⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sistem nilai suka
Langit dunia asing itu masih berwarna ungu dengan tiga bulannya yang menggantung seperti lentera raksasa. Tapi di atas sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, berdiri sebuah kastil megah yang sama sekali tidak cocok dengan lanskap sekitarnya. Dindingnya berkilau keemasan, menaranya menjulang dengan ukiran-ukirannya rumit khas arsitektur para dewa, dan di gerbangnya terdapat patung rubah berekor sembilan yang terbuat dari batu giok biru.
Siapa pun yang melihatnya akan bertanya-tanya bagaimana kastil semegah ini bisa muncul tiba-tiba di tengah padang rumput berpendar yang asing.
Jawabannya sederhana: Lucy sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari.
Di dalam kastil, tepatnya di taman belakang yang dikelilingi bunga-bunga bercahaya lembut, sang pemilik kastil sedang berbaring malas di atas kursi anyaman panjang. Satu tangannya menyangga kepala, sementara tangan lainnya sesekali meraih anggur ungu dari mangkuk emas di meja kecil di sampingnya.
"Ah... beginilah seharusnya kehidupan dewi," gumam Lucy, memasukkan sebutir anggur ke mulutnya. Matanya setengah terpejam, sembilan ekornya bergerak-gerak pelan seperti gelombang malas. "Tidak ada sidang. Tidak ada kakak pertama yang galak. Tidak ada tatapan menghakimi."
Di atas meja yang sama, seekor kucing putih bernama Lili yang ternyata adalah sistem dunia ikut menikmati hidangannya sendiri. Bukan anggur, melainkan semangkuk kecil susu segar yang entah dari mana Lucy dapatkan. Lili menjilat susu itu dengan anggun, telinganya sesekali bergerak menangkap suara dengungan serangga malam.
"Kau benar-benar sudah merencanakan pelarian ini dengan matang, ya," kata Lili di sela jilatannya. "Bahkan menyimpan seluruh kastil dalam cincin penyimpanan."
Lucy terkekeh, mengangkat tangan kirinya untuk memamerkan cincin perak dengan batu safir biru di jari telunjuknya. "Tentu saja. Kau pikir aku akan pergi tanpa membawa rumah? Aku ini rubah, Lili. Rubah ekor sembilan. Kami tidak bisa tinggal di sembarang tempat."
"Maksudmu kau tidak mau tinggal di sembarang tempat."
"Itu juga." Lucy meraih anggur lagi. "Lagipula, lihat ini semua. Emas, permata, giok, kristal... Semua ini ku kumpulkan selama ribuan tahun. Mana mungkin kutinggalkan begitu saja untuk Kakak Pertama sita?"
Lili mengangkat kepalanya dari mangkuk susu, kumisnya basah. "Kau tahu, sifatmu ini mirip sekali dengan naga. Rubah ekor sembilan dan naga itu hampir sama dalam hal menyukai benda berkilau."
"Aku lebih tinggi dari naga, Lili. Aku dewi." Lucy mendengus sombong, tapi senyumnya tetap lebar. "Tapi ya, kau benar. Benda-benda berkilau ini membuatku nyaman. Semakin banyak emas di sekitarku, semakin tenang tidurku."
Lili menjilat kakinya dan membersihkan wajahnya. "Jadi, Tuanku. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Pertanyaan itu membuat Lucy menghentikan kunyahannya. Dia menatap tiga bulan di langit ungu, matanya menerawang. "Pertanyaan bagus. Sejujurnya... aku belum memikirkannya."
"Belum memikirkannya?"
"Aku terlalu sibuk merencanakan pelarian, tahu!" Lucy melempar satu anggur ke arah Lili, tapi kucing itu dengan mudah menangkapnya dengan cakar. "Menyusun rencana pertukaran dirimu dengan kucing penjaga itu tidak mudah. Aku harus memastikan waktunya pas, portalnya tersedia, dan kastil ini sudah aman di dalam cincin. Jadi soal apa yang akan kita lakukan setelah kabur... ya, itu bagian yang belum sempat kupikirkan."
Lili menggelengkan kepala. "Khas sekali."
"Hei, setidaknya pelarian kita berhasil."
"Untuk sekarang." Lili melompat dari meja, mendarat dengan lembut di samping kursi Lucy. Ekornya bergerak-gerak. "Kita tidak bisa selamanya bersembunyi. Kakak Pertamamu tidak akan berhenti mencari. Bahkan mungkin sekarang keenam saudaramu sudah menyebar ke berbagai dunia."
Lucy mendesah dramatis. "Kau benar. Tapi aku juga tidak mau kembali." Dia meraih beberapa butir anggur dan memakannya sekaligus. "Aku tidak mau dikurung sepuluh abad di kastil membosankan itu. Lebih baik aku hidup sebagai buronan daripada mati kebosanan."
"Secara teknis, dewi tidak bisa mati karena bosan."
"Ini metafora, Lili."
Kucing putih itu mendengus. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita pikirkan bersama. Apa yang ingin kau lakukan, Tuanku? Apa yang membuatmu bersemangat?"
Lucy terdiam sejenak. Apa yang membuatnya bersemangat? Pertanyaan itu sebenarnya sederhana, tapi dia jarang memikirkannya secara serius. Sebagai Dewi Rubah, gabungan dari kesialan, keberuntungan, dan kecantikan, Lucy selalu hidup mengikuti instingnya. Dia menyukai keramaian, sensasi baru, dan... manusia.
"Manusia," katanya akhirnya.
"Manusia?"
"Ya. Aku suka manusia. Mereka makhluk yang paling menarik. Hidup mereka singkat, tapi justru karena itu mereka begitu bersemangat. Mereka mencintai dengan gila, membenci dengan membara, tertawa sampai menangis, dan menangis sampai tertawa." Mata biru Lucy berkilat. "Ditambah lagi, mereka mudah digoda. Dan aku suka menggoda mereka."
Lili memiringkan kepalanya. "Jadi... kau ingin kembali ke alam manusia?"
"Itu pasti akan dicari oleh Kakak Pertama. Dia tahu aku tidak bisa menjauh dari manusia terlalu lama."
"Tapi kau bisa menyembunyikan keberadaan kita," kata Lili tiba-tiba.
Lucy menoleh. "Apa maksudmu?"
Lili duduk tegak, posturnya berubah dari kucing biasa menjadi sesuatu yang lebih... serius. Mata birunya menatap Lucy dengan intensitas yang jarang diperlihatkan. "Tuanku, aku ini sistem dunia. Salah satu kemampuanku adalah menyembunyikan keberadaan kita dari pelacakan dewa mana pun, bahkan dari Kakak Pertamamu sekalipun."
Mata Lucy membulat. "Kau serius?"
"Serius." Lili mengangkat satu cakarnya. "Tapi ada syaratnya."
"Selalu ada syaratnya," gerutu Lucy. "Baiklah, apa syaratnya?"
"Aku butuh energi. Sama seperti transportasi yang butuh bensin, aku juga butuh tenaga untuk beroperasi. Menyembunyikan keberadaan kita, berpindah dunia, memodifikasi realitas dan semua itu membutuhkan energi. Dan saat ini, energiku tidak dalam level maksimal."
Lucy mengerutkan kening. "Lalu bagaimana cara mengisi energimu?"
Lili tersenyum dan sebuah ekspresi yang aneh untuk dilihat pada wajah kucing. "Di situlah idemu nanti akan berguna."
"Apa maksudmu?"
"Energi yang aku butuhkan berasal dari emosi manusia. Bisa emosi positif, bisa juga negatif. Tapi yang paling kuat adalah..." Lili menjeda kalimatnya, "...nilai suka dan nilai kebencian."
Lucy terdiam, mencerna informasi itu. Lalu perlahan, sebuah senyum mulai terbentuk di bibirnya. Senyum yang licik, yang centil, yang sangat-sangat khas Lucy.
"Nilai suka," ulangnya. "Jadi kau butuh manusia untuk menyukaiku? Atau membenciku?"
"Bisa keduanya. Tapi nilai suka biasanya lebih stabil dan lebih mudah dikumpulkan. Kebencian memang kuat, tapi terlalu berisik dan bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan."
Lucy bangkit dari kursi malasnya, kini berdiri dengan penuh semangat. Kesembilan ekornya bergerak-gerak antusias. "Lili, aku baru saja dapat ide brilian."
"Aku sudah menduganya dari caramu tersenyum."
"Bagaimana kalau kita menjadi... sistem?" Lucy berbalik menghadap Lili, tangannya terentang lebar. "Kau sendiri bilang kau adalah sistem dunia. Dan aku adalah dewi yang suka menggoda manusia. Bagaimana kalau kita menggabungkan kedua hal itu? Kita masuk ke tubuh manusia di dunia-dunia paralel, lalu mengumpulkan nilai suka untuk mengisi energimu!"
Lili mengedipkan mata birunya. "Kau... ingin menjadi sistem?"
"Bukan sistem biasa. Sistem nilai suka!" Lucy terkekeh. "Aku akan membantu pemilik tubuh yang kutempati. Meningkatkan penampilan mereka, membuat mereka lebih menarik, mengajari mereka cara menggoda, dan sebagai gantinya... kita kumpulkan nilai suka dari orang-orang di sekitar mereka. Setiap kali seseorang menyukai mereka, energimu terisi. Setiap kali seseorang jatuh cinta... bonus!"
Lili terdiam beberapa saat. Roda-rodanya tampak berputar. "Itu... sebenarnya ide yang cukup bagus."
"'Cukup bagus'? Itu ide jenius!"
"Tapi ada kelemahannya," sambung Lili cepat. "Kita tidak bisa asal masuk ke tubuh manusia sembarangan. Harus ada kontrak, ikatan yang jelas. Dan satu hal lagi..."
"Apa?"
Lili menatap Lucy dengan serius. "Pemilik tubuh yang kau tempati biasanya adalah orang-orang yang memiliki dendam. Keinginan membalas dendam adalah salah satu pemicu terkuat untuk memanggil sistem. Jadi selain mengumpulkan nilai suka, kau mungkin juga harus... membantu mereka membalaskan dendamnya."
Lucy mengangkat alis. "Membalaskan dendam? Itu terdengar menyenangkan."
"Dan nilai kebencian dari musuh-musuh mereka juga bisa menjadi sumber energi tambahan untukku," lanjut Lili. "Seperti yang kukatakan tadi, kebencian memang berisik, tapi dalam dosis yang tepat, dia sangat kuat. Kombinasi nilai suka dari pengagum dan nilai kebencian dari musuh... itu akan menjadi bahan bakar yang sempurna."
Lucy bertepuk tangan. "Sempurna! Jadi kita akan menjadi tim yang luar biasa. Aku yang menggoda dan mengumpulkan nilai suka, kau yang mengelola sistem dan energinya. Dan sambil lalu, kita bantu pemilik tubuh membalas dendam pada orang-orang yang menyakitinya."
"Kedengarannya seperti plot novel," komentar Lili datar.
"Memang! Dan aku suka novel!" Lucy tertawa. "Dunia paralel yang berbeda-beda... Itu seperti membaca ratusan novel sekaligus, hanya saja aku yang menjadi pemeran utamanya!"