Naima, seorang gadis cantik yang hidup sederhana di desa terpencil, harus menghadapi kenyataan pahit saat ayahnya yang buta. meninggal dunia dan ibunya mengalami depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Di tengah keterpurukannya, takdir justru mempertemukannya dengan Sean, seorang pria kaya raya yang memiliki kepribadian dingin.
Akankah pertemuan ini menjadi awal kebahagiaan baru bagi Naima, atau justru membawanya ke dalam lika-liku kehidupan yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon i'm gresya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
naima bertemu claudia
setelah mendapat ijin dari sean untuk cuti. Clarissa langsung mengambil tasnya dan segera pergi ke rumah sakit untuk menemui ayahnya.
tapi saat akan kemas kemas semua barangnya, mark datang dan menghentikannya.
"apa yang kau lakukan? " ucap mark pada Clarissa.
Clarissa yang keget langsung menatap mark.
"iyah pak, maaf. saya mendapat ijin dari pak sean untuk cuti selama satu minggu. " ucap Clarissa.
mark hanya menatap Clarissa dari atas sampai bawah, itu membuat Clarissa jadi tidak nyaman.
"maaf yah pak, ada apa? " ucap Clarissa memberanikan diri bertanya.
"satu minggu itu lama, apa tuan sean tau. kalau besok ada rapat. tuan tidak tau, karna tuan sudah pergi nanti malam." jawab mark dingin pada Clarissa.
"tapi pak, ayah saya sedang sakit dan tidak ada yang menjaga ayah saya. saya mohon pak, satu minggu saja." ucap Clarissa memohon pada mark.
"tidak bisa, karna besok ada rapat penting dengan klien, tapi setelah rapat besok selesai kau bisa mengambil cuti mu" ucap mark, lalu pergi dari sana.
Clarissa segera menundukkan kepalanya dan berterimakasih, tapi mark terlanjur pergi.
"bos dan asistennya sama aja, sama sama menyebalkan dan juga dingin" umpat clarissa, setelah mark pergi.
..
naima yang ingin berpamitan dengan tania, segera mengetuk pintu kamarnya. tapi yang buka malah jack.
naima menunduk, saat di tatapan seperti itu oleh jack, mengingatkannya naima kepada sean yang tidak suka pada naima.
tania muncul di belakang jack dan melihat naima yang sudah membawa koper yang pernah tania berikan kepada naima.
"tania, aku hanya ingin berpamitan denganmu. terimakasih atas tumpangan mu selama ini. sekali lagi terimakasih, aku pergi dulu" ucap naima dan segera pergi dari sana.
tania menghentikan naima, naima segera berhenti ditempanya lalu menatap tania, yang masih berdiri di samping jack.
tania menghampiri naima dan membawanya pergi dari sana.
sesampainya di ruang tamu, tania memeluk erat naima dan menangis di pelukan naima.
"aku minta maaf padamu naima, bukan keinginanku membuatmu pergi. jika saja waktu bisa di ubah, kau pasti tidak akan seperti ini. aku sungguh sungguh minta maaf padamu naima. impianku ingin melihat bayimu sampai lahir dan menjadi tante yang baik. tapi semuanya hiks.. hiks. " tangis tania tidak bisa melanjutkan kata katanya.
naima tersenyum dan segera melepas pelukannya dan menatap tania yang sudah di banjari oleh air mata.
"gak papa tania, aku tidak pernah menyesal apa yang terjadi dalam hidupku. semua sudah takdir, dan aku tidak bisa menghindarinya. kau tidak perlu bertengkar dengan jack soal ini. mungkin dia menang tidak suka jika orang menumpang di tempatnya dan tempatmu. "
tania menghapus air matanya, dan segera memberikan beberapa uang kertas ke saku jaket naima.
naima menggelengkan kepalanya dan ingin mengambil uang itu dan mengembalikannya ke tania. tapi tania langsung menolak dan memasukkan uang itu kembali ke jaket naima.
"aku mohon terima uang itu, dan dengan uang itu kau bisa menyewa rumah baru dan kebutuhanmu. jika kau masih keras kepala dan tidak menerimanya, aku pasti akan marah padamu naima.
naila akhirnya menerima uang itu, dan berterimakasih kepada tania.
" oh iya, aku dengar di Busan ada beberapa penyewa yang menyewa rumah dengan harga yang murah. kau datanglah ke alamat ini. dan jangan lupa untuk mengabariku dan menelpon ku jika kau sudah sampai ke alamatnya. " ucap tania, berjalan bersama naima sampai ke halaman luar villa.
"iyah, aku akan selalu menelpon mu. sekali lagi terimakasih tania, aku pergi dulu" ucap naima dan pergi meninggalkan tania.
tania berjalan kaki dengan membawa kopernya ke arah stasiun. tapi dengan keadaannya yang sedang hamil membuatnya menjadi mudah kecapean.
naima berhenti dan duduk di salah satu kursi di pinggir jalan itu. dia mengusap keringatnya di kepalanya dan lehernya. dia menatap sepanjang jalan tidak ada siapa siapa, pengendara pun hanya satu satu yang berlewatan. dan hanya naima sendiri di pinggir jalan itu.
naima melihat langit akan segera turun hujan, naima segera melanjutkan perjalanan menuju stasiun agar sampai ke alamat yang diberikan tania padanya tadi.
dan betul saja, setelah sampai ke stasiun. hujan turun dengan sangat deras, naima duduk di kursi stasiun sambil. menunggu bus selanjutnya datang..
naima melamun di kursi stasiun itu, sampai tiba bus selanjutnya datang. naima segera naik ke dalam bus itu.
naima melihat penumpang tidak terlalu ramai, dia segera menanyakan alamat ini kepada nenek yang sedang duduk di sampingnya.
"maaf, nek. apa nenek tau alamat ini" ucap naima yang sudah lancar berbahasa Korea.
nenek itu mengambil kertas itu dan membaca alamat yang tertera di kertas itu.
"hayooo ini adalah tempat tinggal nenek. nenek juga tinggal disana bersama cucu nenek, apa kau orang asing. wajahmu seperti wanita Tionghoa" jawab nenek itu.
naima tersenyum mendengar ucapan nenek iu.
naima tersipu karna dibilang mirip dengan wanita Tionghoa, padahal dirinya asli orang Indonesia.
"tidak nek. aku orang Indonesia, aku datang kesini cuma kerja aja. hehehe" jawab naima bohong. karna memang dirinya tidak bekerja disana.
nenek itu keget, sambil menatap wajah naima. dia tidak percaya bahwa naima orang Indonesia. tapi saat naima menunjukkan paspornya, barulah nenek itu percaya.
"sudah beberapa lama disini nak" ucap nenek itu.
"tiga bulan nek, aku awalnya tinggal di villa temanku. karna temanku akan menikah jadi aku memutuskan untuk pergi mencari tempat tinggal untukku. " jawab naima masih tetap santai saat di tanyai oleh nenek teman satu bangkunya.
"ohhhh" ucap nenek itu.
perjalanan mereka menempuh waktu tiga jam. dan akhirnya tibalah mereka di Busan. naima yang tertidur pulas di bangkunya di bangunkan oleh nenek itu.
"heiii nak, bangun. kita sudah sampai di Busan" ucap nenek itu menepuk pelan tangan naima.
naima menggeliat di bangkunya dan segera membuka matanya.
"maaf nek, aku ketiduran" jawab naima kelada nenek itu.
"yasudah ayo turun" jawab nenek itu.
naima dan nenek itu turun di stasiun Busan. disana banyak orang yang sedang menjemput sanak saudaranya yang ada di bus tadi.
nenek itu memanggil seseorang dan mengayunkan tangannya sumpah orang itu datang ke sana.
"hayoo, anak ini dari tadi di panggil tapi tidak dengar" ucap nenek itu saat cucunya datang menjemputnya.
"maaf nek, di jalan tadi sangat macet" jawab cucunya sambil tersenyum.
"oh iya nak, ini cucu nenek namanya claudia"
naima tersenyum ke arah claudia begitu juga dengan claudia.
claudia melirik penampilan naima dari atas sampai bawah. begitu kampungan begitulah yang di pikirkan claudia tentang naima.
tapi berbeda dengan naima, naima melihat claudia seperti kagum padanya. sangat cantik dan juga berpendidikan.
"nak ayo bawa barang nenek di mobil, pinggang nenek sudah sakit. oh iya naima juga ikut yah, soalnya kita satu arah." ucap nenek claudia kepada claudia.
"tapi nek.. jangan terlalu percaya pada orang asing" ucap claudia berbahasa thailand.
nenek claudia langsung mencubit gemas pipi claudia.
"tidak ada seorang gadis yang kehujanan menjadi penjahat. lihat saja wajahnya, dia ingin tinggal di komplek sebelah dekat dengan rumah kita." jawab nenek itu.
Clarissa menarik napasnya dan pasrah, pada neneknya. ketiganya naik ke mobil Clarissa dan pergi dari stasiun itu.
~