NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

"Om Anjas , terima kasih bingkisannya , om." Dirga yang melihat Anjas tengah duduk sendiri di salah satu bangku taman mendekatinya.

Sementara teman-teman dan ke dua adiknya tengah asyik menikmati hidangan sambil bersenda gurau. Tak ada musik hingar bingar, tak ada party dengan minuman dan asap rokok.

Semua merupakan ide Dirga, yang tak menyukai keramaian. Yang datang pun hanya teman satu kelas , itu pun tak semua datang.

" Kamu udah bilang itu tadi." kekeh Anjas sambil meneguk minuman soft drink di tangannya.

"Boleh di unboxing nggak om." tanya Dirga sambil mengeluarkan isi paperbag.

Anjas mengangguk.

" Maaf, kalau terlalu sederhana. Om nggak bisa kasih lebih, karena om nggak tahu selera kamu kayak apa."

Tangan Dirga sibuk membuka isi kotak di tangannya. Matanya berbinar saat tahu dari isi kotak tersebut.

" Wahhh...ini keren om. Om tahu aja selera saya."Dirga tersenyum senang.

Dia tak menyangka dapat kado jam tangan impiannya. Sempat beberapa hari yang lalu dia melihat display di gallery jam tangan. Tapi begitu melihat harganya dia jadi surut. Minta sama Arista dia tak tega. Minta sama Pram, ayahnya dia gengsi.

Padahal sebagai cucu dari Hardi Suseno , minta apa saja tinggal bilang, pasti di turuti.

Tapi Dirga dan ke dua adiknya tak pernah memanfaatkan latar belakang keluarga mereka.Mereka lebih tampil apa adanya. Itu yang membuat mereka di sukai teman di lingkungan sekolahnya.

" Om ini ahli baca karakter seseorang, lho." ujar Anjas.

"Wahh... serius, om. Boleh dong baca karakter saya." kata Dirga antusias.

Anjas tiba-tiba tertawa. Lalu menepuk pundak Dirga.

" Om bercanda,boy. Baca karakter diri sendiri aja nggak bisa, apalagi baca karakter orang."

" Om bisa aja merendah. Buktinya om bisa menebak selera saya." kata Dirga sambil memakai jam tangan kado dari Anjas.

" Om beli itu karena selera om aja. Kebetulan om merasa cocok dan sreg , jadi om beli. Ngomong-ngomong selera om rendah ya?" tanya Anjas sambil menatap Dirga.

" Selera om sama saya sama, om. Justru selera om tinggi. Lihat aja penampilan om, walau sederhana tapi keren dan berkharisma. Cool." Dirga menatap kagum ke Anjas.

" Bisa aja kamu." Anjas mengacak rambut Dirga.

Arista yang melihat interaksi antara Anjas dan putra sulungnya, mengulim senyum. Mereka terlihat akrab.

Berbeda dengan Pramono , ke dua tangannya mengepal kuat. Entah kenapa melihat interaksi mereka , emosinya jadi naik.

Perlahan Pram mendekati tempat duduk Anjas dan putranya.

"Eehhemmm."

Serentak mereka mengangkat kepalanya.

" Maaf mengganggu. Dirga, maaf. Ayah bukan lupa membeli kado,tadi karena pulang kantor udah sore jadi ayah buru-buru. Takut ayah ketinggalan acaranya." Pram mengungkapkan penyesalannya.

Dirga menautkan ke dua alisnya.

" Santai aja, yah. Dirga nggak minta kado apa-apa,kok. Kita kan tinggal satu rumah, jadi bisa setiap saat ketemu." ucap Dirga ambigu.

" Mbak Arista, aku pamit pulang dulu. Udah malam , takutnya Hanif rewel." pamit Anisa yang sudah ada di antara mereka.

" Lho... Hanifnya mana." tanya Anjas. Matanya sibuk mencari.

" Ada sama Dimas. Dia pengin main bareng, kangen katanya." kata Anisa.

" Hey...calon CEO. Tante nggak bisa kasih apa-apa. Ini buat kenang-kenangan, ya." Anisa mengulurkan sebuah paperbag.

" Makasih Tan. Kebetulan gawaiku udah full memori." Dirga mengulum senyum.

Sebuah i phone keluaran terbaru kini berada di tangan Dirga.

" Itu dari om dan tante, ya." kata Anisa.

" Iya, tan. Makasih om Restu."

" Sama-sama. Kami pamit dulu. Assalamualaikum." pamit Anisa.

" Waalaikumsalam."

Anjas mengikuti langkah Anisa dan Restu. Semua tak luput dari perhatiannya.

" Sepertinya om juga ikut pamit." kata Anjas sambil bangkit dari duduknya.

" Lho...nanti saja, om. Saya masih ada yang di obrolin sama om. Lagian besok kan weekend. Nginap aja di sini." Dirga berusaha menahan Anjas.

" Ehemm...mungkin om Anjas udah ada janji dengan ceweknya." kata Pram datar.

Anjas tertawa mendengar ucapan Pramono.

" Pak Pram bisa aja. Saya belum punya pasangan, belum ada yang cocok." kata Anjas.

"Mau nyari yang seperti apa , Mas Anjas. Nanti keburu habis lho, stock perempuannya." seloroh Arista.

Anjas menatap Arista sekilas. Walau cuma sekilas tapi tatapan itu sangat dalam.

" Kayaknya nggak harus yang seperti apa. Yang tahu tahu nemplok aja di hati. Karena bisa di rasa, tapi nggak ada wujud." ungkap Anjas sambil tersenyum getir.

" Mungkin selera om terlalu tinggi , jadi banyak nggak cocoknya." Dirga menimpali.

" Eit...tahu dari mana. Kamu masih belum cukup umur." Seloroh Anjas. Tangannya kembali mengacak rambut Dirga.

" Seru amat, ajak-ajak dong." Dimas dan Dityan ikut bergabung.

" Lho..Hanif mana?." tanya Anjas sambil mencari sosok Hanif.

" Hanif di bawa Tante Anisa, makanya kami ke sini. Lagi seru main bareng malah pulang. Padahal masih kangen." Dityan bibirnya manyun.

" Pulang?." tanya Anjas tak mengerti.

" Om...kayaknya saya laper. Kita gabung yuk, sama mereka ." Dirga mengalihkan pembicaraan, sambil menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang barbeque an.

Anjas merasa janggal. Tapi dia tidak banyak bertanya karena bulan ranah pribadinya. Sebelum pergi dia menatap ke arah Arista dan Pram , seolah minta penjelasan.

Arista tahu arti tatapan itu.

" Anisa katanya kesepian, jadi bawa Hanif." jelas Arista singkat.

Anjas mengangguk. Sebenarnya sejak awal datang dia merasa aneh dengan sikap Anisa. Apalagi saat Pram datang, dia langsung mengambil alih Hanif dari gendongannya. Dan buru-buru menjauh.

"Ayo...om." tangan Anjas di tarik Dirga.

" Ehemm...ayah nggak di ajak?." tanya Pram. Kalau boleh jujur dia merasa di abaikan keberadaannya.

" Ayah kan tuan rumah di sini." kata Dirga sambil berlalu.

Anjas merasa kikuk, dia jadi bingung. Menolak ajakan Dirga , dia pun tak enak. Karena hari ini adalah hari bahagia dia. Tapi melihat Pram, dia pun tak enak hati.

" Ayo...pak Pram, kita gabung sama anak -anak. Biar jiwa kita tetap muda." Anja berseloroh sambil tertawa.

" Pak Anjas bisa aja. Silahkan bersenang senang pak Anjas. Saya mau telepon ibu saya dulu, menanyakan keadaannya." Pram memberi alasan.

Anjas mengangguk.

" Semoga keadaannya nggak memburuk dan cepat pulih. Mari Pak Pram."

Pram mengangguk. Dengan langkah lebar dia pun masuk ke dalam rumah.

Arista melirik dan tersenyum sekilas.

(Bagaimana rasanya di abaikan oleh putra sulungnya. Nggak akan sama setelah apa yang kamu torehkan ke hatinya, mas.) Arista bermonolog dalem hati.

" Kenapa juga dia harus datang, sok akrab sama anak-anak. Sampai sampai bapaknya sendiri di abaikan." dengus Pram kesal.

" Anisa lagi, kenapa juga kayak ketakutan pas aku datang. Buru-buru ambil Hanif dan menjauh. Padahal aku sebenarnya penasaran bagaimana wajah Hanif."

" Huh ..ngapain juga aku mikirin anak itu. Sudah bagus dia di sana, ikut sama Anisa dan Restu. Toh...mereka belum punya anak. Buat apa kerja tiap hari kumpulin uang, kalau nggak ada yang di kasih makan."

" Mereka cuma berdua, harta yang mereka kumpulin mau buat siapa. Biar saja anak itu di sana, hidupnya juga terjamin."

Pram mengambil gawai yang dia letakkan di meja kerjanya. Ada banyak notif masuk dari adiknya. Silvia.

" Mas Pram, ibu minta di rawat. Kalau nggak sibuk sekarang ke rumah sakit. Ibu di rawat di ruang Dahlia kamar 106." pesan dari Silvia.

" Besok aja mas ke sana. Udah malem , mas juga masih ada beberapa bekas yang harus di tanda tangani." balas Pram.

{ Ih... gimana sih, mas Pram. Padahal aku laper.').gerutu Silvia.

Tak berapa lama Arista menyusul ke dalam. Sebenarnya dia ingin bergabung dengan Dirga dan yang lainnya. Tapi dia tahu batasan. Ada Anjas di sana, tak elok rasanya kalau dia ikut bergabung.

Arista menatap dari kejauhan. Tanpa Arista sadari sepasang mata pun tengah menatap dia dari tempat yang tak terlihat olehnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!