Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Mengingat Nama
Hujan turun tanpa suara.
Bukan karena hujannya ringan, tapi karena Carmela sudah terlalu lama hidup di tengah kebisingan untuk menyadarinya. Jendela penginapan kecil di kota utara itu berembun, lampu jalan memantul samar seperti kenangan yang sengaja dikaburkan.
Ia duduk di lantai, punggung bersandar ke ranjang, ponsel di tangan.
Tidak ada pesan baru dari Matteo sejak kode terakhir: Aman. Bergerak.
Aman tidak berarti tenang.
Bergerak tidak selalu berarti maju.
Carmela menutup mata, menarik napas panjang. Dua minggu terdengar singkat ketika diucapkan, tapi terasa seperti jurang ketika dijalani terpisah.
Ketukan di pintu membuatnya tersentak.
Sekali.
Jeda.
Sekali lagi.
Bukan pola hotel.
Carmela berdiri perlahan, tangannya menyentuh benda berat di saku mantel. “Siapa?” tanyanya.
“Mira.”
Nama itu membuat bahunya sedikit turun. Carmela membuka pintu.
Mira berdiri dengan mantel basah, rambutnya diikat seadanya, mata tajam seperti biasa. “Kita perlu bicara. Sekarang.”
Di dalam, Mira tidak duduk. Ia berjalan mondar-mandir, seperti singa di kandang sempit.
“Mereka menemukan arsip lama,” katanya tanpa basa-basi. “Bukan tentang Matteo. Tentang kamu.”
Carmela menegang. “Arsip apa?”
“Nama aslimu sebelum Carmela,” jawab Mira. “Catatan panti. Catatan polisi. Satu laporan yang seharusnya dikubur.”
Dunia terasa menyempit.
“Itu tidak relevan,” kata Carmela, suaranya terkendali.
“Bagi mereka, sangat relevan,” Mira berhenti tepat di depannya. “Mereka tidak bisa menjatuhkan Matteo lewat kekuasaan. Jadi mereka akan mematahkanmu—karena kamu adalah satu-satunya celah emosional yang dia miliki.”
Carmela tertawa kecil, pahit. “Aku bukan celah. Aku pilihan.”
“Pilihan bisa dibalik,” sahut Mira. “Trauma bisa dipelintir.”
Carmela memejamkan mata. Ia tahu laporan mana yang dimaksud. Malam itu. Lorong sempit. Bau alkohol. Suara langkah yang terlalu dekat.
Ia membuka mata. “Seberapa dekat mereka?”
“Sudah ada satu orang dalam perjalanan ke kota ini,” kata Mira. “Dia membawa cerita lama, tapi akan menjualnya sebagai kebenaran baru.”
“Nama?” tanya Carmela.
Mira ragu sepersekian detik. “Orang yang dulu seharusnya melindungimu.”
Dada Carmela berdenyut.
“Dia masih hidup?” bisiknya.
“Dan bicara,” jawab Mira pelan.
Di kota selatan, Matteo berdiri di depan jendela apartemen sementara, memandangi laut gelap. Ponselnya bergetar—pesan dari Mira.
Ia membaca sekali.
Dua kali.
Rahangnya mengeras.
“Sudah mulai,” gumamnya.
Ia membalas cepat: Jangan biarkan Carmela sendirian.
Balasan datang hampir instan: Dia tidak sendirian. Tapi ini tentang masa lalunya.
Matteo menutup mata.
Dari semua kemungkinan serangan, ini yang paling ia benci—yang tidak bisa ia hancurkan dengan senjata atau strategi. Yang hanya bisa dilawan dengan kehadiran.
Ia mengambil jaket.
Rencana dua minggu runtuh dalam satu keputusan.
Carmela bertemu dengannya di kafe kecil yang hampir kosong. Lelaki itu duduk membelakangi jendela, rambutnya mulai memutih, tangan gemetar memegang cangkir kopi.
Ia mengenali punggung itu bahkan sebelum wajahnya.
“Pak R—”
Tidak. Nama itu mati bersamanya.
“Aku tidak menyangka kamu akan datang,” kata lelaki itu, suaranya serak.
“Aku datang bukan untuk menyapa,” jawab Carmela dingin. “Katakan siapa yang mengirimmu.”
Lelaki itu menghela napas. “Aku hanya ingin membersihkan hati.”
“Hati?” Carmela tertawa pendek. “Kamu meninggalkanku.”
“Aku takut,” katanya lirih. “Mereka mengancam—”
“Dan kamu memilih diam,” potong Carmela. “Seperti sekarang.”
Ia berdiri. “Ini pertemuan terakhir. Jika aku mendengar namaku keluar dari mulutmu lagi—aku akan memastikan dunia tahu siapa kamu sebenarnya.”
Lelaki itu menatapnya, mata berkaca-kaca. “Kamu masih marah.”
“Tidak,” jawab Carmela. “Aku sudah selesai.”
Ia berbalik pergi—dan berhenti.
“Jika mereka memaksamu bicara,” katanya tanpa menoleh, “ingat satu hal: aku tidak selamat karena kamu. Aku selamat meski kamu.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Malam itu, Carmela kembali ke penginapan dengan langkah berat. Setiap sudut terasa lebih gelap. Masa lalu yang ia kunci rapi kini mengetuk dari dalam.
Ia duduk di ranjang, memeluk lutut.
Air mata jatuh—diam-diam, marah pada dirinya sendiri karena masih terasa sakit.
Ketukan di pintu.
Kali ini, ia tidak bertanya.
Matteo berdiri di sana.
Tanpa kata, Carmela menjatuhkan dinding yang selama ini ia bangun. Ia melangkah maju dan memeluknya, wajahnya menekan dada Matteo, napasnya pecah.
Matteo memeluk balik, erat, satu tangan di rambutnya, satu lagi di punggungnya. Tidak berkata apa-apa—karena ia tahu, kata-kata akan mengkhianati momen.
“Aku seharusnya tidak datang,” bisik Carmela akhirnya. “Ini berbahaya.”
Matteo menunduk, kening mereka bersentuhan. “Aku seharusnya selalu datang.”
Ia mencium kening Carmela—pelan, penuh janji.
“Dengar aku,” kata Matteo. “Masa lalumu tidak bisa digunakan untuk mengendalikanmu. Tidak oleh mereka. Tidak oleh siapa pun.”
“Bagaimana jika mereka memutar ceritanya?” tanya Carmela.
“Biarkan,” jawab Matteo. “Aku akan berdiri di depanmu. Jika mereka ingin menyerang, mereka harus melewatiku.”
Carmela menatapnya. “Itu bisa menghancurkanmu.”
Matteo tersenyum tipis. “Aku sudah lama memilih risiko itu.”
Pagi berikutnya, berita kecil mulai beredar—narasi setengah matang, bisik-bisik lama. Tidak cukup untuk menjatuhkan siapa pun, tapi cukup untuk menguji.
Matteo bergerak cepat. Satu panggilan. Dua pertemuan. Tiga kebenaran lama dibuka untuk menutup satu kebohongan baru.
Sementara itu, Carmela melakukan hal yang paling sulit: ia menulis.
Bukan pengakuan publik. Bukan pembelaan. Tapi catatan pribadi—versinya sendiri. Untuk dirinya, agar tidak lupa siapa yang bertahan dan bagaimana caranya.
Sore hari, Mira mengirim pesan: Sumber itu dibungkam. Bukan dengan ancaman—dengan kebenaran.
Carmela tersenyum lelah.
Ia menatap Matteo. “Ini belum selesai.”
“Tidak,” jawab Matteo. “Tapi sekarang mereka tahu: menyentuhmu berarti perang.”
Carmela menggenggam tangannya. “Dan kamu?”
Matteo menatapnya dalam. “Aku sudah berperang sejak aku mencintaimu.”
Di luar, hujan akhirnya turun dengan suara. Membersihkan jalan. Menyisakan bekas.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Carmela tidak menutup jendela.