NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3: Sekedar tamu yang mampir

Karya Vian's

Matahari baru saja memanjat pucuk-pucuk pohon saat bunyi kunci diputar terdengar dari pintu depan. Sila masuk dengan langkah riang, sementara Farel mengekor di belakang sambil menahan uap kantuk.

"Pagi, Mbak Savya! Wah, aromanya sudah sampai ke parkiran," seru Sila sambil meletakkan tasnya di bawah meja bar.

Savya yang sedang menata cangkir porselen menoleh, mencoba menarik senyum terbaiknya. "Pagi, Sila. Tumben kalian sampai barengan?"

Farel menarik kursi tinggi dan duduk dengan lemas. "Tadi di jalan ketemu anak ini lagi mogok motornya, Mbak. Ya sudah, angkut saja sekalian daripada dia telat," keluh Farel, meski tangannya cekatan membantu mengambil kain lap bersih.

Sila mencibir ke arah Farel. "Bilang saja mau pamer motor baru, Rel. Mbak, hari ini stok biji kopi yang Arabica masih aman kan?"

"Masih, Sila. Oh iya, Farel, tolong cek mesin espreso ya. Sepertinya tekanannya agak rendah tadi pagi," sahut Savya sambil terus bergerak.

Sila memperhatikan Savya sejenak. "Mbak Savya kok pucat? Kurang tidur ya gara-gara mikirin menu baru... atau mikirin pelanggan baru?" Sila menyenggol lengan Savya sambil menggoda, matanya mengerling jenaka.

Savya tertegun sejenak, bayangan pria itu kembali melintas. Namun ia segera menggeleng. "Nggak, Sila. Cuma agak capek saja karena semalam beresin catatan stok."

Farel yang sedang sibuk dengan mesin uap menyahut tanpa menoleh, "Mbak, hidup itu kayak kopi. Kalau terlalu banyak berharap manis, nanti malah lupa rasa aslinya. Santai saja."

Sila tertawa. "Sok bijak kamu, Rel! Sudah, Mbak, mending kita fokus. Hari ini katanya ada rombongan kantor yang mau mampir jam sepuluh."

Savya mengangguk, mencoba menanamkan kata-kata Farel di kepalanya. Santai saja. Ia mulai memutar papan tanda di depan pintu dari CLOSED menjadi OPEN.

"Ya sudah, ayo mulai. Sila, kamu bagian kasir dan cek pesanan online. Farel, kamu bantu Mbak di bar ya," instruksi Savya.

Saat lonceng pintu berdenting untuk pertama kalinya pagi itu, jantung Savya sempat mencelos. Namun, saat ia melihat yang masuk adalah seorang kurir paket, ia menarik napas dalam. Ia kembali sadar, hari ini akan menjadi hari yang panjang, dan ia harus berhenti mencari satu wajah di antara ribuan orang yang mungkin lewat.

Aroma kopi yang dipanggang dan manisnya kayu manis biasanya menjadi penenang paling ampuh bagi Savya. Namun, hari ini, wangi itu terasa hambar. Tanpa sadar matanya Berkali-kali terlempar ke arah pintu kaca cafe yang dihiasi denting lonceng kecil. Setiap kali lonceng itu berbunyi, jantungnya memberikan reaksi kecil—sebuah antisipasi yang kemudian layu begitu melihat yang datang bukanlah sosok yang ia bayangkan.

Pria itu, Pria dengan inisial "V" pada kertas catatan kecil, tidak muncul.

" Tunggu dulu, kenapa aku jadi kepikiran pria itu." batinnya. Savya tersadar bahwa tidak biasanya dia mengharapkan kehadiran orang yang mungkin hanya sekedar mampir hanya untuk mencicipi kopi di kedai miliknya.

Sampai pada pukul sepuluh pagi lewat, dan kursi di sudut dekat jendela—tempat Pria itu duduk sambil menyesap kopi hitamnya dalam diam—masih kosong. Savya menyeka meja bar dengan gerakan mekanis. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya sedang memastikan kebersihan cafe, bukan sedang memantau jam dinding yang detaknya terasa lebih lambat dari biasannya.

Matahari tepat di atas kepala, dan denting lonceng di pintu kedai seolah tidak berhenti berbunyi. Suara mesin penggiling kopi bersahutan dengan riuh percakapan pengunjung dan denting sendok yang beradu dengan cangkir. Udara di dalam kedai dipenuhi aroma kafein yang tajam dan uap susu yang panas.

Kesibukan cafe mulai meningkat saat jam makan siang hampir tiba. Savya tenggelam dalam pesanan latte dan croissant, mencoba mengalihkan fokusnya sepenuhnya pada kepuasan pelanggan. Namun, di sela-sela uap susu yang membubung, bayangan percakapan hangat tempo hari terus berputar di kepalanya. Kehadiran Pria berinisial " V " yang misterius namun tenang itu seolah telah meninggalkan jejak permanen di sudut matanya.

"Satu Ice Hazelnut Latte dan dua Americano untuk meja nomor empat, Sila!" seru Savya dari balik mesin espreso. Tangannya bergerak sangat cepat, melakukan tamping dan ekstraksi tanpa jeda.

Sila, yang tangannya sibuk menari di atas layar kasir sambil sesekali mengelap keringat di dahi, menyahut lantang, "Siap, Mbak! Meja nomor empat sudah bayar! Lalu ini ada tambahan pesanan take away lima Cafe Latte!"

Farel yang baru saja selesai mengantarkan nampan ke sudut ruangan, segera kembali ke balik bar. Ia melihat Sila mulai kewalahan menangani antrean yang mengular sampai ke dekat pintu.

"Sila, biar aku yang bungkus pesanan take away-nya! Kamu fokus di kasir saja, jangan sampai salah hitung kembalian," ujar Farel sambil meraih gelas-gelas plastik dengan tangkas.

"Terima kasih, Rel! Duh, untung ada kamu. Ini pesanan ojek daring juga sudah bunyi terus!" Sila menarik napas pendek, lalu kembali tersenyum ramah pada pelanggan di depannya.

"Selamat siang, Kak, mau pesan apa?" Tanya Savya pada pelanggan yang ingin memesan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Savya sempat melirik ke arah pintu. Harapan kecil yang sedari pagi ia simpan—bahwa pria misterius itu akan muncul di jam makan siang—perlahan mulai terkikis oleh kenyataan. Kedai sangat ramai, namun kursi di pojok jendela itu kini diduduki oleh sepasang remaja yang sibuk berswafoto, bukan oleh pria yang ia nantikan.

"Mbak Savya, susu cair di kulkas bawah habis!" seru Farel memecah lamunan singkat Savya.

Savya segera tersadar. "Oh, sebentar! Farel, kamu ambil alih mesin sebentar, Mbak ambilkan stok di gudang belakang."

"Oke, Mbak, biar aku yang pegang mesin!" Farel berpindah posisi dengan sigap. Saat berpapasan dengan Sila, ia sempat berbisik, "Semangat, Sil! Habis ini kita gantian istirahat."

Sila hanya sempat mengacungkan jempol sambil memberikan struk pada pelanggan. Meski keteteran, ritme kerja mereka bertiga terasa seperti sebuah simfoni yang padu. Kesibukan ini perlahan-lahan mulai membunuh rasa sepi yang sejak pagi menghantui pikiran Savya.

Sore mulai merayap naik, dan gelombang pelanggan jam makan siang perlahan mulai surut, menyisakan beberapa cangkir kosong yang berserakan di meja. Savya berdiri di balik bar, tangannya masih sibuk mengelap sisa uap air di mesin Espresso, namun pandangannya tertuju pada kursi di pojok jendela yang kini kosong lagi setelah ditinggalkan pasangan remaja tadi.

Ia menghela napas panjang, kali ini bukan karena lelah, melainkan karena kelegaan yang dipaksakan.

"Mbak Savya?" Panggilan Sila memecah keheningan singkat itu. "Tadi Mbak bengong lagi ya? Masih nungguin pelanggan yang kemarin itu?"

Savya tertegun, lalu tertawa kecil—tawa yang terdengar jauh lebih ringan dari sebelumnya. Ia meletakkan kain lapnya dan menatap Sila dengan tegas. "Enggak, Sila. Mbak cuma baru sadar sesuatu."

Farel yang sedang menyusun kembali stoples biji kopi menoleh. "Sadar apa, Mbak? Kalau mesinnya perlu diservis?"

"Bukan," jawab Savya tenang. "Mbak sadar kalau kedai ini memang tempat orang untuk singgah. Ada yang datang setiap hari sampai kita hafal namanya, tapi ada juga yang cuma mampir sekali karena penasaran, lalu tidak pernah kembali lagi. Dan itu... wajar sekali."

Savya mengambil sebuah cangkir bersih, menimangnya sebentar sebelum menyimpannya ke rak.

"Pria itu—V, atau siapa pun dia—mungkin memang cuma salah satu dari mereka yang sekadar butuh kopi di sore yang hujan. Tidak ada yang spesial. Harusnya Mbak tidak perlu memikirkannya sampai seolah-olah dia akan menjadi bagian dari rutinitas kedai ini." Ujar Savya dengan senyum hangat.

Sila tersenyum simpul, mengerti arah pembicaraan kakaknya. "Bagus deh kalau Mbak sadar. Lagian, pelanggan yang mampir itu kayak angin lewat saja, Mbak. Kalau kita capek nungguin angin, nanti malah masuk angin sendiri."

"Sok tahu kamu," sela Farel sambil tertawa kecil, namun ia mengangguk setuju pada ucapan Savya.

Savya merasa sebuah beban yang tak kasat mata baru saja terangkat dari pundaknya. Ia tidak lagi melihat ke arah pintu dengan harapan setiap kali lonceng berbunyi. Baginya sekarang, siapa pun yang masuk—baik itu pria misterius berinisial V atau pelanggan baru lainnya—hanyalah seseorang yang butuh secangkir kehangatan, dan tugasnya hanyalah menyajikannya dengan baik, tanpa perlu melibatkan hati lebih jauh lagi.

Ia mulai bersiap-siap untuk sesi sore, merapikan apronnya, dan kembali fokus pada aroma kopi yang nyata di depannya, bukan pada bayangan yang belum tentu kembali.

Saat sore mulai turun dan semburat oranye menyentuh lantai kayu cafe, kursi sudut itu tetap tak berpenghuni. Savya berhenti sejenak di depan mesin espresso yang sudah dibersihkan. Ia menatap kursi kosong itu cukup lama, sampai akhirnya sebuah kesadaran menghantamnya seperti air dingin.

Ia tertawa kecil, tawa yang getir dan penuh ejekan untuk dirinya sendiri.

"Bodoh," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar di antara alunan musik lo-fi yang mengalun di ruangan itu. Lalu Ia mulai bersiap-siap untuk sesi sore, merapikan apronnya, dan kembali fokus pada aroma kopi yang nyata di depannya, bukan pada bayangan yang belum tentu kembali

Savya menyadari satu hal yang seharusnya sudah ia pahami sejak awal: "Cafe ini adalah tempat persinggahan. Orang-orang datang membawa cerita mereka, duduk sejenak untuk mencari ketenangan, lalu pergi kembali ke kehidupan mereka yang sebenarnya. Ada yang menjadi pelanggan setia yang datang setiap hari, namun ada pula yang hanya sekedar mampir karena rasa penasaran—seperti burung migran yang hanya singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan jauh. "

Pria itu hanyalah salah satu dari mereka. Seorang pelanggan. Tidak lebih.

Kenyataan bahwa mereka sempat berbagi percakapan yang terasa "berbeda" tidak memberi Savya hak untuk mengharapkan kehadirannya. Kehangatan yang ia rasakan kemarin mungkin hanyalah keramahan standar seorang pemilik cafe yang salah ia artikan sebagai koneksi pribadi.

Ia menarik napas panjang, membiarkan udara dingin sore itu mengisi paru-parunya. Savya mulai melepas celemek-nya, melipatnya dengan rapi, dan mematikan lampu utama satu per satu. Ia harus berhenti menunggu sesuatu yang tidak pernah menjanjikan untuk datang kembali.

Dunia terus berputar, pesanan akan tetap mengalir besok, dan Savya harus tetap menjadi tuan rumah yang baik bagi siapa pun yang melewati pintu itu—tanpa harus memberikan hatinya pada setiap tamu yang datang.

Bunyi rolling door yang ditarik Farel berderit nyaring, membelah kesunyian jalanan di depan kedai. Sila keluar lebih dulu sambil menggendong tas ranselnya, wajahnya tampak lelah namun puas.

"Duh, kakiku rasanya mau lepas, Mbak," keluh Sila sambil melakukan peregangan kecil di bahu jalan. "Tapi hari ini seru, target penjualan kita kayaknya tembus deh."

Savya mengunci pintu kaca dari dalam, lalu keluar bergabung dengan mereka. Ia menghirup udara malam yang segar, membiarkan sisa aroma kopi yang menempel di bajunya memudar perlahan.

"Terima kasih ya, Sila, Farel. Mbak nggak tahu apa jadinya kalau tadi siang kalian nggak sigap," ucap Savya tulus.

Farel yang sedang merapikan jaket motornya hanya mengangguk santai. "Sudah tugas kita, Mbak. Lagian, besok-besok kalau Mbak kelihatan melamun lagi, aku bakal sengaja tumpahin susu biar Mbak kaget dan sadar."

Sila tertawa keras mendengar candaan Farel. "Ih, jahat banget! Tapi bener, Mbak. Pokoknya besok Mbak Savya harus lebih semangat. Jangan ada lagi drama nungguin 'si misterius' itu, oke?"

Savya tersenyum, kali ini senyumnya terasa sangat lepas. Ia tidak melirik lagi ke arah kursi pojok jendela melalui kaca pintu. Baginya, bab tentang penantian itu sudah ia tutup bersamaan dengan terkuncinya pintu kedai tadi.

"Iya, Mbak janji. Besok kita fokus buat menu baru saja," jawab Savya mantap. "Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Sila, jangan main ponsel sambil jalan. Farel, bawa motornya jangan ngebut."

"Siap, Mbak!" seru Sila sambil melambai. "Duluan ya, Mbak! Yuk, Rel!"

"Duluan, Mbak Savya," pamit Farel sambil menyalakan mesin motornya.

Savya berdiri sejenak, memperhatikan kedua rekannya yang mulai menjauh. Ia merasakan ketenangan yang berbeda malam ini. Bukan ketenangan karena mendapatkan jawaban, melainkan ketenangan karena ia berhenti mencari pertanyaan yang tidak perlu.

Sila dan Farel sudah bersiap di atas motor masing-masing. Sila sempat menoleh ke arah Savya yang masih berdiri di depan pintu kedai sambil memegang ponselnya.

"Loh, Mbak Savya belum dijemput ?" tanya Sila heran. Biasanya, tepat saat kedai tutup, mobil sang ayah sudah terparkir manis di depan.

Savya menggeleng sambil memasukkan ponsel ke tasnya. "Enggak, Sila. Ayah barusan pesan kalau beliau mendadak ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Sepertinya Mbak pulang naik bus atau ojek daring saja."

"Wah, mau Farel antar saja, Mbak? Tapi motornya ya begini, agak berisik," tawar Farel tulus sambil menepuk jok belakang motornya.

Savya tertawa kecil, menghargai tawaran itu. "Tidak usah, Farel. Kasihan kamu, rumah kita kan beda arah jauh sekali. Kamu langsung pulang saja, istirahat. Mbak malah pengen menikmati angin malam sambil naik bus, kok."

"Beneran nggak apa-apa, Mbak?" Sila memastikan sekali lagi. "Kalau mau, aku temani tunggu di halte sampai busnya datang."

"Nggak perlu, Sila. Haltenya cuma jalan sebentar ke depan. Kalian duluan saja, hati-hati ya," jawab Savya dengan nada yang meyakinkan.

Setelah Sila dan Farel menjauh, suasana jalanan terasa lebih sunyi. Savya mulai melangkah pelan menuju halte yang jaraknya beberapa ratus meter dari kedai. Angin malam yang dingin mulai menembus kardigan tipisnya, namun anehnya, ia justru merasa segar.

Saat duduk di bangku halte yang keras, Savya melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Ia teringat bagaimana tadi pagi ia begitu mengharapkan kehadiran seseorang, namun kini, ia justru sendirian menunggu kendaraan umum.

“Hidup memang begini,” batinnya. “Kadang ada yang menjemput, kadang kita harus berjalan sendiri. Kadang ada yang datang menetap, kadang cuma lewat.”

Bus kota akhirnya datang dengan suara mesin yang menderu pelan. Savya naik, memilih kursi di dekat jendela, dan menyandarkan kepalanya di kaca yang dingin. Saat bus mulai bergerak, ia melihat kedainya yang sudah gelap dari kejauhan. Tempat itu, dan pria misterius di dalamnya, perlahan-lahan tertinggal di belakang—seperti halnya perasaan gelisah yang ia rasakan sepanjang hari.

Malam itu, di dalam bus yang bergoyang pelan, Savya akhirnya benar-benar melepaskan pikirannya. Ia hanya ingin pulang, bertemu keluarganya, dan tidur dengan nyenyak.

..." Story by Vian's. "...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!