we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Masalah Kecil di pagi yang Mendung
pagi itu terasa anehnya tenang.
sinar matahari yang bersinar tergantikan oleh mendung, membuat suasana kota terlihat sunyi dan tidak ada seorang pun yang beraktivitas.
Di dalam toko, suasana juga sunyi.
Terlalu sunyi.
We Lin berdiri di belakang meja kasir sambil menatap Tetua Morcant yang tidur nyenyak di sofa.
We Lin pun langsung mendekat ke tetua yang sedang tertidur dan menyodorkan selimutnya ke tetua Morcant
"Tetua ini selimut nya"
"Oh iya"
Jawaban Morcant pelan.
We Lin pun langsung kembali ke meja kasir untuk membersihkan tempat kerjanya yang agak sedikit berdebu.
Setelah membersihkan tempat kerjanya We Lin langsung melihat tetua yang sedang tertidur pulas di sofa pinggir rak-rak perhiasan
dan entah sejak kapan selimut itu sampai menutupi setengah badan Tetua.
Bahkan posisi tidurnya sekarang lebih nyaman dibanding pemilik toko.
We Lin menyipitkan mata.
“…Ini toko perhiasan atau kos-kosan.”
Morcant tidak menjawab.
Namun matanya terbuka sedikit.
Tatapannya diam-diam memperhatikan We Lin beberapa saat sebelum kembali tertutup.
We Lin memijat pelipis.
“Orang legenda kok gampang banget tidur…”
Tiba-tiba—
KREEEK…
Suara kecil terdengar dari arah rak perhiasan.
We Lin langsung menoleh cepat.
Ekspresinya langsung waspada.
“…Jangan mulai pagi-pagi.”
Sebuah anting kecil berwarna perak bergetar pelan.
Lalu—
Ting.
Anting itu jatuh sendiri dari rak.
We Lin menghela napas lega.
“Oh, jatuh doang.”
Whoosh!
Anting itu tiba-tiba melayang sendiri.
Hening….
We Lin menatap anting itu.
Anting itu melayang santai di depan wajahnya.
“…Oke.”
“…Saya gak bakal nanya lagi kenapa ini bisa terjadi.”
Anting itu mulai muter-muter di dalam toko dengan santai.
Kadang lewat depan muka We Lin.
Kadang muter di lampu.
Kadang berhenti di atas kepala Morcant.
Namun Tetua itu tetap diam di sofa.
Tapi Tatapannya tetua Morcant sesekali-kali mengikuti gerakan perhiasan itu.
Bukan karena tertarik pada perhiasannya.
Melainkan pada fakta bahwa benda itu… terlihat begitu patuh di dekat We Lin.
We Lin mencoba menangkapnya pakai tangan.
“Eh sini.”
Whoosh!
Anting itu langsung nyingkir.
We Lin berkedip.
“…Dia ngindar?”
Ia mencoba lagi.
“Jangan bikin repot pagi-pagi.”
Whoosh!
Anting itu kabur lagi.
Bahkan sekarang muternya kayak sengaja pamer kemenangan.
We Lin mulai menatap kosong ke langit-langit toko.
“…Saya kalah mental lawan anting.”
Di sofa, bahu Morcant bergerak kecil.
Seperti sedang menahan tawa.
We Lin akhirnya mengambil kain lap dari meja kasir.
“Oke.”
“Kalau gak bisa pakai tangan…”
Ia memutar kain itu pelan seperti jaring.
“…kita pakai cara tradisional aja.”
Whoosh!
Anting itu kembali muter di depan wajahnya.
Namun kali ini—
PLAAP!
We Lin langsung menangkapnya tepat menggunakan kain lap.
Anting itu bergerak-gerak kecil di dalam kain seperti ikan kecil yang ke tangkep.
Namun perlahan mulai tenang.
Seolah memang “menurut” setelah tertangkap oleh We Lin.
We Lin langsung menghela napas lega.
“Nah.”
“Dari tadi kek gini aja susah.”
Ia baru mau kembali ke meja kasir—
Tiba-tiba kain lap itu bergerak sendiri kecil di tangannya.
We Lin langsung menatap kain itu.
Kain itu diam.
“…Jangan mulai lagi.”
Kain itu bergerak kecil sekali lagi.
We Lin langsung menunjuk kain tersebut.
“Saya capek, ya.”
“Kalau kamu keluar lagi, saya diskonkan ke pelanggan.”
Hening.
Anting itu benar-benar diam.
Di sofa, Morcant akhirnya membuka mata sedikit lebih lebar.
Tatapannya tenang.
Namun jauh di dalam matanya, ada sedikit rasa hormat yang samar.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan logika dunia biasa.
Morcant memandang kain lap di tangan We Lin beberapa detik.
Lalu bergumam sangat pelan—
“…Perhiasan roh yang liar bisa diam hanya karena diancam diskon…”
Ia menutup mata lagi perlahan.
“…Entitas yang aneh.”
Gumamnya morcant pelan.