari arah tengah hamparan tanah, tempat gundukan-gundukan itu paling banyak tersebar. Arga berhenti mendadak, tangannya mencengkeram gagang pisau pusaka dan memegang erat bungkusan garam di sakunya. Ia mengingat pesan itu lagi: apa yang terlihat belum tentu benar. Di tempat ini, rasa iba adalah jebakan paling berbahaya.
Dan ia baru menyadari—di tengah keheningan yang menipu, tempat ini menyimpan rahasia kelam yang sudah dikubur dan dilupakan selama lebih dari setengah abad, serta kekuatan yang menunggu kesempatan untuk lepas dari ikatannya.