Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
POV vivian
Aku menghempaskan tas Hermès merahku ke atas meja rias dengan kasar hingga botol parfum kristal di atasnya bergetar. Pantulan wajahku di cermin—wajah yang selalu dipuja oleh kolom gosip sebagai "Wajah Masa Depan Utama Group"—malam ini tampak kusam karena amarah.
"Kerabat jauh? Hah! Pembohong besar," desisku sambil menghapus lipstik merahku dengan kasar.
Aku, Vivianne Rahardja, tidak pernah salah dalam membaca gestur pria. Aku telah mengenal Charles Utama sejak dia masih menjadi pemuda yang hancur setelah kematian orang tuanya. Aku adalah wanita yang berdiri di sampingnya di setiap gala bisnis, wanita yang paling masuk akal untuk menyandang nama Nyonya Utama. Tapi gadis itu... gadis berseragam yang bernama Andini itu, telah merusak segalanya.
Aku meraih ponselku dan membuka kembali foto yang dikirimkan oleh informanku di SMA Nusantara. Foto itu diambil secara diam-diam dari sudut aula. Di sana, Charles—pria yang bahkan tidak pernah membiarkan sekretaris pribadinya menyentuh jasnya—sedang memberikan sebuah pulpen pada gadis itu.
Matanya. Aku tidak bisa melupakan mata Charles di foto itu. Itu bukan tatapan seorang pengusaha pada "investasinya". Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang memberikan dunianya pada seseorang.
"Andini... anak dari Sudarman dan Narsiah. Orang-orang kecil yang tidak punya sejarah," aku bergumam sambil membaca profil singkat yang berhasil kudapatkan dari koneksiku di dinas kependudukan. "Bagaimana mungkin Charles terikat pada gadis dari keluarga guru honorer?"
Aku tertawa sinis. Rasa iri ini membakar dadaku lebih panas dari alkohol yang kuteguk tadi malam. Aku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba menembus dinding es Charles, mencoba menjadi wanita yang cukup "kuat" dan "dingin" untuk berada di sisinya. Namun, gadis kecil ini datang tanpa melakukan apa pun, tanpa perhiasan mahal, hanya dengan seragam sekolah yang kusam, dan dia berhasil merobohkan dinding itu hanya dalam hitungan bulan?
"Kau pikir kau aman di bawah perlindungannya, manis?" aku menyentuh layar ponsel tepat di wajah Andini. "Charles mungkin bisa melindungimu di dalam apartemennya, tapi dunia luar adalah areaku."
Aku menekan sebuah nomor di daftar kontakku. Seseorang dari media *online* terkemuka yang selalu berutang budi padaku.
"Halo? Ya, ini Vivian. Aku punya berita besar untukmu. Sesuatu yang akan mengguncang nilai saham Utama Group besok pagi. 'Skandal Rahasia Sang CEO dengan Gadis di Bawah Umur'. Menarik, bukan?"
Aku menutup telepon dengan senyum kemenangan. Jika Charles ingin bermain sandiwara, maka aku akan menjadi sutradaranya. Aku akan menarik Andini keluar dari persembunyiannya. Aku akan membiarkan publik, para pemegang saham, dan Kakek Utama sendiri yang menghancurkan hubungan itu.
Charles adalah pria yang logis. Saat saham perusahaannya terjun bebas dan reputasinya hancur karena seorang siswi SMA, dia akan menyadari bahwa Andini adalah beban yang harus dibuang. Dan saat itu terjadi, aku akan berada di sana untuk memungut kepingan-kepingannya.
"Selamat menikmati malam terakhirmu yang tenang, Andini," ucapku pada keheningan kamar. "Besok, seluruh dunia akan tahu siapa kau sebenarnya. Dan percayalah, dunia orang dewasa tidak akan selembut pelukan Charles."
Aku melangkah menuju balkon, menatap gedung Utama Tower di kejauhan. Badai sedang menuju ke sana, dan kali ini, aku pastikan tidak akan ada payung yang cukup besar untuk melindungi mereka berdua.