NovelToon NovelToon
Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Showbiz / Reinkarnasi
Popularitas:523
Nilai: 5
Nama Author: ILikeAll9

Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.

Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.

Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.

Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C003: Rekrut Trainee

...Selamat Baca...

Pukul 07.30 WAZ pagi, tanggal 27 Maret

Sinar matahari musim semi sudah menyinari jalan-jalan menuju Akademi Teater Astra, salah satu lembaga pelatihan seni pertunjukan paling lama di Negara Aurelia.

Ethan mengemudi dengan hati-hati melalui jalanan yang lebih sepi di kawasan pinggiran kota Astia tempat akademi berada.

Di samping mobilnya, terlihat hamparan kebun dan pepohonan yang rindang, memberikan suasana yang tenang berbeda dengan keramaian kota pusat.

Setelah memasuki gerbang akademi yang tertutup pagar besi hitam bergaya klasik, Ethan melihat gedung utama yang berdiri megah dengan ornamen arsitektur khas bangunan tua.

Halaman depan penuh dengan taman bunga yang terawat rapi, dan suara suara latihan vokal serta tari terdengar lembut dari dalam gedung.

"Sangat berbeda dengan kondisi perusahaan kami," gumam Ethan sambil memarkirkan mobilnya, lalu keluar dengan membawa tas kecil yang berisi brosur perusahaan dan dokumen pendukung rekrutmen.

Saat masuk ke lobi utama, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun dengan jas hitam rapi menghampirinya dengan senyum hangat.

Rambutnya putih sebagian dan disusun rapi, menunjukkan kesan profesional dan penuh pengalaman.

"Selamat pagi, Tuan Ethan Lucifer? Saya Margaret Sullivan, kepala bagian pendidikan Akademi Teater Astra," ujarnya dengan sikap yang sangat sopan, bahkan sedikit hormat.

"Kami sudah menerima panggilan Anda kemarin sore. Sangat terhormat bisa menerima kunjungan dari keluarga Lucifer-kami masih ingat betapa orang tua Anda dulu juga sering berkunjung ke sini untuk mencari bakat berbakat."

"Selamat pagi, Bu Margaret. Terima kasih atas sambutannya," jawab Ethan dengan sopan sambil menjabat tangannya.

"Saya sangat menghargai apresiasi Anda terhadap keluarga saya. Kali ini saya datang dengan tujuan yang sama dengan orang tua saya dulu-mencari anak muda berbakat yang membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya di industri hiburan."

"Mari kita berjalan sedikit dan melihat kondisi akademi ini, Tuan Ethan," ajak Bu Margaret sambil mengajaknya melalui lorong yang penuh dengan poster pertunjukan teater masa lalu.

"Kami punya beberapa ruangan latihan dengan fokus yang berbeda-beda. Mungkin dengan melihatnya, Anda bisa menemukan apa yang Anda cari."

Mereka pun berkeliling ruangan latihan, Ruang Latihan Pertama - Akting Teater Klasik.

Mereka memasuki ruangan yang cukup luas dengan lantai kayu yang mengkilap dan tirai kain tebal di bagian belakang panggung kecil.

Sekitar sepuluh murid berusia antara 15-18 tahun sedang berlatih adegan dari drama klasik Aurelia. Mereka mengenakan kostum sederhana dan fokus mengikuti arahan seorang instruktur yang sedang menjelaskan teknik ekspresi wajah dan intonasi suara.

"Di ruangan ini, murid-murid kami fokus pada akting teater klasik," jelas Bu Margaret.

"Mereka belajar tentang sejarah seni pertunjukan, teknik berbicara di atas panggung, dan bagaimana menghidupkan karakter dari naskah lama."

Ethan mengangguk sambil mengamati latihan mereka. Beberapa murid menunjukkan kemampuan ekspresi yang baik, namun dia merasa belum menemukan yang dia cari.

Ruang Latihan Kedua - Tari Teater

Berpindah ke ruangan sebelahnya, suara musik klasik lembut menyambut mereka. Ruangan ini memiliki lantai khusus untuk tari dan cermin besar di seluruh dinding.

Sekitar delapan murid sedang berlatih gerakan tari yang disesuaikan dengan adegan teater-gerakan yang elegan dan penuh makna.

"Tari teater adalah bagian penting dalam pertunjukan kami," ujar Bu Margaret.

"Murid-murid belajar menggabungkan gerakan tubuh dengan ekspresi emosi agar bisa menyampaikan cerita melalui tarian."

Ethan melihat beberapa murid yang memiliki kontrol tubuh yang baik, namun dia tetap merasa ada yang kurang.

Ruang Latihan Ketiga - Produksi dan Sutradara

Ruangan ketiga lebih kecil dan penuh dengan meja kerja yang berisi naskah, buku referensi, dan alat gambar.

Beberapa murid sedang duduk berkelompok, mendiskusikan konsep panggung untuk pertunjukan mendatang.

Di sudut ruangan, seorang instruktur sedang menjelaskan tentang pencahayaan panggung dan tata rias karakter.

"Di sini kami melatih murid-murid yang memiliki minat di belakang layar," jelas Bu Margaret.

"Mereka belajar menjadi sutradara, produser, atau anggota tim produksi yang penting untuk setiap pertunjukan."

Setelah melihat ketiga ruangan tersebut, Ethan mengangguk dengan senyum. "Akademi ini memiliki program yang sangat lengkap, Bu Margaret. Saya kagum dengan dedikasi Anda dan instruktur lainnya."

"Terima kasih, Tuan Ethan," jawab Bu Margaret dengan senyum bangga.

"Kami punya satu ruangan lagi di ujung lorong-ruangan latihan vokal dan monolog. Mari kita lihat bagaimana kondisinya."

Saat mereka mendekati ruangan keempat, suara tawa dan ejekan mulai terdengar jelas dari dalam. Bu Margaret mengerutkan kening dengan wajah yang sedikit marah.

"Maafkan saya, Tuan Ethan. Sepertinya ada masalah di sini."

Mereka masuk ke ruangan yang lebih kecil dari ruangan sebelumnya. Di sana, tiga murid laki-laki berusia sekitar 16-17 tahun sedang mengelilingi seorang anak laki-laki yang sedang duduk di lantai dekat sudut ruangan.

"Lihat dia, baca buku lagi, baca buku lagi! Seperti biasanya kamu, dasar kutu buku!" ejek salah satu anak laki-laki dengan suara tinggi.

"Rambut panjang kamu seperti perempuan saja, dan kacamata tebal itu bikin kamu tambah jelek!" tambah anak lain sambil mencoba menarik ponytail panjang anak laki-laki itu.

Anak laki-laki yang menjadi target ejekan hanya menunduk, tangannya masih erat menyimpan buku tebal di dadanya.

Rambut panjangnya yang hitam tertutup sebagian wajahnya, dan kacamata tebal yang dikenakannya membuat matanya tidak terlihat jelas.

Di sudut mata kirinya, terlihat titik kecil yang membuat wajahnya terlihat berbeda dari yang lain.

"Berhenti sekarang juga!" teriak Bu Margaret dengan suara yang tegas.

Ketiga anak laki-laki itu langsung terkejut dan berhenti, berdiri dengan posisi rapi sambil melihat ke arah Bu Margaret dan Ethan.

"Bu Margaret... kami hanya bercanda saja," kata salah satu anak dengan suara kecil yang tidak yakin.

"Bercanda tidak boleh menyakiti orang lain! Kalian bertiga segera keluar dan tunggu saya di ruang guru!" perintah Bu Margaret dengan tegas. Ketiga anak itu segera keluar dengan kepala menunduk.

Setelah mereka pergi, Bu Margaret mendekati anak laki-laki yang duduk di lantai dan membantunya berdiri. "Kamu baik-baik saja kan, Felix?"

Anak laki-laki itu yang bernama Felix Nalendra hanya mengangguk perlahan tanpa melihat wajah siapapun. "Saya baik baik saja, Bu Margaret."

Ethan mendekati mereka dengan langkah pelan. Dia melihat buku yang dipegang Felix-buku tentang teori musik dan vokal yang terlihat sudah sering dibaca dari kondisi sampulnya yang lusuh.

"Permisi, nama kamu Felix ya?" tanya Ethan dengan suara lembut agar tidak membuatnya takut.

Felix sedikit terkejut dan akhirnya mengangkat wajahnya sedikit, tapi masih menunduk. Dia mengangguk perlahan. "Ya, Tuan."

Ethan tersenyum dengan ramah. "Saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment. Saya melihat kamu sedang membaca buku tentang musik dan vokal. Apakah kamu suka menyanyi atau berbicara tentang musik?"

Felix masih tetap menunduk, tapi tangannya mulai sedikit mengendurkan pegangan pada bukunya. "Saya... saya suka menyanyi, Tuan. Dan juga suka menulis lirik atau naskah cerita."

"Benarkah? Bolehkah kamu menunjukkan kemampuanmu sedikit?" tanya Ethan dengan nada yang mendukung.

Felix melihat ke arah Bu Margaret yang sedang mengangguk dengan senyum mendukung. Setelah beberapa saat berpikir, dia akhirnya mengangguk perlahan.

Dia berjalan ke tengah ruangan, menutup matanya sebentar, lalu mulai menyanyi dengan suara yang lembut namun sangat jelas dan penuh emosi.

Suaranya merdu dengan kontrol nada yang luar biasa, bahkan bisa mencapai nada tinggi dengan mudah tanpa terdengar kasar.

Ethan terkejut melihat kemampuan vokal yang luar biasa dari anak yang masih sangat muda ini.

Setelah selesai menyanyi, Felix kembali menunduk dan menutup wajahnya dengan rambutnya. "Maafkan saya, Tuan. Suaraku tidak terlalu bagus."

"Tidak sama sekali," ujar Ethan dengan suara penuh kagum, sambil bertepuk tangan. "Suaramu luar biasa! Kamu punya bakat vokal yang sangat besar."

Bu Margaret mendekati mereka dan menjelaskan dengan nada penuh perhatian. "Felix memang anak yang berbakat sekali, Tuan Ethan. Ia memiliki kemampuan vokal dan kemampuan menulis yang luar biasa."

"Namun karena penampilannya yang berbeda dan sifatnya yang pendiam, ia sering menjadi target ejekan teman-temannya."

"Selain itu, beberapa perusahaan yang datang merekrut juga tidak mau menerimanya karena menganggap penampilannya tidak sesuai standar industri."

Ethan melihat Felix dengan pandangan penuh perhatian. "Felix, apakah kamu berminat untuk menjadi trainee di perusahaan saya? Saya tidak melihat penampilanmu sebagai masalah-yang saya lihat adalah bakat luar biasa yang kamu miliki."

"Saya akan memberikanmu kesempatan untuk mengembangkan bakatmu dan membuktikan bahwa kamu layak berada di dunia industri hiburan."

Felix mengangkat wajahnya perlahan, matanya yang tertutup kacamata mulai menunjukkan cahaya harapan yang belum pernah tampak sebelumnya.

"Apakah... apakah benar, Tuan? Apakah ada orang yang benar-benar mau menerima saya?"

"Tentu saja, Felix," jawab Ethan dengan senyum hangat. "Kita akan membangun sesuatu yang besar bersama. Apa kamu mau bergabung dengan kami?"

Setelah beberapa saat, Felix mengangguk dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. "Ya, Tuan. Saya mau. Saya akan berusaha sebaik mungkin!"

Ethan menepuk bahu Felix dengan lembut. "Baiklah, besok kamu bisa datang ke perusahaan saya untuk mulai proses pendaftaran dan melihat kondisi tempat latihan kita, mungkin masih dalam perbaikan."

"Tapi saya yakin kamu akan menjadi bagian penting dari grup yang akan kita bentuk."

Bu Margaret tersenyum dengan senyum lega. "Terima kasih banyak, Tuan Ethan. Felix memang layak mendapatkan kesempatan seperti ini."

Sinar matahari mulai masuk melalui jendela ruangan, menyinari wajah Felix yang mulai menunjukkan senyum kecil pertama kalinya.

Ethan merasa yakin bahwa dia telah menemukan calon trainee pertama yang akan menjadi bagian penting dari perjalanan mereka membangun kembali Lucifer Entertainment.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!