Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Senin Bersama Singa Kantor
Prediksi Bagas di malam Minggu kemarin tampaknya mulai mendekati kenyataan. Hari Senin ini, atmosfer di lantai lima divisi pemasaran terasa beberapa derajat lebih dingin daripada biasanya. Begitu jam digital di dinding menunjukkan pukul delapan tepat, pintu ruangan Kepala Staf terbuka.
Arini keluar dari ruangannya. Penampilannya hari ini sangat sempurna, kontras 180 derajat dengan versi piyama longgar dua hari lalu. Rambutnya ditata rapi, pakaian kerjanya modis dan tajam, serta tatapan matanya seolah siap memangsa siapa saja yang berbuat salah.
Langkah kaki Arini berhenti tepat di depan kubikel Rian. Cowok itu otomatis langsung menegakkan punggungnya, menahan napas.
"Rian. Laporan perkembangan vendor yang saya minta hari Sabtu kemarin. Mana?" tagih Arini. Suaranya datar, dingin, dan tanpa ada embel-embel sapaan "selamat pagi".
"I-ini, Bu. Sudah saya cetak dan saya rapikan," jawab Rian gugup, menyodorkan sebuah map biru dengan tangan sedikit gemetar.
Arini menyambar map tersebut tanpa menyentuh jemari Rian sama sekali. "Bagus. Nanti siang saya periksa. Jangan ke mana-mana, tetap di kubikel kamu." Setelah itu, Arini berbalik dengan anggun dan kembali masuk ke ruangannya, meninggalkan Rian yang hanya bisa membuang napas panjang yang sejak tadi ditahannya.
Rian merosot di kursinya. Jujur saja, sejak melangkah masuk ke kantor pagi tadi, isi kepalanya cuma satu: mencari celah untuk minta maaf soal ucapan "kakak-adik" di apartemen. Ia sadar betul setelah diceramahi Bagas kalau omongannya kemarin menyinggung harga diri sang Kepala Staf.
Namun, jangankan meminta maaf, diberi kesempatan untuk tersenyum saja tidak ada. Arini benar-benar menutup rapat-rapat segala celah personal di antara mereka.
Ketakutan Rian makin menjadi-jadi saat menjelang makan siang. Pintu ruangan Arini sengaja dibuka setengah karena ada koordinasi mendadak. Dari balik meja kerjanya yang berjarak beberapa meter, Rian bisa melihat dengan jelas bagaimana sang Kepala Staf sedang "membantai" proposal dari salah satu staf senior divisi lain.
"Ini apa, Doni?" suara Arini terdengar menggelegar sampai ke luar ruangan, membuat beberapa staf di kubikel luar kompak menunduk. "Kamu sudah kerja di sini dua tahun, tapi kenapa kalkulasi anggaran promosi digitalnya masih seberantakan ini? Kamu mau membuat divisi kita kelihatan amatir di depan direksi?"
Dari posisinya, Rian bisa melihat wajah staf bernama Doni itu sudah pucat pasi, bolak-balik menyeka keringat dingin di dahinya sambil mengangguk-angguk pasrah. Sementara Arini dengan garang mencoret-coret lembaran kertas proposal itu menggunakan pulpen merahnya tanpa ampun.
Rian yang menyembunyikan sebagian wajahnya di balik layar monitor langsung menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang. “Gila... Bu Arini kalau lagi mode kerja beneran kayak singa kelaparan,” batin Rian ngeri.
Nyali Rian yang tadinya sudah dikumpulkan sejak subuh tadi, mendadak menciut, mengempis sampai tak bersisa. Rencana untuk mengetuk pintu ruangannya, lalu berkata, “Bu, maaf soal ucapan saya yang menganggap Ibu seperti kakak perempuan,” seketika langsung ia coret dari daftar rencana masa depannya.
Rian takut, alih-alih dimaafkan, kepalanya justru akan langsung dicoret-coret pakai pulpen merah atau statusnya diturunkan menjadi staf magang abadi. Di bawah tekanan aura garang Arini, Rian akhirnya hanya bisa pasrah, memandangi map-map dokumen di mejanya sambil berdoa dalam hati agar namanya tidak dipanggil ke dalam "ruang pembantaian" itu hari ini.