Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3 : RAHASIA LAMA DAN KEMARAHAN DI KAMAR UTAMA
Di lantai dua yang lain, tepatnya di dalam kamar utama yang luas dan berlantai marmer mewah, suasana tidak kalah tegang. Kamar milik Hermawan Wijaya dan Sarah Wijaya itu tampak sunyi, namun hawa dingin kecurigaan berembus kencang di antara pasangan suami istri yang sudah menikah selama puluhan tahun tersebut.
Sarah berdiri di depan meja riasnya. Ia sedang mengoleskan krim malam ke wajahnya dengan gerakan yang kasar dan menghentak. Matanya yang tajam berkilat penuh kepuasan saat bayangan Kalea yang dipukuli dengan ikat pinggang tadi kembali terlintas di benaknya. Bagi Sarah, setiap tetes darah dan air mata yang keluar dari tubuh Kalea adalah sebuah kemenangan besar.
"Puas rasanya hatiku melihat anak haram itu dicambuk tadi, Pa," ujar Sarah memecah keheningan dengan nada suara yang penuh kebencian. "Perempuan tidak tahu diri seperti dia memang harus sering-sering diberi pelajaran. Kalau tidak, dia akan terus-menerus membawa sial dan merusak nama baik keluarga kita!"
Namun, tidak ada jawaban dari sang suami.
Sarah membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ia mendapati Hermawan sedang duduk termenung di tepi ranjang berukuran besar mereka. Ikat pinggang kulit yang tadi digunakannya untuk memukul Kalea tergeletak begitu saja di lantai dekat kakinya. Kedua tangan Hermawan saling bertautan, dan tatapan matanya kosong menatap lurus ke arah lantai kayu. Pria paruh baya itu tampak melamun jauh, seolah jiwanya tidak sedang berada di dalam kamar tersebut. Ada guratan rasa bersalah, lelah, dan penyesalan yang samar di wajah tegasnya.
Melihat suaminya melamun seperti itu, senyuman puas di wajah Sarah seketika lenyap. Rasa hangat amarah dan kecemburuan lama mendadak mendidih di dalam dadanya.
"Pa! Kamu dengar aku bicara tidak, sih?!" bentak Sarah sambil berjalan mendekati ranjang dengan langkah kaki yang menghentak keras. "Aku sedang bicara bersamamu, Hermawan! Kenapa kamu malah melamun begitu?! Apa yang sedang kamu pikirkan, hah?!"
Hermawan tersentak dari lamunannya. Ia mendongak perlahan, menatap istrinya dengan pandangan yang tampak sangat lelah. "Tidak ada apa-apa, Mama. Papa cuma lelah. Kejadian malam ini benar-benar menguras energi," jawab Hermawan dengan suara berat dan pelan.
"Lelah? Atau kamu sedang meratapi nasib anak haram itu?!" cecar Sarah, suaranya naik beberapa oktav, melengking memecah kesunyian kamar. Tangannya bersedekap di dada, menatap suaminya dengan pandangan menuduh. "Jangan kira aku tidak tahu ya, Pa! Kamu melamun seperti ini pasti karena kamu merasa bersalah setelah memukul Kalea tadi, kan?! Kamu merasa kasihan melihat dahi perempuan itu berdarah karena doronganku tadi?!"
Hermawan memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Mama, sudahlah. Masalah tadi sudah selesai. Kalea sudah dihukum, Fandi dan Fitri juga sudah kembali ke kamar mereka. Untuk apa kita bahas ini lagi malam-malam begini?"
"Tentu saja harus dibahas!" teriak Sarah, wajahnya memerah padam karena murka. Ia melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di depan Hermawan yang masih duduk. "Lihat sikapmu ini! Setiap kali anak haram itu terluka, kamu selalu berubah menjadi pendiam dan melamun seperti orang bodoh! Kenapa, Pa? Apa karena setiap kali kamu melihat wajah Kalea, kamu selalu teringat pada jalang itu?! Kamu teringat pada wanita masa lalumu itu, kan?!"
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sarah, tubuh Hermawan seketika menegang. Matanya yang tadi sayu mendadak melebar, menatap Sarah dengan kilatan kemarahan yang tertahan. "Mama! Jaga bicaramu! Jangan pernah bawa-bawa wanita itu ke dalam masalah ini!" bentak Hermawan, suaranya terdengar bergetar menahan emosi yang meluap.
"Kenapa?! Kenapa aku tidak boleh menyebut wanita itu?!" tantang Sarah, sama sekali tidak takut dengan gertakan suaminya. Ia justru tertawa mengejek, tawa yang penuh dengan rasa sakit hati dan dendam masa lalu yang belum pernah usai. "Kamu takut rahasia busukmu terbongkar lagi? Kamu takut aku mengingatkanmu bahwa Kalea itu adalah bukti nyata dari pengkhianatanmu dengan wanita itu?! Kamu memukul Kalea tadi bukan karena kamu marah dia menggoda Fandi, tapi karena kamu benci melihat kenyataan bahwa anak dari wanita itu tumbuh menjadi pengingat atas dosa masa lalumu!"
"CUKUP, SARAH!" Hermawan berdiri dari ranjang dengan napas yang memburu naik turun. Dadanya bergemuruh hebat. "Jangan pernah sebut wanita itu lagi di rumah ini! Kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu! Wanita itu sudah lama pergi dan tidak ada hubungannya lagi dengan apa yang terjadi malam ini!"
"Dia memang sudah pergi, tapi dia meninggalkan sampahnya di sini! Dia meninggalkan Kalea untuk merusak hidupku!" jerit Sarah hysteris, air matanya mulai mengalir karena rasa cemburu yang membakar hatinya selama 24 tahun ini. "Setiap kali aku melihat mata biru Kalea, aku selalu melihat mata jalang itu, Hermawan! Aku membenci mata itu! Aku membenci keberadaan Kalea di rumah ini! Dan yang paling membuatku muak adalah melihatmu diam-diam masih menyimpan rasa sayang dan bersalah pada anak yang dilahirkan oleh wanita itu!"
Hermawan menghela napas kasar yang terdengar sangat berat. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya yang terasa siap meledak kapan saja. Berdebat dengan Sarah tentang masa lalu adalah hal yang paling ia hindari, karena istrinya itu tidak akan pernah mau mendengarkan logika jika sudah dikuasai oleh rasa cemburu.
"Aku tidak pernah membedakan mereka, Sarah," ucap Hermawan dengan suara yang melemah, terdengar sangat frustrasi. "Aku memukulnya tadi karena dia sudah berani melanggar norma di rumah ini. Aku menjaga nama baik keluarga kita, bukan karena hal lain."
"Bohong! Kamu bohong, Hermawan!" tuduh Sarah sambil memukul dada Hermawan dengan kepalan tangannya. "Kalau kamu benar-benar membencinya seperti aku membencinya, kamu pasti sudah mengusirnya dari dulu! Tapi kamu tetap menahannya di sini, memberinya fasilitas, bahkan membiarkannya bekerja! Kamu membiayai kuliahnya sampai lulus! Kamu melindunginya karena kamu masih mencintai wanita masa lalumu itu melalui Kalea!"
Hermawan tidak membalas pukulan tangan Sarah pada dadanya. Ia hanya berdiri mematung dengan tatapan mata yang dipenuhi keletihan batin yang luar biasa. Baginya, kamar ini sudah berubah menjadi ruang sidang yang menyiksa. Teriakan dan tuduhan Sarah terasa seperti paku-paku tajam yang menghantam kepalanya yang sudah sangat pening.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun lagi, Hermawan membalikkan tubuhnya. Ia berjalan menjauh dari ranjang, mengabaikan Sarah yang masih terus berteriak memanggil namanya dengan penuh amarah.
"Hermawan! Mau ke mana kamu?! Aku belum selesai bicara! Jangan berani-berani mengabaikan aku!" teriak Sarah dari belakang.
Hermawan tidak memedulikan panggilan itu. Ia membuka pintu kamar mandi yang berada di sudut kamar tidurnya, melangkah masuk ke dalam, lalu menutup pintu kaca tebal itu dengan rapat. Klik. Suara kunci pintu kamar mandi berputar, memisahkan dirinya dari lengkingan suara sang istri yang masih terdengar samar dari luar.
Di dalam kamar mandi yang sunyi, Hermawan bersandar pada wastafel marmer. Ia menyalakan keran air, membiarkan suara gemercik air memenuhi ruangan kecil tersebut. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di depannya. Rambutnya yang mulai memutih dan kerutan di dahinya menunjukkan betapa banyak beban rahasia yang ia pikul selama ini.
Hermawan kembali menghela napas kasar, lalu mengambil air dengan kedua tangannya untuk membasuh wajahnya yang terasa panas. Air dingin itu sedikit meredakan ketegangannya, namun ingatan tentang mata biru Kalea yang menatapnya penuh luka di kamar sebelah tadi tetap tidak bisa hilang dari benaknya. Hubungan gelap masa lalu, kemarahan Sarah yang abadi, dan status Kalea sebagai "anak haram" di rumah ini adalah belenggu takdir yang tampaknya tidak akan pernah bisa ia lepaskan sampai akhir hayatnya.
...****************...
Di luar pintu kamar utama, kegelapan koridor lantai dua menjadi saksi bisu dari kehadiran sesosok bayangan. Shinta Kirana Wijaya berdiri mematung dengan punggung menempel pada dinding dingin. Napasnya ditahan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Kedua telinganya terpasang tajam, menangkap setiap patah kata dari pertengkaran hebat antara Hermawan dan Sarah yang baru saja pecah di dalam sana.
Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ibunya mengenai masa lalu sang ayah, jemari Shinta mengepal kuat. Kuku-kukunya yang panjang dan terawat menekan telapak tangannya hingga memutih. Rasa panas menjalar di dadanya, memicu gelombang kebencian yang jauh lebih besar terhadap Kalea.
"Jadi benar... dia memang anak dari wanita masa lalu Papa," batin Shinta dengan penuh kedengkian.
Kenyataan itu membuat Shinta semakin membencinya. Sejak kecil, Shinta selalu merasa tersisih setiap kali orang-orang di luar rumah memuji kecantikan Kalea. Mata biru alami yang dimiliki Kalea selalu menjadi pusat perhatian, sementara Shinta harus puas berada di bawah bayang-bayang pesona kakaknya itu. Kerutan di wajah Shinta mengencang saat menyadari bahwa kecantikan Kalea yang sering dipuji orang adalah warisan dari wanita lain yang pernah dicintai ayahnya.
Setelah memastikan perdebatan di kamar orang tuanya mereda dengan suara pintu kamar mandi yang dikunci, Shinta membalikkan tubuh. Langkah kakinya yang ringan membawanya kembali menuju kamarnya sendiri yang terletak di ujung koridor. Begitu menutup pintu kamar, Shinta langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar bernuansa merah muda.
Sebuah helaan napas lega keluar dari bibirnya. Mengingat kembali bagaimana kekacauan di kamar Kalea tadi, rasa puas yang luar biasa membuncah di dalam hatinya. Rencananya untuk menjatuhkan Kalea di depan seluruh keluarga berjalan dengan sangat sempurna tanpa hambatan.
"Rasakan itu, Kalea," gumam Shinta pada langit-langit kamarnya, bibirnya melengkung membentuk senyuman kemenangan yang sangat lebar. "Kamu pikir kamu bisa terus berlagak suci di rumah ini? Sekarang semua orang menganggapmu sampah."
Cklek...
Keheningan kamar Shinta mendadak terpecah. Gagang pintu kamarnya bergerak ke bawah, dan pintu itu perlahan terbuka. Shinta langsung menoleh dengan cepat, bersiap untuk memaki siapa pun yang berani masuk tanpa mengetuk pintu. Namun, begitu sosok pria jangkung melangkah masuk dari balik kegelapan koridor, amarah di wajah Shinta langsung berganti menjadi binaran mata yang penuh dengan kepuasan.
Pria itu adalah Fandi Achmad Mahendra.
Suami dari kakak tertuanya itu menyelinap masuk dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada pelayan atau anggota keluarga lain yang melihat pergerakannya. Fandi segera berbalik, memutar anak kunci dari dalam hingga terdengar suara klik yang mengunci ruangan itu dari dunia luar.
"Mas Fandi?" panggil Shinta dengan suara yang mendadak berubah menjadi sangat manja dan lembut.
Tanpa membuang waktu, Shinta langsung melompat dari atas kasurnya. Ia berlari kecil ke arah Fandi dan langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu. Kedua kakinya melingkar erat di pinggang Fandi, bergelayut manja seperti bayi dalam gendongan. Fandi dengan sigap menahan tubuh Shinta, melingkarkan kedua tangannya di bawah paha adik iparnya tersebut.
"Kamu berani sekali datang ke sini, Mas? Bagaimana kalau Mbak Fitri bangun?" tanya Shinta, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Fandi dengan tatapan penuh provokasi.
Fandi terkekeh sinis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shinta sejenak sebelum mendongak kembali. "Mbakmu itu sudah tidur pulas setelah Mas buat kelelahan. Dia sama sekali tidak akan tahu kalau suaminya sedang berada di kamar adiknya sekarang."
"Oh ya? Jadi Mas baru saja melayaninya?" Shinta mencibir, berpura-pura merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. "Lalu kenapa sekarang malah datang ke kamarku? Kurang puas?"
"Tentu saja kurang, Shinta," bisik Fandi dengan nada suara yang berat dan serak. Pandangan matanya menatap tajam bibir Shinta yang kemerahan. "Melayani kakakmu itu terasa sangat hambar. Dia terlalu kaku sebagai seorang dokter spesialis jantung, selalu sibuk memikirkan pekerjaannya bahkan di atas ranjang. Mas tidak tahan lagi, Mas mau kamu malam ini."
Mendengar pengakuan itu, senyuman lebar kembali mengembang di wajah Shinta. Rasa kemenangan karena berhasil merebut perhatian suami kakaknya sendiri memberikan kepuasan ego yang tak ternilai bagi dirinya. Tanpa banyak bicara lagi, Shinta memajukan wajahnya dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Fandi.
Mereka berdua terlibat dalam ciuman yang sangat intens dan penuh gairah di dekat pintu yang terkunci. Kedua lidah mereka saling bertautan dan menari dengan liar, bertukar saliva tanpa memedulikan status hubungan mereka yang terlarang di dalam rumah tersebut. Fandi melangkah mundur perlahan sambil tetap menggendong Shinta, membawa tubuh gadis itu menuju ke arah ranjang.
Begitu bagian belakang lutut Fandi menyentuh tepi kasur, ia menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang yang empuk dengan posisi Shinta yang berada di bawah himpitan tubuh kekarnya. Ciuman mereka terlepas sejenak, menyisakan napas yang memburu dari kedua belah pihak.
"Mas... pelan-pelan," desis Shinta dengan napas yang terengah-engah, tangannya mulai bergerak liar membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Fandi satu demi satu.
Fandi tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang kasar dengan cepat membantu Shinta untuk melepaskan pakaian tidur yang melekat pada tubuh gadis itu. Di bawah temaram lampu tidur yang remang-remang, keduanya dengan cepat menanggalkan pakaian masing-masing hingga tidak ada lagi penghalang yang memisahkan kulit mereka.
Fandi kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan ciuman panasnya yang kini mulai turun ke area leher dan selangka Shinta, meninggalkan tanda-tanda kemerahan yang disengaja di sana. Sentuhan-sentuhan manipulatif dan penuh nafsu dari Fandi membuat Shinta sepenuhnya terbuai, melupakan seluruh batasan moral dan norma keluarga.
Ruangan kamar yang luas itu kini hanya dipenuhi oleh suara gesekan kain seprai dan deru napas yang saling bersahutan di tengah malam yang semakin jahanam.
"Mas... ahhhh..." desah Shinta dengan suara parau yang tertahan, kedua matanya terpejam erat saat merasakan sentuhan Fandi yang semakin berani dan intens pada tubuhnya. "Enak, Mas-ku sayang... ahhhh... lebih cepat lagi..."
Fandi mempercepat pergerakannya, mengabaikan segala rasa bersalah yang seharusnya ada di dalam dadanya. Pria itu sepenuhnya dikuasai oleh hasrat bejat yang selama ini terpendam di balik kedoknya sebagai menantu yang baik di keluarga Wijaya. Di atas ranjang tersebut, mereka melanjutkan aksi terlarang mereka, saling memuaskan nafsu satu sama lain tanpa memikirkan kehancuran besar yang sedang mereka persiapkan untuk masa depan keluarga mereka sendiri, terutama bagi Kalea yang saat itu sedang meratapi nasibnya di kamar sebelah.