Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Bayangan di Tepian Glanzwald
Musim panas ketiga telah tiba, namun udara di Glanzwald tidak terasa menyengat. Angin sepoi-sepoi membawa aroma pinus dan air sungai yang segar, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Di paviliun utama, kesibukan luar biasa terlihat sejak fajar menyingsing. Para pelayan hilir mudik membersihkan kristal-kristal lampu gantung, mengganti tirai beludru dengan sutra yang lebih ringan, dan memoles lantai marmer hingga mengkilap seperti cermin.
Daisy, yang baru saja menyelesaikan draf terakhir komiknya di tablet, tidak merasa curiga. Baginya, pembersihan besar-besaran ini hanyalah rutinitas bulanan yang biasa dilakukan kepala pelayan untuk menjaga kemegahan Eisenberg Manor. Ia tidak diberitahu sepatah kata pun bahwa unit militer utama telah melintasi perbatasan Ibukota sejak semalam.
"Aku butuh udara segar," gumam Daisy pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari sofa, mengganti gaun formalnya dengan gaun kuning cerah selutut yang santai. Ia mengenakan bando hitam yang kontras dengan warna rambutnya, memberikan kesan sangat muda, hampir seperti gadis remaja berusia belasan tahun. Rambut hitam legamnya yang panjang hingga pinggang dibiarkan terurai, dengan ujung-ujungnya yang sedikit ikal alami tertiup angin. Dengan tablet di pelukannya, ia melangkah ringan menuju tempat perlindungannya, pohon ek raksasa di tepi sungai.
Daisy duduk bersandar di batang pohon yang kokoh itu. Kakinya yang mungil berselonjorn di atas rumput hijau. Ia segera tenggelam dalam dunianya, jemarinya menari di atas layar tablet, merevisi panel-panel komik yang menceritakan tentang kebebasan. Ia tampak begitu tenang, begitu fokus, hingga ia tidak menyadari suara deru mobil hitam klasik yang berhenti di depan gerbang utama paviliun beberapa menit yang lalu.
Di gerbang utama, seorang pria keluar dari mobil dengan gerakan yang kaku namun penuh otoritas. Para pelayan menyambutnya sambil membungkukkan badan mereka. Matthew von Eisenberg tidak menunggu ajudannya membukakan pintu. Ia melangkah turun dengan seragam militer yang masih lengkap—lencana yang berdebu, sepatu bot yang kotor oleh tanah perbatasan, dan jubah hitam yang berat. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya yang dark blue terlihat lebih tajam dan lelah, namun memancarkan kerinduan yang tertahan selama dua tahun.
"Di mana dia?" Suara baritonnya menggelegar di aula depan, membuat para pelayan tersentak dan membungkuk dalam-dalam.
"Nyonya... Nyonya Muda ada di dermaga sungai, Tuan Duke. Di bawah pohon ek," jawab kepala pelayan dengan suara gemetar.
Matthew tidak menunggu instruksi lebih lanjut. Ia tidak masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri atau mengganti pakaian. Ia langsung melangkah menuju arah hutan, mengikuti jalan setapak yang dulu sering ia lalui dengan perasaan datar, namun kini ia lalui dengan jantung yang berdegup tidak beraturan.
Setiap langkah bot militernya di atas ranting kering terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur pertemuan mereka. Dari jarak lima meter, Matthew berhenti.
Napasnya tertahan.
Di sana, di bawah naungan pohon ek raksasa, ia melihat Daisy. Istrinya tidak tampak seperti "The Muse" yang sombong di sampul majalah. Ia tampak seperti anak kecil yang murni. Gaun kuningnya senada dengan cahaya matahari yang menembus celah daun. Rambut hitamnya yang panjang beradu indah dengan warna cokelat batang pohon. Daisy terlihat begitu rapuh namun begitu berkuasa atas ketenangannya sendiri.
Matthew berdiri mematung. Ia memperhatikan bagaimana Daisy mengernyit kecil saat berpikir, bagaimana bibir tipisnya bergumam tanpa suara saat membaca skrip di tabletnya. Ia merasa seperti seorang penyusup yang sedang mengintip ke dalam surga yang tidak layak ia masuki.
Tiba-tiba, seekor burung kecil terbang melintas di atas mereka, menjatuhkan sehelai bulu putih halus. Bulu itu melayang pelan, tertiup angin kecil, dan akhirnya mendarat tepat di atas rambut hitam Daisy yang dihiasi bando itu. Daisy tidak menyadarinya. Ia tetap fokus pada layarnya, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Matthew melangkah maju. Perlahan, sangat perlahan. Ia tidak ingin mengejutkan "mawar kecil"-nya. Suara bot militernya kini tertutup oleh suara gemericik air sungai. Ia sampai di samping Daisy, lalu perlahan berjongkok.
Tangannya yang besar, yang terbiasa memegang gagang senapan dan pistol, kini bergerak dengan kelembutan yang asing. Jemarinya meraih sehelai bulu burung itu dari rambut Daisy.
Pada saat itulah, Daisy merasakan kehadiran seseorang. Aroma maskulin yang bercampur dengan bau debu, besi, dan aroma dingin militer menyerbu indranya. Aroma yang ia hafal, aroma yang ia benci sekaligus ia rindukan selama dua tahun ini.
Daisy menoleh dengan cepat.
Matanya yang cokelat madu membelalak lebar. Jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Di hadapannya, Matthew von Eisenberg berjongkok dengan posisi yang sangat rendah untuk pria setinggi dia. Matthew masih mengenakan seragam perangnya, lengkap dengan segala kekuasaan dan kelelahan yang terpancar dari tubuhnya.
"Kau..." suara Daisy tercekat di tenggorokan.
Matthew menatap mata Daisy dengan intensitas yang meluap. Ia memegang bulu burung itu di depan wajah Daisy, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Bulu ini jatuh di rambutmu," ucap Matthew. Suaranya serak, lebih dalam dari terakhir kali Daisy mendengarnya.
Daisy terpaku. Ia tidak berani bernapas. Perbedaan tinggi badan mereka tetap mencolok; bahkan saat Matthew berjongkok seperti ini, bahu bidangnya tetap terasa mendominasi pandangan Daisy. Sifat pemalu Daisy muncul seketika, membuat pipinya merona merah, namun di saat yang sama, rasa kecewa dan rahasia tentang "Gadis M" kembali terlintas di benaknya, memberikan kilatan dingin di matanya.
"Kapan Anda datang?" Tanya Daisy akhirnya, mencoba mengendalikan suaranya agar tetap formal. Ia segera mematikan tabletnya dan berusaha bangkit berdiri.
Matthew ikut berdiri, seolah-olah sebuah gunung besar bangkit dari tanah. Ia menjulang tinggi di depan Daisy, menutupi sinar matahari pagi. Daisy harus mendongak jauh hanya untuk menatap dagu pria itu.
"Baru saja," jawab Matthew singkat. Ia tidak melepaskan tatapannya dari wajah Daisy. "Kenapa kau tidak membalas surat-suratku, Daisy?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa basa-basi militer. Ada nada terluka yang sangat tipis dalam suaranya—sesuatu yang hanya bisa didengar oleh seseorang yang benar-benar memperhatikan.
Daisy merapikan gaun kuningnya, mencoba mencari kekuatan di balik kemandiriannya. "Saya sibuk, Jenderal. Dunia tidak berhenti berputar hanya karena suamiku sedang berperang."
Matthew maju selangkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga Daisy bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. "Sibuk hingga tidak bisa menulis satu baris pun? Ataukah kau sengaja ingin menghindariku?"
Daisy terdiam. Ia ingin berteriak bahwa ia tahu tentang Maira. Ia ingin bertanya kenapa Matthew menjadikannya pajangan. Tapi ia hanya bisa berdiri di sana, di bawah pohon favoritnya, merasa sangat kecil di hadapan Jenderal Agung yang baru saja pulang membawa kemenangan perang, namun tampak kalah di hadapan istrinya sendiri.
"Anda pulang terlalu cepat, Jenderal," ucap Daisy dengan nada yang sengaja ia buat datar, meski jantungnya berdebar sangat kencang. "Saya belum sempat merapikan semua bunga untukmu."
Matthew meraih tangan Daisy—tangan yang mungil dan lembut dibandingkan tangannya yang kapalan. Ia tidak mencengkeramnya seperti ia mencengkeram Maira dulu. Ia hanya memegangnya, seolah-olah tangan Daisy adalah porselen yang bisa retak kapan saja.
"Aku tidak butuh bunga, Daisy," bisik Matthew, menundukkan kepalanya hingga hembusan napasnya terasa di kening Daisy. "Aku hanya butuh kau berhenti menatapku seolah-olah aku adalah orang asing."
Pertemuan di bawah pohon ek itu menjadi saksi bisu kembalinya sang Jenderal. Musim panas ketiga telah dimulai, namun bagi Daisy, perang yang sesungguhnya—perang perasaan—baru saja meledak di depan matanya.