Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERSETUJUAN DUA HATI YANG TERLUKA
Keheningan di dalam bilik IGD bernomor tiga itu terasa begitu mencekam setelah kalimat sakral itu meluncur dari bibir Pak Handoko. Suara detak jam dinding rumah sakit seolah berdentang lebih keras, mengiringi deru napas Nazya yang mendadak memburu. Di atas brankar, tubuh janda muda itu menegang hebat. Sepasang matanya membelalak, menatap punggung ringkih ayahnya dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan rasa ngeri yang teramat sangat.
"Ayah... apa yang Ayah katakan?" suara Nazya keluar dalam bisikan parau yang bergetar hebat. "Menikah? Tidak, Ayah... Nazya tidak mau. Nazya mohon, jangan..."
Pak Handoko tidak langsung berbalik menatap putrinya. Pria tua itu tetap melayangkan pandangan lurus, mengunci sepasang mata elang Dafa Mahardika yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Pak Handoko tahu tindakan ini terkesan nekat dan egois, namun sebagai seorang ayah yang menyaksikan bagaimana hidup putrinya hancur berkeping-keping oleh mantan suaminya dulu, ia tidak punya pilihan lain. Dengan kondisi Nazya yang cacat sementara selama satu tahun ke depan, siapa yang akan menjaga dan membiayai pengobatannya jika bukan pria kaya yang telah mencelakainya ini?
Di sudut ruangan, jantung Dafa berdegup dengan ritme yang abnormal. Otak bisnisnya yang biasanya bekerja secepat kilat untuk menolak segala bentuk kerugian, mendadak lumpuh. Permintaan Pak Handoko menembus akal sehatnya, namun anehnya, tidak ada penolakan yang muncul di dalam benak Dafa. Justru, sebuah skenario besar langsung tersusun rapi di kepalanya.
Pertama, rasa tanggung jawab dan rasa bersalah yang besar karena telah membuat wanita tak bersalah ini lumpuh sementara. Kedua, rasa kasihan yang mendalam melihat kerapuhan Nazya. Ketiga—dan ini yang paling membuat ego maskulin Dafa bergejolak—adalah letupan rasa suka pada pandangan pertama yang begitu kuat. Sorot mata kosong Nazya telah mengikat ketertarikannya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Dan poin terakhir yang paling krusial: “Bulan depan kamu harus membawa calon istri ke rumah, Dafa! Jika tidak, Mami yang akan menjodohkanmu!” Ucapan sang ibu kembali terngiang. Menikahi Nazya adalah solusi instan yang sempurna. Nazya tidak tampak seperti wanita-wanita sosialita yang haus harta dan publikasi. Wanita ini rapuh, butuh perlindungan, dan Dafa memiliki segalanya untuk menyediakan hal itu.
Dafa menarik napas panjang, membetulkan posisi berdirinya hingga terkesan semakin berwibawa, lalu mengangguk pelan. "Baik. Saya menerima tawaran Anda, Pak. Saya akan menikahi Nazya dan bertanggung jawab penuh atas seluruh sisa hidupnya," ucap Dafa dengan suara baritonnya yang mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Tuan! Anda gila?!" Nazya berteriak histeris, air matanya menetes semakin deras membasahi bantal hospital. Tubuhnya bergetar hebat hingga selimut yang menutupinya ikut bergoyang. "Saya tidak mau menikah dengan Anda! Saya tidak tahu siapa Anda! Ayah, tolong jangan lakukan ini pada Nazya..."
Pak Handoko akhirnya berbalik, lalu berlutut di samping brankar putrinya. Pria tua itu menggenggam tangan Nazya yang sedingin es, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca penuh permohonan. "Nazya, dengarkan Ayah, Nak... Ayah sudah tua. Kaki Ayah juga mulai sakit-sakitan. Dengan kondisimu yang tidak bisa berjalan selama satu tahun, bagaimana kita bisa bertahan hidup? Bagaimana dengan biaya operasimu yang ratusan juta? Ayah tidak punya uang, Nak..."
"Kita bisa pinjam uang, Ayah! Nazya bisa menjahit sambil duduk, Nazya bisa bekerja apa saja asalkan tidak harus menikah lagi!" ratap Nazya dengan dada yang terasa sesak.
Melihat penolakan keras dari Nazya, ketakutan lama kembali menggerogoti jiwanya. Di dalam kepala Nazya, semua pria kaya dan berkuasa adalah jelmaan dari mantan suaminya yang dulu. Pernikahan, bagi Nazya, adalah sebuah tiket emas menuju neraka jahanam di mana ia akan disiksa secara fisik dan verbal, dibiarkan kelaparan, dan direndahkan harga dirinya tanpa ada tempat untuk mengadu. Bayangan bahwa masa depannya akan menjadi semakin hancur dan kelam kini menari-nari di pelupuk matanya.
"Nazya... Ayah mohon padamu, sekali ini saja," Pak Handoko menundukkan kepalanya hingga menyentuh tangan putrinya, bahunya terguncang hebat karena tangis. "Tuan Dafa adalah orang baik, dia mau bertanggung jawab. Demi Ayah, Nak... bersediarlah. Ayah tidak akan tenang jika mati sebelum melihatmu ada yang menjaga dalam kondisi seperti ini."
Nazya terpaku. Kalimat 'demi Ayah' dan melihat pria tua yang paling ia cintai di dunia ini menangis memohon di hadapannya, seketika menghantam dinding pertahanan Nazya hingga hancur lebur. Sepanjang hidupnya, Nazya adalah anak yang berbakti. Dia tidak pernah sekalipun menolak keputusan orang tuanya. Melihat ayahnya serendah ini demi masa depannya, membuat rasa tidak tega mengalahkan seluruh ketakutan di dalam dadanya.
Nazya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata keputusasaan mengalir deras melewati pelipisnya. Jiwanya meratapi nasibnya yang seolah dikutuk untuk selalu menderita di tangan laki-laki. Dengan suara yang nyaris habis, Nazya berbisik, "Jika... jika itu maumu, Ayah... Nazya menurut."
Mendengar persetujuan lirih itu, Pak Handoko langsung mendongak dan memeluk putrinya dengan rasa syukur yang luar biasa. Sementara itu, Dafa yang menyaksikan seluruh adegan itu dari sudut ruangan hanya bisa terdiam dengan tatapan mata yang semakin melembut namun sarat akan emosi posesif yang tak terbendung. Kamu sudah memilih untuk masuk ke dalam hidupku, Nazya. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, batin Dafa menegaskan takdir mereka.
Dafa kemudian melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang tadi ia buat. Ia menatap Pak Handoko dengan tegas. "Pak, karena kondisinya mendesak dan Nazya harus segera menjalani operasi kaki, saya ingin pernikahan ini dilaksanakan secepatnya. Besok pagi, saya akan membawa penghulu dan keluarga saya ke rumah sakit ini. Kita akan melangsungkan akad nikah secara siri terlebih dahulu di ruang rawat setelah operasinya selesai, agar saya bisa sah merawatnya di rumah saya."
Pak Handoko mengangguk setuju dengan cepat. "Baik, Tuan Dafa. Terima kasih banyak atas kebaikan hatinya."
Nazya yang mendengar rencana kilat itu hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jendela yang menyajikan pemandangan malam Jakarta yang masih diguyur hujan. Hatinya terasa sekosong malam itu. Menikah besok pagi? Dengan pria asing yang menabraknya? Nazya meremas seprai kasur dengan tangan gemetar. Ia tahu, mulai besok, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik sang CEO dingin yang kini berdiri angkuh di dekatnya.
Oke teman-teman sudah tekan tombol LIKE NYA belum?
Kalau sudah, yuk kita lanjut ke bab berikutnya.
Gaskeun,, 💪😆