NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 3 Malam Saat Segalanya Dimulai

Malam di villa keluarga Dewi terasa hidup dengan cahaya lampu gantung yang memantul di dinding kaca besar. Musik pelan mengalun lembut bercampur suara angin dari arah taman belakang. Meja-meja dipenuhi minuman dingin, lilin aroma terapi, dan bunga putih yang membuat suasana terlihat mewah namun hangat. Dewi berdiri di dekat ruang tengah dengan gaun elegan berwarna gelap, sementara Lia menemani di sampingnya sambil sesekali menggoda ekspresi gugup sahabatnya itu.

Meski mencoba terlihat tenang, jantung Dewi terus berdebar sejak tadi. Tatapannya berkali-kali mengarah ke pintu depan villa, menunggu seseorang datang. Ada rasa bahagia yang sulit ia sembunyikan malam itu, sampai-sampai Lia bisa menyadarinya dengan mudah.

“Kamu dari tadi nggak berhenti lihat pintu,” bisik Lia pelan sambil tersenyum kecil.

Dewi pura-pura sibuk membetulkan rambutnya. “Aku cuma memastikan tamunya datang dengan selamat.”

Lia tertawa pelan. “Atau memastikan Juna datang.”

Belum sempat Dewi membalas, suara mobil terdengar memasuki halaman villa. Cahaya lampu mobil menerangi taman sebentar sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk. Nafas Dewi seakan tertahan sesaat.

Pintu mobil terbuka perlahan. Juna turun lebih dulu dengan wajah santai,

Seorang biksu tua datang membawa dongkrak kayu dan beberapa alat sederhana. Wajahnya tenang meski suasana kuil sedang sibuk karena ritual malam.

“Biar saya bantu,” ucap biksu itu ramah.

Ravin langsung menggeleng cepat merasa tidak enak. Ia melihat banyak biksu lain sedang berdoa di aula utama kuil. “Tidak usah, Bhante. Saya sudah merepotkan karena berhenti di sini malam-malam.”

Biksu itu tersenyum kecil lalu menyerahkan dongkrak tersebut. “Kalau begitu pakailah ini. Hati-hati, malam di gunung sering membuat pikiran manusia mudah emosi.”

Ravin hanya menghela napas pelan setelah biksu itu pergi kembali ke dalam kuil. Tangannya mulai kotor terkena debu dan baut ban yang keras membuat emosinya semakin naik. Dari tadi perjalanan terasa buruk baginya. Jalan gelap, sinyal hilang, sekarang ban mobilnya malah bocor di tempat asing seperti ini.

“Kenapa semua apes datang sekaligus…” ucap Ravin kesal sambil membuka baut ban dengan tenaga lebih kuat.

Angin malam bertiup dingin melewati halaman kuil. Di atas atap batu dekat lentera merah yang redup, sosok roh wanita berambut panjang duduk diam sambil memperhatikan Ravin sejak tadi. Mata pucatnya mengikuti setiap gerakan pria itu dengan rasa penasaran yang aneh.

Roh bulan belum pernah melihat manusia yang begitu marah hanya karena benda bundar bernama ban. Namun di balik wajah kesal Ravin, ia juga melihat kelelahan dan hati yang terasa berat.

“Manusia itu aneh…” bisiknya lirih sambil menatap Ravin yang terus mengeluh sendiri di bawah cahaya bulan purnama.

Angin malam di halaman kuil tiba-tiba berubah jauh lebih dingin. Ravin yang sedang memasang ban cadangan perlahan menghentikan gerakannya saat merasakan bulu kuduknya berdiri. Udara di sekelilingnya terasa berat seolah suhu malam turun drastis hanya dalam beberapa detik.

Tanpa ia sadari, roh bulan telah berpindah lebih dekat. Sosok wanita berambut hitam panjang itu berdiri tidak jauh dari mobil, tersembunyi di balik bayangan pohon dan cahaya lentera merah kuil. Matanya yang pucat terus menatap Ravin tanpa berkedip, penuh rasa penasaran terhadap manusia asing itu.

Ravin menelan ludah pelan. Tangannya mulai gemetar kecil meski ia mencoba berpikir logis.

“Kenapa jadi dingin begini…” gumamnya pelan.

Ia menoleh ke sekitar halaman kuil yang mulai sepi. Hanya suara doa samar dari aula utama dan bunyi lonceng angin yang terdengar pelan. Namun entah kenapa, Ravin merasa seperti sedang diperhatikan seseorang sejak tadi.

Saat ia kembali membungkuk mengambil baut ban, bayangan putih samar terlihat sekilas di sudut matanya membuat Ravin refleks menoleh cepat.

“Siapa di sana?!”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin dingin yang berhembus pelan melewati pepohonan kuil. Nafas Ravin mulai terasa berat. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa kesal di hatinya berubah menjadi ketakutan yang sulit dijelaskan.

Sementara itu di villa Dewi, suasana hangat perlahan berubah canggung. Musik masih terdengar pelan, tetapi Dewi beberapa kali melihat layar ponselnya dengan wajah kesal karena Ravin belum juga datang.

“Masih nggak aktif?” tanya Lia pelan.

Dewi menghela napas lalu menggeleng. “Dari tadi nggak bisa dihubungi.”

Juna yang duduk di sofa mencoba tersenyum santai. “Mungkin dia batal datang.”

“Batal tanpa bilang?” jawab Dewi cepat dengan nada kecewa.

Ucapan itu membuat Juna diam beberapa detik. Entah kenapa, melihat Dewi begitu khawatir pada Ravin membuat hatinya terasa aneh. Tadi ia sempat berharap malam itu hanya ada dirinya bersama Dewi dan teman-temannya, tetapi sekarang ia justru sadar Dewi terus memikirkan Ravin sejak tadi.

“Kamu benar-benar menunggunya ya…” ucap Juna pelan sambil menatap gelas di tangannya.

Dewi sedikit terdiam mendengar nada suara Juna yang berubah. Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa begitu kesal Ravin belum datang. Mungkin karena Ravin selalu menepati janji, atau mungkin karena ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres malam ini.

Ravin menghela napas panjang setelah berhasil memasang kembali ban mobilnya. Tangannya kotor terkena lumpur dan air hujan, namun setidaknya mobilnya sudah bisa digunakan lagi. Di tengah udara malam yang dingin, ia membawa dongkrak menuju bangunan kuil tua yang masih dipenuhi cahaya lilin dan aroma dupa.

Suara doa para biksu masih terdengar samar dari aula utama. Dentingan lonceng kecil berpadu dengan suara hujan deras yang menghantam atap kuil, menciptakan suasana yang aneh sekaligus menenangkan.

Karena ritual belum selesai, seorang biksu tua yang tidak ikut berdoa menghampiri Ravin di halaman kuil.

“Terima kasih, Biksu. Dongkraknya sangat membantu,” ucap Ravin sambil menyerahkan kembali alat itu.

Biksu tua menerima dongkrak dengan senyum tipis. “Syukurlah. Malam seperti ini berbahaya jika sendirian di jalan.”

Ravin mengangguk pelan lalu melihat langit gelap yang dipenuhi hujan. Kabut mulai turun di sekitar pegunungan, membuat jalanan hampir tidak terlihat.

“Saya harus pergi sekarang. Teman saya sedang menunggu,” katanya sopan.

Namun sebelum Ravin melangkah pergi, petir menyambar cukup dekat hingga membuat halaman kuil terang sesaat. Angin dingin berembus kuat membuat pohon-pohon tua di sekitar kuil bergoyang pelan seperti bayangan raksasa.

Biksu tua menatap Ravin cukup lama.

“Lebih baik bermalam di sini sampai pagi.”

Ravin sedikit ragu. “Tidak apa-apa, saya bisa lanjut berkendara.”

“Jalan turun gunung licin. Sudah beberapa kali terjadi kecelakaan saat hujan deras,” jawab biksu itu tenang. “Lagipula… malam ini bukan malam yang baik untuk bepergian.”

Kalimat terakhir itu membuat Ravin merasa sedikit tidak nyaman.

Ia segera mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi Dewi. Wajah Dewi langsung terlintas di pikirannya, membayangkan gadis itu mungkin sedang kesal karena dirinya belum datang.

Namun layar ponselnya hanya menunjukkan tanda tidak ada sinyal.

“Hah… serius?” gumam Ravin pelan sambil mencoba mengangkat ponselnya lebih tinggi.

Tetap tidak ada jaringan.

Hujan malah semakin deras, disertai suara angin yang mulai menderu di antara bangunan kuil tua. Suasana malam terasa semakin dingin dan sunyi.

Ravin akhirnya menghela napas menyerah.

“Baiklah… saya akan menginap satu malam saja.”

Biksu tua tersenyum tipis lalu mempersilakan Ravin masuk ke area penginapan sederhana di belakang kuil.

Tanpa Ravin sadari, dari kejauhan… sepasang mata pucat sedang memperhatikannya diam-diam dari balik lorong gelap kuil

Ravin melangkah pelan mengikuti biksu muda melewati lorong kayu kuil yang remang. Suara hujan mengguyur atap terdengar berat dan dingin, bercampur dengan gema doa yang samar dari aula utama. Lampion tua bergoyang tertiup angin malam, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan di lantai.

“Beristirahatlah dulu. Ritual doa masih berlangsung sampai subuh,” ucap biksu itu tenang sambil membuka pintu ruangan kecil.

Ravin mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Ruangan itu sangat sederhana. Hanya ada alas kasur tipis di lantai, selimut lusuh, dan lampu minyak kecil dengan cahaya redup kekuningan di sudut ruangan. Tidak ada jendela besar, tidak ada hiasan apa pun. Udara dingin bahkan terasa masuk dari celah kayu tua di dinding.

Setelah pintu ditutup, suasana langsung sunyi.

Ravin duduk di atas alas kasur sambil mengusap rambutnya yang masih sedikit basah. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya justru semakin kacau. Ia menatap ponselnya berkali-kali berharap ada sinyal muncul agar bisa menghubungi Dewi.

Namun layar itu tetap kosong.

“Ah… jangan bilang benar-benar nggak ada sinyal,” ucapnya kesal.

Ia membayangkan suasana ulang tahun Dewi di villa. Musik, tawa, lampu pesta, dan Juna yang pasti ada di sana menemani Dewi. Entah kenapa bayangan itu membuat dada Ravin terasa panas.

“Pasti Juna lagi sok perhatian sekarang…” ucapnya pelan sambil merebahkan tubuh.

Namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam.

Hujan semakin deras. Angin malam membuat lampu minyak di sudut ruangan berkedip pelan. Entah karena suasana kuil atau pikirannya sendiri, Ravin merasa semakin tidak nyaman berada sendirian di tempat asing itu.

Akhirnya ia bangkit dan keluar ruangan.

“Aku cuma cari toilet sama sinyal sebentar,” katanya pada diri sendiri.

Lorong kuil terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Cahaya lampion remang membuat bangunan tua itu tampak seperti tempat yang berhenti dimakan waktu. Sesekali terdengar suara lonceng kecil dari aula doa, menggema pelan di tengah malam.

Ravin berjalan sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.

Tetap tidak ada jaringan.

“Hah… tempat macam apa sih ini?”

Saat terus berjalan, langkah Ravin perlahan terhenti di depan sebuah ruangan besar yang pintunya terbuka sedikit. Cahaya lilin keluar dari dalam ruangan bersama aroma dupa yang kuat.

Karena penasaran, Ravin mendorong pintu itu perlahan.

Kreeek…

Matanya langsung terpaku pada sebuah lukisan besar di dinding utama ruangan doa.

Seorang wanita bergaun putih dengan rambut hitam panjang sedang memeluk bulan bercahaya di dadanya. Wajahnya begitu cantik namun dipenuhi kesedihan yang aneh. Cahaya lilin membuat mata wanita dalam lukisan itu terlihat hidup.

Ravin melangkah mendekat tanpa sadar.

“lukisan macam apa ini…” ucapnya pelan.

Entah kenapa dadanya terasa sesak saat menatap lukisan itu terlalu lama. Seolah ada kesepian yang perlahan merayap keluar dari tatapan wanita tersebut.

Di luar, petir menyambar langit malam.

Dan sesaat setelah kilatan cahaya itu muncul…

Ravin merasa wanita di dalam lukisan itu sedang menatap balik ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!