Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Helm Jatuh
Meski sempat ragu dan ketar-ketir setiap keluar dari kamar. Pada akhirnya Jevi berhasil membantu Puspa menyiapkan makan malam. Sesekali gadis itu melirik ke arah tangga, takut jika Keandra tiba-tiba muncul.
"Je, tolong buang sampah ke depan ya? gue mau cuci bekas masak."
Jeviza mengangguk, tidak mengatakan apa-apa selain melakukan apa yang Puspa perintah. Tenaganya sudah terkuras sejak kedatangan Kean di rumah itu. Untuk sekedar protes dengan Puspa rasanya tidak bisa Jevi lakukan.
Jeviza keluar melalui pintu sebelah yang langsung menghubungkan garasi rumah Puspa, tanpa disengaja kantong plastik sampah yang dibawanya menyenggol helm full fase milik Keandra. Helm itu terjatuh dan tergores pada bagian sampingnya, karena memang cukup keras ketika jatuh tadi.
Jeviza terdiam di tempatnya, sementara Puspa yang tadinya berada di dapur langsung menoleh, melihat helm mahal milik Kean yang sudah terjatuh di lantai garasi.
"Je, mampus lo, itu helm Kean seharga motor baru gue."
Puspa memang dibelikan motor oleh Arlo, agar jika Arlo masih di luar atau mobil sedang tidak berada di rumah. Wanita itu bisa menggunakan motor matic berwarna pink itu.
Jeviza terdiam dengan tubuh kaku di tempatnya. Keluarga mereka memang cukup berada, tetapi bukan tipikal keluarga yang sering menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.
Bagi Jevi, atau pun Puspa sendiri, uang dengan nilai puluhan juta tergolong banyak.
"Lah, ini masih aman kok kak," ujar Jeviza menaruh kantong plastik sampah, lalu mengambil helm yang terdapat sedikit goresan pada bagian sampingnya.
"Aman apanya? Ini ada goresan gini, mana helm kesayangan Kean lagi, ya udah buru buang sampah dulu, masalah helm nanti biar gue yang ngomong sama Kean, lo juga belum pernah ketemu kan? Apa di kampus udah ketemu?"
Jeviza mendengus. Belum pernah ketemu apanya? Mereka sudah pernah selama hampir 1 tahun, bahkan pernah saling bertukar saliva juga dulu.
Aish, mengingat itu seketika membuat Jevi mual rasanya, bukan karena risih, tetapi pikirannya terlalu liar untuk disebut sebagai hubungan yang sudah berlalu.
Tanpa menjawab ucapan Puspa, Jevi membalikan tubuhnya, berjalan ke depan seperti tujuannya tadi. Jevi harus berjalan beberapa meter untuk membuang sampah tersebut, lalu melirik dengan tajam pada kantong plastik besar itu sebelum membuangnya.
"Awas aja kalau gue kena masalah gara-gara lu," ancamnya pada benda mati yang sebenarnya tidak akan takut dengan gertakan Jeviza.
Sampai di garasi. Jevi sudah tidak melihat helm itu lagi. Semakin langkahnya mendekat suara samar dari dalam rumah semakin terdengar.
Jantung Jevi berdegup dengan sangat kencang saat mendengar suara Puspa yang sedang menjelaskan kepada seseorang yang Jevi yakini ialah Keandra.
Tanpa disadari Jeviza meremas kedua jemarinya, merasa gugup dan sedikit malu. Sudah pasti Keandra akan semakin membencinya.
Menghembuskan napas dengan dalam. Jevi beranikan diri masuk ke dalam. Ia menuju ke ruang tengah, dimana sudah ada ketiga penghuni rumah selain dirinya.
Jevi dapat melihat dengan jelas jika Puspa meminta maaf dan berniat mengganti, tetapi sepertinya Keandra tidak terlalu mempermasalahkan itu, reaksi Keandra terbilang santai untuk helm yang kata Puspa kesayangannya itu.
Puspa menoleh pada Jevi yang berdiri tidak jauh dari mereka. Lalu menyuruh Jeviza untuk mendekat. "Je, sini, minta maaf dulu sama Kean."
Sebenarnya Jeviza merasa sedikit kesal dengan reaksi Puspa yang menurutnya berlebihan. Helm milik Keandra hanya tergores sedikit pada bagian samping, tidak ada retak atau pecah pada kacanya. Tetapi Puspa seakan membesarkan masalah.
Menurut Jeviza, cukup dengan mengakui dan minta maaf sudah selesai. Tetapi mau tidak mau Jevi menurut, tadi memang Puspa hanya menyuruh Jevi untuk meminta maaf saja kan? Tidak menjadi masalah menurut Jevi, dia sendiri tahu jika itu kesalahannya yang tidak disengaja.
"Tuhan, sini Jepiza, malah bengong," rasanya kesabaran Puspa menipis jika menghadapi Jevi yang selalu saja bikin naik darah.
"Je, sini dulu," lanjut Alro melihat Jevi tidak ada pergerakan.
Kalau sudah Arlo yang turun tangan, sudah pasti sangat serius, tetapi masa iya seorang Arlo mengurus helm yang hanya lecet sedikit pada bagian sampingnya? Ini menurut Jevi sangat tidak masuk akal.
Setelah Jevi sampai di depan mereka. Jevi tidak langsung meminta maaf, entah kenapa mulutnya terasa kaku untuk digerakan.
"Je, minta maaf sama Kean."
Itu bukan lagu suara Puspa, tetapi Arlo yang kembali bersuara dan menyuruh Jevi untuk segera minta maaf. Jevi dibuat kebingungan dengan sikap suami istri itu, tetapi ia berusaha membuka mulutnya yang masih terasa berat.
"Ma-maaf kak, gue nggak sengaja."
Kean tidak langsung menjawab, tetapi sorot matanya masih tertuju pada gadis di depannya, bahkan sejak Jevi masuk tadi, Kean sorot mata Kean tidak lepas dari gadis itu.
Keandra seakan menikmati wajah cemas Jevi yang terus diperintah untuk meminta maaf dengannya.
"Oke," balas Kean sangat singkat.
Arlo menghela napas dalam, ia sangat tahu story Keandra mendapatkan helm tersebut, dan jawaban singkat itu sudah membuat Arlo lega sekaligus masih sedikit merasa tidak enak, meski Jevi pelakunya.
"Lain kali, hati-hati ya Je, biar kejadian ini nggak terulang lagi."
Kesabaran dan juga rasa penasaran Jeviza sudah di ubun-ubun, gadis itu mengangguk dengan helaan napas berat.
"Iya, tapi salah dia sendiri naruh helm di pinggir gitu, lagian gue juga nggak sengaja, cuma lecet dikit juga helmnya, tapi kak Pus berlebihan banget."
Puspa memejamkan matanya. Ia tersenyum tipis ke arah Keandra, lalu menarik Jeviza untuk menjauh dari sana.
Kesal karena merasa dihakimi, Jeviza melepaskan tangannya dari Puspa. Lalu memajukan bibirnya persis seperti anak kecil yang sedang ngambek.
"Je, sumpah ya lo ngomong gitu tadi?" Puspa memijat pelipisnya.
Sementara Jeviza menatap Puspa tidak percaya. Merasa sangat berlebihan memang reaksi Puspa perihal ia yang tidak sengaja menjatuhkan helm milik Keandra.
"Coba tanya ke gue, kenapa gue sampai segininya cuma karena helm?" suruh Puspa semakin membuat Jeviza tidak mengerti.
"Kenapa memangnya?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Jeviza.
Puspa mengangguk dengan helaan napas yang sangat dalam.
"Itu helm kesayangan Kean, Je. Helm itu Kean dapatkan setelah bisa ngasilin duit sendiri, murni dari hasil kerjanya sendiri selama buka bengkel, tampa embel-embel dari orang tuanya yang kaya raya itu, lo nggak liat gimana senangnya Kean pertama kali dapet uang dari hasilnya sendiri, dia ngumpuli uang itu selama 5 bulan Je, buat beli helm itu."
Seketika kata-kata protes di pikiran Jeviza menguap begitu saja. Jeviza terlalu syok dengan penjelasan Puspa.
Seorang Kean? buka bengkel?
Sepertinya Jeviza memang sudah banyak tidak tahu tentang cowok itu. Terlalu banyak kejutan setelah pertemuan kembali keduanya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!