NovelToon NovelToon
Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: leona athena

menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 : mata yang berubah dan langkah yang tanpa di sadari

Waktu terus berjalan dengan perlahan di tengah keheningan yang damai itu. Sinar cahaya dari kristal-kristal di langit-langit terus menerangi ruangan, dan suasana tetap tenang seolah waktu berhenti bergerak. Xavier masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak sedikit pun, hanya menatap sosok yang ia cintai dengan penuh perasaan.

Hingga akhirnya, gerakan kecil terlihat dari arah singgasana.

Kelopak mata Elara perlahan terangkat, membuka sedikit demi sedikit, dan mata indahnya mulai terlihat kembali. Perubahan yang terjadi di sana langsung menarik perhatian Xavier seketika.

Dulu, mata Elara terlihat seperti lubang yang gelap dan dalam, bagaikan pusaran kegelapan yang tidak ada ujungnya, yang seolah bisa menelan segala sesuatu yang menatap ke dalamnya. Tatapannya terasa dingin, kosong, dan menakutkan, seolah tidak ada apa pun yang bisa menyentuh atau menarik perhatiannya.

Namun sekarang... semuanya berbeda.

Matanya yang berwarna hitam pekat itu kini berkilau dan bening, persis seperti kristal hitam yang paling indah dan murni. Cahaya yang jatuh ke dalamnya memantul kembali dengan keelokan yang menakjubkan, menciptakan kilauan yang lembut namun jelas. Tidak ada lagi kesan kosong atau tak berujung di sana. Sebaliknya, mata itu terlihat hidup, terasa hangat, dan memancarkan kedamaian yang baru. Seolah-olah, seiring dengan hatinya yang mulai meleleh, cahaya juga mulai masuk ke dalam bagian terdalam dirinya yang dulu tertutup rapat.

Elara mengedipkan matanya beberapa kali, menyesuaikan pandangannya setelah tidur yang panjang dan nyenyak. Saat pandangannya menjadi jelas, ia langsung melihat sosok yang berdiri di kejauhan.

Ia sedikit terkejut. Tubuhnya yang tadinya rileks seketika menegang, dan ia duduk lebih tegak dari sebelumnya. Sedikit kerutan muncul di dahinya, dan ekspresi wajahnya terlihat kaget dan bingung, persis seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur dan melihat sesuatu yang tidak ia duga ada di hadapannya.

Reaksi itu membuat senyum Xavier makin melebar. Baginya, pemandangan itu terlihat sangat lucu dan manis. Selama ini ia hanya melihat Elara yang terlihat tegas, dingin, dan berwibawa—sesuai dengan kedudukannya sebagai penguasa. Tapi saat ini, ia melihat sisi lain dari dirinya, sisi yang manusiawi, polos, dan terasa sangat dekat. Hatinya terasa makin hangat melihat hal itu.

Setelah beberapa saat, Elara akhirnya sadar sepenuhnya. Ia melihat sekeliling sebentar, lalu pandangannya kembali tertuju pada Xavier. Ia menundukkan pandangannya ke arah Gargoyle yang masih tidur nyenyak di depannya, dengan sayapnya yang masih terentang melindungi dirinya. Ia tidak ingin mengganggu atau membangunkan naga kesayangannya itu, yang sudah begitu lama menjaganya dengan setia.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan pelan, Elara melepaskan sayap Gargoyle yang menutupi dirinya, lalu berdiri perlahan dari atas singgasana. Ia melangkah turun satu per satu tangga batu dengan langkah yang lembut dan ringan, berusaha tidak menimbulkan suara apa pun yang bisa mengganggu makhluk kesayangannya itu.

Dan tanpa ia sadari, kakinya terus melangkah maju, mendekati tempat di mana Xavier berdiri. Ia berjalan seolah-olah ada sesuatu yang menarik dirinya ke sana, sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan atau tolak. Tatapannya tetap tertuju pada Xavier, dan dalam benaknya ia masih merasa bingung, tidak mengerti mengapa orang ini ada di sini, dan mengapa dirinya merasa begitu nyaman mendekatinya seperti ini.

Setelah sampai di hadapan Xavier, ia berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap pria itu dengan pandangan yang masih penuh kebingungan, dan akhirnya ia berbicara dengan suara yang lembut, sedikit serak karena baru saja bangun tidur.

"Apa yang kau lakukan di kerajaanku lagi?" tanyanya. Suaranya terdengar polos dan lugu, sama sekali tidak ada nada keras atau kecurigaan seperti sebelumnya. "Bukankah... bukankah kau sudah pulang kemarin? Mengapa kau kembali lagi secepat ini?"

Ia menatap Xavier dengan tatapan yang jujur, benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tidur yang nyenyak itu seolah membuatnya melupakan banyak hal, termasuk perjanjian yang mereka buat dan kata-kata yang mereka ucapkan satu sama lain kemarin. Semua kenangan itu seolah tersembunyi sementara waktu, digantikan oleh perasaan yang baru dan perasaan yang tidak ia kenali.

Melihat hal itu, Xavier tertawa kecil dengan nada yang lembut dan hangat. Suaranya tidak menyinggung sama sekali, malah terdengar penuh kasih sayang.

"Kau lupa ya, Yang Mulia?" ucapnya dengan nada bercanda namun tetap sopan.

Elara mengerutkan keningnya sedikit, terlihat makin bingung. "Lupa? Lupa apa? Apakah kita pernah berjanji sesuatu?"

"Kita memang pernah berjanji," jawab Xavier sambil tersenyum. "Kau memberi aku kesempatan untuk berusaha mendapatkan hatimu, bukan? Dan aku pun menerima tawaran itu. Bahkan kita membuat perjanjian, bahwa jika aku berhasil, kau akan menjadi milikku, dan akan ikut bersamaku ke kerajaanku."

Mendengar penjelasan itu, wajah Elara seketika memerah. Ia segera menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba muncul. Semua kenangan itu kembali mengalir masuk ke dalam benaknya, dan ia baru sadar apa yang telah ia katakan dan lakukan kemarin.

Ia tidak menyangka ia akan mengatakan hal-hal seperti itu, dan tidak menyangka ia akan memberikan kesempatan itu kepada seseorang. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah dirinya sendiri yang tadi berjalan mendekat ke arah Xavier dengan sendirinya, tanpa ia sadari dan tanpa ada paksaan apa pun. Itu adalah hal yang tidak pernah ia lakukan pada orang lain selama ribuan tahun lamanya.

"Aku... aku..." gumamnya dengan suara yang pelan, tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa bingung, malu, dan juga sedikit senang sekaligus. "Aku lupa... maafkan aku..."

Xavier menggeleng perlahan, senyumnya tidak pernah hilang dari wajahnya. "Tidak apa-apa, Yang Mulia. Itu hal yang wajar. Lagipula, aku senang bisa mengingatkannya padamu. Karena itu berarti kita memiliki sesuatu yang berharga di antara kita."

Setelah itu, Xavier mengangkat tangannya, menunjukkan rangkaian bunga indah yang ia bawa dari kerajaannya. Bunga-bunga itu memancarkan warna-warni yang cerah dan harum yang lembut, menciptakan pemandangan yang kontras namun indah di tengah ruangan yang bernuansa gelap dan dingin.

"Aku datang bukan tanpa alasan, Yang Mulia," lanjutnya dengan suara yang lembut dan tulus. "Ini aku bawa untukmu. Bunga-bunga dari taman kerajaanku, aku memetik dan menyusunnya sendiri. Aku ingin kau memiliki sedikit warna dan keindahan dari tempat tinggalku, agar kau tahu bahwa ada banyak hal indah yang bisa kita nikmati bersama, jika kau mau."

Elara mengangkat wajahnya perlahan, dan matanya tertuju pada rangkaian bunga yang ada di hadapannya. Ia belum pernah melihat bunga-bunga seindah ini sebelumnya, dengan warna yang begitu cerah dan hidup, berbeda dengan bunga-bunga yang tumbuh di wilayahnya yang semuanya berwarna gelap dan suram. Harumnya yang lembut juga terasa menyegarkan, membuat hatinya terasa makin tenang dan damai.

Ia menatap bunga-bunga itu, lalu menatap kembali ke wajah Xavier. Di dalam hatinya, ia merasa sesuatu yang indah tumbuh perlahan. Ia masih tidak mengerti semuanya, masih ada banyak hal yang membuatnya bingung, tapi ia tahu satu hal: kehadiran orang ini membuatnya merasa sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya—sesuatu yang hangat, aman, dan membuatnya merasa bahwa ia tidak sendirian lagi.

Tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya perlahan, menerima rangkaian bunga itu dari tangan Xavier. Sentuhan tangan mereka saling bersentuhan sebentar, dan Elara merasakan kehangatan yang mengalir dari tangan Xavier ke tangannya sendiri, meresap masuk ke seluruh tubuhnya, hingga ke dalam hatinya yang selama ini dingin.

"Terima kasih..." ucapnya dengan suara yang sangat lembut, hampir tidak terdengar. Namun bagi Xavier, kata-kata itu adalah hal yang paling indah yang pernah ia dengar.

Di kejauhan, kedua perajurit bayangan yang masih berdiri tegak melihat semua itu. Meskipun mereka tidak bisa bergerak atau berbicara, dari sikap mereka terlihat bahwa mereka menyetujui apa yang terjadi. Dan Gargoyle yang masih tidur pun, seolah merasakan suasana yang baik, menggerakkan tubuhnya sedikit dan mengeluarkan suara dengungan yang lembut, seolah sedang tersenyum dalam tidurnya.

Momen itu terasa begitu indah dan damai, menandakan bahwa hubungan di antara mereka berdua terus bergerak maju, perlahan tapi pasti, menuju ke arah yang lebih baik dan penuh harapan.

 

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya diterima juga😊
𝐀⃝🥀Weny
pembukaan ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran😊
leona: hihihihi/Hey/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!