NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 MIMPI TENTANG KLINIK KECIL

Malam itu hujan turun cukup deras di luar rumah baru Abdul.

Rintik air menghantam genteng dan jendela dengan suara yang menenangkan.

Setelah seharian menemani bapaknya terapi dan mengurus berbagai urusan konveksi, tubuh Abdul benar-benar terasa lelah.

Ia merebahkan diri di atas kasur dengan pikiran yang jauh lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu.

Dulu setiap malam ia tidur dengan kecemasan.

Takut besok tidak ada uang.

Takut bapaknya makin sakit.

Takut keluarganya kelaparan.

Sekarang sebagian besar ketakutan itu telah hilang.

Bukan karena hidupnya sempurna.

Tetapi karena ia tahu dirinya tidak lagi berjalan sendirian.

Ada Rian.

Ada Jaka.

Ada para karyawan konveksi.

Ada Cak Imron.

Ada Bu Aminah dan anak-anak panti.

Dan yang paling penting, kondisi bapaknya perlahan semakin membaik.

Dengan perasaan damai itu, Abdul pun tertidur.

 

Di dalam mimpinya...

Abdul mendapati dirinya berjalan di sebuah jalan kecil yang asing.

Di kiri dan kanan jalan berdiri rumah-rumah sederhana milik warga.

Namun yang menarik perhatian Abdul adalah sebuah bangunan mungil bercat putih yang berdiri di ujung jalan.

Di atas bangunan itu terdapat papan nama sederhana:

Klinik Harapan Sehat

Entah kenapa Abdul merasa sangat penasaran.

Ia melangkah masuk.

Di dalamnya tampak beberapa orang tua sedang duduk menunggu giliran berobat.

Seorang ibu menggendong anak kecil yang sedang demam.

Seorang kakek duduk di kursi roda.

Dan seorang perawat muda berjalan mondar-mandir melayani pasien.

Suasana klinik itu sederhana.

Namun hangat.

Menenangkan.

Di dekat meja administrasi terdapat sebuah papan informasi biaya pembangunan klinik.

Tulisan besar terpampang jelas:

TOTAL PEMBANGUNAN DAN PERALATAN MEDIS

Rp125.000.000,00

Angka itu terlihat sangat jelas.

Begitu jelas hingga seolah tercetak langsung ke dalam pikirannya.

Lalu tiba-tiba seluruh bangunan klinik mulai memancarkan cahaya putih.

Semakin terang.

Semakin terang.

Hingga semuanya berubah menjadi lautan cahaya.

 

Pukul 04.50 pagi.

Di dunia nyata.

Ponsel Abdul yang tergeletak di atas meja kecil kembali menyala sendiri.

Cahaya keemasan memenuhi layar.

Tulisan sistem muncul perlahan.

[Sistem Keberuntungan Kaum Rebahan Berhasil Memindai Gelombang Otak Subjek.]

[Mimpi Alami Berunsur Finansial Terdeteksi: Pembangunan Klinik Kesehatan.]

[Nominal Akumulasi Visual Dalam Mimpi: Rp125.000.000,00.]

[Melakukan Konversi Energi Astral Mimpi Menjadi Saldo Rekening Nyata...]

[Proses Berhasil.]

[Pengiriman Dana Sedang Berlangsung...]

Bzzzt...

Beberapa detik kemudian SMS masuk.

Lalu layar kembali gelap.

 

Ketika Abdul bangun sekitar pukul lima pagi, ia langsung melihat notifikasi yang muncul di layar ponselnya.

[Bank Suka: Transaksi Uang Masuk Otomatis Rp125.000.000,00.]

[Saldo Akhir Anda: Rp3.772.550.000,00.]

Abdul membaca SMS itu beberapa kali.

Lalu teringat mimpi semalam.

"Klinik?"

gumamnya pelan.

Biasanya ia bermimpi tentang rumah, properti, kendaraan, atau angka-angka keuangan.

Namun kali ini berbeda.

Yang muncul justru sebuah klinik kesehatan.

Abdul duduk di tepi kasur sambil berpikir.

Entah kenapa bayangan para pasien di dalam mimpi itu terus teringat di kepalanya.

Terutama sosok kakek tua yang duduk di kursi roda.

Bayangan itu secara tidak sadar mengingatkannya pada bapaknya sendiri.

 

Pagi hari setelah sarapan.

Abdul mengantar bapaknya kembali menjalani terapi.

Namun hari itu ada sesuatu yang membuatnya cukup terkejut.

Begitu tiba di klinik rehabilitasi, ruang tunggu terlihat sangat penuh.

Beberapa pasien bahkan harus duduk di lorong karena kursi tidak mencukupi.

Seorang ibu tampak menggendong anaknya yang menangis kesakitan.

Seorang pria tua terpaksa berdiri sambil bersandar ke tembok karena kehabisan tempat duduk.

"Ramai banget ya hari ini."

kata Abdul.

Terapis Nita yang kebetulan lewat mengangguk.

"Iya."

"Dua klinik di kecamatan sebelah tutup sementara."

"Jadi pasien numpuk ke sini."

Abdul memperhatikan suasana sekitar.

Beberapa orang terlihat harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan pelayanan.

Tiba-tiba ia kembali teringat mimpi semalam.

Klinik Harapan Sehat.

Bangunan putih.

Angka seratus dua puluh lima juta.

Entah kenapa hatinya terasa terusik.

 

Siang harinya.

Abdul duduk bersama Cak Imron di lokasi pembangunan panti.

Mereka sedang meninjau progres pembangunan lantai dasar.

Tiba-tiba Abdul bertanya.

"Cak."

"Hm?"

"Kalau bangun klinik kecil kira-kira mahal gak?"

Cak Imron hampir tersedak kopi.

"Klinik?"

"Iya."

Mandor itu menatap Abdul beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

"Dul... kamu ini tiap habis bangun satu proyek langsung mikirin proyek baru."

Abdul ikut tertawa.

"Kan nanya doang."

Cak Imron berpikir sejenak.

"Kalau bangunan sederhana sih gak terlalu mahal."

"Tapi perizinan dan alat medisnya yang lumayan."

Abdul mengangguk pelan.

Ia tidak melanjutkan pembicaraan itu.

Namun benih pemikiran sudah mulai tumbuh di dalam kepalanya.

 

Sore hari.

Ketika sedang berjalan di area panti, Abdul melihat Doni sedang membantu seorang anak kecil yang terjatuh.

Bocah itu membersihkan luka temannya menggunakan air dan tisu.

"Pelan-pelan."

"Nanti sembuh."

kata Doni.

Abdul tersenyum melihatnya.

Lalu ia teringat sesuatu.

"Doni."

"Iya, Kak?"

"Kamu masih mau jadi dokter?"

Mata Doni langsung berbinar.

"Mau!"

"Banget!"

"Kenapa?"

Abdul tertawa kecil.

"Gak apa-apa."

"Cuma nanya."

Doni mengangguk semangat.

"Aku mau jadi dokter supaya bisa ngobatin orang yang gak punya uang."

Kalimat sederhana itu membuat Abdul terdiam beberapa saat.

Entah kenapa dadanya terasa hangat.

Kadang anak kecil memang mampu mengucapkan sesuatu yang jauh lebih tulus daripada orang dewasa.

 

Malam harinya.

Setelah semua aktivitas selesai, Abdul duduk sendirian di balkon lantai dua rumahnya.

Angin malam berembus pelan.

Dari kejauhan terlihat lampu-lampu workshop konveksi yang masih menyala.

Beberapa pekerja lembur menyelesaikan pesanan sekolah.

Abdul memandang langit yang dipenuhi bintang.

Lalu tanpa sadar kembali teringat mimpinya.

Klinik Harapan Sehat.

Para pasien.

Dan angka seratus dua puluh lima juta.

Mungkin itu hanya mimpi biasa.

Mungkin juga tidak.

Namun satu hal yang pasti.

Sejak sistem misterius itu hadir dalam hidupnya, setiap mimpi selalu membawa sesuatu yang berarti.

Abdul tersenyum kecil.

"Pelan-pelan aja."

gumamnya.

"Aku selesaikan satu per satu."

Ia tidak tahu bahwa jauh di masa depan, mimpi tentang klinik kecil itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Dan di saat yang sama...

Di kantor pusat Bank Suka.

Nama Abdul kembali muncul dalam laporan audit mingguan.

Kali ini dengan status baru.

ANOMALI PRIORITAS TINGKAT 2

Seseorang mulai memperhatikan rekeningnya secara khusus.

Dan perlahan...

Konflik kecil yang selama ini hanya berupa rasa penasaran mulai bergerak menuju babak berikutnya.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!