Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bianca Tidak Akan Diam
Pukul enam pagi. Arena utama Blackwood Ranch masih diselimuti kabut tipis ketika Noah sudah berdiri di tengah lapangan. Udara pagi terasa dingin menusuk, membuat embusan napasnya terlihat samar di udara. Rumput di sekitar arena masih basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung yang baru terbangun dan sesekali ringkikan pelan dari kandang utama.
Noah mengenakan pakaian latihan serba hitam. Jaket tipis menutupi tubuh tegapnya, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ia berdiri menghadap pintu arena. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu, namun pintu itu masih tertutup.
Harold yang berdiri di pinggir arena menghela napas panjang sambil menyeruput kopi. "Kau yakin dia akan datang?"
Noah tidak menjawab. Tatapannya tetap lurus ke depan, karena sebenarnya ia juga tidak yakin. Ellara menolaknya berkali-kali kemarin. Bahkan setelah ia pulang ke mansion, Noah masih bisa mengingat wajah panik gadis itu.
"Saya bukan atlet. Saya tidak pernah ikut kompetisi. Semua orang akan menertawakan saya."
Noah mengerti semua ketakutan itu. Justru karena mengerti, ia tidak memaksanya memberi jawaban. Tetapi jauh di dalam hatinya ia berharap, karena ia tahu satu hal tentang Ellara. Gadis itu keras kepala, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Dan pertanyaan itu sekarang hanya satu. Kenapa Star memilihnya?
Noah mengangkat pergelangan tangan. Pukul 06.17. Ia mendecih pelan.Harold meliriknya sambil tersenyum miring. "Kau sedang gugup."
"Aku tidak gugup."
"Kau melihat jam tiga kali dalam satu menit."
"Aku hanya memastikan waktu."
"Tentu saja."
Noah mengabaikannya.
Tetapi Harold tertawa kecil. Sudah bertahun-tahun ia mengenal Noah Blackwood. Anak itu tumbuh di ranch ini. Dingin, tenang, selalu yakin dengan keputusannya. Bahkan ketika pertama kali menaiki Star yang masih liar sekalipun, Noah tidak pernah terlihat gugup. Tetapi pagi ini ia terus menatap pintu arena, seolah sedang menunggu sesuatu yang sangat penting.
Harold menyandarkan tubuh ke pagar. "Lalu kalau dia tidak datang?"
Noah diam beberapa saat. Lalu menjawab, "Aku akan menunggu besok."
"Kalau tetap tidak datang?"
"Lusa."
Harold tertawa. "Kau keras kepala."
"Aku belajar dari Star."
"Tidak." Harold menggeleng. "Kau belajar dari perasaanmu."
Noah menoleh. Tatapannya dingin, tetapi Harold tidak takut.
"Aku sudah tua, Noah. Aku melihat banyak orang jatuh cinta dan kau terlihat seperti mereka."
Noah langsung mengalihkan pandangan. "Aku tidak jatuh cinta."
"Tentu. Kau juga tidak menunggu gadis yang bahkan belum menjawab ajakanmu."
Noah mendecih. Harold tertawa semakin keras, dan Noah membencinya. Karena sebagian dari ucapan pria tua itu terasa benar. Ia memang gelisah, tetapi bukan karena Autumn Equestrian Cup. Bukan karena investor, bukan pula karena ayahnya, melainkan karena ia ingin Ellara datang.
Ingin melihat gadis itu berjalan masuk sambil mengomel, ingin melihat ekspresi kesalnya, ingin mendengar suaranya. Pikiran itu membuat Noah mengerutkan dahi. Sejak kapan ia menjadi pria seperti ini? Sejak kapan keberadaan seseorang bisa memengaruhi suasana hatinya? Ia menghela napas pelan, lalu kembali melihat ke arah pintu arena. Masih sepi, kabut mulai menipis, Matahari perlahan naik. Pukul 06.25.
Harold sudah mulai menghabiskan kopinya. "Kupikir dia tidak akan—"
Krek.
Pintu arena terbuka. Noah langsung menoleh.
Dan untuk sesaat ia tidak menyadari bahwa dirinya tersenyum lega. Ellara berdiri di sana masih mengenakan pakaian kerja Sepatu botnya sedikit kotor karena berjalan terburu-buru. Rambut cokelatnya diikat seadanya, napasnya sedikit terengah. Ia menatap Noah dengan kesal.
"Lain kali..." katanya sambil mengatur napas, "...jangan pernah membuat saya memikirkan sesuatu semalaman."
Noah menatapnya beberapa detik. Lalu bertanya pelan, "Jadi kau datang."
Ellara mendengus. "Saya datang untuk membuktikan kalau Anda gila."
Harold tertawa keras dari pinggir arena. "Noah, dia memang cocok denganmu!"
"Harold."
"Aku diam."
Meski jelas ia masih tertawa. Ellara berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di depan Noah. Wajahnya terlihat lelah karena memang semalaman ia tidak tidur nyenyak. Ia terus memikirkan ucapan Noah. Tentang Star, tentang kompetisi, tentang kesempatan, dan yang paling mengganggunya adalah cara Noah berkata, "Aku lebih takut kehilangan kesempatan ini."
Semakin ia mencoba melupakan kalimat itu semakin jelas ia mengingat tatapan Noah saat mengucapkannya. Tatapan seorang pria dewasa yang biasanya selalu tenang, tetapi untuk pertama kalinya terlihat takut kehilangan sesuatu. Dan entah kenapa pikiran bahwa sesuatu itu mungkin adalah dirinya membuat Ellara tidak bisa tidur. Ia menggeleng pelan, membuang pikiran itu. Lalu menatap Noah.
"Oke. Saya datang, tapi jangan berharap terlalu banyak. Saya mungkin gagal, saya mungkin jatuh, saya mungkin mempermalukan diri sendiri."
Noah menatapnya. Tatapannya begitu tenang hingga membuat Ellara sedikit kesal. Lalu pria itu berkata,
"Kalau kau jatuh...Aku akan menangkapmu."
Ellara membeku.
Harold menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Astaga. Aku terlalu tua untuk melihat adegan seperti ini."
Ellara langsung memerah. "Itu bukan maksud saya!"
Noah mengangkat alis. "Aku bicara soal latihan. Wajahmu yang berpikir aneh."
Ellara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Karena sialnya ia memang berpikir aneh. Noah tersenyum tipis, kemudian ia berbalik.
"Ayo."
Ellara mengerutkan kening. "Mau ke mana?"
Noah menunjuk ke arah kandang VIP di ujung arena.
Tempat Star berada.
"Hari ini..." kata Noah pelan, kita cari tahu apakah kau benar-benar dipilih olehnya."
Ellara menelan ludah karena entah kenapa ucapan itu terdengar jauh lebih menegangkan daripada kompetisi mana pun. Dan tanpa mereka sadari dari balkon lantai dua mansion, Bianca berdiri diam memperhatikan. Tangannya menggenggam pagar besi, tatapannya tertuju pada Noah. Pada senyum kecil yang baru saja muncul di wajah pria itu. Senyum yang sudah sangat lama tidak pernah ia lihat.
Sementara itu di balkon mansion. Bianca memperhatikan semuanya. Tangannya memegang cangkir kopi. Tatapannya tenang, terlalu tenang. Di sampingnya berdiri Edward Blackwood. Pria tua itu menghela napas panjang.
"Aku sudah melarang Noah."
Bianca tersenyum kecil. "Aku tahu."
"Tapi dia keras kepala."
Bianca tidak menjawab, matanya masih menatap arena. Menatap Noah yang sedang membantu Ellara mengencangkan sarung tangan. Gerakan kecil sederhana, tetapi terlalu alami. Seolah Noah sudah sering melakukannya. Dan itu membuat sesuatu di dada Bianca terasa tidak nyaman. Sudah bertahun-tahun ia mengenal Noah. Mereka bertunangan karena kesepakatan keluarga.
Hubungan mereka baik saling menghormati, tetapi Noah tidak pernah seperti ini. Tidak pernah menunggu seseorang, tidak pernah tersenyum sesering ini, tidak pernah begitu sabar.
Bianca menggenggam cangkirnya sedikit lebih erat. Lalu untuk pertama kalinya ia mengakui sesuatu. Ia cemburu dan ia membenci perasaan itu.
Di arena Ellara menatap Star dengan gugup. "Kita akan melakukan apa?"
"Dasar."
"Dasar apa?"
"Belajar jatuh."
Ellara membelalakkan mata. "Apa?!"
Noah mengangguk santai. "Kalau mau jadi atlet berkuda, hal pertama yang harus kau pelajari adalah jatuh."
"Saya berubah pikiran."
"Terlambat."
"Noah!"
Harold tertawa terbahak-bahak. Namun Noah serius.
"Kau takut jatuh?"
"Tentu!"
"Aku juga."
Ellara berkedip.
Noah menatap Star. "Dulu aku jatuh ratusan kali. Rulang rusuk retak dua kali, patah tangan sekali, hidung patah."
Ellara langsung mundur. "Saya pulang."
Noah tertawa. Untuk pertama kalinya pagi itu. Tawa yang benar-benar lepas dan Ellara membeku. Karena ia baru sadar, Noah ternyata bisa tertawa seperti itu. Bukan senyum tipis yang dingin, ttapi tawa yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda jauh lebih hidup. Dan itu sangat berbahaya. Karena Ellara mulai menyukai sisi Noah yang satu ini, namun tidak semua orang senang melihat pemandangan itu.
Bianca turun dari mansion melangkah perlahan menuju arena. Sepatu haknya beradu dengan lantai batu. Tak lama kemudian semua orang menyadari kedatangannya. Ellara langsung menjaga jarak dari Noah.
Bianca melihat itu dan senyum tipis muncul di bibirnya
Jadi Ellara sadar batas. Bagus. Bianca berhenti tepat di depan mereka.
"Latihan?"
Noah mengangguk.
Bianca menatap Ellara, lalu tersenyum lembut. "Kalau begitu..." ia menoleh pada Noah. "Ajar aku juga."
Arena langsung sunyi. Harold tersedak kopi.
"Apa?"
Bianca tersenyum. "Aku tunanganmu. Aneh kalau calon istrimu tidak bisa berkuda, kan?"
Ellara langsung menegang. Noah mengernyit.
"Bianca"
"Apa?"
Bianca masih tersenyum. "Aku cuma ingin menghabiskan waktu denganmu."
Kalimat itu terdengar biasa tetapi entah kenapa, Ellara merasa dirinya sedang diusir secara halus. Dan yang paling menyakitkan Bianca memang berhak mengatakan itu karena ia tunangan Noah, sementara Ellara bukan siapa-siapa.
Ia menunduk. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan Noah melihat perubahan ekspresinya. Melihat bagaimana Ellara perlahan menarik jarak, melihat bagaimana gadis itu kembali membangun tembok, lalu untuk pertama kalinya Noah merasa kesal. Bukan pada Ellara, tetapi pada kenyataan. Bahwa setiap kali ia mencoba mendekat dunia selalu mengingatkan mereka bahwa mereka berasal dari tempat yang berbeda.