NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:270.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Enam bulan berlalu tanpa terasa dijalani oleh Kemuning menjadi seorang janda. Rumah Kemuning yang dulu terasa sunyi kini lebih sering diisi suara tawa ringan, langkah kaki, dan obrolan sederhana yang menghangatkan ruang-ruang yang pernah dingin.

Sore menjelang malam, aroma sup ayam memenuhi dapur. Uapnya mengepul pelan saat Kemuning menuangkan ke dalam mangkuk, tangannya cekatan namun gerakannya tenang, seolah rutinitas ini menjadi cara baru untuk menata hidupnya yang dulu berantakan.

Pintu depan terbuka tanpa perlu diketuk lama. Aryasatya masuk lebih dulu dengan langkah ringan, seperti biasa, membawa suasana riang bersamanya.

“Wah, wangi banget! Mbak Kemuning masak apa lagi, nih? Perasaan tiap ke sini aku makin betah aja,” celetuk pemuda itu sambil mengintip ke dapur.

Kemuning tersenyum tipis tanpa menoleh. “Kalau kamu datang cuma buat makan, besok-besok aku tutup pintunya, ya.”

“Lho, aku kan datang sekalian nemenin Kak Arka,” balas Aryasatya cepat, lalu menoleh ke belakang. “Iya, kan, Kak?”

Arkatama yang baru masuk hanya menggeleng kecil, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapannya sempat singgah sebentar pada Kemuning, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak pernah diucapkan, tapi tumbuh diam-diam di antara mereka.

Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Sederhana, hangat, dan tanpa beban. Namun, Aryasatya tidak pernah benar-benar diam.

“Eh, Mbak,” kata Aryasatya tiba-tiba, mencondongkan badan di meja makan. “Kalau ada pria yang sifatnya baik, sabar, ganteng dan mapan, kira-kira Mbak mau enggak nerima?”

Kemuning mengangkat alis, pura-pura tidak paham. “Itu lagi bahas siapa?”

Aryasatya melirik Arkatama dengan senyum jahil. “Ya, ada lah.”

“Satya,” potong Arkatama singkat, nadanya tenang tapi cukup untuk membuat adiknya meringis menahan rasa gemas.

“Mbak Kemuning itu janda muda dan cantik. Pastinya banyak pria di luar sana menginginkannya. Maka lebih baik pilih salah satu yang jelas-jelas sudah diketahui bebet-bibit-bobotnya,” ucap Aryasatya begitu ringan.

Arkatama melirik ke arah Kemuning. Dia ingin tahu reaksi wanita itu.

Kemuning sudah lebih dulu menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari.

Hari itu hujan turun tanpa peringatan. Langit yang sejak siang mendung akhirnya pecah ketika Kemuning sedang berada di kota mencari peternak ayam lain untuk diajak kerjasama, sebagai pemasok. Karena permintaan ayam potong semakin banyak.

Kini, Kemuning terjebak di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, menunggu hujan reda yang tak kunjung berhenti. Tak lama, pintu kafe terbuka. Sosok yang familiar masuk dengan bahu sedikit basah oleh air hujan.

“Mas Arka?” Kemuning terkejut.

Arkatama menghela napas ringan, lalu tersenyum. “Kebetulan lewat. Hujannya malah makin deras.”

Mereka duduk berhadapan. Di luar, hujan turun seperti tirai, memisahkan dunia mereka dari kebisingan kota. Di dalam, hanya ada suara rintik yang jatuh dan detak waktu yang terasa melambat.

Beberapa saat mereka hanya diam. Tidak canggung, tetapi juga tidak biasa.

Arkatama menatap cangkir kopinya, lalu mengangkat wajah. “Mbak Kemuning ....”

Kemuning menoleh. “Iya?”

Ada jeda. Napas Arkatama terdengar lebih berat dari biasanya.

“Aku enggak mau muter-muter lagi. Aku suka sama Mbak,” kata Arkatama dengan nada lembut, tetapi mengandung ketegasan kalau ucapannya itu sungguh-sungguh.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa hiasan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih dalam.

Kemuning terdiam, tangannya yang tadi memegang cangkir perlahan berhenti. Matanya tidak langsung menatap, seolah butuh waktu untuk mencerna.

“Aku tahu Mbak sudah banyak lewatin hal berat,” lanjut Arkatama. “Aku tahu semuanya enggak mudah. Tapi aku serius.”

Hening kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Suara Kemuning akhirnya keluar, lirih. Ia menarik napas pelan. “Aku juga sudah mulai nyaman, Mas.”

Arkatama menatapnya dengan mata berbinar, ada harapan yang perlahan muncul. Jantungnya pun ikut berdebar dan di dalam perutnya terasa sesuatu bergejolak.

“Tapi aku takut,” lanjut Kemuning jujur. “Aku bukan perempuan yang utuh lagi.”

Alis Arkatama sedikit berkerut. “Maksud Mbak?”

Kemuning menunduk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Suaranya melemah. “Rahimku. Aku enggak tahu apakah aku masih bisa punya anak.”

Kalimat itu terasa seperti luka lama yang kembali dibuka. Namun kali ini, ia mengatakannya tanpa air mata, hanya dengan rasa takut yang tersisa.

Arkatama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kemuning beberapa detik, lalu menghela napas pelan.

“Aku enggak jatuh cinta sama rahim Mbak,” kata Arkatama akhirnya. “Aku jatuh cinta sama Mbak.”

Kemuning terdiam dan terkejut. Karena kebanyakan pria setelah menikah ingin punya anak.

“Apa pun yang terjadi di masa lalu itu bukan kesalahan Mbak,” lanjut pria itu. “Hal itu enggak mengurangi siapa Mbak sekarang.”

Tatapan Kemuning perlahan terangkat. Ada sesuatu yang bergetar di sana.

“Aku enggak butuh kesempurnaan,” tambah Arkatama. “Aku cuma butuh Mbak.”

Hujan di luar masih turun, tetapi di dalam dada Kemuning, sesuatu mulai mencair. Sebelum ia sempat menjawab, Arkatama kembali bicara, kali ini lebih mantap.

“Aku enggak mau cuma dekat seperti ini terus,” katanya. “Aku mau hubungan yang jelas.”

Kemuning menatapnya, jantungnya berdegup lebih cepat.

“Aku mau serius sama Mbak,” lanjut Arkatama. “Kalau Mbak siap aku ingin kita menikah.”

Waktu seperti berhenti. Kemuning membeku di tempat. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia tidak menyangka Arkatama sampai berani sejauh ini.

“Mas Arka.” Suara Kemuning hampir tidak keluar meski mulutnya terbuka.

Semua kenangan lama tiba-tiba menyeruak. Luka akan pengkhianatan. Rasa sakit yang pernah menghancurkannya. Ketakutan itu datang lagi, tanpa permisi.

“Aku takut, Mas ...,” bisik Kemuning.

Arkatama tidak memotong. Ia menunggu Kemuning menyelesaikan ucapannya.

“Aku takut semuanya terulang lagi,” lanjut Kemuning. “Aku takut enggak cukup baik sebagai seorang istri.” Tangan Kemuning gemetar di atas meja.

Arkatama perlahan menggeser tangannya, mendekat, tetapi tidak menyentuh. Memberi ruang, tapi tetap ada.

“Kita enggak harus buru-buru,” kata Arkatama pelan. “Aku bisa nunggu.”

Kemuning menutup mata sejenak. Hatinya berisik, antara ingin percaya dan takut jatuh lagi. Setelah sekian lama, Kemuning kembali dihadapkan pada pilihan yang benar-benar ia takuti.

***

Sambil menunggu update bab berikutnya, yuk, baca juga karya temanku ini:

1
Sri Supriatin
Bravo Kemuning 👍👍👍
Sri Supriatin
Barang busuk biar disembunyiin pasti ketahuan... g kebayang sakitnya kemuning/Scowl//Scowl/
Sri Supriatin
Gemes banget punya laki ky gitu
Sri Supriatin
Habis bc Muara Hati Azalea aq mampir nich thor salam sehat... 👍👍🙏🙏
Retno Harningsih
up
Kar Genjreng
orang niat baik akan di tujukan jalan benar tetapi niat jahat akan di tunjukan jalan terjal Bahkan tidak baik baik saja ,,
Kar Genjreng
nikmat mana lagi yang kau dustakan Adi dan Bu ratih makanya ucapan adalah doa dan mulutmu adalah harimaumu,,,, sekarang merasakan di tolak sana sini di jualan oleh orang yang menjadi penjilat ketika Lo sukses semua nempel seperti cicak begitu Lo terpuruk semua ngabur enak kan,,,menjadi penghianat terhadap wanita yang sudah menolong kalian,,,
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
jangan sampai si Tamara menggoda Arka..
Nancy Nurwezia
makin penasaran, apa yang sedang diobrolkan oleh mereka berdua..
Aidil Kenzie Zie
apa si Mantan ingin balikan ya jadi harus buat drama seperti kisah Kemuning
Aidil Kenzie Zie
Arka nanti jujur y sama Kemuning kalo kliennya si Mantan 🤭🤭
Sun Rise
ok
Ma Em
Alhamdulillah Thor semoga apa yg diharapkan akan tercapai dan jadi juara , wah sdh mau habis ceritanya padahal seru Thor senang banget pada rumah tangga Kemuning dgn Arkatama yg selalu bahagia apalagi setelah lahir Ziya , semoga Tamara tdk jadi duri di pernikahan Arkatama dgn Kemuning .🤲🤲🤲🤲🤲
🌸 Sunshine 🌸: Aamiin 🤲
total 1 replies
Ita rahmawati
tamarakah yg manggil 🤦
Fa Yun
semangat thor 🙏
ken darsihk
Apa yng sedang mereka bicara kan ds rencana kan Tamara Raisa
ken darsihk
Duhhh apa ini awal kehancuran nya Arkatama ke 2 x nya
ken darsihk
Laluuu , ingat Arkatama kamu sudah punya Ziya dan Kemuning
Dwi Setyaningrum
amin semoga karya ini dpt juara thor..semangat berkarya terus ya..💪
🌸 Sunshine 🌸: 🤲🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Mundri Astuti
Raisa juga bukannya pengacaranya si Tamara dulu waktu kamu cerai arka, ni romannya ada yg janggal، knapa ga pakai Raisa lagi coba si Tamara, mending kamu ga terima arka, soalnya gampang kasihan walau dah pernah tersakiti olehnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!