Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Ting!
Aku yang sedang memasang jarum di jilbabku terkejut karena pesan yang baru saja masuk. Hampir saja benda tajam itu menusuk daguku.
Pesan dari Kim Taehyung kw.
\[Nanti Aku jemput, jangan lupa gesperku dibawa.\]
Jadi punya dia? Kenapa bisa ada di ranjangku?
Aku memilih mengabaikan dan bergegas bersiap, khawatir manusia aneh itu datang lebih dulu.
“Ibu, semalam yang bawa Dinda ke kamar siapa?” tanyaku saat menghampiri ibu di dapur sekaligus mau sarapan.
“Semalam ibu sewa bego untuk mengangkut kamu.” jawab ibu asal.
Ish ibu, orang anaknya bertanya serius. Untuk menanyakan tentang ikat pinggang Aku takut, nanti ibu berpikir yang iya-iya lagi.
Aku tertegun ketika membuka tudung saji, isinya hanya ada sepiring ubi cilembu. Kenapa benda ini ada di sini? Seolah dia mengikutiku ke mana pun Aku berada.
“Ibu, nggak ada sarapan yang lain kah?”
“Nggak ada, ibu memang nggak masak sarapan. Ayahmu nggak ada, kamu juga sering jajan jadi ibu nggak masak sarapan dari pada mubadzir,” jawab ibu membuatku melemaskan bahu, “Makan itu aja lebih sehat, Din.” lanjut ibu.
Ternyata ubi cilembu ini akhirnya masih masuk ke dalam perutku juga. Hmmh..
“Bu, kenapa ibu selalu mengirimkan makan siang untuk orang itu setiap hari?”
Ibu yang sedang memotong sayur untuk masak katering mengisi makan siang di kantor-kantor menolehku sekilas, “Sebagai ucapan terima kasih lah, Kim Dinda,”
“Terima kasih lah kamu sama mas Aydan, kalau nggak karena dia, Ayahmu nggak akan mengizinkan kamu bekerja,”
“Ibu mengirimkan makan siang juga karena sekalian nganter katering di bank seberangnya. Kamu tau ibu juga ngisi katering makan siang di bank seberang rumah sakit.” sambungnya.
Aku menghela, “Iya Dinda tau, tapi kenapa untuk Dinda dititipkan di ruangan orang itu? Ruangan Dinda ‘kan beda, Bu.”
“Ya sama aja lah, Din.” sahut ibu ringan, “Kamu nggak boleh panggil mas Aydan dengan orang itu, Dinda. Gitu-gitu umurnya jauh di atas kamu. Panggil mas kek, atau kakanda juga boleh.” kata ibu membuatku tersedak ubi cilembu.
Aku langsung menyambar air putih yang disuguhkan di depanku beserta tangan yang memegang gelasnya. Usapan lembut di punggung membuatku semakin cepat lega. Aku menghembuskan napas setelahnya.
“Mas Aydan mau sarapan?”
Aku tertegun dan langsung menoleh ke belakang.
Glek!
“Aydan sudah sarapan, Bu.” jawabnya, tak lupa senyum manis selalu menghiasi wajahnya kala di depan ibu. Membuatku mengernyitkan dahi.
Ada hubungan apa ibu dan orang ini?
“Sudah siap?” tanyanya kepadaku dengan raut wajah yang biasa saja, sangat berbeda saat dengan ibu.
Ish.
Dia bertanya tentang siap? Siap apa? Tentu saja Aku nggak siap punya Ayah baru lagi, apalagi Ayahnya mirip Kim Taehyung. Aku maunya bukan jadi Ayah tapi jadi suami. Eh!
“Dinda kalau sudah sarapannya, berangkat sana, kasian mas Aydan kalau nunggu kamu terlalu lama.” ujar ibu.
“Dinda mau naik ojek aja.” putusku tegas.
“Baiklah kalau gitu, Aydan berangkat ya, Bu.” dia mencium punggung tangan ibu, dan menyambar tasku di atas meja.
Hei!
Aku berlari kecil karena memakai sepatu pantofel, menyusul langkah kakinya yang panjang hingga sampai di depan rumah Ummi Lailatul. Napasku jadi ngos-ngosan.
Dasar! Masih pagi-pagi begini Aku dibuatnya berkeringat, untung tetap wangi.
“Dinda?” panggil suara lembut.
Aku yang tengah menunduk sontak menegakkan punggung, dan langsung tersenyum manis. “Ummi—” Aku mendekatinya untuk mencium punggung tangan wanita berwajah teduh itu.
“Sudah mau berangkat ya?” tanyanya, tangan Ummi Lailatul membenarkan jilbabku yang mungkin berantakan karena anak lelakinya itu.
“Iya, Ummi.” jawabku singkat.
“Sudah sarapan?”
Aku mengangguk sekali.
Ummi Laila menyentuh pelan plester di pipiku, “Apa masih sakit?” tanyanya. Wajah ummi Lailatul terlihat sedih.
Aku menyentuh tangan wanita paruh baya itu, “Nggak sakit lagi, Ummi. Sudah mau sembuh. Mungkin orang itu kasih obat yang paten untuk luka Dinda.”
Ummi Lailatul terkekeh, “Orang itu ya?”
Aku menggigit ujung lidahku, sepertinya Aku salah berbicara.
Tin!!!
“Allahu Akbar!” Aku terkejut karena manusia masker tiba-tiba menekan klakson.
Dasar!
Ummi Lailatul tertawa renyah, “Ya sudah berangkat sana, sepertinya mas Aydanmu sudah tidak tahan lagi menunggumu.”
“Kalau gitu Dinda berangkat sekarang ya, Ummi. Assalamu'alaikum?” ucapku.
Wanita paruh baya itu menjawab salamku sangat lengkap dan kemudian melambaikan tangannya, Aku pun membalas sebelum masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah terbuka.
Aku melengos saat netra kami bertemu di kaca spion dalam, dan menutup wajahku dengan tas. “Nggak usah lihat-lihat, Aku tahu Aku cantik.”
Ku lihat dia menaikkan sebelah alisnya, pasti di balik maskernya dia mencibirku.
\*
Sesampainya di rumah sakit Aku melihat Aira duduk di salah satu kursi tunggu di lobi rumah sakit, meski dia memakai masker Aku tetap mengenalinya.
“Kim Dinda?” dia menyadari kala Aku mendekatinya.
Aku langsung merentangkan kedua tangan, dan dia langsung memelukku. Kami berpelukan layaknya orang yang sudah lama tidak berjumpa. Sedangkan mas dokter terus berjalan menuju ruangannya.
“Gue kangen banget sama lo, Din.” ungkap Aira.
“Gue enggak, Ra.” sahutku bercanda.
Dia langsung melepaskan pelukan kami, dan mencebik. Aku tertawa jahat.
“Mana oleh-olehku?” tanpa basa-basi Aku menagihnya.
“Ada di rumah.”
“Loh—”
“Itu banyak dan berat Kim Dinda, kamu ambil sendiri.” Aira langsung menjelaskan.
“Ya deh,” jawabku pasrah, “Ra, lo kena angin Korea tambah cantik tau nggak!” pujiku sungguh-sungguh.
Aira tersipu, pipinya memerah. Ah mudah sekali membuat Aira senang.
“Ra, menu breakfast di cafe depan enak-enak loh!”
“Beneran?”
Aku mengangguk cepat.
“Oke gue pesen.” katanya, dan mengeluarkan ponsel terbarunya.
“Wih... Merek samsul nih, mentang-mentang mas Agustd brand ambassador-nya.”
Aira menutup mulutnya, malu. “Iya dong, biar samaan sama calon suami.”
Aku pun senang melihat Aira senang, “Ra, lo ke sini cuma buat ketemu gue?”
Dia terdiam, “Gue lagi nemenin mami gue besuk si Bagas,” katanya. “Kasihan banget loh Bagas, masa depannya jadi berantakan. Aku bukan nggak bela kamu ya, Din. Tapi kasihan aja sama Bagas, karena lamarannya kamu tolak dia jadi depresi dan jadi tahanan.”
Aku mengerjap, “Ra, Aku punya hubungan sama Kim Taehyung kw juga karena kamu loh!”
“Iya gue tau. Gue fleksibel kok Din, gue tengah-tengah. Gue cuma mengutarakan apa yang ada dalam hati gue aja.” ujar Aira.
Aku menatap sendu Aira. Kenapa Aira berbicara seperti itu?
“Udah deh nggak usah lebay mukanya, gue juga tau tante Ajeng nggak baik buat jadi mertua. Jauh kalau dibandingkan dengan ustadzah yang ngisi pengajian di masjid itu. Ibunya pacar lo itu loh. Ustadzah Lailatul Mukjizat kalo nggak salah gue baca di spanduk depan masjid komplek.” Aira menghiburku.
Aku menghela, “Lo nggak marah ‘kan sama gue?”
“Ya nggak lah, Din. Bagas memang sepupu gue, tapi lo sahabat gue. Lo lebih penting dalam hidup gue.” katanya membuatku tersentuh, tapi Aku tetap merasa bersalah.
“Pagi Dinda?” ucap kurir pesannya mas dokter, Kak Jonie.
Kami berdua menoleh ke arahnya, “Pagi juga, Kak.” jawabku.
Aku melihat Aira yang menatap lelaki itu tanpa berkedip.
“Kak Jon, kenalin ini sahabatku, namanya Aira. Kakak mau nggak jadi pacarnya.”
\*\*\*
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍