Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Ruang kerja itu kembali menjadi tempat yang paling sering didatangi Seraphina dalam beberapa hari terakhir, seolah ruangan itu perlahan berubah menjadi pusat dari segala yang ia rencanakan. Pintu selalu tertutup rapat, tirai ditarik setengah hingga cahaya hanya masuk secukupnya, dan lampu meja menyala lembut menerangi permukaan kayu yang kini dipenuhi berbagai dokumen. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda, tidak ada tanda bahwa sesuatu yang besar sedang disusun dengan tenang di dalamnya.
Seraphina duduk tegak di kursinya, bahunya rileks namun posturnya tetap terjaga, menunjukkan kendali yang tidak goyah. Sebuah map terbuka di hadapannya, lembar-lembar laporan keuangan tersusun rapi dengan beberapa tanda kecil yang ia buat menggunakan pena. Angka-angka yang dulu hanya ia lihat sekilas kini menjadi sesuatu yang ia baca dengan penuh perhatian, seolah setiap digit memiliki suara yang ingin ia dengar dengan jelas.
Ia menggeser satu halaman ke samping, matanya mengikuti baris demi baris tanpa terburu-buru. Tidak ada ekspresi yang berubah di wajahnya, tidak ada kerutan kening atau tarikan napas yang menunjukkan kejutan. Hanya ketenangan yang terasa sedikit kaku, seperti permukaan air yang diam tetapi menyimpan arus kuat di bawahnya.
Aliran dana yang tercatat tampak normal pada pandangan pertama, masuk dan keluar dengan ritme yang terlihat wajar bagi siapa pun yang tidak memperhatikan lebih dalam. Namun bagi Seraphina, setiap pergerakan itu seperti pola yang sedang menunggu untuk dibaca dengan cara yang tepat. Ia tidak lagi melihatnya sebagai angka, melainkan sebagai jejak.
Ia berhenti pada satu angka yang mencolok karena besarnya, meskipun tidak terlalu berbeda jika dilihat tanpa perbandingan. Tanggal yang tertera tidak terlalu lama, masih berada dalam rentang waktu yang jelas ia ingat. Ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu membuka laporan lain untuk memastikan perasaannya bukan sekadar dugaan.
Jemarinya bergerak cepat namun tetap terkontrol, menyusun dua dokumen itu berdampingan. Ia membandingkan angka, tanggal, dan jalur transaksi dengan teliti, membiarkan pikirannya bekerja tanpa gangguan. Semakin lama ia melihat, semakin jelas pola itu terbentuk di hadapannya.
Ia mengambil pena, memberi garis tipis pada angka yang sama di dua halaman berbeda, lalu menandai tanggal yang berulang dengan simbol kecil. Tindakan itu sederhana, tetapi cukup untuk menguatkan apa yang ia lihat.
Berulang.
Tidak hanya sekali.
Seraphina menyandarkan punggungnya perlahan, tetap menatap dokumen-dokumen itu dengan fokus yang tidak berkurang. Tidak ada kejutan yang muncul, tidak ada kemarahan yang meledak, hanya pengakuan diam terhadap sesuatu yang memang sudah ia duga sejak awal.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Nada suaranya datar, tanpa tekanan emosi, seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang memang ia cari.
Ia kembali menunduk, membuka file lain yang berisi daftar investasi. Halaman itu lebih tebal dan lebih kompleks, dipenuhi istilah dan rincian yang tidak sederhana. Namun Seraphina tidak berhenti atau melambat, ia membaca semuanya dengan kesabaran yang sama.
Setiap baris ia perhatikan, setiap nama ia simpan dalam ingatan, dan setiap angka ia bandingkan dengan apa yang sudah ia lihat sebelumnya. Ia tidak melewatkan satu pun detail, bahkan yang tampak tidak penting sekalipun.
Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang membuat jemarinya berhenti.
Sebuah nama perusahaan yang tidak ia kenal muncul di antara daftar investasi besar. Nilainya cukup signifikan untuk tidak dianggap sepele, dan yang lebih penting, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa ia pernah menyetujui hal itu.
Seraphina menatap nama itu lebih lama, matanya menyipit sedikit tanpa perubahan lain di wajahnya. Ia mengingat dengan jelas bagaimana sistem yang ia bangun seharusnya bekerja, bagaimana setiap keputusan besar harus melewati dirinya sebelum dijalankan.
Itu bukan sekadar prosedur.
Itu adalah aturan.
Dan yang ada di hadapannya sekarang jelas melanggar semua itu.
Ia membuka dokumen tambahan untuk mencari rincian lebih lanjut, tangannya bergerak lebih cepat sekarang meskipun tetap terkontrol. Tanggal, nominal, dan jalur dana kembali ia susun dalam pikirannya, membentuk garis yang semakin jelas dari satu titik ke titik lain.
Semua mengarah ke satu nama.
Darius.
Ia tidak perlu melihatnya tertulis secara langsung, karena pola itu sudah cukup untuk menunjuk siapa yang berada di baliknya. Cara transaksi dilakukan, waktu pelaksanaannya, dan posisi yang memungkinkan semua itu terjadi tidak meninggalkan banyak pilihan.
Seraphina menutup dokumen itu perlahan, membiarkan keheningan memenuhi ruangan selama beberapa detik. Tidak ada suara lain selain detak jam yang samar, namun pikirannya tetap bergerak dengan tenang.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
Bukan senyum yang hangat.
Bukan pula senyum yang pahit.
Lebih seperti bentuk penerimaan terhadap sesuatu yang akhirnya menjadi jelas tanpa perlu dipaksakan.
“Jadi… sudah selama ini,” bisiknya pelan.
Ia kembali membuka dokumen sebelumnya, kali ini dengan tujuan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari kejanggalan secara acak, melainkan memastikan bahwa semua yang ia lihat benar-benar terhubung.
Dan semakin ia membaca, semakin jelas pola itu terbentuk.
Aliran dana yang tidak wajar.
Investasi tanpa sepengetahuannya.
Perpindahan aset yang terlihat rapi di permukaan, tetapi menyisakan jejak jika diperhatikan lebih dalam.
Semua itu tidak terjadi dalam satu waktu.
Semua itu dibangun perlahan.
Terukur.
Disusun dengan kesabaran.
Seolah seseorang sedang mengambil sesuatu sedikit demi sedikit tanpa ingin menarik perhatian.
Seraphina menatap angka-angka itu lama, pikirannya kembali pada masa lalu yang kini terasa seperti sesuatu yang jauh. Ia mengingat hari-hari ketika ia merasa semuanya berjalan baik, ketika ia percaya bahwa apa yang ia bangun akan tetap utuh selama ia mempercayakan sebagian kendali pada orang yang ia anggap layak.
Ia mengingat bagaimana ia tidak pernah merasa perlu untuk memeriksa ulang, karena baginya kepercayaan tidak seharusnya dipertanyakan terus-menerus. Ia percaya bahwa membagi tanggung jawab adalah bagian dari menjaga keseimbangan.
Dan sekarang, ia melihat hasil dari semua itu.
Bukan dalam bentuk kehancuran besar yang datang tiba-tiba, melainkan kehilangan kecil yang terus bertambah tanpa disadari.
Seraphina menutup matanya sejenak, membiarkan semua itu tersusun rapi di dalam pikirannya. Ia tidak menyalahkan dirinya sepenuhnya, tetapi ia juga tidak mengabaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia terlalu percaya.
Ia terlalu yakin.
Ia terlalu lama menutup mata terhadap kemungkinan yang tidak ingin ia hadapi.
Ketika ia membuka mata kembali, tidak ada lagi sisa keraguan di sana. Tatapannya lebih tajam, lebih dingin, dan lebih sadar dari sebelumnya.
Ia meraih pena, membuka halaman kosong di buku catatannya, dan mulai menulis dengan rapi. Setiap tanggal yang mencurigakan ia catat, setiap nominal yang tidak masuk akal ia tandai, dan setiap nama yang muncul berulang ia beri perhatian khusus.
Tulisan itu tidak terburu-buru, setiap baris disusun dengan pertimbangan yang matang. Ini bukan sekadar catatan biasa, melainkan peta yang ia bangun untuk memahami jalur yang selama ini tersembunyi.
Beberapa menit berlalu tanpa gangguan, halaman itu perlahan terisi dengan informasi yang semakin jelas. Seraphina berhenti sejenak, menatap hasil tulisannya dengan tenang.
Ia tidak merasa panik.
Tidak merasa kehilangan.
Yang ia rasakan justru kejelasan yang selama ini tidak ia miliki.
Ia menutup buku catatannya perlahan, lalu berdiri dan berjalan menuju meja kecil tempat laptopnya berada. Perangkat itu ia buka dengan gerakan yang tenang, memasukkan kata sandi tanpa ragu.
Layar menyala, menampilkan sistem keuangan keluarga yang selama ini ia biarkan berjalan tanpa banyak campur tangan. Akses yang dulu ia berikan dengan mudah kini terasa seperti sesuatu yang harus ia atur ulang.
Seraphina menggerakkan kursor dengan perlahan, membuka pengaturan satu per satu. Tangannya stabil, pikirannya terarah, dan setiap keputusan ia ambil tanpa keraguan.
Ia tidak mengubah semuanya secara drastis.
Ia tidak menutup akses secara langsung.
Ia hanya menggeser batas.
Menyempitkan ruang.
Membuat jalur yang sebelumnya terbuka menjadi lebih sulit dilalui.
Beberapa izin ia ubah dengan hati-hati, beberapa akses ia batasi tanpa meninggalkan jejak yang mencolok. Semua dilakukan dengan perhitungan yang matang, cukup untuk memperlambat siapa pun yang mencoba menggunakannya tanpa persetujuan.
Seraphina berhenti sejenak, menatap layar untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Ia memeriksa ulang setiap perubahan, memastikan semuanya tepat tanpa berlebihan.
Setelah yakin, ia menutup laptop itu perlahan.
Ruangan kembali hening, hanya menyisakan keberadaan dirinya dan semua yang baru saja ia lakukan. Ia berdiri diam beberapa detik, lalu berjalan kembali ke meja utama.
Tangannya menyentuh permukaan kayu itu dengan ringan, hampir tanpa tekanan, seolah menegaskan bahwa ia masih berada di tempat yang sama tetapi dengan posisi yang berbeda.
Pikirannya tenang.
Lebih tenang dari sebelumnya.
Karena sekarang, ia tidak lagi hanya mengamati dari jauh.
Ia sudah mulai bergerak.
Langkah kecil yang tidak terlihat oleh siapa pun, tetapi cukup untuk mengubah arah yang selama ini berjalan tanpa ia sadari.
Seraphina menatap ke depan dengan mata yang dingin namun stabil, tidak ada keraguan atau kebimbangan yang tersisa. Semua sudah tersusun, dan ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Kali ini,” ucapnya pelan.
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.
“Tidak ada yang akan menyentuh milikku tanpa izin.”