Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sore hari.
Darius duduk tegang di ruang dokter spesialis dengan wajah pucat.
Beberapa hasil pemeriksaan tersebar di atas meja.
Dokter di hadapannya terlihat serius sambil membuka laporan medis terakhir.
“Tuan Fan,” ucap dokter perlahan, “kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh.”
Darius langsung menatap dokter penuh harapan.
“Lalu?” tanyanya cepat. “Apa hasilnya?”
Dokter menghela napas pelan.
“Fungsi tubuh Anda mengalami gangguan permanen,” jawabnya. “Kemungkinan untuk kembali normal sangat kecil.”
Wajah Darius langsung membeku.
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Ia segera merebut laporan medis itu dan membacanya berulang kali.
Tangannya mulai gemetar.
“Aku tidak menerima ini!” bentaknya. “Kalian pasti salah!”
Dokter tetap tenang.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan ulang beberapa kali,” jawabnya profesional. “Namun hasilnya tetap sama.”
Darius menggertakkan giginya kuat-kuat.
“Lalu penyebabnya apa?” tanyanya penuh emosi. “Apakah ada racun atau obat tertentu di tubuhku?!”
Dokter menggeleng perlahan.
“Itulah yang aneh,” jawab dokter. “Kami tidak menemukan zat berbahaya apa pun.”
Darius langsung terdiam.
“Tidak ada aroma, tidak ada bekas kandungan kimia mencurigakan, bahkan hasil darah Anda terlihat normal,” lanjut dokter. “Seolah-olah kondisi ini muncul secara alami.”
“Apa maksudmu?!” bentak Darius.
Dokter menatapnya serius.
“Secara medis… kami tidak bisa menemukan penyebab pastinya.”
Tubuh Darius langsung melemas di kursi.
Pikirannya mendadak kacau.
“Kalian pasti salah!” bentak Darius penuh emosi.
Pria itu langsung berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.
“Aku masih muda dan sehat!” teriaknya. “Mana mungkin aku menjadi seperti ini?!”
Dokter dan perawat di ruangan itu langsung terdiam.
Darius menunjuk dokter dengan marah.
“Aku akan memastikan kalian dipecat!” bentaknya lagi. “Rumah sakit ini benar-benar tidak becus!”
Brak!
Laporan medis di tangannya langsung dilempar kasar ke atas meja hingga beberapa lembar kertas berserakan di lantai.
Napas Darius memburu.
Harga dirinya benar-benar hancur.
Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini sudah tidak mampu menjadi pria normal lagi.
Dokter hanya menghela napas pelan.
“Tuan,” ucapnya hati-hati, “kami hanya menyampaikan hasil pemeriksaan sesuai kondisi Anda.”
“Diam!” bentak Darius.
Tanpa mendengarkan penjelasan lagi, ia langsung berbalik dan berjalan keluar dengan langkah kasar.
Pintu ruangan dibanting keras.
Brak!
Di luar lorong rumah sakit…
Darius menghantam dinding dengan tinjunya.
Bug!
Wajahnya penuh amarah dan frustrasi.
“Tidak mungkin…” gumamnya dengan napas berat. “Tidak mungkin aku menjadi seperti ini…”
Setelah keluar dari rumah sakit, Darius berjalan menuju meja pembayaran dengan wajah dingin.
Beberapa perawat diam-diam melirik ke arahnya sambil berbisik pelan setelah mengetahui identitasnya yang sedang ramai dibicarakan di media.
Darius menyerahkan salah satu kartu bank miliknya dengan kasar.
“Cepat!” ketusnya pada kasir.
“Baik, Tuan,” jawab kasir gugup.
Wanita itu segera menggesek kartu milik Darius.
Namun…
“Maaf, transaksi gagal.”
Darius langsung mengerutkan kening.
“Apa?” tanyanya dingin.
“Mungkin jaringan bermasalah,” jawab kasir cepat sambil mencoba kembali.
Tetapi hasilnya tetap sama.
“Transaksi ditolak.”
Wajah Darius mulai berubah.
“Gunakan kartu yang lain,” ujarnya kesal.
Ia langsung melempar kartu hitam premium miliknya ke meja.
Kasir kembali mencoba.
Beberapa detik kemudian…
“Maaf, Tuan… kartu ini juga diblokir.”
“Apa?!” bentak Darius.
Ia langsung mengeluarkan beberapa kartu lain dari dompetnya.
Satu demi satu dicoba.
Namun semuanya sama.
Ditolak.
Diblokir.
Tidak bisa digunakan.
Wajah Darius perlahan memucat.
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Tangannya mulai gemetar saat mengambil ponsel dan mencoba membuka aplikasi mobile banking.
Namun…
Semua rekeningnya telah dibekukan.
Pikiran Darius langsung kosong.
Ia mendadak teringat ucapan Lucien.
“Mulai hari ini dia tidak diperbolehkan menggunakan uang keluarga Fan lagi.”
Tubuh Darius langsung menegang.
“Lucien…” desisnya penuh amarah.
Kasir mulai terlihat canggung.
“Maaf, Tuan,” ucapnya pelan. “Kalau pembayaran tidak bisa dilakukan…”
Brak!
Darius langsung menghantam meja pembayaran dengan marah.
“Aku adalah Darius Fan!” bentaknya. “Kalian pikir aku tidak mampu membayar tagihan kecil seperti ini?!”
Dengan emosi, Darius segera mengambil ponselnya dan menghubungi Lucien.
Tut…
Tut…
Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.
Namun bukan Lucien yang menjawab.
“Hallo, Tuan Muda,” suara Lucas terdengar tenang dari seberang sana.
“Lucas?” tanya Darius kesal. “Mana paman?”
“Bos sedang sibuk,” jawab Lucas profesional.
“Kalau begitu sampaikan padanya!” bentak Darius. “Kenapa semua kartuku diblokir?!”
Lucas terdiam sesaat sebelum menjawab, “Itu perintah langsung dari Bos.”
Wajah Darius langsung berubah.
“Apa maksudnya?” tanyanya penuh emosi.
“Mulai hari ini,” jawab Lucas tenang, “Anda tidak diperbolehkan lagi menggunakan uang keluarga Fan.”
“Paman sudah gila?!” bentak Darius. “Aku masih keluarga Fan!”
Lucas tersenyum tipis di seberang sana.
“Maaf, Tuan Muda,” ucapnya, “secara resmi Anda sudah dikeluarkan dari perusahaan dan kehilangan hak fasilitas keluarga.”
“Tidak!” bentak Darius lagi.
“Kalau Anda keberatan,” lanjut Lucas santai, “Anda bisa langsung membicarakannya dengan Bos.”
“Suruh dia bicara denganku!” teriak Darius marah.
Namun Lucas menjawab tenang, “Bos mengatakan… ini adalah hukuman agar Anda belajar hidup tanpa bergantung pada keluarga.”
Setelah mengatakan itu...
Tut.
Panggilan langsung diputus.
Darius berdiri membeku dengan wajah gelap.
Sementara kasir di depannya kembali berkata pelan,
“Tuan… bagaimana dengan pembayarannya?”
Wajah Darius semakin gelap setelah panggilan diputus oleh Lucas.
Tangannya gemetar menahan emosi dan rasa malu karena orang-orang mulai memperhatikannya.
Dengan cepat ia kembali mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya.
Beberapa detik kemudian
“Darius?” suara Jean terdengar dari seberang sana. “Ada apa?”
“Ma!” bentak Darius frustrasi. “Paman memblokir semua kartuku!”
“Apa?!” Jean langsung terkejut. “Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu!” jawab Darius emosi. “Aku bahkan tidak bisa melakukan pembayaran."
Jean langsung panik.
“Lucien benar-benar keterlaluan!” geramnya. “Bagaimana bisa dia melakukan ini padamu?!”
“Ma, cepat transfer uang padaku dulu,” ujar Darius kesal sambil melirik kasir. “Aku butuh uang saat ini.”
“Baik… baik…” jawab Jean cepat. “Mama akan transfer sekarang.”
Beberapa menit kemudian…
Jean kembali menelepon dengan suara panik.
“Darius…” suaranya mulai gemetar. “Kartu mama juga dibekukan.”
Wajah Darius langsung berubah.
“Apa?” tanyanya tidak percaya.
“Akun mama juga tidak bisa dipakai,” jawab Jean mulai panik. “Lucien benar-benar memutus semua akses kita!”
Darius langsung menggertakkan gigi kuat-kuat.
“Paman sialan itu…” desisnya penuh kebencian.
Di sisi lain telepon, Jean mulai emosi.
“Darius, cepat pulang!” katanya panik. “Kita harus menemui kakekmu. Mama tidak percaya Lucien benar-benar tega melakukan ini pada kita!”
ayooooo