NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pekerjaan Baru

 Setelah kedua penjahat itu berhasil diamankan dan akan dibawa pergi, kedua polisi itu menghampiri Yu Anqi. Dengan wajah penuh rasa hormat dan kekaguman, mereka mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan besar yang diberikannya. Tanpa kehadiran dan kemampuan Anqi, mungkin situasinya akan jauh lebih rumit.

Anqi hanya membalas ucapan terima kasih itu dengan sebuah senyuman tipis yang dingin, lalu tanpa banyak bicara ia berbalik badan dan pergi meninggalkan lokasi. Di belakangnya, orang-orang yang menyaksikan kejadian luar biasa itu memberikan tepuk tangan meriah, kagum melihat keberanian dan kemampuan bertarung gadis muda itu.

Namun, tidak ada yang menyadari bahwa di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari sana, seorang pria sedari tadi mengamati setiap gerak-gerik Anqi dengan seksama. Matanya tak lepas dari sosok gadis itu. Melihat kemampuan bertarung yang luar biasa dan ketenangan yang dimiliki Anqi, pria itu tersenyum penuh arti. Ia pun segera menyalakan mesin mobilnya dan perlahan melajukan kendaraannya, mengikuti langkah Anqi dari jarak aman.

Sesampainya di depan rumah tempat Anqi tinggal, saat ia hendak melangkah masuk ke pintu, pria itu segera memarkirkan mobilnya, turun, dan berlari mengejar Anqi.

“Nona, bisa kita bicara sebentar?” panggil pria itu dengan nada suara yang sangat ramah dan sopan.

Anqi berhenti melangkah, lalu berbalik. Di hadapannya berdiri seorang pria berpenampilan rapi dan berwibawa. Wajahnya tampan dengan senyum manis dan menawan, dibalut tubuh yang tegap dan kekar yang memancarkan aura kepemimpinan yang kuat.

“Perkenalkan, nama Saya Eric Tan. Saya dari Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA),” ucap Eric sambil tersenyum hangat, menunggu respon dari gadis di hadapannya itu.

Anqi hanya diam termenung sejenak, menatap wajah pria itu dengan tatapan datar, namun dalam hatinya mengakui bahwa pria ini memang sangat menarik dan berbeda dari orang biasa.

“Begitu… Lalu, ada keperluan apa Bapak mencari saya? Apa urusannya dengan saya?” tanya Anqi singkat, langsung pada intinya tanpa basa-basi.

Eric sedikit terkejut dengan gaya bicara Anqi yang lugas dan dingin, namun hal itu justru membuatnya semakin tertarik. Ia pun segera menjelaskan tujuannya datang ke sini.

“Saya datang ke sini karena sudah menyaksikan sendiri betapa luar biasanya kemampuan bela dirimu tadi. Saat ini, lembaga kami sangat membutuhkan orang yang berani dan ahli beladiri. Oleh karena itu, saya ingin menawarkanmu sebuah pekerjaan, apakah kamu bersedia menjadi asisten saya untuk membantu?”.

Eric berhenti sejenak, lalu tersadar ia belum mengetahui nama gadis itu.

“Kalau boleh saya tahu, siapa namamu?”

“Yu Anqi.” jawabnya singkat.

“Baiklah, Anqi. Jadi, bagaimana menurutmu? Apakah kau bersedia bekerja sama denganku?” tanya Eric kembali penuh harap.

Namun, alih-alih menjawab langsung, Anqi justru melontarkan pertanyaan polos namun sangat penting baginya saat ini.

“Kalau saya bekerja denganmu… apakah saya akan mendapatkan uang? Uang yang banyak?” tanyanya dengan wajah serius.

Eric tertawa kecil mendengar pertanyaan yang lugu itu, lalu mengangguk. “Tentu saja. Kau akan mendapatkan gaji yang layak dan besar, sesuai dengan kemampuan dan tugas yang kau lakukan nanti.”

Mendengar kata gaji dan uang, mata Anqi seketika berbinar. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menjawab dengan tegas.

“Baiklah. Aku setuju. Aku mau bekerja denganmu.”

Wajah Eric langsung dipenuhi rasa gembira mendengar persetujuan itu. “Bagus sekali! Kalau begitu, bolehkah saya meminta nomor handphone mu? Supaya kita bisa saling menghubungi.”

Anqi tampak bingung sesaat, ia hanya mengulurkan benda pipih pemberian An Na itu ke arah Eric. “Ini. Aku tidak tahu nomornya.”

Eric tersenyum maklum melihat ketidaktahuan gadis itu. Ia mengambil ponsel itu, menekan beberapa tombol, dan memasukkan nomornya sendiri ke dalam perangkat itu, lalu mengirimkan panggilan singkat ke ponselnya sendiri agar nomor Anqi tersimpan.

“Selesai. Sekarang nomorku sudah ada di ponselmu, dan nomormu sudah ada di ponselku. Aku akan menghubungimu besok pagi, jadi pastikan kau sudah siap ya,” ucap Eric sambil mengembalikan handphone itu ke tangan Anqi.

“Terima kasih banyak, sampai jumpa besok,” pamit Eric sambil tersenyum lebar, lalu berjalan kembali menuju mobilnya dan pergi.

Anqi menatap mobil yang menjauh itu sambil menggenggam ponselnya erat. “Akhirnya… uang akan datang,” gumamnya pelan dan masuk ke dalam rumah.

Perusahaan Desain

 Suasana di ruang rapat terasa hening dan penuh wibawa saat para petinggi perusahaan sedang duduk mengelilingi meja besar. An Na masuk dengan nampan di tangannya, berjalan pelan sambil menyuguhkan teh hangat satu per satu kepada para pimpinan. Ia berusaha bersikap sopan dan profesional, meski hatinya terasa berat melakukan pekerjaan yang bukan keahliannya ini.

Namun, saat ia sedang menyuguhkan teh ke salah satu direktur bernama Pak Cheng, pria paruh baya itu tiba-tiba mengulurkan tangannya secara sembunyi dan berani menyentuh paha An Na dengan tangan kotornya itu.

An Na tersentak kaget. Darah mendidih seketika memenuhi kepalanya. Rasa jijik dan marah meledak dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, tangan An Na bergerak cepat. Ia langsung menuangkan teh panas itu tepat mengenai tangan Pak Cheng.

PRANG! Cangkir teh itu terjatuh dan pecah di lantai.

“Ahhh! Panas! Dasar gadis tidak tahu diuntung!” Pak Cheng berteriak kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang memerah, wajahnya memerah karena marah dan malu diperhatikan semua orang di ruangan itu.

“Kau gila ya?! Apa-apaan ini?!” bentak Pak Cheng dengan wajah bengis, bangkit dari kursinya. “Kau mau membakar kulitku hah?!”

An Na menatapnya dengan tatapan tajam tanpa rasa takut sedikit pun. Ia tidak menunduk atau meminta maaf, malah menjawab dengan suara tegas dan bergetar menahan amarah.

“Saya tidak salah, Pak! Bapak sendiri yang mulai bertindak tidak sopan dan menyentuh saya! Saya hanya membela diri dari perbuatan Bapak yang tidak tahu malu itu!”

“Berani sekali kau menuduhku?! Aku tidak menyentuhmu sama sekali! Kau yang ceroboh dan tidak becus bekerja!” hardik Pak Chen berbohong, berusaha memutarbalikkan fakta di hadapan semua orang. “Hanya seorang pelayan rendahan, kau sudah berani kurang ajar padaku!”

“Kalau Bapak tidak melakukannya, saya tidak mungkin melakukan hal ini!” balas An Na tak kalah keras. “Saya bekerja di sini untuk mencari nafkah dengan halal dan hormat, bukan untuk dijadikan mainan kotor orang seperti Bapak!”

Suasana ruang rapat menjadi riuh. Manajer yang ada di sana langsung berdiri dan menegur An Na dengan nada tinggi, berpihak pada direktur tersebut demi menjaga nama baik perusahaan.

“Cukup An Na! Kau sudah keterlaluan! Berani-beraninya kau melukai Pak Cheng dan membuat keributan di ruang rapat ini!”

“Saya hanya membela diri, Pak! Saya tidak bersalah!” elak An Na lagi.

Namun Pak Manajer langsung menunjuk ke arah pintu dengan wajah marah. “Pergi! Keluar dari sini! Mulai detik ini juga kau dipecat. Sekarang keluar sebelum aku menyuruh satpam menyeretmu keluar!”

An Na menarik napas panjang, menelan rasa kecewa yang luar biasa. Ia tahu perdebatan ini sia-sia, kekuasaan ada di tangan mereka. Namun, ia sama sekali tidak menyesal. Ia lebih baik kehilangan pekerjaan ini daripada harus kehilangan kehormatan.

“Baiklah. Saya pergi,” ucap An Na dingin.

Setelah berkata demikian, An Na berbalik dan berjalan tegak keluar dari ruang rapat, meninggalkan para bos yang terdiam melihat keberaniannya. Ia pergi meninggalkan gedung tanpa pekerjaan apa pun, namun hatinya lega karena berhasil menjaga kehormatannya.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!