Mikayla Rasyida Rayn atau Mika adalah sosok gadis yang ceria dan pecicilan seperti Onty-nya dulu. Dia adalah pengamat yang handal dan analisanya selalu tetap. Kelihatannya saja dia sangat pecicilan dan ucapannya ceplas-ceplos, tapi dia sangat genius.
Namun di balik wajahnya yang ceria dan menyebalkan, dia mengikuti jejak dari Opa buyutnya. Bahkan dia jauh lebih mengerikan dibandingkan Opa buyut dan Uncle-nya. Semua itu dikarenakan sesuatu yang membuatnya trauma.
Season Baru untuk cerita Mika dari (Anak Genius Milik Sang Milliarder)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedekah
"Bang Restu..." seru seorang remaja laki-laki yang masih menggunakan seragam sekolahnya memanggil tetangganya.
Kenan...
Dia adalah Kenan yang ternyata adalah tetangga Restu. Jika kalian masih ingat, Restu adalah teman sekolah dan sekelas Rachel. Sekarang Restu sudah menikah dan mempunyai satu orang anak laki-laki berusia 1 tahun. Dia juga sudah bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Roberto yang dipimpin oleh Shaka. Kenan mendekati Restu yang sedang bersantai di teras rumahnya.
"Baru pulang sekolah?" tanya Restu saat melihat seragam sekolah masih melekat pada badan Kenan.
"Ya. Habis selesai mengawasi MOS. Besok udah mulai pelajaran biasa," ucap Kenan yang ikut duduk di samping Restu. Keduanya sudah akrab sejak dulu.
"Kata Tante Vio, kamu bertemu dengan Mika di sekolah. Mana jadi adik kelasmu lagi," ucap Restu mengatakan apa yang diucapkan oleh Ibu dari Kenan.
"Seharusnya kalian seumuran dan satu angkatan kan?" tanyanya lagi.
"Iya. Harusnya kita barengan, tapi aku kan dulu terlalu cepat masuk sekolah." Kenan terkekeh pelan mengingat bagaimana dulu dia memaksa orangtuanya untuk segera memasukkannya sekolah. Padahal usianya belum mencukupi.
"Gimana kabar itu bocah? Udah lama nggak ketemu. Makin cerewet nggak?"
Restu begitu tertarik dengan pembicaraan ini. Apalagi mengenai Mika yang dirinya kenal sebagai sosok yang sangat cerewet dan bermulut pedas. Sejak lulus SMA, dia memang jarang bertemu dengan Rachel dan lainnya. Terakhir bertemu dengan Rachel adalah saat pernikahannya 3 tahun yang lalu. Rachel datang bersama anak pertamanya dan Lucky. Sedangkan untuk Callie, Restu belum pernah bertemu.
"Makin cerewet, keras kepala, mulutnya pedas amat kaya habis makan cabe 1 kilo, terus..."
"Terus dia makin cantik kan?" sela Restu menambahkan apa yang diucapkan oleh Kenan. Entah mengapa, Restu merasa bahwa Kenan ini punya ketertarikan pada Mika. Padahal dulu waktu kecil, Kenan mendapatkan lontaran ucapan pedas dari Mika.
"Ya kan tambah besar makin cantik. Kecilnya aja udah cantik," Kenan terkekeh pelan mendengar ucapan Restu.
Tak dapat dipungkiri bahwa Mika memang cantik sejak kecil sampai bertemu saat sudah besar ini. Perubahan pada wajahnya tak terlalu banyak, masih baby face. Hal itu juga yang membuat Kenan langsung mengenali Mika setelah sekian lama tak bertemu. Kenan menatap lurus ke depan sambil menyunggingkan senyumannya. Sedangkan Restu diam-diam mencuri pandang ke arah Kenan. Bukan karena menyukai Kenan, hanya saja dia merasa aneh dengan tetangganya itu.
"Heh... Malah senyum-senyum sendiri. Kesambet setan teras rumahku ya?" seru Restu yang langsung duduk menjauh dari Kenan.
"Berarti setannya Bang Restu dong? Kan yang sering jadi penunggu teras rumah itu Bang Restu sendiri," ceplos Kenan dengan tatapan polosnya.
"Kok kamu jadi kaya Mika? Yang asal main ceplos begitu," seru Restu tak terima dikatai sebagai setan penunggu teras rumah.
"Kan emang jodohnya Mika ini. Ingat kan kata pepatah, jodoh itu cerminan diri." ucap Kenan dengan percaya dirinya.
Prettt...
Yang ada jadi pasangan stress,
Hahaha...
Restu melirik sinis ke arah Kenan yang tertawa lebar karena berhasil menjahilinya. Bisa-bisanya Kenan terlalu percaya diri akan menjadi jodohnya Mika. Tantangan ke depan untuk mendapatkan Mika saja belum tentu Kenan bisa melewatinya. Namun sekarang malah sudah berseloroh dengan percaya dirinya padahal baru juga bertemu lagi.
"Heh... Kenan, coba cek dulu itu si Mika udah punya pacar belum. Keturunan keluarga konglomerat mah biasanya banyak diincar pengusaha," seru Restu saat melihat Kenan akan pergi dari rumahnya.
"Nggak ya. Mika mah udah pasti jodohku. Kalau dia punya pacar, aku bakalan tikung." seru Kenan membuat Restu menggelengkan kepalanya.
Percaya diri amat sih, bocah ompong.
Hahaha...
Justru yang ompong itu paling mengena di hati,
Prettt...
***
"Callie, lagi makan apa?" tanya Mika yang baru pulang sekolah dan melihat sepupunya duduk sendirian di teras rumah.
"Mata punya?" tanya Callie dengan melirik sekilas pada Mika.
Mika pun menganggukkan kepalanya dengan polos. Dia pikir Callie hanya bertanya bahwa apakah dia mempunyai mata. Apalagi respons Callie yang langsung menganggukkan kepalanya dengan santai. Ia pun menanyakan hal itu untuk basa-basi. Terlebih menggoda Callie itu adalah hiburan yang sangat menyenangkan.
"Dipakai itu mata buat lihat. Jangan buat pajangan doang sih. Situ mata juga masih nolmal lho. Masa ndak bisa lihat Callie makan apa," serunya tiba-tiba membuat Mika menjauhkan wajahnya. Padahal tadi Mika sedang mengintip jajanan milik Callie. Apalagi Callie langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Mika. Seakan tahu kalau Mika sedang mengincar jajanannya.
"Sausnya pedas amat ya? Kok ngomongnya pedes amat," sindir Mika dengan sinis.
"Kalau soal jajanan, halus ngomong pedas bial ndak ada yang minta. Soalnya banyak olang modus. Dekat-dekat, taunya ambil jajanan. Ndak modal kali," ucap Callie yang kemudian memasukkan telur gulung ke dalam mulutnya.
"Kaya tau modus aja," ucap Mika yang sedikit kecewa karena tak bisa mengambil satu jajanan Callie.
"Tahu. Itu Papa untung suka modus. Dekati Callie dan Mama Achel. Tahu-tahu Mamanya Callie diculik dibawa ke kamal." seru Callie dengan mata membulat.
Mika menganga tak percaya mendengar ucapan Callie. Walaupun memang benar adanya, Lucky itu banyak modusnya. Sejak Mika kecil, Lucky memang sudah terlihat modus. Apalagi kalau ingin berduaan dengan Rachel, selalu punya cara agar bisa melakukannya. Kecuali jika ada Mika, pasti dia bisa ikut dan Lucky tak bisa modus dengan Ontynya itu.
"Itu Papamu ada urusan penting sama Mamamu. Makanya terus dibawa ke kamar. Terutama lagi mau ngomongin uang jajanmu yang banyak sekali. Sepertinya dompet Papamu bakalan kosong dan tipis deh karena kamu suka jajan," ucap Mika dengan tatapan serius.
"Benalkah?" tanya Callie dengan tatapan berubah serius. Bahkan raut wajahnya terlihat tegang dan sedikit khawatir kalau apa yang diucapkan Mika itu benar terjadi.
"Iya. Makanya kamu harus rajin sedekah biar orangtuamu itu rejekinya lancar," ucap Mika dengan yakin.
"Calanya?" tanya Callie dengan alis menukik. Seakan apa yang mereka bicarakan itu hal sangat serius.
Bahkan Mika sampai menahan tawanya melihat Callie terpengaruh dengan ucapannya. Mika yakin kalau Callie nanti pasti akan percaya padanya. Mika pun menunjuk ke arah jajanan Callie yang ada di atas lantai. Callie melihat jajanan itu dengan tatapan aneh dan bingung. Buat apa juga Mika menunjuk ke arah jajanannya?
Srettt...
"Sedekah tuh begini, kali mambu." ucap Mika yang langsung meraih satu plastik batagor milik Callie.
Srett...
Enak saja, plastik Mika mau maling ya? Dikila Callie ndak tahu apa itu sedekah, ha?
Telus tadi bilang dompetnya Papa untung tipis ndak ada duitnya. Ya emang benal, olang adanya kaltu mimited edison kok. Ndak pintal ini plastik Mika,
Lihat itu dompetnya sendili. Isinya lecehan lima latusan saja, mau menghina Papa untung. Pelgi sana...
Astaga... Udah diomelin, diusir lagi.
.BER AKSI👏👏👏👏👏👏👏❤️❤️❤️
tq thor🙏😍
lanjuttttt💪😄
lanjuttttt💪😄