"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arkan Sedih
Benar-benar menahan rasa berat di kepalanya. Matanya mengamati, itu benar-benar wajah Arkan Zoya. Tapi tatapan matanya begitu tajam. Berbeda dengan Arkan Zoya yang biasanya.
Pemuda yang mematikan panggilan menyadari keberadaannya. Melangkah mendekati Fransisca tanpa senyuman sama sekali.
Entah kepalanya yang terlalu berat, atau apa... tiba-tiba saja Arkan Zoya memeluknya. Dirinya seperti tidak bisa bergerak? Atau enggan bergerak sejatinya?
Hanya bersandar pada dada bidang pemuda ini."Tidurlah." Ucapnya terdengar begitu dingin dan tenang.
Tidak ada jawaban dari Fransisca. Gadis yang juga merasa matanya begitu berat.
"Fransisca, aku mencintaimu..." Benar-benar bisikan di telinganya dengan nada yang begitu dingin dan menenangkan.
Fransisca berusaha bergerak melawan, tapi sama sekali tidak bisa. Perlahan tangannya melemas...
***
Dirinya membuka mata dengan cepat, terlihat bangun gelapan. Apa yang terjadi? Tadi dirinya melihat Arkan Zoya menghubungi seseorang, kemudian dirinya ketahuan. Pemuda dingin itu memeluknya dan...
"Emggh...kak Fransisca." Arkan Zoya tersenyum membuka matanya terlihat begitu manis."Arkan masih ngantuk..."
"A... Arkan! Kamu tadi malam menghubungi siapa? Kenapa kamu..." Kalimat Fransisca disela.
"Boleh Arkan pinjam handphone?" Tanya Arkan antusias.
Fransisca terdiam sejenak, mengembalikan kesadarannya akan satu hal. Arkan tidak punya handphone.
Jadi yang semalam cuma mimpi? Seperti sebuah mimpi yang berlanjut? Dirinya memimpikan sosok Arkan Zoya sebelum kecelakaan menyatakan cinta padanya? Benar-benar dunia ini sudah gila! Dirinya ingin berteriak demikian.
"Arkan mau pakai untuk apa?" Tanya Fransisca berusaha keras untuk tersenyum.
"Bermain game ular, kemarin Arkan pinjam pada kak butler. Tapi setelah ularnya besar malah mati." Ucapnya cepat dengan nada ceria.
Hal yang tidak dapat dielakkan oleh Fransisca. Semalam memang mimpi, sebagian hasrat tersembunyi nya pada Arkan Zoya menjadi rasa gila seperti ini. Tidak! Dirinya bukan seorang pedofil yang akan memberikan permen kemudian menculik Arkan Zoya.
"Be... begitu, nanti kak Fransisca download game ular untuk Arkan. Tapi Arkan harus janji, cuma bermain 30 menit." Kalimat dengan nada ceria dari Fransisca. Walaupun dalam hatinya ada sejuta tanda tanya. Kenapa dirinya dapat begitu mesum, bermimpi tentang seorang Arkan Zoya. Dirinya adalah pengasuh! Adalah baby sitter dari seorang Arkan Zoya. Tidak boleh sama sekali memiliki pemikiran aneh.
"Terimakasih kak Fransisca!" Arkan Zoya mengecup bibirnya dengan cepat, membuat Fransisca membulatkan matanya menelan ludah. Gila! Pria ini benar-benar gila. Bagaimana dirinya dapat menahan godaan seintens ini?
Mimpinya sebelumnya, ditambah mimpi adegan romantis semalam. Dengan cepat Fransisca menggeleng, tidak! Dirinya sudah gila! Bisa-bisanya jatuh cinta pada sosok Arkan Zoya yang begitu kejam di dunia nyata.
Yang lebih parah jatuh cinta dalam mimpi. Tapi baper dalam dunia nyata. Benar-benar sial!
"Kak Fransisca harus mandi dulu. Tapi apa benar Arkan..." Fransisca menghela napas kemudian berusaha bertanya pelan.
"Arkan, Indonesia bekerja sama dengan negara mana untuk membuat kereta cepat?" Tanyanya ingin menguji.
"Arkan... kalau Arkan salah kak Fransisca tidak marah kan? Mu... mungkin negara Amerika, karena ada burger..." Arkan Zoya menunduk ketakutan takut dimarahi.
Apa yang ada dalam pikirannya, tidak mungkin Arkan Zoya yang super cerdas akan salah menjawab. Sudah pasti Arkan sama sekali belum sembuh, dan kejadian tadi malam hanya mimpinya saja.
"Ini... handphone kak Fransisca. Sudah ada game ularnya. Ingat! Saat kak Fransiskus minta harus dikembalikan." Tegasnya, dijawab dengan anggukan kepala penuh keyakinan oleh Arkan Zoya.
"Baik! Arkan janji." Kalimat begitu cepat dan ceria dari Arkan Zoya.
Fransisca segera bangkit, panggilan alam membuat dirinya ingin ke kamar mandi. Menghela napas, kembali melihat dengan cepat ke arah Arkan Zoya. Dan benar saja pemuda itu memainkan game ular begitu antusias. Wanita yang menyipitkan matanya dengan perasaan campur aduk, antara curiga dan menganggap dirinya sendiri halu.
***
Namun, pada kenyataannya, setelahnya keadaan memang kembali biasa-biasa saja. Arkan Zoya dimandikan olehnya, membersihkan hingga ke bagian yang... astaga... sudahlah. Fransisca juga tidak ingin membicarakannya, hanya mengingat wajah polos suaminya. Yang bermain bebek karet antusias. Tidak mungkin orang ini memiliki napsu.
Tapi, benarkah? Fransisca yang memang tidak pernah memiliki pengalaman hubungan ranjang mungkin tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan e*resi. Wanita yang menghabiskan masa mudanya dengan fokus untuk belajar. Mungkin karena itulah Doni bosan padanya?
"Kak Fransisca...Arkan mau buang air besar. Arkan bisa sendiri. Kak Fransisca keluar ya?" Ucap Arkan Zoya yang masih berada dalam bak mandi.
"Jika butuh bantuan panggil...Yang mulia istri siap melayani." Ucap Fransisca yang memang sudah selesai memandikannya. Meninggalkan Arkan Zoya seorang diri dalam kamar mandi.
Tidak ada yang aneh sama sekali dengan Arkan Zoya. Mungkin itulah anggapan dari Fransisca. Memutuskan untuk menunggu dalam kamar, sembari memilih pakaian yang akan digunakannya dan suaminya.
Hingga seseorang mengetuk pintu, kemudian memasuki kamar setelah mendapatkan ijin.
"Selamat pagi... nyonya..." Sang butler menunduk memberi hormat. Pemuda berusia 30 tahun yang terlihat baik hati, berada di jalan kebenaran, itulah yang terlihat dari luar. Membenahi letak kacamatanya.
"Hari ini akan ada keributan. Kebutuhan rumah ini dibeli mingguan. Supplier pasti akan datang untuk menagih uang dan mencatat pengeluaran dapur. Ingat apa yang aku katakan? Jangan keluarkan uang sepeser pun, karena aku dan Arkan juga sama sekali tidak makan dan menerima pelayanan dari pelayan." Kalimat yang diucapkan oleh Fransisca. Memilih jam tangan yang akan digunakan suaminya hari ini. Membayangkan Arkan Zoya memakai sweater pink? pasti begitu menggemaskan.
Karena itu dirinya juga akan bekerja menggunakan nuansa pink putih.
"Baik nyonya...apa ada lagi yang nyonya butuhkan?" Kembali sang butler bertanya.
Fransisca menyipitkan matanya, entah orang ini benar-benar baik atau pengkhianat dirinya juga tidak yakin. Karena itu lebih baik terus terang sebagian.
"Zedna, sebenarnya aku sengaja menyebarkan gosip hubunganku dengan seorang karyawan bernama Rendi. Jadi jangan salah paham! Aku sama sekali tidak berkhianat dari Arkan!" Ucap Fransisca cepat.
"Sa...saya mengerti." Zedna terdengar sedikit gugup.
"Arkan sedang sakit. Aku rasa aku tidak bisa dan tidak perlu menjelaskan semuanya padanya." Fransisca menghela napas kasar, mempersiapkan benda-benda yang akan dimasukkan ke dalam tas kerjanya.
"Tidak...!" Untuk pertama kalinya Zedna yang tenang berucap dengan cepat. Seperti ketakutan akan sesuatu. Tapi sepersekian detik, kembali tenang seperti semula."Walaupun tuan sedang mengalami gangguan mental. Tapi saya rasa nyonya harus menjelaskan sendiri pada tuan. Agar tidak ada kesalahpahaman. Semuanya harus didasari dengan kejujuran."
"Kalau begitu kamu yang jelaskan. Aku harus menghadapi para benalu itu pagi ini. Sangat melelahkan." Keluh Fransisca.
"Tidak bisa! Semuanya harus dijelaskan oleh nyonya sendiri." Ucap Zedna dengan nada serius. Seperti...
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Arkan Zoya yang telah memakai jubah mandi. Fransisca menoleh padanya.
Bagaikan anak kecil yang berlari memeluknya kemudian berucap."Kak Fransisca dan kak butler punya rahasia di belakang Arkan? Arkan sedih..."