NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan Keadilan

Napas Suci Wahyuni memburu, terasa mencekat di tenggorokan bagai dicekik oleh ketakutan yang teramat sangat. Langkah kakinya yang dibalut sepatu pelayan murahan berdercit cepat, beradu bising dengan deru mesin kendaraan di jalan raya saat ia menerobos pintu keluar darurat hotel. Ia berlari kencang menembus lobi luar, menyusuri trotoar beton yang ramai oleh pejalan kaki sore itu. Air mukanya yang tertutup riasan tebal tampak berkerut mengerikan, sepasang matanya liar menatap ke belakang, di mana sosok Kenzi Hutama masih mengejarnya dengan langkah lebar yang beringas dan penuh wibawa.

Saking paniknya melihat radar ketajaman mata sang CEO yang terus menguncinya, Suci terus berlari tanpa memedulikan sekelilingnya lagi. Pandangannya mengabur oleh paku-paku adrenalin yang menghantam kesadarannya.

BRUKKK!

Hantaman keras tak terhindarkan. Tubuh ramping Suci menabrak dada seorang pria yang sedang berjalan berlawanan arah dari sudut tikungan trotoar. Benturan yang begitu mendadak itu membuat keduanya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas semen trotoar yang keras. Tas kulit Suci terlempar, memuntahkan beberapa barang pribadinya termasuk sisa pembungkus kapsul sianida yang kosong.

"Aduh! Sialan! Kalau jalan pakai mata!" umpat pria itu, suaranya parau dan sarat akan kekesalan yang mendalam.

Suci yang sedang meringkuk memegangi sikutnya yang lecet mendongak, bersiap memaki balik. Namun, begitu pandangan mata mereka saling bertaut, waktu seolah berhenti seketika. Semburat keterkejutan yang luar biasa menghantam wajah keduanya.

Pria yang ditabraknya tidak lain adalah Alfandi Rian Mahesa. Pria itu sedang berjalan lunglai di sekitar kawasan hotel bintang lima tersebut, berniat mencari keberadaan apartemen Sintia atau melacak tempat mantan istrinya membawa Arka, sesuai dengan hasutan ibunya, Anne.

Tak pelak, pertemuan yang tidak disengaja di atas trotoar publik itu langsung memantik bara api kemarahan yang luar biasa dari dalam dada keduanya. Luka lama dan ego yang hancur berpadu menjadi satu ledakan emosi yang beringas.

Rian bangkit berdiri terlebih dahulu, wajah kusutnya mendadak merah padam oleh dendam yang membakar seluruh urat lehernya. Ia menunjuk wajah Suci dengan telunjuknya yang bergetar hebat.

"Suci Wahyuni?! Wanita iblis!" makian Rian menggelegar, menarik perhatian puluhan pejalan kaki yang langsung memperlambat langkah mereka. "Dasar perempuan jahanam! Kamu yang sudah menghancurkan rumah tanggaku dengan Sintia! Kamu merayu aku, menguras semua uang perusahaanku, dan begitu aku jatuh miskin, kamu kabur membawa sisa uangku! Lihat aku sekarang! Aku jadi gembel, tidak punya apa-apa lagi karena tipu daya busukmu, setan!"

****

Suci yang masih terduduk di lantai trotoar tidak menunjukkan rasa takut atau bersalah sedikit pun. Alih-alih menciut, ia justru mendongak, menatap Rian dengan tatapan mata elang yang dipenuhi rasa jijik dan tumpulnya empati. Ia meludah ke samping, lalu bangkit berdiri dengan anggun meskipun seragam pelayannya kotor oleh debu jalanan.

"Heh, Alfandi Rian Mahesa! Jaga mulut kotarmu itu!" balas Suci, suaranya melengking tajam bagai pecahan kaca. "Jangan salahkan aku atas kebodohanmu sendiri! Kamu jadi gembel karena kamu memang pria tolol, lemah, dan tidak berguna! Kamu yang begitu mudah diperdaya oleh kecantikan dan kemolekan tubuhku, kamu yang rela membuang berlian seperti Sintia demi mengejar rongsokan seperti aku! Sekarang setelah semuanya habis, kamu mau meratapi nasib di depanku? Pergi kamu, pria melarat menjijikkan!"

****

"Diam kalian berdua!"

Sebuah bentakan bariton yang teramat dingin dan penuh penekanan memotong adu mulut beringas tersebut. Sebelum Suci sempat melangkah pergi melarikan diri, sebuah tangan kokoh menjulur dari balik kerumunan. Kenzi Hutama telah tiba. Dengan sisa napas yang memburu namun rahang yang mengatup rapat sekeras batu karang, Kenzi tidak mengambil pusing drama domestik dua orang gembel di hadapannya.

SREEEKKK!

Tanpa memedulikan aturan kesopanan atau tatapan takjub dari orang-orang di sekitar trotoar, Kenzi mencengkeram kuat rambut hitam panjang Suci dari arah belakang, menariknya dengan sentakan kasar hingga kepala wanita ular itu terdongak paksa ke atas, menghadap langsung pada sepasang mata sipit Kenzi yang memancarkan kilat kemurkaan yang mematikan.

"AAARRGGHH! Sakit! Lepaskan! Kenzi, sakit!" jerit Suci histeris, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Kenzi, mencoba melepaskan tarikan jahanam tersebut.

Rian terperanjat, mundur satu langkah melihat kehadiran sang konglomerat muda yang aura kekuasaannya begitu pekat merajai atmosfer trotoar sore itu.

"Katakan padaku, wanita sampah!" geram Kenzi, suaranya rendah, menekan, tepat di samping telinga Suci. "Apa yang baru saja kamu lakukan di dalam kafe tadi? Mengapa kamu menyamar menjadi pelayan dan mondar-mandir menatap meja Sintia?! Jawab, sebelum aku menyeretmu ke kantor polisi dengan tangan patah!"

"Aku tidak melakukan apa-apa! Aku cuma bekerja! Lepaskan aku, Kenzi!" bohong Suci di sela tangis frustrasinya, mencoba menyembunyikan konspirasi pembunuhan yang baru saja gagal ia eksekusi.

Suasana di sekitar trotoar di depan hotel mewah itu mendadak menjadi sangat riuh, gaduh, dan penuh dengan bisik-bisik spekulasi dari kerumunan massa yang kian membeludak.

****

Di tengah kegaduhan yang memuncak itu, kerumunan pejalan kaki mendadak terbelah perlahan. Sintia Arunika melangkah maju dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja keluar dari istananya. Di samping kanannya, Arka berjalan dengan tenang, jemari mungilnya menggenggam erat tangan Sintia. Bocah itu sudah sepenuhnya tenang berkat pelukan suci dan kehangatan yang Sintia berikan di dalam restoran tadi.

Melihat kehadiran Sintia dan Arka, Rian langsung hendak merangkak mendekat untuk meminta belas kasihan lagi, namun tatapan dingin dari pengawal hotel yang mulai berjaga membuat langkahnya tertahan.

Sintia berhenti tepat dua langkah di hadapan Suci yang masih berada dalam cengkeraman tangan Kenzi. Sintia menatap wanita yang pernah menjadi selingkuhan mantan suaminya itu dengan sepasang mata jernih yang kosong dari rasa heran. Baginya, melihat Suci menyamar dan berkeliaran di dekatnya bukanlah hal yang mengejutkan. Siasat ular beludak seperti ini memang sudah mendarah daging di dalam garis keturunan moral Suci.

"Kenzi, lepaskan dia sejenak," ucap Sintia, suaranya terdengar sangat tenang, datar, namun memiliki getaran otoritas yang tak bisa dibantah.

Kenzi melirik Sintia, lalu dengan sentakan terakhir yang membuat Suci terhuyung, ia melepaskan cengkeramannya. Suci jatuh terduduk di atas lututnya, terengah-engah sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.

Sintia menurunkan pandangannya, menatap lurus ke dalam manik mata Suci yang dipenuhi kedengkian. Detik berikutnya, emosi membara yang selama ini Sintia kubur dalam-dalam di bawah lapisan kesabarannya mendadak mendidih, meledak keluar menuntut keadilan.

PLAAAKKKKK!

Sebuah tamparan keras, nyaring, dan bertenaga mendarat telak di pipi kanan Suci Wahyuni. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat wajah Suci terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di atas kulitnya yang kusam.

Suci memegangi pipinya, matanya membelalak tidak percaya. "Sintia! Kamu—"

"Tamparan ini bukan karena kamu telah berselingkuh dengan mantan suamiku di masa lalu, Suci!" potong Sintia, suaranya meninggi, bergetar hebat oleh riak emosional yang teramat pekat. Air mata kemarahan mulai mengalir deras memandangi wajah wanita di bawahnya. "Pengkhianatanmu dan Rian sudah menjadi sampah yang tidak sudi aku tengok lagi! Harta yang kamu kuras pun tidak ada harganya di mataku!"

Sintia memajukan tubuhnya, menunjuk ke arah Arka yang berdiri diam di belakangnya. "Aku menamparmu karena kamu adalah seorang ibu yang berhati iblis! Kamu melahirkan anak ini, kamu membiarkannya tumbuh dalam trauma, dan kamu meninggalkannya begitu saja di dalam kemelaratan hanya demi menyelamatkan kulit busukmu sendiri! Bagaimana bisa ada seorang wanita di muka bumi ini yang tega membuang darah dagingnya sendiri seperti seonggok bangkai menjijikkan?!"

1
cinta semu 2
keluarkan sumpah serapah u wahai istri sah ...jgn takut & gentar ..Krn semesta ikut terluka melihat istri sah terzolimi ...biarkan keluarga Rian menuai badai ....
Anonim
KAU DULU YANG AKAN MATI LAKNATULLAH..
Li Qiqiu
bakar 🔥🔥🔥🔥
Li Qiqiu
Astaga...
astaga
btw, kak. aku suka gaya cerita kakak...
falea sezi
lanjut
Mumtaz Zaky
kok kenji payah. kan dia berkuasa masa lawan satu cewe aja gak bisa
SisAzalea
hanya Rian si bodoh yg tergiur pada perempuan murahan seperti mu Suci
Rani Saraswaty
kenzi loo kn sdh di cekoki obt gk jls itu, knp msh anteng aja sih...kyk dibiarin kliaran biar bs bls yaa🙄
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!