NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 15

Ting.

Pintu lift terbuka. Mahesa melangkah keluar, menyusuri koridor yang gelap hingga matanya menangkap satu-satunya kubikel yang masih menyala. Dari jarak beberapa meter, dia melihat Inara. Tubuh wanita itu tampak semakin kecil dan ringkih di balik meja kerja yang besar. Kepala Inara tampak terkulai lemas, bertumpu pada salah satu tangannya yang gemetar menahan kantuk dan sakit.

Langkah kaki Mahesa yang sengaja dia pelankan terhenti. Dia melihat Inara tiba-tiba terbatuk kecil, lalu memegang dadanya dengan raut wajah yang meringis kesakitan. Bibir wanita itu kembali memucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

Jantung Mahesa berdegup kaku. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk berlari, merengkuh tubuh itu, dan memaki dirinya sendiri karena telah memberikan tugas seberat ini. Langkah kakinya sempat maju dua tindak, tangannya setengah terulur ke udara. Sebuah refleks kekhawatiran murni dari seorang pria yang perlahan mulai terusik oleh penderitaan istrinya.

Namun, egonya kembali menariknya mundur. Mengingat bagaimana ayahnya selalu menuntut profesionalisme, dan bagaimana dia harus menjaga jarak agar cintanya kepada Clarissa tidak goyah. Mahesa buru-buru mengeraskan kembali ekspresi wajahnya. Dia berdeham keras, sengaja menimbulkan suara ketukan sepatu di lantai keramik.

Tuuuukkk

Tuuuukkk

Tuuuukkk

Inara tersentak. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, mencoba menghapus keringat di dahinya dan menatap ke arah sumber suara. Matanya membelalak kecil saat melihat siluet tegap Mahesa berjalan mendekat dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

"Mas Mahesa? Kenapa kembali ke kantor?" tanya Inara, suaranya begitu lemah hingga nyaris tenggelam dalam kesunyian.

Mahesa berhenti tepat di samping kubikel Inara. Matanya menatap dokumen yang berserakan, lalu turun ke arah tangan Inara yang masih bergetar di atas meja. Ada sekelebat rasa bersalah yang menyengat dadanya, namun suaranya tetap keluar dengan nada yang angkuh.

"Ada barang saya yang tertinggal di ruangan," bohong Mahesa dingin. Dia melirik jam tangan Rolexnya.

"Sudah hampir jam sebelas malam, dan pekerjaanmu baru selesai setengah? Rupanya kemampuan analisismu memang sudah menurun, Bu Inara."

Inara menunduk, meremas rok kerjanya di bawah meja.

"Maaf, Pak. Laporannya sangat detail, saya harus memeriksa ulang setiap transaksi agar tidak ada selisih. Tapi saya berjanji akan menyelesaikannya malam ini."

Mahesa terdiam. Dia menatap ubun-ubun kepala Inara. Jarak mereka begitu dekat, hingga dia bisa mendengar napas Inara yang pendek-pendek dan berat. Rasa khawatir itu kembali mendesak dada Mahesa. Dia tahu betul, jika Inara ambruk lagi malam ini, Dokter Tirta tidak akan tinggal diam, dan sandiwaranya di depan sang ibu akan hancur total.

"Saya tidak mau laporan yang asal-asalan hanya karena kamu mengantuk," ujar Mahesa, nadanya melembut satu persen, meski dia mencoba menutupinya dengan ketegasan.

Pria itu berbalik memunggungi Inara, menyembunyikan binar matanya yang gelisah.

 "Simpan dokumen itu di flashdisk. Selesaikan sisanya di rumah. Saya tidak mau membayar tagihan listrik lembur hanya untuk satu karyawan yang lambat seperti kamu."

Inara mendongak, tertegun menatap punggung lebar suaminya.

"Mas menyuruhku pulang?"

"Jangan percaya diri," sahut Mahesa cepat tanpa berbalik.

"Saya hanya tidak mau repot jika kamu tiba-tiba pingsan lagi di gedung ini dan membuat satpam gempar. Berkemaslah dalam lima menit. Saya tunggu di basemen. Kamu pulang bersama saya hanya karena arah rumah kita sama, tidak lebih."

Mahesa melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Inara yang terpaku di kursinya. Di tengah rasa sakit yang mendera fisiknya, setitik rasa bingung mulai merayap di hati Inara. Sikap dingin Mahesa yang tiba-tiba melunak membuat benteng pertahanan batinnya kembali goyah. Dia tidak tahu apakah suaminya itu murni mengkhawatirkannya, ataukah itu hanya taktik lain untuk menjaga agar "barang pajangannya" tidak rusak sebelum waktunya.

Di dalam lift menuju basemen, keheningan di antara mereka terasa begitu berat. Inara berdiri agak di belakang, mendekap flashdisk dan laptopnya seolah benda-benda itu adalah pelindung terakhir dari tatapan menguliti milik Mahesa. Kepalanya semakin berdenyut hebat, berputar seiring dengan pergerakan lift yang turun.

Begitu sampai di basemen, Mahesa melangkah lebar tanpa memedulikan langkah Inara yang terseok di belakangnya. Namun, saat pria itu membuka pintu kemudi, dia melirik sekilas ke arah istrinya. Wajah Inara benar-benar pucat pasi, matanya sayu, dan napasnya terdengar pendek-pendek.

"Masuk," perintah Mahesa pendek, ketus seperti biasa.

Inara membuka pintu kursi penumpang di sebelah Mahesa. Begitu tubuhnya menyentuh jok kulit mobil yang empuk, kehangatan pendingin ruangan mobil langsung menyelimuti tubuhnya yang sedari tadi menggigil kedinginan di ruang kantor.

Mobil sedan mewah itu perlahan melaju, keluar dari gedung pencakar langit Dirgantara Group dan membelah jalanan yang mulai lengang menjelang tengah malam.

Lima menit pertama perjalanan, Inara masih mencoba mempertahankan kesadarannya. Dia mencengkeram sabuk pengaman kuat-kuat, memaksa matanya tetap terbuka karena takut Mahesa akan memarahinya jika dia bertingkah tidak sopan.

Namun, raga wanita itu sudah berada di titik nadir. Efek dehidrasi yang belum pulih total, ditambah stres psikologis seharian penuh dan lembur tanpa makan malam, membuat pertahanan Inara runtuh seutuhnya. Perlahan, cengkeramannya pada sabuk pengaman melonggar. Kelopak matanya yang terasa seberat timah akhirnya terpejam rapat.

Kepala Inara terkulai lemas ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil. Napasnya berubah menjadi teratur namun sangat dalam, mencerminkan betapa lelahnya jiwa dan raga wanita itu setelah terus-menerus dihantam badai penderitaan.

Mahesa, yang sejak tadi fokus menatap jalanan, sesekali melirik ke arah sampingnya. Saat menyadari Inara sudah tertidur pulas, dia perlahan mengurangi kecepatan mobilnya. Pria itu menepikan mobilnya sebentar di lampu merah yang sepi, lalu memutar tubuhnya untuk menatap Inara dengan jelas.

Di bawah temaram lampu jalanan yang menembus kaca mobil, Mahesa bisa melihat betapa menyedihkannya kondisi istrinya. Ada lingkaran hitam yang pekat di bawah mata Inara. Gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di wajah manisnya yang kini tampak begitu tirus.

Brak.

Saat mobil melewati sedikit gundukan jalan, kepala Inara terantuk kaca jendela dengan cukup keras. Wanita itu merintih lirih dalam tidurnya, dahinya berkerut menahan sakit, namun dia terlalu lelah untuk terbangun.

1
Hary Nengsih
baru sehari dh gak makan 😄😄😄
Mundri Astuti
woy pake nyalahin papamu...panteslah kamu dibuang...ngaku anak, tapi grogotin harta papamu, y kalo didiemin bakalan bangkrut lah usaha yg dirintis papamu. kadang ga ngotak y kamu, liat tuh kelakuan asli mantan yg jadi selingkuhanmu
Yam_zhie: kasih tahu Mahesa jangan ya 🙈😭
total 1 replies
Muft Smoker
makan tu wanita mu yg katany lebih baik dr inara ,, yg pling km cinta dn mencintai km ,,
trnyata hanya manusia yg Haus harta ,, 😒😒😒😒
giliran udh begini semua org dy salahin ,,
Muft Smoker: kurang duit dy kak🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
YuWie
setimpal sdh kau dptkan mahes..miskin2 kau..inara kaya raya kau mau gagahi kekayaannya. dasar. mokondo kan skrg dirimu
Mundri Astuti
mantapppsss....belum sebanding sih, sama oerlakuanmu kpd Inara.
dah gembel masih ga sadar juga
Ambu Rinddiany Thea
sugan teh rek toubat nya eta s mahesaaa , ehh kalah beki oleng otakna teh
Oma Gavin
mampusss kamu mahesa tanpa ayahmu dan dirgantara kamu bukan siapa" hanya gembel jalanan cocok dgn clarisa perempuan murahan
sunaryati jarum
Kamu itu bodoh tapi sombong dan sok berkuasa padahal semua masih milik orang tua kamu.Tuh orang yang kau puja hanya bisa mengeluh dan menyalakan kamu.Dasar tidak tahu malu masih beristri sudah kumpul kebo sama mantu istri durjana
sunaryati jarum
Sebentar lagi kejutan lagi untukmu datang,yaitu surat cerai.Karena saksi dan bukti lengkap
nely_48
jd gelandangan ga tuh s mahesa
Dew666
👑👑👑
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kalo gak bicara mana tau inara setaun ini ditipu kamu
Muft Smoker: dsaat seperti ini msh juga Blum sadar dy ,,
total 1 replies
Mundri Astuti
lah papamu liat sendiri, hadehhhh si Mahesa, dah ga bisa apa", jahat beud, ngibulin org, ga ada baik"nya kamu
Rieya Yanie
jangan salahkan orang lain mahesa ...
karena sepandai pandain km menyimpan bangkai pasti akan tercium jg
Arin
Tidak perlu bilang dengan Papa Raharjo. Jika beliau sudah tau sendiri kelakuan mu bersama Clarissa..... Inara tinggal melengkapi nya saja perlakuan mu yang telah kamu perbuat selama berumah tangga. Klop kan sudah jelas ..... selamat tinggal menikmati jerih payahmu bersama Clarissa🤣🤣🤣🤣
gina altira
Makan tuh arogansi kamu Mahesa
Oma Gavin
Alhamdulillah kere mahesa
gina altira
mantap nih kedua orang tua Mahesa,, walaupun anak semata wayang ga segan" menghukumnya. Rasakan Mahesa, ini baru awal 🤪🤪🤪
Elina thea
orangtua Mahesa sangat bijak,sekalipun mahesa anaknya tapi mereka tidak tutup mata kalo anaknya bersalah... makanya mereka tidak sungkan buat mempermalukan anaknya sendiri di depan semua orang sebagai bentuk hukuman...jadi Mahesa selamat menikmati hukumanmu bersama selingkuhanmu
Muft Smoker
sambutan yg bagus bukan mahesaa ,, Selamat buat kehancuran mu mahesaaa ,, Dan menempuh hidup baruuuu bersama Clarissa yg katanya mencintai ada apa ya ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!