Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Gagal Transfer Energi
Ki Saron kembali menarik napas dalam-dalam. Kali ini, ia mengangkat satu kakinya, berdiri dengan gaya bangau sakti sembari menggoyang-goyangkan kumis baplangnya.
Mulutnya kembali komat-kamit merapal mantra lanjutan:
"Aki neda kasaktian tingkat tinggi... Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok... Batuna boga si mamat, jurig jarian geura mabal... Ka kulon manggih huut, ka wetan manggih belut, kakuatan si kasep Kiano sing kuat jiga hulu leutak... Ari dahar hayang loba, ari digawe hayang sare... Modar siah laleur hejo, leungit siah korong badak... Plok, plok, plung, jleg! Sempurna!"
Bahu Kiano bergetar hebat. Air matanya bahkan sampai meleleh di sudut mata yang terpejam rapat. Wajahnya sudah bukan lagi memerah, melainkan hampir ungu akibat menahan tawa yang sudah sampai di ubun-ubun.
Bagaimana tidak? Mantra sakral tingkat tinggi yang dibacakan Ki Saron barusan kalau diterjemahkan artinya benar-benar merusak kehormatan dunia persilatan ghaib!
'Sialan! Cikaracak ninggang batu sih bener pribahasa, tapi kenapa ujung-ujungnya jadi: kalau makan mau banyak, kalau kerja maunya tidur?! Terus apa hubungannya kekuatan gue sama lalat hijau sama upil badak, coba?! Ini khodam purba atau pelawak lenong, sih?!' batin Kiano menjerit frustrasi, berjuang keras antara hidup dan mati demi menjaga kesucian ritual transfer energi tersebut.
Namun, saat kekuatan transferan itu baru mencapai setengahnya alias lima puluh persen, tiba-tiba sesosok pria berjubah hitam melesat masuk dari arah jendela.
Wusshh!
Sosok misterius itu melesatkan serangan sihir hitam pekat ke arah Ki Saron. Seketika, proses transfer kekuatan pada tubuh Kiano terputus paksa. Tanpa membuang waktu, pelaku penyerangan itu langsung melesat pergi secepat kilat melewati jendela yang sama.
Brakkk!
Ki Saron terpelanting hebat hingga menabrak lemari besar di belakangnya sampai hancur.
Sementara itu, Kiano mendadak terbatuk darah.
"Uhuk! Uhuk!" Pemuda itu langsung ambruk ke lantai, memegangi dadanya yang terasa membara. Beruntung, ia tidak sampai kehilangan kesadaran.
Ki Saron berusaha bangkit berdiri sembari menahan nyeri. Ia sempat melihat kilasan wajah sosok itu tadi. Sepasang matanya membelalak penuh keterkejutan sekaligus ketidakpercayaan.
"Ki Pesut Kilat..." gumamnya lirih, memandangi jendela yang kini kosong.
Sang jawara hendak melesat mengejar. Namun, begitu melihat kondisi Kiano yang memprihatinkan, ia terpaksa mengurungkan niat.
Ki Saron tahu betul bahayanya jika proses ini terganggu. Ritualnya tidak sepenuhnya gagal, tetapi karena tidak sempurna, tubuh Kiano kini berada dalam bahaya besar. Wadah manusia biasa milik Kiano belum siap menampung energi gaib yang mengambang setengah jalan. Jika dibiarkan, Kiano bisa mengalami efek samping yang mengerikan.
"Tuan!" Ki Saron bergegas mengangkat tubuh Kiano, lalu membaringkannya dengan hati-hati di atas ranjang emas.
"Aduh, Ki... Tubuh gue serasa remuk. Sakit semua, anjir," rintih Kiano sambil terus terbatuk, menyeka sisa darah di sudut bibirnya.
"Saya tahu. Maafkan saya, Tuan. Prosesnya tidak sempurna. Saya pun tidak bisa mengulanginya lagi karena akan sangat berbahaya. Nyawa Anda bisa melayang," ucap Ki Saron penuh rasa bersalah sekaligus kecewa.
Terlebih lagi, hatinya berkecamuk. Sahabat jawara yang tadinya dibicarakan oleh Dharma ternyata masih hidup, tetapi kini justru berbalik menyerangnya.
"Terus gue harus gimana dong? Gue enggak mau mati konyol di sini! Kasihan mami sama papi gue di Jakarta. Masa lo tega sama gue, Ki? Gue kan niatnya baik mau bantuin lo basmi Nini Kisut supaya gue bisa balik ke dunia gue. Eh, sekarang malah begini..." Kiano meratapi nasibnya dengan nelangsa.
"Sudah, Tuan, jangan khawatir. Masih ada cara lain untuk menyempurnakan kekuatan Anda," ucap Ki Saron tiba-tiba. Ia menyunggingkan senyum misterius.
Senyuman sok tenang itu justru terlihat sangat menyebalkan di mata Kiano. Ingin rasanya ia melempar sandal jepitnya tepat ke wajah tengkorak Ki Saron detik ini juga, kalau saja seluruh sendinya tidak sedang lemas tak berdaya.
"Caranya?" tanya Kiano pasrah.
"Anda harus memakan buah malaka hitam, Tuan. Setelah itu, Anda juga harus berendam di air terjun yang ada di negeri Gunung Kidul—tempat pertapaan saya dulu saat mengasah ilmu sihir bersama teman-teman jawara saya."
Kiano langsung mendengus sebal. "Cek, ah! Ribet amat! Kenapa harus buah malaka hitam, sih? Kenapa enggak kelapa muda aja gitu yang gampang dicari? Ini semua gara-gara jin gila tadi! Siapa sih orang itu? Pakai baju hitam-hitam sok misterius, nyebelin banget! Kenapa lo enggak tangkap aja tadi? Bila perlu lo bejek-bejek terus kasih makan ke ular naga peliharaan bokapnya si Wirasada!"
"Masalahnya, saya terlalu mengkhawatirkan kondisi Anda jika saya memaksakan diri mengejar orang itu. Dan... saya juga terkejut, Tuan. Sebab orang yang menyerang saya tadi adalah sahabat jawara saya sendiri. Orang yang sedang kita mata-matai... Ki Pesut Kilat."
Kiano seketika melongo. "Waduh! Serius lo, Ki? Jangan bercanda, ah! Lo mah salah lihat kali. Kata si Dharma, dia kan lagi enggak ada di keraton. Enggak mungkin kalau itu dia. Lagian buat apa dia nyerang lo? Lo kan temennya," cecar Kiano bertubi-tubi dengan dahi berkerut.
Ki Saron menghela napas panjang yang sarat akan kebingungan. "Saya juga tidak tahu, Tuan. Saya benar-benar serius. Wajah tadi itu jelas wajah Ki Pesut, saya tidak salah lihat. Entah apa motifnya hingga dia menyerang saya secara tiba-tiba, dan bagaimana bisa dia muncul di sini secara misterius? Atau... mungkinkah jika dia sebenarnya bukan Ki Pesut?"
"Lah? Lo malah balik nanya ke gue! Mana gue tahu, ketemu aja belum pernah," sahut Kiano sembari mendengus. Namun, ekspresi wajahnya mendadak berubah serius. "Masih mending kalau dia ternyata orang lain yang menyamar. Tapi gimana kalau fakta terburuknya... dia itu emang beneran temen lo? Dan sebenarnya dia lagi nusuk lo dari belakang, alias mengkhianati lo?"
Ki Saron tampak tertegun mendengarnya. Ucapan blak-blakan Kiano seketika berputar-putar di kepalanya bagai gada yang menghantam kesadaran.
Kemungkinan besar, ada sesuatu yang terjadi selama lima puluh tahun ini—selama ia tersegel dan terkubur di dalam tanah. Sesuatu yang sangat besar, berbahaya, dan sengaja disembunyikan dari dirinya.
****
Malam di Keraton Mandala Hyang milik Prabu Raksa Buana terasa sepi. Berhubung sang raja dan ratu sedang honeymoon selama tiga hari, Kiano dan Dharma menjadi lebih leluasa untuk keluar dari sana. Ditambah lagi, Nyi Ratu Inten Dewata sebelumnya memang sudah memerintahkan Dharma untuk selalu mendampingi sang pangeran KW—yang dikira Wirasada asli—setiap kali keluar dari istana.
Beruntung, jarak antara Keraton Mandala Hyang dengan keraton kediaman Ki Pesut dan Nyi Ratu Asih cukup dekat. Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di depan keraton tujuan. Lebih tepatnya mereka bertiga, termasuk Ki Saron yang saat ini bersemayam di dalam tubuh Kiano.
Bermodalkan jurus setenang maling jemuran alias berjalan berjinjit, Kiano bersiap-siap memanjat pagar pembatas keraton yang menjulang tinggi.
"Eh... kamu mau ngapain?" tanya Dharma, menatap aneh kelakuan pemuda ajaib bin absurd di depannya itu.
"Mau masuk, lah! Enggak mungkin, kan, kalau kita masuk lewat gerbang depan?" cecar Kiano berbisik heboh. "Lo lihat aja sendiri! Pengawal di sini melihara hewan yang lebih serem daripada ular naga di keraton bokap KW gue. Itu bukan ular lagi, tapi kadal versi megalodon! Najis gue kalau sampai dicaplok sama yang begituan." Kiano bergidik ngeri membayangkannya.
Dharma mengusap wajahnya kasar, lalu menggelengkan kepala tidak percaya. "Kamu itu Pangeran Wirasada. Semua penghuni negeri ini tahunya kamu adalah pewaris takhta Kerajaan Mandala Hyang. Jadi, jangan aneh-aneh. Lagi pula, kamu ini keponakan Nyi Ratu Asih. Beliau pasti tidak akan curiga dan akan mempersilakanmu dengan senang hati untuk mengunjungi istananya."
Kiano seketika membeku. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal hingga udengnya bergoyang, lalu menyengir cengengesan. "Iya juga, ya? Sorry, Bro, gue cuma grogi aja. Maklum, di Jakarta kagak ada hewan peliharaan kayak kadal purba begituan. Paling banter orang sana kalau enggak melihara buaya darat, ya... biawak."