Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C021: Shine The Star
...Selamat Baca...
Pagi, pukul 09.00 WAZ
Tanggal: 3 Mei
Lokasi: Studio Utama National TV Aurelia
Pagi ini sebelum pukul 9 pagi, Ethan sudah bersiap berangkat koper yang dibawa hanya satu. Ethan berencana untuk melihat pertunjukan Alfian saja.
Dan kemungkinan besar akan diadakan esok harinya, mungkin awal awal hanya akan perlu perkenalan diri, dan penampilan apa yang akan di tunjukkan peserta.
Berharapnya Alfian bisa lolos dari hari pertama atau kedua, karena peserta ada 150 dari informasi yang Ethan dapatkan. Babak pertama akan di eliminasi sampai berkurang sebanyak 25 peserta.
Acara Variety Show yang ini akan menjadi sangat ketat, babak pertama ada dua tampilan. Yang pertama adalah menyanyi dan menari dengan musik, dan kedua adalah menyanyi dan menari tanpa musik.
Kejam? Yah memang begitulah aturan yang Tuan Gerald terapkan, agar tidak ada kecurangan dari para peserta. Tapi mungkin akan beda lagi jika itu adalah sosok trainee berpengalaman.
Sampainya di lokasi, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah. Pintu utama studio besar terbuka lebar.
Ethan Lucifer sudah mengantar Alfian ke barisan peserta untuk menerima kartu anggota Shine The Star. Sedangkan dia mengikuti direktur utamanya tuan Gerald.
Dan dia tidak datang sendirian, dia berjalan berdampingan dengan sahabatnya sejak kecil, Arthur Lesson, yang juga merupakan salah satu investor besar dalam proyek ini.
Mereka tidak langsung masuk ke ruang khusus, melainkan berjalan masuk melalui jalur utama bersama dengan jajaran petinggi lainnya.
Di depan mereka berjalan Tuan Gerald selaku Direktur Utama acara, dan di belakang mereka menyusul para juri serta mentor yang akan menilai.
Suasana di dalam studio sangat luar biasa. Lampu-lampu sorot menyala terang, panggung besar berdiri megah dengan desain futuristik, dan ribuan kursi penonton sudah terisi penuh.
Penonton yang mendapatkan tiket Shine The Star untuk menonton rekaman awal, namun siring berjalannya waktu, penonton tidak akan selalu ada disana, kecuali saat pertunjukkan langsung.
Seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan gaya modis dan energik naik ke atas panggung.
Dia adalah MC resmi acara tersebut, bernama William Cross. Suaranya lantang dan penuh karisma menggema ke seluruh penjuru ruangan melalui sistem suara yang canggih.
"GOOD MORNING, LADIES AND GENTLEMAN!!!" teriak William Cross dengan semangat yang menular.
"Selamat datang di acara terbesar, termegah, dan paling ditunggu-tunggu di negara Aurelia! SHINE....."
"THE STAR!!! 150 Members!!" Teriak penonton dan MC William Cross.
Seketika setelah pelafalan itu, para penonton bersorak dengan semangat membara. Suara tepuk tangan dan teriakan penonton memekakkan telinga.
"Saya William Cross, akan menjadi pembawa acara Anda hari ini! Hari ini kita akan menyaksikan bibit-bibit unggul bertalenta yang akan bersaing ketat untuk merebutkan kontrak emas dan debut resmi!"
William Cross menunjuk ke arah meja panjang di depan panggung.
"Dan hari ini, yang akan menilai, membimbing, dan menentukan nasib kalian, adalah orang-orang terbaik di bidangnya!"
▪︎Pertama, kita punya Master of Voice, Juri Vokal yang sangat legendaris: MADAME ELENA MORIS!
▪︎Kedua, Raja di atas panggung, ahli dalam gerakan dan koreografi: MASTER REIN CARTE (Juri Tari)!
▪︎Ketiga, Legenda Hip-Hop dan Rhythm, yang kata-katanya selalu ditakuti namun penuh makna: DJ (DANGJEON) KHALID (Juri Rap)!
▪︎Keempat, kita juga didatangkan seorang Produser Musik handal yang telah menciptakan banyak lagu hits: MR. THEO LEONHART!
▪︎Dan terakhir, seorang Ahli Karisma & Visual yang akan menilai penampilan secara menyeluruh: MISS CATHERINE!
▪︎Lalu kami juga mengundang seorang penyanyi Legendaris, lagunya diakui seluruh dunia! Dia datang sebagai Juri Tamu: Penyanyi Legendari Stella Maris!
Satu per satu nama dipanggil, dan para juri berdiri memberikan senyuman atau anggukan dingin, membuat suasana menjadi tegang namun seru. Saat juri tamu Stella Maris di sebutkan sorak sorai pun ramai ramai berteriak.
Total ada 6 orang juri yang mencakup semua aspek: Vokal, Dance, Rap, Produksi, dan Visual/Karisma, serta tamu untuk penyesuaian nada yang ahli oleh Stella Maris
***
Setelah juri selesai diperkenalkan, William Cross mengarahkan tangannya ke area khusus yang lebih tinggi dan terpisah, tempat duduk para pemegang saham dan investor.
"Dan tak kalah pentingnya, acara sebesar ini tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan besar dari para investor hebat kami yang hadir langsung hari ini!"
"Silakan beri sambutan untuk!"
▪︎"Perwakilan dari Aurelia Music Group!"
▪︎"Dari Starlight Entertainment Corporation!"
▪︎"Dari Global Media Network!"
▪︎"Dan yang terakhir, dua investor muda yang sangat fenomenal dan penuh talenta! Tuan Arthur Lesson dan Tuan Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment & Lesson Investment!!!"
Sorakan penonton semakin keras saat nama Ethan dan Arthur disebut. "Uwahhh!! Itu Arthur Lesson, putra bungsu keluarga Lesson, sang dewa mata investasi!!"
"Ohhhh!!! Ada Bos Muda Lucifer Entertainment, Ethan Lucifer!!! Dia ikut berinvestasi? Ke acara ini? Luar biasa!!"
Saat sambutan menyambut kedua orang itu, dan sedangkan dua orang yang akhir akhir ini menjadi topik pembicaraan di media sosial.
Mereka berdua duduk dengan santai namun penuh wibawa di kursi empuk mereka, menganggukkan kepala memberikan salam pada penonton dan peserta.
"Silakan para investor untuk menikmati tayangan kita hari ini," kata William Cross sopan.
Para staf mempersilakan mereka duduk dengan nyaman, sementara fokus kembali tertuju ke panggung.
"Baiklah, mari kita lanjutkan!" ucap William Cross.
"Hari ini adalah hari pertama tahap awal. Total ada 150 peserta yang telah lolos seleksi audisi dan akan tampil di depan kita hari ini dan besok."
"Sistem penilaiannya sangat mudah dimengerti namun sangat ketat."
"Setiap peserta akan tampil maksimal selama 3 menit. Para juri memiliki tombol 'PASS' atau 'FAIL'."
"Jika mendapatkan minimal 4 lampu hijau dari 6 juri, maka peserta LOLOS ke babak selanjutnya! Namun jika kurang dari itu, maka sayang sekali, perjalanan mereka harus berhenti di sini."
"Selain itu, para juri juga bisa memberikan komentar membangun atau kritikan tajam agar kalian bisa semakin berkembang. Ingat, kami mencari yang TERBAIK dari yang TERBAIK!"
"Kami memiliki beberapa sistem khusus di acara kami, yaitu sistem asrama, sistem latihan, sistem pertunjukkan, dan sistem Evaluasi, untuk tahap awal adalah peserta yang gagal dari 150 peserta karena diberikan Fail oleh para juri."
"Ini memudahkan kami menyeleksi babak selanjutnya, dan kami juga memiliki babak tingkatan. Pertunjukkan awal hanya menampilkan hal sederhana, misalnya perkenalan atau menunjukkan hobinya."
"Kemudian, seleksi selanjutnya adalah menunjukkan kemampuan setelah peserta lolos dari pass and fail yang juri berikan. Minimal Fail 25 orang peserta tapi juga bisa lebih hingga menyisakan seratus orang."
"Dan satu hal lagi..." William Cross tersenyum misterius.
"Di kursi investor, ada tombol khusus 'GOLDEN TICKET'. Jika ada peserta yang membuat mereka terkesan luar biasa, mereka bisa memberikan tiket emas untuk langsung melesat ke babak selanjutnya tanpa perlu menunggu nilai!"
"Wahhh!" Gumaman takjub terdengar dari seluruh ruangan.
"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi. Mari kita mulai pertunjukan ini!"
"Peserta nomor 1 sampai 10, silakan bersiap di belakang panggung!"
Suara musik pembuka yang energik mulai mengalun. Acara Shine The Star resmi dimulai!
Satu per satu peserta naik ke panggung. Ada yang tampil gemilang, ada yang gugup, ada yang membuat juri tersenyum, ada juga yang harus menerima kenyataan pahit.
Di tengah keramaian itu, Alfian Vale duduk tenang di sudut ruang tunggu. Nomor urutnya ada di bagian akhir, tepat seperti permintaan Tuan Gerald sebelumnya.
Tingginya yang mencapai 178 cm membuatnya terlihat sangat menjulang di antara peserta lain yang rata-rata lebih tua.
Wajahnya datar, tidak menunjukkan ekspresi takut atau gugup sama sekali. Dia hanya menatap lurus ke arah panggung, menunggu gilirannya tiba.
Ethan yang melihat dari atas balkon VIP hanya tersenyum tipis.
"Lihatlah nanti, Arthur. Anak itu akan membuat gempar seluruh studio," bisik Ethan pada sahabatnya.
"Pasti. Aku sudah menaruh harapan besar padanya," jawab Arthur santai.
Pertarungan bakat pun resmi dimulai!