Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perihal perjodohan
Sarapan pagi yang biasanya dihiasi canda gurau mendadak terasa senyap. Tidak ada yang membuka suara.
Kaluna yang semula berniat kembali meminta izin pun mengurungkannya saat melihat wajah sendu Raynand, sang Papa.
Mereka semua sudah rapi dengan pakaian masing-masing. Kaluna dengan seragam kebanggaannya, sementara Rafanza dan Raynand mengenakan setelan kerja yang membuat keduanya terlihat berwibawa dan berkarisma. Meski usianya tidak lagi muda, Raynand masih tampak gagah dan segar.
Sejenak Kaluna dan Rafanza saling berpandangan. Keduanya saling memberi kode hingga akhirnya Rafanza lebih dulu membuka suara, memecah keheningan di antara mereka.
“Oh ya, Pah... hari ini Rafa ada meeting di Jogja. Papa ada yang mau dititipkan nggak?” tanya Rafanza basa-basi.
Raynand meletakkan sendoknya. Pria paruh baya itu mendongak menatap kedua anaknya satu per satu.
Rafanza tampak menatapnya penuh harap, sementara Kaluna tetap menunduk tanpa berani menatap sang Papa.
Sungguh, Raynand tidak ingin bersikap seperti ini. Namun demi keselamatan putrinya, ia harus tetap tegas.
“Tidak usah,” jawab Raynand singkat seraya bangkit dari kursinya, membuat Kaluna yang sedari tadi tertunduk langsung mendongak.
“Papa berangkat dulu. Hari ini ada rapat penting dengan dewan direksi. Kalau sudah sampai di Jogja, segera beri kabar Papa,” suudh Raynand.
“Baik, Pah,” sahut Rafanza.
Raynand mengangguk singkat sebelum meninggalkan ruang makan.
Kaluna menghela napas. Nafsu makannya seketika menghilang. “Hah, kayaknya Kakak nggak mungkin bisa dapat izin ikut ke Papua deh, Dek,” ucapnya lesu.
Rafanza ikut bangkit dari kursinya lalu tersenyum samar. “Kalau begitu nggak usah berangkat. Lagian mau ngapain jauh-jauh ke sana? Mending nikah aja sama anaknya Om Kaivan,” godanya.
Kaluna langsung mencebik kesal. “Dih!”
“Kurang apa coba? Dijamin Kakak bakal kaya tujuh turunan,” ujar Rafanza, kembali menggoda kakaknya.
“Gila aja. Ya kali orang kaya mau dijodohin. Iya kalau dia mau sama Kakak, kalau ternyata cuma terpaksa terus ujung-ujungnya selingkuh gimana?” balas Kaluna.
Rafanza tertawa mendengar keluh kesah kakaknya. Ia pun merasa kasihan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Membantu bicara di saat seperti ini pun terasa percuma.
“Sabar, Kak. Nanti aku coba bantu bicara sama Papa lagi, ya. Ya udah, aku berangkat dulu.”
Kaluna mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan ya, Dek.”
“Iya, Kak.”
Lagi-lagi Kaluna harus bersabar. Ia tidak boleh terlalu memaksa karena hal itu hanya akan membuat Papanya semakin terluka.
Sebelum berangkat, Kaluna melangkah menuju kamar Raynand. Di atas nakas masih berdiri foto Kirana yang selalu dirawat dengan baik oleh sang Papa. Kaluna menatap foto itu cukup lama.
“Mah, doain Luna ya. Semoga Papa mau kasih izin buat Luna,” ucap Kaluna seraya mengusap bingkai foto sang Mama.
“Luna berangkat dulu. Luna sayang Mama,” pamit Kaluna
Bohong jika setiap kali berbicara di depan foto Kirana, Kaluna tidak menangis. Jika tidak ditahan, air matanya pasti sudah mengalir deras. Ia hanya berusaha terlihat kuat agar Papa dan adiknya tidak terus larut dalam kesedihan.
Bagaimanapun, ia adalah anak pertama. Bahunya dituntut sekuat baja agar bisa menjadi sandaran bagi Papa dan adiknya.
Beruntung kini Rafanza sudah dewasa. Pemuda itu begitu bijaksana hingga terkadang Kaluna merasa melihat sedikit sosok Kirana dalam dirinya.
Tepat pukul tujuh pagi, Kaluna dan Rafanza meninggalkan pelataran rumah, menyusul Raynand yang sudah lebih dulu berangkat bekerja.
Sebenarnya Kaluna dan Rafanza pernah meminta Papanya untuk mengurangi kesibukan dan lebih banyak beristirahat.
Namun mereka membiarkannya. Mungkin dengan tetap sibuk mengurus perusahaan, Raynand bisa sedikit mengalihkan pikirannya dari rasa kehilangan yang masih tersisa hingga hari ini.
...****************...
Terkadang Raynand masih membayangkan jika Kirana masih ada. Pastilah kini mereka hidup bahagia menikmati hari tua bersama, menyaksikan anak-anak mereka yang sudah sukses dengan pekerjaan masing-masing.
Namun lagi-lagi itu hanya sebuah angan.
Nyatanya, Raynand harus bertahan dalam kesendirian selama sebelas tahun terakhir, berusaha bangkit dari luka yang begitu menyiksa setelah kepergian Kirana.
Beruntung kini ia masih bisa menyaksikan Kaluna dan Rafanza tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan. Meski keputusan Kaluna menjadi prajurit TNI-AD sempat membuat Raynand marah Besar.
Bukan karena ia tidak mendukung putrinya menjadi dokter. Justru keluarga besar mereka banyak berkecimpung di dunia medis, dan perusahaan yang dipimpinnya pun bergerak di bidang kesehatan.
Namun, status Kaluna sebagai prajurit TNI-AD selalu membuatnya dihantui rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya.
Lamunan Raynand buyar manakala dering ponselnya menggema. Pria itu menatap layar ponselnya yang terus berkedip menampilkan nama Kaivan di sana. Tanpa menunggu lama, ia segera menjawab panggilan telepon dari sahabatnya itu.
“Assalamu'alaikum, Kai,” sapa Raynand.
“Wa'alaikumsalam, Ray. Apa kabar? Lagi sibuk?” tanya Kaivan di seberang telepon.
“Nggak, Kai. Alhamdulillah aku baik. Kebetulan aku sekarang lagi di jalan mau ke kantor,” jawab Raynand. Kini ia diantar oleh sopir pribadinya atas perintah Kaluna dan Rafanza yang melarangnya menyetir sendiri.
Keduanya saling bertukar cerita. Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu.
Terakhir kali mereka berkumpul saat memperingati lima tahun kepergian Kirana beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, kesempatan untuk bertemu semakin sulit didapatkan.
Obrolan mereka diselingi canda gurau hingga tak lama kemudian percakapan berubah menjadi lebih serius.
“Jadi menurut kamu bagaimana, Ray? Kaluna sudah bisa dipastikan belum?” tanya Kaivan.
Raynand menghela napas pelan sambil menatap jalanan di balik kaca mobil.
“Aku bisa menjamin kalau Kaluna mau. Sekarang bagaimana dengan Kevan, Kai?” tanya Raynand balik.
“Aku juga yakin Kevan akan setuju. Tapi bisa nggak kita kasih waktu dulu buat mereka? Selama beberapa bulan ini aku membiarkan Kevan melakukan apa yang ia suka. Setelah itu, ia harus mau menerima perjodohan ini,” usul Kaivan.
Raynand mulai menimbang-nimbang usulan tersebut. Haruskah ia melakukan hal yang sama? Memberi waktu kepada Kaluna sebelum benar-benar terikat dalam sebuah hubungan. Namun pemikiran itu segera buyar.
“Kai, apa kamu yakin ini akan berhasil? Nggak masalah kalau kita menjodohkan mereka?” tanya Raynand khawatir.
Mungkin ia bisa membuat Kaluna setuju. Tapi bagaimana dengan Kevan? Semua orang tahu jika putra pertama Kaivan itu pria tampan yang dingin dan sulit ditebak. Lantas bagaimana nantinya kehidupan mereka jika benar-benar menikah?
“Sudahlah, kamu nggak usah terlalu khawatir, Ray. Biar itu jadi urusanku,” sahut Kaivan meyakinkan.
“Kalau Kalvin bagaimana, Kai?” tanya Raynand tiba-tiba teringat pada putra kedua sahabatnya itu yang seusia dengan Kaluna.
Terdengar Kaivan menghela napas panjang.
“Ya begitulah, Ray. Sama seperti Kaluna, Kalvin juga masih sibuk dengan pekerjaannya sebagai tentara. Aku yakin ia juga belum memikirkan soal pernikahan. Anak itu memang lebih ramah dibanding Kevan, tapi kalau soal perempuan, ia sama keras kepalanya,” keluh Kaivan.
Raynand terkekeh mendengar penjelasan tersebut. Tak lama kemudian mobil yang ditumpanginya memasuki area kantor. Mau tidak mau, ia harus mengakhiri percakapan itu.
“Kita sambung lain waktu ya, Kai. Nanti aku kabarin lagi. Sekalian aku coba bicara sama Kaluna.”
“Oke, Ray.”
Setelah berpamitan, Raynand mengakhiri panggilan telepon mereka.
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗