Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
...SELAMA MEMBACA SEMUANYA ...
Saat mereka tiba di Perusahaan Althaire, mata Nara dan Tasya seketika dipenuhi rasa kagum. Bangunan tinggi menjulang dengan desain mewah dan megah berdiri kokoh di hadapan mereka, memancarkan aura eksklusif yang sulit diabaikan.
“Nar, kita bawa boks-boks ini ke mana, sih?” keluh Tasya sambil menggeser pegangan kardus kue yang mulai terasa berat.
“Kita disuruh masuk ke ruang konsumsi dulu. Nanti baru boleh lihat acaranya,” jawab Nara tenang.
“Beneran boleh?” Tasya tampak ragu.
“Iya. Katanya nanti pas ketemu pelanggan yang pesen kue kemarin, kita bakal dikasih undangan biar bisa masuk,” jelas Nara.
Mereka pun mengikuti arahan petugas menuju ruang konsumsi.
“Wah, saya sangat suka dengan cake yang Anda buat,” ucap salah satu karyawan yang sekaligus menjadi pemesan kue, wajahnya terlihat puas.
“syukurlah kalo kakak suka,” balas Nara sopan.
“Pembayarannya sudah saya transfer. Ini undangan untuk kalian berdua. Silakan masuk ke ruangan di sebelah,” lanjutnya sambil menyerahkan dua kartu undangan.
“Beneran boleh, Kak?” tanya Nara memastikan.
“Tentu. Bos juga sudah mengizinkan.”
“Kalau boleh tahu, ini acara apa ya?” sela Tasya penasaran.
“Ini anniversary Perusahaan Althaire yang ke-15,” jawab karyawan itu sambil tersenyum.
“Kalau begitu, mari saya antar.”
“Tidak apa-apa, Kak. Kami berdua saja,” ucap Nara lembut. “Dari tadi Kakak kelihatan sibuk.”
“Baik, ruangannya ada di sebelah.”
Dengan jantung berdebar, Nara dan Tasya menyerahkan undangan di pintu masuk sebelum akhirnya melangkah ke dalam.
“Waw…” Tasya terpana.
“Untung kita pakai dress yang bagus,” bisik Nara. “Nggak kebayang kalau kita ke sini cuma pakai baju biasa.”
“Iya, bisa malu seumur hidup.”
Acara berjalan lancar. Sambutan demi sambutan telah disampaikan. Kini tinggal satu—sambutan dari CEO.
Tanpa sadar, Nara mulai merasa tidak nyaman. Tasya terus mengajaknya berkeliling melihat makanan yang tersaji.
“Nar, lo cobain ini deh, enak banget!” kata Tasya antusias.
“Gue nggak mau, Sya. Udah kenyang,” jawab Nara sambil menahan mual.
Entah kenapa, aroma spaghetti membuat perutnya bergejolak. Ia menahannya, tak ingin Tasya khawatir.
Tepuk tangan menggema saat seorang pria naik ke podium.
CEO Perusahaan Althaire.
Nara membeku.
“Raviel…” gumamnya lirih, namun masih terdengar oleh Tasya.
“Nar… jangan-jangan itu Raviel yang ngehamilin lo?” bisik Tasya panik.
“Kan CEO-nya emang Raviel Althaire, pantesan gue ngerasa gak asing sama nama yang Lo sebutin waktu itu."
“Iya, Sya…” Nara menelan ludah. “aku males ketemu dia.”
Raviel berdiri tegap di podium, suaranya tegas dan berwibawa.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan dan karyawan yang telah setia mendukung Perusahaan Althaire hingga hari ini. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat, dan semua pencapaian ini tidak akan mungkin terjadi tanpa kerja keras bersama…”
Namun kalimatnya terhenti dalam batin.
Matanya menangkap sosok Nara.
Berdiri di depan stand makanan. Cantik. Terlalu cantik.
Senyum miring sempat terukir di wajahnya, tapi lenyap seketika saat melihat gaun Nara yang memperlihatkan bahu dan leher jenjangnya. Rambut yang disanggul membuat amarahnya mendidih.
Beberapa karyawan pria bahkan melirik ke arahnya.
setelah selesai dengan sambutan dari raviel, dia hendak turun dari podium, tangannya tiba-tiba ditarik.
“Raviel~ kamu mau ke mana? Kita foto dulu dong,” rengek Vanessa manja.
“Lepas,” ucap Raviel dingin sambil menepis tangannya.
“Nar, cewek yang nempel sama Raviel itu... Kita pernah ketemu di supermarket, kan?” bisik Tasya.
“Iya…” jawab Nara. Mualnya semakin parah. Aroma parfum yang bercampur membuat kepalanya pening.
“Heh! Kalian ngapain ada di sini?” bentak Vanessa kesal.
“Suka-suka kita dong. Kita juga diundang,” balas Tasya ketus.
“Halah! Pasti kalian maksa buat masuk kesini, kan?”
"Enak aja Lo."
Namun Raviel tak peduli. Pandangannya hanya tertuju pada Nara.
“Baby…” ucapnya pelan.
Nara tak kuat lagi. Ia menepis tangan Raviel dan berlari menuju toilet.
Raviel sempat mengira Nara marah karena Vanessa. Tapi saat melihat wajah pucat itu, ia langsung sadar.
Tanpa ragu, ia menyusul.
Tasya dan Vanessa saling menatap dengan pandangan penuh permusuhan.
Vanessa pergi dengan angkuh.
Saat Tasya hendak menyusul Nara, sebuah tangan menahannya.
“Eh! Siapa lo?” Tasya terkejut.
“Saya Ethan, asisten Tuan Raviel. Anda tidak perlu menyusul. Nona Nara akan baik-baik saja.”
“Gue nggak percaya. Itu sahabat gue!”
“Tenang. Tuan Raviel tidak akan melakukan hal yang tidak pantas.”
Tasya menatap tajam.
“Kalau temen gue kenapa-napa, awas aja ya”
“Gadis bar-bar…” gumam Ethan pelan.