Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Aroma ruangan rumah sakit yang khas tidak mengurangi kehangatan yang tercipta di dalam kamar rawat kelas tiga itu. Dokter Daniel Lee baru saja selesai memeriksa perkembangan kondisi fisik Bu Siti. Sambil mencatat sesuatu di papan klip medisnya, ia mendengarkan dengan saksama penuturan wanita tua di hadapannya.
Entah mengapa, Daniel selalu merasa betah berlama-lama di kamar ini. Ia sangat kagum mendengar kisah ketegaran hidup Bu Siti dan cucunya, Shanum. Di saat badai musibah datang menghantam silih berganti, dimana wanita kehilangan bayi, dikhianati suami, hingga penyakit jantung yang mendadak, wanita muda bernama Shanum itu masih sanggup bangkit berjuang demi kesembuhan sang nenek. Keteguhan hati seperti itu adalah hal yang sangat langka di mata Daniel.
Bu Siti yang melihat gurat keramahan di wajah sang dokter pun memberanikan diri untuk berbicara.
"Dokter, sebenarnya cucu saya ingin sekali bertemu dengan Dokter untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Tapi setiap sore ke sini, selalu saja tidak pas waktunya. Bisakah hari ini Dokter bertemu dengan cucu saya, Shanum?" tanya Bu Siti penuh harap.
Dokter Daniel melirik jam tangannya sejenak, lalu beralih menatap Bu Siti. Sebuah senyuman lebar yang tulus terukir di wajahnya yang tampan.
"Sepertinya bisa, Bu. Kebetulan sore ini saya tidak ada jadwal praktik di tempat lain maupun jadwal operasi darurat. Ya sudah, saya tunggu cucu Ibu di sini," jawab Daniel dengan nada suara yang tenang namun penuh wibawa.
Waktu terus merambat naik. Rasa cemas mulai merayapi hati Bu Siti. Matanya berulang kali melirik ke arah jam dinding yang berdetak nyaring. Sudah lewat lima belas menit dari waktu biasanya, namun tanda-tanda kehadiran Shanum belum juga terlihat.
Sementara itu, Dokter Daniel yang duduk di kursi samping ranjang juga sesekali melirik jam tangan mewahnya. Ia memiliki banyak urusan, namun entah ada dorongan apa yang membuatnya tetap setia bertahan di ruangan itu.
Melihat sang dokter mulai memeriksa arlojinya lagi, Bu Siti merasa tidak enak hati. "Duh, maaf ya Dokter, jadi menyita waktu Dokter Daniel..."
Daniel tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa, Bu. Tapi sepertinya cucu Ibu..."
Ceklek.
"Assalamualaikum, Nek!"
Pintu kamar terbuka dengan cepat. Shanum muncul di ambang pintu dengan napas yang tersengal-sengal. Jilbabnya sedikit bergeser karena ia habis berlari sepanjang koridor rumah sakit setelah turun dari angkutan umum yang sempat terjebak macet.
Dokter Daniel spontan menoleh ke arah sumber suara. Detik itu juga, gerakannya terkunci. Matanya menatap lurus ke arah wajah Shanum, wanita berhijab yang tadi pagi sempat menyenggol dadanya di depan area pintu masuk rumah sakit.
Di sisi lain, Shanum yang masih berusaha mengatur napasnya mendadak membeku. Pandangannya beradu dengan sepasang mata tajam di balik kacamata tipis milik pria berjas dokter di hadapannya.
Jantung Shanum berdebar dua kali lebih cepat. Ia terkejut, sekaligus terkesima. Pria jangkung yang berdiri dengan begitu gagah dan penuh karisma di samping ranjang neneknya ternyata adalah pria yang ia tabrak tadi pagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pria itu adalah Dokter Daniel Lee, sosok dokter spesialis jantung hebat yang selama ini diceritakan oleh sang nenek dan sangat ingin ia temui.
Ruangan itu seketika hening, menyisakan tatapan penuh arti di antara keduanya yang kembali dipertemukan oleh takdir.
Shanum melangkah pelan mendekati sisi tempat tidur Bu Siti dengan kepala tertunduk. Langkahnya terasa berat karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Kini, ia berdiri saling berhadapan dengan Dokter Daniel, terpisahkan oleh ranjang pasien di mana Bu Siti berada tepat di tengah-tengah mereka. Tatapan elang sang dokter yang lurus ke arahnya membuat atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu intens.
"Akhirnya kamu pulang juga, Num," ucap Bu Siti memecah keheningan, wajah tuanya memancarkan binar bahagia. "Kebetulan sekali ada Dokter Daniel yang sengaja Nenek tahan di sini. Bukankah kamu ingin sekali bertemu dengannya?"
Shanum tampak gugup dan salah tingkah. Ingatannya langsung melayang pada kejadian tadi pagi di depan rumah sakit, saat ia menyenggol dada bidang pria ini dengan begitu ceroboh. Siapa sangka, takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara seperti ini.
Shanum meremas pelan ujung jilbabnya untuk mengurangi rasa gemetar, Shanum akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Dokter Daniel... S.. saya ingin mengucapkan banyak terima kasih karena Dokter sudah menyelamatkan nyawa Nenek saya, satu-satunya keluarga yang saya miliki," ucap Shanum terbata-bata. Ia mengatakannya sambil tertunduk malu, sama sekali tak berani menatap langsung ke dalam manik mata sang dokter yang begitu memikat.
Dokter Daniel yang memperhatikan gerak-gerik gugup wanita di depannya itu mengulas senyum tipis. Suaranya terdengar begitu menenangkan saat membalas, "Sama-sama, Shanum. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya sebagai dokter untuk menyelamatkan pasien kritis seperti Ibu Siti."
Mendengar respons yang begitu ramah, Shanum sedikit mengumpulkan keberaniannya, meski suaranya masih terdengar bergetar. "Tapi Dok... pada malam itu, saya sebenarnya tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar seluruh biaya operasi Nenek."
"Sudah, kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu, Shanum. Yang penting sekarang Bu Siti cepat pulih," potong Dokter Daniel lembut, mencoba meringankan beban pikiran wanita muda itu.
Namun, harga diri dan keteguhan hati Shanum tidak membiarkannya pasrah begitu saja. "Tidak, Dok. Saya tetap ingin membayarnya... meskipun saya hanya bisa mencicilnya setiap bulan dari hasil kerja saya."
Mendengar ketegasan di balik suara lembut Shanum, Dokter Daniel perlahan beranjak dari tempat duduknya. Ia merapikan jas putihnya yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya.
"Sudahlah, kamu tidak usah memikirkan hal itu dulu. Yang penting sekarang kau fokus saja pada kesembuhan Bu Siti," tegas Dokter Daniel lagi, menyudahi perdebatan kecil itu dengan penuh wibawa.
Shanum seketika terdiam. Otaknya berputar keras, mencari cara lain agar bisa melunasi biaya operasi sang nenek sesegera mungkin. Ia tidak mau memiliki hutang budi yang besar, terutama menyangkut masalah uang. Meskipun hidupnya sedang dihantam badai, di dalam lubuk hatinya, Shanum merasa ia masih sanggup berjuang dan bertanggung jawab atas takdirnya sendiri.
Sementara itu, Dokter Daniel mulai melangkah pelan menuju pintu keluar. Sambil berjalan, sebuah senyuman tipis misterius terukir di bibirnya. Pikirannya mendadak teralih pada masalah pribadi yang sedang dihadapinya di rumah.
'Sepertinya aku harus secepatnya mencari ibu susu untuk Ziva. Donor ASI yang kemarin malam malah membuat kulit putri kecilku timbul bercak-bercak merah. Aku sampai lupa kalau Ziva memiliki alergi. Apakah mungkin pemilik ASI yang kemarin hobinya makan makanan seafood?'batin Dokter Daniel bingung sekaligus khawatir memikirkan kondisi bayinya yang masih sangat kecil.
Tanpa mereka sadari, sebuah benang takdir yang baru tampaknya mulai terajut di antara kerumitan hidup yang sedang mereka jalani masing-masing.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali