Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
keseleo
Devan berhenti melangkah sejenak. Ia tidak mengerti mengapa percakapan itu sampai terdengar olehnya , tau mungkin lebih tepatnya, mengapa hatinya bereaksi. Ia menarik napas dalam, menegakkan bahu, lalu memutuskan untuk tidak memberi ruang pada pikiran yang tidak perlu. Dengan langkah tenang, ia bergabung kembali dengan rombongan, memilih berdiri di barisan depan bersama beberapa direksi.
Tak lama kemudian, suara tour guide memecah riuh rendah obrolan.
“Baik, Bapak dan Ibu, agenda kita selanjutnya adalah trekking ke bukit untuk melihat tiga teluk yang ikonik. Dari atas sana, pemandangannya sangat luar biasa,” jelasnya bersemangat.
“Namun perlu saya sampaikan, tangga yang akan kita lewati cukup banyak, hampir seribu anak tangga. Bagi yang tidak ingin ikut, kami persilakan menunggu dengan nyaman di kapal phinisi.” sambungnya memberi opsi.
Sebagian rombongan saling berpandangan. Para direksi senior dan beberapa keluarga langsung tersenyum kecil, memilih opsi yang lebih aman. Mereka berpindah kembali ke kapal, menikmati minuman dingin sambil menunggu.
Sementara itu, kelompok yang lebih muda tampak antusias. Rayya termasuk yang paling bersemangat. Ia merapikan topinya, mengganti sepatu dengan sepatu trekking ringan, matanya berbinar melihat jalur pendakian yang menanjak di hadapan mereka.
“Kayaknya seru,” ucap Rayya, lebih pada dirinya sendiri.
Tommy yang berdiri di sampingnya melirik jalur itu dengan ragu. Tangga-tangga curam bukan favoritnya, apalagi setelah perjalanan panjang dengan jet subuh tadi.
“Ray… tangganya kelihatan tinggi sekali.” ucapnya.
Rayya menoleh, tersenyum kecil.
“Kamu tidak harus sampai puncak kalau capek.” sahut rayya.
Tommy hendak menolak, namun pandangannya tertahan pada Devan yang sudah lebih dulu melangkah, berbincang singkat dengan tour guide. Sikap Devan yang tenang dan yakin entah mengapa memantik sesuatu dalam diri Tommy, rasa enggan untuk kalah, untuk terlihat lemah.
Tommy menghela napas.
“Baiklah. Aku ikut.” ucap tommy akhirnya,
Rayya menatapnya dengan senyum lebar.
“Serius?” tanya rayya ragu - ragu.
“Serius,” jawab Tommy sambil tertawa kecil.
“Anggap saja pembuktian.” sambungnya.
Pendakian pun dimulai. Anak-anak tangga terasa panjang dan melelahkan, namun semangat rombongan muda cukup menular. Rayya berjalan di depan, sesekali berhenti mengambil foto. Tommy mengikutinya, menjaga jarak, sementara Devan berada beberapa langkah di belakang mereka, cukup dekat untuk mengawasi, cukup jauh untuk tidak ikut campur.
Keringat mulai membasahi dahi. Nafas beberapa orang mulai terengah. Di sebuah pos kecil, rombongan berhenti sejenak. Rayya meneguk air minumnya, lalu tanpa sadar melirik ke belakang. Tatapannya bertemu dengan Devan.
Tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Hanya tatapan singkat, tenang, dalam, dan sulit diterjemahkan.
Rayya segera memalingkan wajahnya.
Rombongan kembali melanjutkan pendakian. Anak-anak tangga yang mereka pijak semakin menanjak, sebagian mulai terasa licin karena pasir halus yang terbawa angin laut. Rayya berjalan dengan napas teratur, namun pikirannya melayang, potongan percakapan dengan Tommy, kemunculan Wilona, dan tatapan Devan tadi masih berputar di kepalanya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Rayya mengangkat kaki kanannya, bermaksud berpindah ke anak tangga berikutnya. Namun ujung sepatunya justru menginjak sisi tangga yang sudah sedikit aus. Pasir halus membuat pijakan itu licin.
Dalam sekejap, telapak kakinya tergelincir.
“tom..!” pekiknya.
Tubuh Rayya condong ke depan. Tas kecil di punggungnya ikut menarik berat badannya. Refleks, tangannya meraih pegangan kayu di samping tangga, tetapi jemarinya hanya menyentuh udara. Dunia seolah berputar. Anak-anak tangga di bawahnya tampak berlapis-lapis, menunggu tubuhnya jatuh berguling.
Di belakangnya, Tommy yang berjalan satu anak tangga di bawah terkejut. Ia spontan mengulurkan tangan, namun gerakan Rayya terlalu tiba-tiba. Tubuh Rayya yang kehilangan keseimbangan justru menabrak dadanya. Tommy terhuyung ke samping, kakinya nyaris salah pijak.
“Rayya!” suara Tommy terdengar panik.
Detik itu, Rayya benar-benar pasrah. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak keras hingga telinganya berdenging. Ia sempat memejamkan mata, membayangkan rasa sakit yang akan datang.
Namun rasa itu tak pernah tiba.
Sebuah tangan kuat menangkap pinggangnya dari samping, sementara tangan lain menahan lengannya dengan erat. Gerakan itu begitu cepat dan pasti, seolah sudah terlatih berkali-kali.
Devan.
Dengan refleks seorang atlet, Devan melangkah naik satu anak tangga, menjejakkan kaki kuat-kuat, menjadikan tubuhnya penopang agar Rayya tidak terjatuh ke depan. Otot lengannya menegang saat menahan berat Rayya, sementara tubuh Rayya tertarik ke arahnya.
Rayya terengah, dadanya naik turun tak beraturan.
Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter.
Rayya bisa merasakan napas Devan yang hangat, bisa melihat jelas gurat wajahnya, rahangnya yang mengeras karena fokus. Mata Devan menatapnya tajam, bukan dengan kemarahan, melainkan kewaspadaan dan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Devan sendiri membeku.
Ia merasakan tubuh Rayya yang sedikit gemetar dalam pelukannya, merasakan detak jantung Rayya yang cepat, bahkan seolah menyatu dengan detaknya sendiri. Untuk beberapa detik, suara angin, langkah rombongan, dan panggilan tour guide menghilang.
Yang ada hanya mereka.
Ada getaran aneh yang menjalar dari titik sentuhan itu, bukan sekadar sentuhan fisik, melainkan sesuatu yang menembus lebih dalam. Seperti aliran listrik halus yang membuat dada keduanya terasa hangat dan sesak sekaligus.
Rayya adalah yang pertama tersadar.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha menegakkan tubuhnya.
“A-aku…” suaranya sedikit bergetar.
“Terima kasih.” ucapnya.
Devan segera melepaskan pegangannya, mundur setengah langkah dengan sikap terkendali, seolah ia tidak ingin melanggar batas yang tidak terlihat.
“Pelan-pelan. Tangga di sini licin,” ucapnya datar, namun nadanya jelas mengandung kekhawatiran.
Tommy yang akhirnya kembali seimbang mendekat dengan wajah pucat.
“Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?” tanyanya panik.
Rayya menggeleng, meski jantungnya masih berdetak tidak normal.
“Tidak. Aku hanya terpeleset.” jawab rayya santai.
Rombongan berhenti sejenak. Beberapa orang menoleh, memastikan keadaan aman. Setelah diyakinkan tidak ada yang terluka, pendakian kembali dilanjutkan.
Pendakian memang dilanjutkan, namun baru beberapa anak tangga kemudian Rayya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Awalnya hanya rasa nyeri samar di pergelangan kaki kanannya, tertutup oleh adrenalin dan rasa malu akibat kejadian tadi. Ia mencoba mengabaikannya, melangkah perlahan sambil menarik napas panjang.
Namun rasa itu tidak mereda.
Justru semakin jelas setiap kali kakinya menapak. Ada sensasi tertarik dan perih yang membuat alisnya berkerut tanpa sadar. Rayya menggigit bibir, berusaha tetap terlihat tenang. Ia tidak ingin membuat rombongan berhenti lagi, apalagi menarik perhatian Devan.
Tommy yang berjalan di sampingnya akhirnya menyadari perubahan langkah Rayya.
“Ray, kamu kenapa jalannya pelan?” tanya tommy.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Rayya cepat, terlalu cepat.
Namun pada langkah berikutnya, kakinya kembali terasa nyeri hingga ia refleks menghentikan langkah dan menahan napas.
Devan yang berada beberapa anak tangga di belakang langsung menangkap kejanggalan itu. Ia mendekat tanpa banyak bicara.
“Kakimu sakit,” katanya, bukan bertanya, melainkan menyimpulkan.
Rayya menoleh, hendak menyangkal, namun rasa nyeri itu kembali menyerang saat ia mencoba melangkah. Wajahnya sedikit memucat.
“Sepertinya… keseleo,” akunya akhirnya, lirih.