NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Kebohongan terus menerus

Pagi itu, Saat cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah-celah tirai jendela kamar tidur, menyinari ruangan yang luas dan mewah itu. Udara pagi terasa segar, namun bagi Kiara, hari itu terasa berat dan pengap. Semenjak malam sebelumnya, sejak ia mendengar segala kebenaran yang menghancurkan hatinya di balik pintu ruang kerja, tidurnya tak lagi nyenyak. Di setiap detik yang berlalu, ia harus berpura-pura, menahan rasa sakit, dan menyembunyikan amarah yang membara di balik senyum lembut yang biasa ia tampilkan.

Di sampingnya, Ferdi sudah bangun lebih awal. Iya bangun untuk bersiap bekerja. Ia mondar-mandir di depan lemari pakaian, memilih pakaian untuk ia kenakan, sesekali melirik ponselnya yang bergetar pelan di atas meja kamar, Kiara yang pura-pura masih berbaring, diam-diam mengamati setiap gerak-gerik suaminya itu dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup. Hatinya terasa perih, namun akal sehatnya berkata "Sabar, Kiara. Biarkan dia menampakkan sifat aslinya lebih jauh lagi."

Belum lama berselang, suara dering ponsel Ferdi terdengar nyaring. Ferdi seolah tersentak kaget, buru-buru menyambar benda pipih itu dan berjalan menjauh ke sudut kamar, menjauhi Kiara. Ia berbicara dengan nada suara yang diredam, namun telinga Kiara yang kini begitu peka terhadap segala kebohongan, masih bisa menangkap potongan kalimat yang keluar dari mulut suaminya.

"Apa? Kenapa tiba-tiba sakit?, Iya, aku paham, Tenang, aku akan ke sana sekarang juga, Jangan banyak bergerak, istirahat saja, Aku berangkat sekarang."

Panggilan itu berakhir. Ferdi mematikan layar ponselnya, lalu membalikkan badan dengan wajah yang dibuat-buat terlihat cemas dan terburu-buru. Ia segera berjalan mendekati sisi ranjang tempat Kiara berbaring, lalu mengusap pelan bahu istrinya.

"Sayang... Kiara... bangun sebentar ya," panggil Ferdi dengan nada yang berusaha terdengar lembut namun terburu-buru.

Kiara membuka matanya perlahan, menatap suaminya dengan tatapan yang dibuat-buat masih mengantuk dan polos. Ada rasa jijik yang luar biasa saat kulitnya bersentuhan dengan tangan Ferdi, tangan yang kemungkinan besar beberapa jam lalu menyentuh wanita lain, sahabatnya sendiri.

"Ada apa, Mas? Kok sudah siap-siap mau ke mana?" tanya Kiara dengan suara serak-serak basah, berusaha se-natural mungkin.

Ferdi tersenyum, senyum yang dulu dianggap Kiara paling tampan dan menenangkan, kini terlihat menjijikkan baginya. "Maaf ya, Sayang, aku harus berangkat sekarang. Ada... ada urusan mendadak. Temanku telepon tadi, katanya kurang enak badan, sakit keras. Aku harus ke sana sebentar menjenguk."

Jantung Kiara berdegup kencang. Ia tahu persis siapa yang menelepon. Itu pasti Emily. Wanita yang mengandung anak suaminya, wanita yang telah merencanakan segala kejahatan ini, wanita yang kemarin malam namanya disebut berkali-kali dalam percakapan pengkhianatan itu. Dan sekarang, Emily berpura-pura sakit hanya untuk memancing Ferdi datang ke rumahnya.

"Siapa yang sakit, Mas?" tanya Kiara pura-pura penasaran, berusaha menahan rasa sakit di dadanya.

"Ehm... temanku... teman lama... kamu tidak kenal kok. Jadi aku pamit dulu ya, nanti aku telepon kalau sudah selesai," jawab Ferdi terbata-bata, jelas sekali sedang mengarang cerita di tempat. Ia tidak berani menatap mata Kiara lebih lama. Ia mencium kening istrinya sekilas, lalu berbalik badan dan berjalan keluar kamar dengan langkah lebar, seolah ada api yang sedang membakar tubuhnya. Ia sama sekali tidak sadar bahwa wanita yang ada di belakangnya itu sudah mengetahui segala rahasia kotornya.

Pintu kamar tertutup rapat. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan dibuka dan ditutup, disusul suara mesin mobil mewah milik Ferdi yang menderu menjauh.

Kiara bangkit dari tidurnya dengan gerakan cepat. Air matanya sudah kering, digantikan oleh ketegasan yang dingin. Ia berjalan ke arah jendela, melihat mobil Ferdi yang menghilang di tikungan jalan kompleks perumahan elit itu.

"Pura-pura sakit, ya?" gumam Kiara pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh amarah. "Baiklah kalau begitu. Kalian berdua ingin bermain sandiwara? Biar aku jadi penonton setia kalian, sekaligus menjadi sutradara yang akan mengakhiri drama ini dengan cara yang paling menyakitkan bagi kalian."

Kiara tidak membuang waktu. Ia segera masuk ke kamar mandi, bersiap dengan cepat, memakai pakaian sederhana namun rapi, dan menata wajahnya tanpa ada jejak kesedihan sedikit pun. Ia bertekad mengikuti Ferdi diam-diam. Ia butuh bukti nyata, bukti yang tak terbantahkan, untuk melengkapi apa yang sudah ia dengar kemarin malam. Percakapan saja mungkin masih bisa disangkal, tapi rekaman video... rekaman kemesraan mereka... itu adalah senjata paling tajam yang akan ia gunakan saat waktunya tiba.

Sepuluh menit kemudian, Kiara sudah melaju di balik kemudi mobil pribadinya yang berwarna gelap dan tidak terlalu mencolok, berbeda dengan mobil Ferdi yang mencolok dan mewah. Di pasangnya alat pelacak membuat Kiara dengan cepat menemukan mobil suaminya, Ia menjaga jarak aman, cukup jauh agar tidak terlihat, namun cukup dekat untuk memastikan ia tidak kehilangan jejak suaminya. Jalanan kota masih cukup lengang di pagi hari itu, memudahkan Kiara mengikuti gerak-gerik mobil di depannya.

Dugaan Kiara benar sepenuhnya. Mobil Ferdi tidak menuju ke kantor, tidak menuju ke rumah sakit, dan tidak menuju ke tempat mana pun yang berhubungan dengan pekerjaan. Mobil itu berbelok masuk ke sebuah perumahan menengah ke atas yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka, namun cukup tersembunyi. Sebuah perumahan tenang yang dihuni oleh banyak lajang dan keluarga muda.

Ferdi memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah berarsitektur sederhana namun cantik, berpagar tinggi dengan tanaman hias yang rimbun. Rumah itu milik Emily. Rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggal sahabatnya, tempat yang sering ia kunjungi dengan sukacita di masa lalu, namun kini menjadi saksi perselingkuhan yang menyakitkan.

Kiara memarkirkan mobilnya agak menjorok ke dalam, di balik pohon besar yang rindang, persis di seberang jalan. Posisi ini sangat strategis. Dari dalam mobilnya, kaca yang berwarna gelap membuat Kiara bisa melihat keluar dengan sangat jelas, sementara orang luar sama sekali tidak bisa melihat ke dalam. Ia meraih ponselnya, mengaktifkan mode perekam video dengan resolusi tertinggi, dan mengarahkan lensanya tepat ke arah pagar rumah Emily.

Jantung Kiara berpacu cepat, campuran antara rasa takut, sedih, dan marah yang meluap-luap. Tangannya sedikit gemetar, namun ia memaksakan diri tetap tenang. Ia harus merekam ini. Ini adalah bukti. Bukti bahwa selama ini ia bukanlah wanita yang kurang baik, bukan wanita yang tidak dicintai, melainkan wanita yang sedang ditipu habis-habisan oleh dua orang yang paling ia percayai.

Kiara tertawa getir, jelas ini tawa kekecewaan dan amarah saat ia melihat dengan mata kepala nya sendiri.

1
Ma Em
Ferdi saja yg tdk tau diri sdh diangkat derajat nya karena menikah dgn Kiara pewaris tunggal perusahaan tuan Edwar malah Ferdi sia siakan dan selingkuh dgn teman Kiara , semoga perceraian Kiara dgn Ferdi cepat selesai biar Ferdi dan selingkuhan nya jadi gembel , Ferdi manusia tdk punya otak ingin menguasai perusahaan orang setelah itu dia akan menceraikan Kiara dan akan hdp bersama selingkuhan nya si Emely .
Asyura
lanjut tor
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!