NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 : Warung Bakso

Dara berkedip beberapa kali. Pria di hadapannya tampak tinggi dan rapi. Meski hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan tergulung, ada aura berbeda yang sulit dijelaskan.

"Eh..." Dara langsung duduk lebih tegak. "Iya?"

Pria itu tersenyum ramah. "Boleh duduk sini?"

Dara sempat bingung. Ia melirik kursi kosong di depannya lalu kembali menatap pria itu.

"Silahkan."

Pria itu pun duduk.

Beberapa detik suasana menjadi canggung. Dara bahkan mulai bertanya-tanya apakah ia mengenal pria tersebut. Namun seingatnya tidak.

Pria itu melirik map di pangkuan Dara. "Lagi cari kerja ya?"

Pertanyaan itu membuat Dara sedikit terkejut. Ia menunduk melihat map CV miliknya.

"Hmm..." Dara tersenyum tipis. "Kelihatan ya?"

"Iya" Pria itu terkekeh pelan. "Map CV-nya udah kayak habis perang."

Kini Dara tertawa kecil, meski hanya sebentar. "Iya juga sih."

Pria itu mengulurkan tangan. "Kenalin. Aku Aldi."

Dara ragu sesaat sebelum membalas uluran tangan itu. "Dara."

"Senang berkenalan dengan kamu, Dara."

Mereka berjabat tangan singkat. "Udah berapa lama cari kerja?" tanya Aldi.

Dara menghela napas. "Udah tiga hari."

"Udah ada hasilnya?"

Dara tersenyum pahit. "Belum."

Aldi mengangguk pelan. "Ditolak terus ya?"

Dara tertawa hambar. "Kalau ditolak ada hadiahnya mungkin saya udah juara."

Kalimat itu terdengar bercanda, tapi mata Dara tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang ada di sana.

Aldi memperhatikannya beberapa saat. Kemudian bertanya dengan hati-hati. "Kalau boleh tahu... kenapa sampai kelihatan capek banget?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat hati Dara terasa sesak. Sudah lama tidak ada yang benar-benar menanyakan keadaannya. Selama ini semua orang hanya berkata sabar. Tapi tidak pernah bertanya bagaimana perasaannya.

Dara menunduk. Jarinya meremas gelas es teh. "Saya habis kena PHK."

Aldi diam mendengarkan.

"Ibu saya sedang dirawat di rumah sakit." Suara Dara mulai melemah. "Tabungan saya sudah habis, tapi saya harus bayar biaya rumah sakit." Ia mencoba tersenyum.

Namun senyum itu justru terlihat menyakitkan. "Jadi sekarang saya sedang mencari kerja apa saja, asal menghasilkan."

Aldi tidak langsung menjawab, tatapannya berubah serius. Ia bisa melihat kelelahan yang disembunyikan Dara. Lingkaran hitam di bawah mata, wajahnya pucat.

Dan cara gadis itu berusaha terlihat baik-baik saja. Padahal jelas tidak, beberapa detik kemudian Aldi memanggil pemilik warung.

"Bu."

"Iya, Nak?"

"Tolong tambah satu mangkuk bakso spesial."

Dara langsung mengangkat kepala. "Oh, nggak usah..."

"Untuk saya." Aldi menyela cepat.

Dara terdiam.

Lalu Aldi melanjutkan dengan wajah polos. "Soalnya saya masih lapar."

Dara memandangnya curiga, tapi Aldi terlihat sangat serius. Sampai akhirnya beberapa menit kemudian bakso itu datang. Namun setelah bakso diletakkan di meja...

Aldi justru mendorong mangkuk itu ke depan Dara. "Nih makan."

Dara melongo. "Buat saya?"

Aldi mengangguk santai. "Iya."

"Nggak deh makasih."

Aldi menatap heran. "Kenapa?"

"Saya nggak punya uang buat bayar."

Aldi hampir tertawa. "Kan saya yang bayar."

"Itu tetap nggak enak."

Aldi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau gitu anggap aja saya lagi sedekah."

Dara langsung menggeleng. "Nggak mau."

"Kenapa?"

"Saya nggak suka dikasihani." Jawaban itu keluar begitu cepat.

Aldi menatap Dara cukup lama. Lalu tersenyum tipis. "Saya memberi bukan karena kasihan."

"Terus, karena apa?"

Aldi menunjuk mangkuk bakso itu. "Saya nggak bisa makan sendirian."

Dara terdiam. Akhirnya setelah beberapa detik, Dara menyerah.

"Terima kasih..." ucapnya pelan.

Aldi tersenyum. "Nah gitu.dong, rejeki nggak boleh di tolak."

Dara mulai menyendok kuah bakso. Begitu kuah hangat itu masuk ke mulutnya, perutnya langsung terasa nyaman. Baru saat itulah ia sadar, ternyata ia memang sangat lapar.

Aldi memperhatikannya diam-diam. Lalu tersenyum kecil, setidaknya hari ini... gadis itu makan. Namun jauh di dalam pikirannya, Aldi mulai memikirkan sesuatu yang lain.

Karena sebenarnya, ia bukan karyawan biasa yang sedang kabur makan siang. Dan pertemuan mereka hari ini mungkin bukan kebetulan semata.

Saat Dara sibuk menghabiskan baksonya, ponsel Aldi yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Layar ponselnya menyala. Sebuah pesan masuk.

Dara tidak sengaja melirik, dan matanya langsung membelalak. Karena di layar itu tertulis:

"Pak Aldi, seluruh direksi sudah menunggu Anda."

Sendok di tangan Dara langsung berhenti di udara. "Pak... Aldi?" bisiknya pelan.

Sedangkan Aldi hanya menatap layar ponselnya sambil memejamkan mata. "Astaga." Ia menggaruk kepalanya. "Kebiasaan nih sih Bos."

Dara masih menatap layar ponsel Aldi dengan bingung. Direksi? Bukankah direksi biasanya hanya menunggu orang-orang penting di perusahaan?

Belum sempat Dara bertanya lebih jauh, Aldi sudah menghela napas panjang sambil mematikan layar ponselnya.

"Aduh..." gumamnya pelan.

"Ada apa?" tanya Dara hati-hati.

Aldi tersenyum tipis. "Biasa kerjaan."

"Hm..." Dara mengangguk pelan meski rasa penasarannya semakin besar.

Aldi kemudian melihat jam tangannya. Dan seketika ekspresinya berubah. "Astaga."

"Kenapa?"

"Saya telat."

Dara hampir tertawa melihat wajah panik pria itu. Padahal sejak tadi Aldi terlihat santai sekali. Aldi langsung berdiri dari kursinya.

"Dara, saya pamit dulu ya."

Dara ikut berdiri refleks. "Oh... iya."

"Ada hal penting yang harus saya urus."

Dara mengangguk.

Kemudian Aldi merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Ia meletakkannya di atas meja tepat di depan Dara.

"Oh ya."

Dara menatap kartu itu.

"Kalau kamu masih berminat melamar kerja, kamu bisa datang ke alamat yang tertera di situ."

Dara berkedip. "Kerja?"

Aldi mengangguk santai. "Iya."

"Tapi..."

"Saya tunggu besok."

Dara masih belum mengerti.

Aldi lalu menunjuk map CV yang berada di pangkuan Dara. "Oh ya satu lagi."

"Hm?"

"Tolong buatkan CV baru yang lebih rapi."

Dara langsung menunduk melihat map kusut miliknya. Wajahnya memerah malu.

Aldi terkekeh pelan. "Percaya deh, CV itu kesannya udah capek duluan sebelum dibaca."

Dara spontan memukul pelan mapnya sendiri.

Aldi kembali tersenyum. "Besok kalau berminat, datang aja." Ia melangkah mundur beberapa langkah. "Saya permisi, Dara."

"Terima kasih... Pak Aldi."

Aldi mengangkat alis. "Pak?"

Dara langsung salah tingkah. "Eh..."

Aldi tertawa kecil. "Panggil Aldi aja."

Lalu tanpa memberi kesempatan Dara menjawab, ia berjalan menuju kasir warung. Dara memperhatikannya dari kejauhan. Aldi berbicara sebentar dengan pemilik warung, lalu membayar seluruh pesanannya. Bahkan diam-diam ia membayar es teh Dara juga.

Setelah itu ia melangkah menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari warung.

Dara yang melihatnya langsung membelalak. "Itu mobilnya..."

Mobil itu jelas bukan mobil murah. Seorang pria berjas bahkan terlihat buru-buru membukakan pintu untuk Aldi.

Dara semakin bingung. "Siapa sebenarnya dia?"

Mobil itu kemudian melaju pergi meninggalkan warung. Menyisakan Dara yang masih memegang kartu nama di tangannya. Perlahan ia menunduk dan membaca tulisan yang tercetak di sana.

Awalnya ekspresinya biasa saja. Namun beberapa detik kemudian, matanya membesar. Mulutnya terbuka sedikit, jantungnya berdebar kencang.

Karena di kartu nama itu tertulis:

ALDI PRATAMA Direktur Operasional PT. Dirgantara Group

"Direktur Operasional?" bisik Dara tidak percaya.

Tangannya sampai gemetar. Ia membalik kartu nama itu beberapa kali seolah memastikan dirinya tidak salah baca. Tapi tulisannya tetap sama. Dara langsung teringat kembali semua percakapan mereka tadi.

Pria itu adalah bekerja di salah satu perusahaan besar di kota tersebut. Dara menatap alamat kantor yang tertera di kartu nama itu.

Dadanya berdebar semakin kencang. Besok, ia hanya memiliki satu kesempatan setelah berhari-hari ditolak di mana-mana. Muncul secercah harapan kecil di dalam hatinya.

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!