Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan kesiangan : 17
“Woy! Hei! Berhenti! Skenarionya tak macam itu! Berhenti ku bilang!” Sarwanto keluar dari balik pohon sawit tinggi menjulang, tempatnya bersembunyi. Berlari seraya meniup peluit. Talkie walkie dalam cengkramannya terlempar.
Byur!
Asisten sang juragan muda tercebur masuk ke dalam parit berair sedalam paha orang dewasa.
Intan bersedekap tangan, menatap tenang pada pria berusaha keluar dalam kubangan air berwarna kekuningan seperti kopi susu.
Keempat pencuri tandan sawit yang menyamar menjadi preman palak, saling pandang. Sama-sama bingung harus bagaimana, mereka seperti anak ayam kehilangan induknya.
Si kurus masih gemetaran, dia takut jarum suntik, berakhir bersembunyi dibalik badan ketiga rekannya.
Basah kuyup, ponsel pun ikut tenggelam. Sarwanto tergopoh-gopoh mendekati para manusia yang menatap aneh ke arahnya.
“Aku kan sudah bilang, jangan sampai mengacungkan senjata tajam ke bu bidan! Mengapa kalian seakan-akan jadi ahli pedang samurai?!” pria berekspresi mengenaskan tengah memarahi para preman amatiran, baru tadi pagi direkrut jadi penjahat bohongan.
“Macam mana kami mau menakuti, kalau dengan suara bak Ular mendesis dia tak takut?” si kurus protes, berdiri paling belakang. “Bukan dia yang lari terbirit-birit, tapi aku hampir pingsan melihat jarum gajah itu!”
“Payah kalian! Payah!” Sarwanto menghentakkan kaki, sampai air pada pakaiannya memercik.
“Dimana juragan gilamu?” Intan menekan spuit, otomatis cairan bening menyembur dari ujung jarum. “Kau tahu, ini obat bius paling manjur melumpuhkan saraf hewan. Mau coba?”
Sarwanto mengangkat kedua tangan tanda menyerah, tidak mau mencari perkara berakhir terbaring di ranjang pesakitan. Dia berbalik badan, menunjuk jalan persimpangan. “Itu di sana!”
"Kerja bagus.” Intan menutup lagi ujung spuit, memasukkan jarum suntik ke dalam saku celana, lalu naik ke atas motor tanpa mengambil tas selempang tergantung pada stang.
Motor sport digeber, gas tangan ditekan kuat, lalu kopling dilepaskan. Hijabnya berkibar-kibar diterbangkan angin kala sang bidan balapan.
"Dia bukan perempuan biasa. Syukur lah aku tahu diri, tak ikut-ikutan sok keren,” gumam si kurus, menarik penutup kepalanya.
“Lantas, macam mana dengan kami, Pak?” Syahrul bertanya dengan nada lirih.
"Tak tahu!” pekik Sarwanto, wajahnya seperti retak lantaran lumpur mulai mengering, bulu alis dan mata mengering, menggumpal.
“Rasa-rasanya aku mau mengundurkan diri,” takut terkena stroke, pria bak manusia silver tapi ini berwarna kecoklatan, menghela napas panjang, menepuk-nepuk dadanya.
Kelima pria tersebut sama-sama melihat belakang motor melaju kencang, lalu mengecil dan menghilang dari pandangan.
***
“Manalah para preman amatiran itu? Dah kepanasan awak disini, tak juga si Arwah kasih kabar.” Anggara membuka kemejanya, memperlihatkan otot bisep kekar menonjol, dada bidang, serta perut rata berlekuk seperti ombak kotak-kotak.
Pria bertelanjang dada, menurunkan setengah resleting celana. Dia berbaring di lantai papan gubuk pinggir jalan, tempat para pengawas istirahat siang. Kakinya berayun-ayun, menunggu bukanlah keahlian Anggara Pangestu.
“Apa ini rusak ya?” Antena talkie walkie diketuk ke papan. “Aku dah macam anak gadis mau diperawani.”
Dia terkikik geli, lalu membuat gerakan bangun dan langsung duduk. “Awas kau Sarwah! Kalau kali ini gagal lagi, ku potong bonus bulan depan.”
Ya, skenario penyelamatan bak super hero, Anggara lah yang merencanakan, tapi dia tidak ikutan menghadang. Nanti ceritanya – tiba-tiba datang bak pahlawan kesiangan, setelah mendapatkan kode dari Sarwanto lewat talkie walkie.
“Enak sangat kau Semut, bisa-bisanya kawin di depanku.” Sepasang Semut hitam dipisahkan. Dilempar beda arah. Dia tidak suka melihat hal romantis sementara dirinya belum berhasil menggapai hati gadis pujaannya.
Sayup-sayup telinganya mendengar deru mesin motor, lalu matanya memicing melihat kendaraan mendekat ke arahnya, beberapa saat kemudian melotot sempurna. Mulut terbuka lebar.
Intan mengerem mendadak, membuat ban belakang sedikit terangkat dari tanah, tapi keseimbangan tubuhnya sangat luar biasa, tidak oleng apalagi jatuh.
"Kali ini, apalagi dramamu, Gondrong?!” Standar diturunkan, lalu dia melompat, berjalan cepat seraya mengeluarkan jarum, membuang tutupnya.
“Eh, eh … obat apa itu, Intan?!” Cepat-cepat menarik kaki, mengesot kebelakang sampai punggungnya menabrak dinding papan setinggi setengah meter saja.
“Melumpuhkan saraf!” Intan naik ke atas, tangannya menggenggam jarum terbalik, siap menusuk pria tidak memakai baju.
“Jangan sayang, jangan! Tolong! Tolong! Aku mau dibikin enak ... Ah ah, tolong!” Kedua tangannya terentang, ekspresi pasrah.
Intan berhenti, menendang kaki terbuka lebar, berselonjor. “Gila kau!”
“Ya karenamu aku jadi gila!” sahutnya tidak takut.
Hidung bu bidan kembang kempis, amarahnya mulai membara, tapi bingung harus apa, terlebih posisi Anggara sangatlah aneh. “Bisa tak sih, kau waras sedikit saja?!”
“Tak bisa. Disekelilingmu sudah banyak orang mengaku waras sampai kau sendiri perlu ke psikiater demi menyembuhkan luka hati. Jadi, aku melakukan antisipasi, biar menemanimu, sehingga kita setara. Ya, gak?” Alisnya naik sebelah, senyumnya sangat mengesalkan di mata Intan Rasyid.
“Kau mencari tahu tentangku?!” Intan berkacak pinggang, berdiri menjulang di atas pria setengah berbaring terlentang. Jarum suntiknya sudah jatuh entah kemana.
“Tidak.”
“Bohong! Sejauh mana kau mencari tentangku, Anggara?!”
“Belum sampai ukuran dalaman. Cuma luarannya saja _ Ahhh … geli sayang.” Dia terbahak-bahak, pergelangan kakinya dipijak tidak sepenuh tenaga.
“Lama-lama mati muda aku kau buat! Jangan lancang! Aku tak suka kehidupan pribadiku di korek-korek!” Intan menjerit keras, benar-benar marah.
Anggara langsung mode serius, menarik kaki yang sudah tidak diinjak, menunjuk pojok gubuk berseberangan dengannya duduk. “Kalau masih bisa dibicarakan baik-baik, mengapa harus berteriak? Intan, mungkin orang lain tak bisa menebak ekspresi, gesture, serta sorot lain dari yang kau tampilkan. Namun, semua itu tampak oleh mataku. Tak perlu mencari tahu sudah terbaca.”
Intan terkejut, dan ya … wajahnya menunjukkan hal tersebut.
“Kau tersenyum, tapi tak sampai pada mata. Kau berbicara ramah, menghibur para anak kecil yang takut disuntik, bercengkrama hangat dengan para orang tua mereka, tetapi hanya sekadar menjalani tugas. Hatimu tak ada disana, sibuk menahan rindu pada sosok tak bisa kau gapai.” Anggara menatap lekat netra bergetar si wanita.
“Kau mau tahu apa yang kutangkap dari interaksimu dengan pria bertopi hitam, tunanganmu itu?”
“Tidak!” sahutnya sangat cepat, dia berbalik. Ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“Daripada sepasang kekasih, kalian lebih mirip kakak beradik. Kau menatap bersahabat, dan dia memperlakukanmu layaknya sosok saudara. Tak ada cinta, hanya tugas seorang abang menjaga salah satu anggota keluarganya _”
“Diam Angga!” suara Intan bergetar, kedua tangan mengepal di sisi tubuh.
Pria yang baru beberapa waktu lalu menggoda sang wanita, kini mendengus lalu terkekeh geli. “Kau takut bukan? Takut pada dirimu sendiri. Takut jika hatimu sejalan dengan logika, maka akan banyak hati tersakiti. Karena mereka menaruh harapan besar padamu. Benar bukan?”
.
.
Bersambung.
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣