Namanya Takeuchi Hideki. Dia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa yang sudah bosan hidup.
Saking bosannya, apapun yang bakalan terjadi padanya takkan ia pedulikan. Hingga suatu hari, Hideki menemukan sebuah portal menuju dunia lain.
Yang dimasukinya adalah negara Inggris dan dirinya berada di dalam tubuh seorang bayi bernama James Darren.
Seorang anak terkutuk dan pria pekerja kantoran, benar-benar perpaduan yang sangat sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.3: Kencan!?
Yen? Tidak, ini dollar lho! Hahaha, kayaknya Takada adalah orang yang sangat kaya raya.
Setelah kami menguburkannya, kami mendapatkan uang yang dijanjikan akan muncul di atas kuburannya.
Muncul petasan dan tulisan di langit mengatakan ‘Terima kasih banyak, Takeuchi dan Ryugami.’
Setelah itu, kami berdua pergi dengan senang hati membawa dua buah koper oleh masing-masing atau empat jumlah fullnya untuk dikasih ke perusahaan.
Untuk kami, sudah ada di dalam tas masing-masing. Tas kerja tentunya, hehehe. Seminggu berlalu dan sekarang... Kami berdua sedang berada di sebuah restoran.
“Hehehe.”
“Haha__Haaa... Kenapa tiba-tiba kau mengajakku makan di sini, Yamada? Karena kenaikan gaji kita berdua kah!”
“Ya, itu benar sekali, Takeuchi-kun. Oh iya! Aku bukan gay kok! Yang maksudku calon istri, cuman bercanda saja. Lebih tepatnya... Kekasih sesungguhnya di masa depan nanti atau... Entahlah.”
Yamada kayaknya orang stres ya! Semoga saja dia nanti menjadi normal dan... Apa yang akan ku lakukan setelah ini?
Begitu pulang setelah menyelesaikan semua urusan dengan klient, aku dan James Darren yang ada dalam tubuhku mengunjungi perpustakaan terdekat.
[Kita sudah baca semuanya dan informasi tentang duniaku masih belum ditemukan. Hahaha, kayaknya menetap di sini merupakan pilihan satu-satunya. Agak kesal harus mengatakannya, tapi tujuan kita akan dialihkan untuk waktu yang lumayan lama sampai mendapatkan jawabannya.]
Kurang lebih hanya seperti itu saja setelah kami selesai mencari buku-buku yang mungkin berhubungan.
Sayang sekali tidak ada ya! Padahal aku pengen tahu di dunia sana diriku kayak gimana aja.
Yahh... Nasi mentah sudah menjadi nasi matang, jadi... Terima apapun yang terjadi.
Peribahasaku keren kan! Namanya juga jenius, jadi pastinya beda dari lainnya, hahaha. Maknanya pasti lebih dalam.
“Hahaha. Semaumu saja Yamada. Kau mau pesan apa? Aku ingin coba kopi hijau dan kue bolu stroberi. Yang bayar siapa?”
Ia tersenyum manis padaku dan menusuk-nusuk pipiku menggunakan jari telunjuk kirinya. “Hehehe. Baiklah Takeuchi-kun. Yang bayarnya aku kok! Maid-san!!”
Restosan ini para pegawai cewek dan cowoknya aneh-aneh semua. Yang cowok makeup kayak cewek dan dipanggil ‘Maid-san’. Pakaian mereka gaun khas maid pada umumnya. Hitam-putih tentunya, hehehe.
Lalu, yang cewek makeup kayak cowok menggunakan pakaian khas bartender yang suka ada di bar juga dipanggilnya ‘Barter-san’.
Aneh sekali ya! Hahaha, sebuah ide dari satu orang dan disalurkan kepada yang lainnya memang begitu kebanyakannya.
Tapi itu menarik dan pastinya membuat siapapun ingin mengunjungi restoran ini, kayak Yamada contohnya.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan-tuan sekalian?”
Cowok ini jadi cantik. Hahaha, malah jadi beneran kayak cewek lho! Benar-benar menarik sekali.
“Yamada kau ingin pesan apa? Kalau aku, kopi hijau dan kue bolu stroberi.”
“Baik, catatan dari tuan satu ini sudah. Kalau tuan satunya lagi mau memesan apa?”
“Samakan saja dengannya dan tambahannya adalah parfait jumbo khusus pasangan mesra.”
“O-oke. Dertruction Love Icha-icha. A-akan saya bawakan, hahaha.”
Dia mengira kami berdua apa? Mungkin kelihatan kayak sahabat super dekat kali ya, hahaha. Bisa dibilang demikian juga sih.
“Omong-omong, apa aku boleh bertanya sesuatu, Takeuchi-kun!”
Kelihatan misterius sekaligus menarik. “Boleh saja. Kau mau tanya apa padaku, Yamada?”
“Apa aku boleh mengetahui tentang ‘Bollorta’ dan ‘Magiort’ menurut pandanganmu?”
...Apakah dia mengikutiku ke perpustakaan? Ahaha, kayaknya tidak... Mungkin... Karena kebanyakan ngomong sendiri dengan volume keras jadinya kedengaran olehnya.
“Aku sendiri tidak terlalu mengerti. Dan...” aku menatapnya tajam. “Kenapa kau mengetahui ini?”
Suasana dingin menusuk ke segala arah. Waktu terasa berhenti sejenak dan hanya fokus pada perbincangan antara aku dan Yamada.
Yamada kelihatan santai sekali menanggapi pertanyaanku. “Aku hanya dengar saja. Kalau kau memperbolehkanku mengetahui apa yang dikatakan oleh James Darren mengenai dua dunia tersebut, diriku bakal senang banget.”
Apakah Yamada itu orang jahat? Tidak, tidak. Mana mungkin. Kelihatan sekali dirinya baik dan terlalu menempel padaku.
“Bagaimana menurutmu, James Darren?”
[Temanmu ini kelihatan sangat aneh. Ryugami Yamada ya! Aku belum pernah mendengar namanya di duniaku. Lalu... ‘Bollorta’ singkatnya tempat orang-orang biasa tinggal atau bisa disamakan dengan dunia ini. ‘Magiort’ sendiri mereka yang berkemampuan tinggal. Dunia fantasi intinya.]
“Begitu ya. Terimakasih atas jawabannya, James Darren.”
Kenapa dia bisa mendengarnya?. “Kenapa aku bisa mendengarnya? Ahaha, apa itu yang ingin kau tanyakan padaku, Takeuchi-kun?”
Dia bisa membaca pikiranku!! Hahaha, memangnya kau ini esper atau apa? Yahh... Terserahlah. Yang tadi anggap saja tebakan.
“Ya, itu dia.”
“Jawabannya, karena aku adalah__”
Entah apa yang ia katakan selanjutnya, karena tiba-tiba Yamada menatapku dengan tatapan wajah mengerikan, menghentikan ucapannya.
Dia kelihatan marah sekali pada seseorang yang ada di belakangku. Aku melirik ke bawah sejenak dan garpu menusuk tepat di jantungku.
Siapa yang ada di belakangku saat ini? Ahaha... Te-terserahlah. Pastinya... Mati ya!
Hahaha... Apa-apaan ini!? Selanjutnya aku akan pergi ke mana? Dunianya kah? ‘Bollorta’atau mungkin ‘Magiort’.
Yang manapun itu terserahlah serta... Selamat tinggal duniaku. Aku pergi dulu ke tempat seharusnya.
Akhirat, dunia lain, bebas. Bawa saja aku ke tempat yang entah siapa itu inginkan. Takeuchi Hideki pamit undur diri dari Jepang, tepatnya Tokyo.
Terimakasih atas segalanya Rei-san, James Darren, Ryugami Yamada, ibu, mungkin juga ayah angkatku, Aterrapa Yukigo.
Berkat kalian semua, aku bisa menjalani kehidupan penuh kebahagiaan ini. Berakhir sudah! I-intinya... Te-terserah, hahaha.
Aku gampang banget lupa rupanya! Mimpi yang ingin ku ceritakan kayaknya nggak sepenuhnya ku ingat, itulah kenapa ‘Bollorta’ dan ‘Magiort’ tidak terlalu ku mengerti.
_______________________________________________________
“Lagi dan lagi!”
Uwaa!! Mengerikan sekali dia ini. Oh! Perkenalkan semuanya. Namaku adalah James Darren dan tepat di depanku adalah Seniorku, Takeuchi Hideki.
“Ma-maafkan aku, Takeuchi-senpai! Sesekali, tolong ajari kouhai-mu lagi dong! Mengurus banyak banget pesanan dalam satu waktu sangat susah lho! Walau cafe milik Bos kecil, tetap susah lho!”
“Ya, ya, ya. Akan ku ajari lagi. Sekarang lagi sibuk, jadi tolong jangan terlalu banyak mengulangi kesalahan yang sama lagi oke!”
“Ba-baikk!!”
Bisa dibilang, diriku ini adalah seorang pria yang sangat bodoh. Hahaha, benar-benar kasihan sekali ya!
Takeuchi-senpai sangatlah pintar dan karenanya aku bisa terus kerja di sini agar bisa membiayai biaya SMA-ku.
Aku sekolah di swasta dan itu banyak bayar-bayar. Kenapa nggak di sekolah negeri?
Keluargaku miskin dan karena itulah sekolahnya di swasta.
_______________________________________________________
Jika kalian ingin mengetahuinya, sebuah kematian bukanlah penyebab dari segala hal buruk yang terjadi di dunia nyata, ‘Bollorta’, maupun ‘Magiort’.
Saling support sabi kali ya😉