Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama : Payung Pink Di Tengah Hujan
Perintah Bibi Asih dan Dua Kresek Penuh - Jam 13.30 WIB
Langit udah item dari jam 12 siang. Awan tebel kayak kapas basah. Tapi Bibi Asih ngotot.
"Kirana, cepet ganti jilbab. Ikut Bibi ke pasar. Cabe abis. Bawang abis. Minyak juga tinggal dikit. Santri mau makan siang" Bibi Asih nglempar jilbab segi empat warna pudar ke muka Kirana.
Kirana lagi ngelipet mukena abis sholat dzuhur. "Bi... hujannya mau deres Bi. Langitnya item"
"Udah nggak usah banyak alesan! Kamu tuh anak, nurut aja! Kalo telat masak, yang dimarahin Bibi, bukan kamu!" Bibi Asih udah pake sandal jepit, bawa payung batik sobek di ujungnya.
Kirana diem. Ngambil jilbab, pake asal-asalan. 10 tahun nurut udah jadi kebiasaan. Badannya nurut, hatinya nggak.
Pasar Wonosari jaraknya 2 kilo dari pondok. Jalan kaki. Nggak ada angkot siang-siang.
"Bawa kresek dua ya. Yang kuat. Jangan kayak mamamu dulu, beli sayur aja tumpah-tumpah, akhirnya masuk jurang!" Bibi Asih nyengir nyindir.
Kirana nunduk. "Iya Bi"
Dua kresek gede. Satu isinya belanjaan minggu lalu yang numpuk: beras 5 kilo, gula 2 kilo, terigu. Satu lagi kosong buat belanjaan baru. Berat. Talinya neken tangan Kirana sampe merah.
Mereka jalan. Baru 500 meter, langit kebuka. _Craaaak_ petir. Terus hujan turun. Deres banget. Kayak ember jebol.
"Jalan cepet Kirana! Bibi nggak mau kehujanan!" Bibi Asih jalan paling depan, payungnya nutupin dia doang. Kirana di belakang, kehujanan. Dua kresek dipeluk ke dada.
Jilbabnya basah kuyup. Air masuk ke mata. Perih. Tapi Kirana diem. Nggak ngeluh. Udah 10 tahun latihan diem.
Sampe di pasar, hujannya makin gila. Angin kenceng. Payung Bibi Asih kebalik, rangkanya patah.
"Dasar payung sialan! Sama kayak kamu Kirana! Bawa apes aja!" Bibi Asih nyalahin payung, nyalahin Kirana.
Mereka masuk gang pasar. Becek. Lumpur sampe mata kaki. Bibi Asih milih cabe, bawang, minyak. Semua dimasukin ke kresek Kirana.
"Nih, pegang yang kenceng. Kalo jatuh, ganti sendiri pake gaji kamu. Gaji kamu kan nggak ada, ya udah kerja rodi aja di sini sampe lunas!" Bibi Asih ngakak jahat.
Kirana angguk. Tangannya udah kesemutan. Kresek yang satu talinya udah molor.
Pas nyebrang jalan raya depan pasar, lampu ijo. Mobil motor rame banget. Klakson dimana-mana.
"Jalan Kirana! Nggak usah bengong!" Bibi Asih nyeret tangan Kirana.
Kirana buru-buru. Kaki nyangkut di batu. Badan oleng ke depan. Dua kresek kelepas dari tangan.
_Byooor_
Kresek sobek. Bawang, cabe, minyak, telur, tempe... semua berserakan di aspal. Kuning telur pecah, nyampur sama lumpur. Minyak tumpah, licin.
Orang-orang teriak. "Awas! Awas!"
Bibi Asih langsung melot. Mukanya merah padam. "KIRANA! DASAR ANAK NGGAK BECUS! GUE BILANG PEGANG YANG KENCENG KAN!"
Kirana langsung jongkok. Panik. "Maaf Bi... maaf Bi... Kirana nggak sengaja Bi..."
"MAAF MAAF! NGGAK NUTUPIN RUGI! KUMPULIN! CEPET! ITU DUIT BIBI SEMUA!" Bibi Asih nendang ember kecil ke arah Kirana. "KUMPULIN YANG BERSIH! YANG KOTOR BUANG!"
Hujan makin deres. Mobil lewat, nyipratin air kotor ke muka Kirana. Dingin. Perih.
Kirana ngumpulin bawang satu-satu pake tangan gemeter. Telur pecah dia buang. Tempe yang jatuh di lumpur dia lap pake ujung jilbab.
"Bi... ini bahaya Bi. Mobil banyak banget Bi..." bisik Kirana. Suaranya ketelen hujan.
"Diem! Dasar pembawa sial! Dari bayi udah bikin sial! Orang tua kamu mati gara-gara kamu! Sekarang belanjaan Bibi juga! KUMPULIN!" Bibi Asih malah mundur ke trotoar. Nggak bantu. Ngelipat tangan, marah.
Kirana jongkok di tengah jalan. Punggungnya ngebungkuk. Mobil dari kiri, motor dari kanan. Klakson. _Teet... teet..._
Air matanya jatuh. Nggak kerasa. Ketutup air hujan. 10 tahun dia tahan nangis. Tapi kali ini nggak bisa. Sakitnya numpuk.
"Ya Allah... Kirana capek Ya Allah... Kirana beneran sial ya Ya Allah..." bisiknya sambil ngumpulin cabe yang udah keinjek motor.
Tangannya lecet kena aspal kasar. Darah campur air hujan. Dingin. Takut. Malu.
Dia nggak denger ada suara langkah _tek... tek... tek..._ dari belakang. Suara sepatu high heels nancep ke aspal basah.
"MBAAK! UDAH! JANGAN DIPUNGUT LAGI!"
Suara cewe. Serak, tapi tegas. Nggak kayak suara Bibi Asih yang nyaring.
Kirana nengok. Air hujan masuk ke mata. Perih.
Di depannya ada orang. Cewe. Tinggi. Pake dress merah ketat, jaket jeans robek. Rambut panjang terurai, basah dikit di ujungnya. Makeup menor: lipstik merah fanta, blush on pink, bulu mata lentik.
Di tangan kirinya payung pink, gagangnya pink. Payungnya gede, nutupin Kirana full. Di tangan kanan bawa tisu.
Sepatunya high heels item, tapi udah kotor lumpur. Kirana baru nyadar. Jakunnya nongol dikit. Bahunya bidang. Tangannya gede.
Kirana langsung ngerti. Bukan cewe tulen. Waria.
"Ng... nggak apa-apa Mbak. Kirana udah hampir beres..." Kirana reflek nutup muka, malu. 10 tahun diajarin: jauhin waria. Itu aib. Itu dosa.
Waria itu jongkok. Sejajar sama Kirana. Payungnya dimiringin, nutupin Kirana dari hujan. Bau parfumnya... melati campur keringet. Wangi sabun colek.
"Mbak nama kamu siapa? . Panggil aja Saqira. Nggak usah Mbak-Mbak, kedengeran aneh" Saqira nyodorin tisu. "Nih, lap muka Mbak. Item semua. Kayak pocong."
Kirana nggak nerima. Malah mundur dikit. "Nggak usah Mbak Saqira. Kirana bisa sendiri."
Saqira nggak maksa. Dia naruh tisu di aspal, deket tangan Kirana. "Ya udah. Tapi Mbak, denger ya. Nyawa Mbak lebih berharga dari bawang, dari cabe, dari minyak itu semua. Kalo Mbak ketabrak mobil gara-gara ngumpulin ini, yang rugi siapa? Mbak. Yang nangis siapa? Mbak. Bibi Mbak? Paling beli lagi."
Kirana nunduk. Air matanya netes lagi. "Tapi Bi Asih marah Saqir. Kirana salah. Kirana nggak becus pegang kresek."
Saqira ngeliat ke Bibi Asih yang masih berdiri di trotoar, ngelipat tangan, muka jutek. Terus Saqira ngeliat Kirana lagi. Mata Kirana sembab, bibirnya biru kedinginan.
Saqira tarik napas. "Mbak, gue 15 tahun jadi Saqira. 15 tahun gue dihina, diusir, dibilang aib. Gue tau rasanya jongkok di tengah jalan, ngumpulin harga diri yang jatuh, sementara orang cuma bisa nyalahin."
Dia ngusap kepala Kirana pelan. Hatinya kasar, kukunya panjang pake kutek merah, tapi gerakannya lembut. "Mbak nggak sial Mbak. Mbak cuma capek. Capek dituntut sempurna terus. Capek disalahin terus."
Kirana kaget. Pertama kali ada orang bilang dia "capek", bukan "salah".
"Udah Mbak, berdiri. Gue anterin Mbak ke trotoar. Belanjaan ini biar gue yang beresin. Gue kuat. Gue tiap hari angkat galon" Saqira berdiri, narik tangan Kirana pelan.
Kirana nolak. "Nggak Saki. Kirana harus tanggung jawab. Kirana yang jatuhin."
Saqira diem. Terus dia lepas jaket jeansnya. Diselimutin ke bahu Kirana. Wanginya parfum murah, tapi anget. "Nih. Jaket gue. Anget. Nggak mewah, tapi bersih. Gue abis manggung di cafe, belum kena hujan banyak."
"Gue nggak minta Mbak kembaliin. Gue cuma minta Mbak hidup. Mbak hidup, itu udah cukup buat gue" Saqira bisik.
Dari trotoar, Bibi Asih teriak, "KIRANA! NGAPAIN NGOBROL SAMA BENCONG! SINI! MALU-MALUIN!"
Kirana gemeter. Antara maju ke Bibi, atau diem di bawah payung pink.
Saqira bisik pelan, cuma Kirana yang denger, "Mbak, pilih. Maju ke orang yang nyuruh Mbak mati di tengah jalan. Atau diem di sini sama orang yang bilang nyawa Mbak berharga."
Kirana diem 5 detik. Hujan deres. Mobil masih lewat. Klakson masih bunyi.
Pelan-pelan, Kirana berdiri. Ngelepas tangan Saqira. Jalan 2 langkah ke trotoar.
Tapi sebelum sampe ke Bibi Asih, dia noleh ke Saqira. Bisik, "Makasih Saki... udah jadi payung Kirana..."
Saqira senyum. Giginya nggak rata, tapi tulus. "Sama-sama Mbak Kirana. Kalo Mbak butuh payung lagi, cari gue di cafe 'Merah Marun' deket terminal. Tiap malem gue manggung di situ."
Bibi Asih langsung narik tangan Kirana kenceng. "Dasar! Mending ngobrol sama bencong daripada nolongin Bibi! Aib bener kamu!"
Kirana nggak jawab. Tapi jaket jeans Saqira masih nyelimutin bahunya. Anget.
Saqira di belakang masih jongkok, ngumpulin bawang sama cabe yang kotor. Payung pinknya masih kebuka. Dia nggak ngeliat Kirana lagi. Fokus beresin jalan.
Hujan masih deres. Tapi di dada Kirana, ada anget dikit. Anget yang 10 tahun nggak pernah dia rasain.
*Scene 4: Jalan Pulang yang Diam dan Jaket yang Nggak Dikembaliin - Jam 15.00 WIB*
Sepanjang jalan pulang, Bibi Asih ngomel terus. "Aib bener! Pondok jadi bahan gosip! Kyai punya keponakan deket-deket sama bencong! Gimana muka Paman kamu nanti!"
Kirana diem. Jalan paling belakang. Dua kresek baru di tangan. Isinya dikit. Bibi Asih nggak jadi beli banyak. Bilangnya "udah rugi gara-gara kamu".
Jaket jeans Saqira masih dipake Kirana. Basah kuyup, tapi anget. Wanginya nempel di hidung. Wangi melati + keringet + sabun colek.
"Balikin jaket itu! Itu punya bencong! Haram! Bawa sial!" Bibi Asih nyoba narik jaketnya.
Kirana reflek megang kenceng. "Nggak Bi. Kirana kedinginan Bi."
"Bohong! Kamu tuh udah kesurupan bencong itu! Pulang nanti Bibi ruqyah kamu!"
Kirana diem lagi. Tapi kali ini diemnya beda. Diemnya nggak takut. Diemnya mikir.
_Nyawa kamu lebih berharga dari belanjaan itu._
Kalimat Saqira muter terus di kepala. 10 tahun nggak ada yang bilang gitu ke dia. Yang ada cuma: "kamu salah", "kamu sial", "kamu ngerepotin".
Sampe pondok, Bibi Asih langsung ngamuk ke Paman Syarif. "Mas, liat tuh keponakan Mas! Pulang bawa jaket bencong! Diajak ngobrol akrab! Nanti pondok kita diusir warga!"
Paman Syarif liat Kirana. Basah kuyup. Bibir biru. Tapi di bahunya ada jaket jeans robek.
"Nak, itu jaket siapa?" tanya Paman Syarif pelan.
Kirana mau bohong. Tapi dia inget mata Saqira. Mata yang capek tapi tulus. "Jaket... jaket orang yang nolongin Kirana Paman. Pas Kirana hampir ketabrak mobil."
Bibi Asih langsung nyambar, "NOLONGIN APA! NGGODA KALI! BENCONG TUH PINTER NGGODA ANAK ORANG!"
Paman Syarif diem lama. Terus dia bilang, "Udah Asih. Anaknya kedinginan. Suruh ganti baju dulu. Jaketnya taruh aja di situ."
Kirana masuk kamar. Ganti baju basah. Jaket jeans Saqira dia lipet rapi. Dicium pelan. Wanginya masih ada.
Dia gantung di paku dinding. Sebelah foto Bapak Mama.
Malamnya, dia nggak bisa tidur. Buka mushaf. Surat Ad-Dhuha lagi. _wa wajadaka yatiman fa aawa_...
Kirana bisik, "Ya Allah... Saki itu siapa Ya Allah? Dia waria Ya Allah. Tapi dia bilang nyawa Kirana berharga Ya Allah. 10 tahun nggak ada yang bilang gitu.."
Nggak ada jawaban. Cuma suara hujan di genteng. Tapi di hati Kirana, ada yang anget. Kayak ada orang yang duduk di sebelah dia, bilang "kamu nggak sendiri".
Dia merem. Jaket jeans Saqira dia peluk. Tidur.
Mimpinya: dia ada di tengah jalan lagi. Mobil banyak. Klakson. Terus ada payung pink nutupin dia. Suara Saqira bisik, "Mbak, berdiri ya Mbak. Mbak kuat."
Kirana bangun-bangun jam 3 pagi. Bantalnya basah. Tapi kali ini bukan karena nangis. Karena lega.
Pertama kali dalam 10 tahun, ada orang asing yang milih jagain dia, daripada nyalahin dia.
Pondok udah sepi. Santri pada tidur. Cuma suara jangkrik sama hujan gerimis.
Kirana duduk di dipan kayu. Jaket jeans Saqira dipangku. Dia raba robekan di lengan jaket itu. Jahitannya kasar. Bekas dijahit sendiri.
"Saqira..." bisik Kirana pelan. Ngetes nama itu di lidah. "Saki..."
Nama itu anget. Beda sama "pembawa sial" yang dingin dan nyakitin.
Dia buka mushaf. Cari ayat tentang orang baik. Nggak nemu nama Saqira. Tapi dia nemu Surat Al-Baqarah: _"la yukallifullahu nafsan illa wus'aha"_ - Allah nggak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.
Kirana senyum tipis. "Berarti Allah tau ya Allah... Kirana udah di batas sanggupnya ya Allah. Makanya dikirimin Saki yang nolongin Kirana?"
Dia nggak tau Saqira itu baik apa nggak. Dia nggak tau Saqira itu dosa apa nggak. Yang dia tau, 15 menit di tengah hujan, ada orang yang milih nutupin dia pake payung, daripada nyalahin dia pake kata-kata.
Dari luar, kedengeran suara Bibi Asih ngedumel, "Besok suruh buang jaket itu. Bakar. Jangan sampe ada bencong dateng ke pondok lagi."
Kirana langsung peluk jaket itu kenceng. "Nggak Bi. Ini amanah Kirana Bi."
Dia nggak tau kenapa. Tapi dia ngerasa... jaket ini kayak payung pink. Kayak kalimat Saqira. Kayak Surat Ad-Dhuha.
Pengingat kalo dia nggak sial. Kalo dia berharga.
Sebelum tidur, dia nulis di buku diary, di bawah tulisan "Kirana berkah":
_Saqira. Payung pink. 14.15 WIB. Nyawa lebih berharga._
Hurufnya belepotan. Tapi dia tulis 3 kali.
Terus dia merem. Tidur.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 10 tahun, Kirana mimpi nggak tentang Mama Papa. Dia mimpi tentang payung pink. Tentang orang tinggi pake dress merah, rambut basah, yang bilang ke dia: "Mbak, berdiri ya Mbak."
Dan pas bangun subuh, dadanya nggak sesek. Ada yang kosong, tapi kosongnya nggak sakit. Kosongnya kayak ruang buat orang baru.